Arka tidak pernah menyangka pernikahannya akan runtuh karena sebuah ponsel tersembunyi.
Istrinya yang lembut dan sempurna ternyata menyimpan kehidupan lain yang tidak pernah ia ketahui.
Chat tengah malam. Nama asing. Dan kebohongan kecil yang perlahan berubah menjadi mimpi buruk.
Namun semakin Arka mencari kebenaran… semakin ia sadar bahwa semua orang di sekitarnya menyimpan rahasia.
Karena terkadang— orang yang tidur di sampingmu belum tentu orang yang benar-benar kamu kenal.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon sena himura, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 13
BAB 13: BAU PARFUM ASING
"Indera penciuman adalah ingatan yang paling setia. Ia tak bisa dibohongi oleh kata-kata, tak bisa disamarkan oleh senyum, dan tak bisa dihapus oleh waktu. Bau yang asing... adalah bukti diam bahwa ada sesuatu yang telah masuk ke ruang hidupmu, tempat yang seharusnya hanya milik kalian berdua."
Mobil taksi yang ditumpangi Arka melaju pelan menanjak jalanan berkelok di kawasan Dago Atas. Kabut tipis mulai turun, menyelimuti pepohonan tinggi dan rumah-rumah mewah yang berjarak renggang, seolah setiap bangunan sengaja dibangun untuk menyembunyikan rahasia di balik tembok tinggi dan pagar berduri. Di dalam mobil, kaca jendela diturunkan sedikit, membiarkan udara dingin masuk, namun Arka sama sekali tidak merasakannya. Pikiran dan perasaannya sepenuhnya dikendalikan oleh satu hal: ingatan akan bau.
Sejak awal pernikahan mereka, Elena memiliki ciri khas yang selalu Arka puja. Wanginya.
Wangi yang lembut, manis bercampur sedikit aroma bunga melati dan jeruk nipis—parfum mahal yang khusus dibelikan Arka saat bulan madu, wanginya khas, mudah dikenali, dan selalu menjadi penanda bahwa Elena ada di dekatnya. Di bantal tidur, di baju yang baru saja dilepas, di pelukan hangat saat pulang kerja... aroma itu selalu ada, menjadi simbol keakraban dan kepemilikan.
Namun pagi tadi, tepat saat ciuman palsu itu terjadi, saat Elena menempelkan tubuhnya rapat seolah tak ingin berpisah, saat pipi mereka bersentuhan dan napas wanita itu membelai leher Arka... hidungnya menangkap sesuatu yang lain.
Sesuatu yang tajam, dingin, dan sama sekali asing.
Bau itu samar, tersembunyi di balik lapisan wangi biasa yang selalu Elena pakai, seperti noda tinta hitam yang jatuh di atas kain sutra putih. Arka sempat mengira itu hanya bau debu jalanan, atau sisa bau udara ruang tengah yang tertutup. Ia mencoba mengabaikannya, beralasan bahwa saraf penciumannya mungkin sedang terganggu karena kurang tidur dan terlalu banyak pikiran.
Tapi sekarang, saat duduk di dalam mobil yang mulai mendekati lokasi tujuan, ingatan itu menyerbu masuk kembali dengan tajam, membawa serta kepingan-kepingan momen lain yang dulu ia abaikan.
Ia teringat tiga hari lalu. Saat Elena pulang kantor lebih sore dari biasanya. Ia datang dengan wajah lelah, langsung masuk kamar mandi, lalu berganti pakaian. Namun saat ia melewati Arka yang sedang duduk di sofa, angin kecil berhembus, dan lagi-lagi bau itu tercium. Kuat, jelas, dan mengganggu.
Bau itu... aroma tembakau mahal bercampur kulit yang disamak. Aroma yang maskulin, berat, dan sangat khas. Aroma yang tidak pernah ada di rumah ini, aroma yang tidak pernah dipakai Arka atau siapa pun yang mereka kenal.
Saat itu Arka bertanya polos, "Le, kok baunya aneh? Kamu lewat mana?"
Elena menjawab cepat tanpa menoleh, sambil sibuk merapikan rambut di depan cermin: "Ah, itu Pak Budi supir kantor lagi ngerokok di dekatku pas nunggu jemput. Enggak enak banget, nempel terus di baju."
Jawaban itu masuk akal. Sangat masuk akal sampai-sampai Arka menelannya bulat-bulat tanpa dikunyah.
Tapi sekarang, setelah membaca pesan-pesan di ponsel hitam itu, setelah tahu tentang Adrian, tentang pertemuan rahasia, tentang sandiwara identitas... Arka tahu jawaban itu hanyalah salah satu dari ribuan kebohongan kecil yang menumpuk.
Pak Budi supir kantor? Tidak mungkin.
Arka pernah melihat Adrian Mahesa di foto profil media sosial yang sempat ia intip diam-diam. Pria itu selalu terlihat memegang cerutu mahal, bajunya selalu berwarna gelap dengan bahan kulit, gayanya aristokratis dan dominan. Dan bau yang tercium itu... itu adalah bau Adrian. Bau yang menempel pada baju Elena, pada rambutnya, pada kulitnya, setiap kali mereka bertemu diam-diam. Bau yang dibawa Elena masuk ke rumah, masuk ke pelukan Arka, masuk ke dalam tempat tidur yang seharusnya suci hanya bagi mereka berdua.
Dan pagi tadi, saat keberangkatan... baunya lebih kuat dari biasanya.
Karena Elena tahu ia akan pergi lama. Karena Elena tahu ia akan bertemu Adrian seharian penuh. Maka dari itu, ia berusaha menutupinya dengan menyemprotkan lebih banyak parfum biasa di leher dan di dada, berharap aroma asing itu hilang atau bercampur hingga tak terlihat lagi. Tapi bau itu, seperti bekas jejak dosa, tak bisa sepenuhnya dihapus. Ia menempel, mengintai, dan akhirnya tertangkap oleh indera penciuman Arka yang kini sudah terlatih untuk mencari kebohongan sekecil apa pun.
"Mas, kita sudah dekat. Itu gerbang besar di sebelah kanan sana," suara sopir menyadarkan Arka dari lamunannya.
Arka mengintip ke luar dari balik kacamata hitamnya. Di sisi kanan jalan, di balik pagar besi tinggi yang dihias ukiran rumit dan ditumbuhi tanaman rambat, tampak bangunan berarsitektur kolonial yang megah namun suram. Vila itu tersembunyi baik-baik, dikelilingi pohon cemara yang menjulang tinggi, membuatnya terlihat seperti istriana terlarang di tengah kabut.
Di depan gerbang utama, terparkir sebuah mobil sedan hitam mewah yang dikenali Arka. Itu mobil sewaan yang Elena pesan kemarin. Itu mobil yang membawanya dari Jakarta ke sini.
Jantung Arka berdegup kencang, napasnya tertahan. Ia menyuruh sopir berhenti agak jauh, di balik tikungan yang tertutup semak belukar. Ia membayar ongkosnya, lalu turun perlahan, berdiri di pinggir jalan setapak yang basah terkena embun.
Dari kejauhan, tersembunyi di balik rimbunan daun, Arka bisa melihat jelas.
Pintu mobil terbuka. Elena turun.
Ia tidak lagi mengenakan jaket krem sopan yang biasa ia pakai sebagai Elena Wijaya. Ia sudah berganti pakaian di dalam mobil. Kini ia mengenakan gaun selutut berwarna hitam pekat dengan belahan tinggi di sisi samping, rambutnya yang biasanya diikat rapi kini terurai jatuh bebas menyapu bahu, dan rias wajahnya... berbeda. Tajam, tegas, dan berani.
Wanita itu bukan lagi Elena.
Wanita itu berjalan dengan langkah yang lebar, percaya diri, sedikit mengayunkan pinggangnya dengan gaya yang tidak pernah Arka lihat sebelumnya. Di wajahnya tidak ada senyum manis yang dipaksakan, tidak ada tatapan polos yang lugu. Yang ada hanyalah ekspresi dingin, tenang, dan berwibawa.
Dan kemudian, pintu utama vila terbuka lebar.
Seorang pria tinggi besar berusia sekitar 40 tahun keluar menyambut. Rambutnya sedikit memutih di pelipis, wajahnya keras, dan di tangannya tergenggam sebuah cerutu yang belum dinyalakan. Adrian Mahesa.
Pria itu tersenyum lebar, senyum kemenangan, lalu berjalan cepat mendekati Elena. Ia tidak memberi salam sopan, tidak menjabat tangan, tidak menanyakan perjalanan. Begitu sampai di depan wanita itu, Adrian langsung merentangkan tangan dan memeluknya erat sekali, memeluk pinggang Elena dan menarik tubuh wanita itu menempel sepenuhnya ke badannya.
Dan Elena... Elena membalas pelukan itu dengan antusias. Ia melingkarkan lengannya ke leher Adrian, menempelkan wajahnya di dada pria itu, dan tertawa. Tawa yang renyah, bebas, dan nyata. Tawa yang tidak pernah Arka dengar selama dua tahun menikah. Tawa milik Claire.
Arka menggigit bibirnya hingga terasa perih, matanya memanas namun air matanya kering.
Angin berhembus dari arah vila, membawa suara mereka samar-samar, dan entah kenapa, seolah jarak itu hilang seketika, hidung Arka kembali menangkapnya.
Bau itu.
Bau parfum asing itu. Bau tembakau dan kulit itu. Bau yang selama ini Arka curigai, bau yang selama ini disembunyikan Elena, bau yang menempel di baju dan rambut istrinya setiap kali pulang.
Sekarang jelas sudah asalnya.
Bau itu adalah bau Adrian. Bau yang sekarang sedang melingkupi Elena sepenuhnya. Bau yang bercampur menjadi satu, tak terpisahkan, antara tubuh pria itu dan wanita yang sah menjadi istri Arka.
"Kau sudah sampai, Sayang. Aku kira kau bakal terlambat," suara berat Adrian terdengar jelas terbawa angin.
"Bagaimana mungkin aku terlambat? Aku sudah tak sabar mau ke sini, bosan sekali harus berpura-pura jadi gadis lugu di Jakarta," jawab Elena dengan nada bicara yang berubah total. Logatnya hilang, nada bicaranya tegas dan berani.
Adrian tertawa, lalu mengangkat dagu Elena dengan jari telunjuknya, menatap wanita itu lekat-lekat dengan tatapan kepemilikan mutlak.
"Bagus. Di sini, Elena Wijaya mati. Di sini, hanya ada Claire Nathania. Dan Claire... adalah milikku sepenuhnya."
Pria itu lalu mencium Elena. Bukan ciuman perpisahan palsu yang Arka dapatkan pagi tadi. Bukan ciuman sopan yang dipenuhi sandiwara. Ini ciuman yang dalam, lapar, dan penuh gairah. Elena memejamkan matanya, menikmatinya, meresponsnya dengan tangan yang meremas bahu pria itu.
Di balik semak-semak, Arka mengepal tangannya kuat-kuat hingga kuku menancap ke daging telapak tangan. Rasa sakit fisik itu tak seberapa dibandingkan rasa hina yang menyebar ke seluruh tulang sumsumnya.
Semua bukti sudah ada. Di depan mata kepalanya sendiri.
Bau asing itu bukan sekadar bau. Itu adalah tanda bahwa selama ini, setiap kali Elena memeluknya, setiap kali Elena menciumnya, setiap kali Elena tidur di sampingnya... bayangan pria itu ada di sana. Jejaknya ada di sana. Kenangannya ada di sana.
Arka tidak pernah memeluk Elena. Ia hanya memeluk kulit kosong yang masih berbau bekas milik orang lain.
Adrian melepaskan ciuman itu, lalu melingkarkan lengannya ke bahu Elena, mengajak wanita itu masuk ke dalam vila. Sebelum pintu tertutup, Elena sempat menoleh sedikit ke arah jalanan, ke arah tempat persembunyian Arka.
Wajahnya dingin. Kosong. Tidak ada rasa bersalah, tidak ada rasa takut.
Pintu besar tertutup rapat, memisahkan dunia di dalam sana yang penuh kemewahan dan dosa dengan dunia luar yang dingin dan penuh kepahitan.
Arka berdiri diam di sana cukup lama. Kabut semakin tebal, dingin menusuk tulang. Di udara yang bergerak perlahan itu, bau asing itu masih tertinggal samar, menjadi pengingat terakhir yang menyakitkan.
Ia mengeluarkan ponselnya, membuka pesan ke nomor yang diberikan Mira—Detektif Daniel Sihombing.
"Saya sudah melihat semuanya. Mereka di dalam vila. Saya butuh tahu kebenaran tentang kasus Surabaya lima tahun lalu. Saya butuh tahu apa sebenarnya yang mereka sembunyikan di sini."
Beberapa detik kemudian balasan masuk:
"Tunggu saya. Dan ingat, Pak Arka... Bau yang Anda cium itu bukan sekadar perselingkuhan. Itu bau darah. Bau yang sama yang tertinggal di lokasi kejadian hilangnya keluarga Wijaya lima tahun lalu."
Arka menyimpan ponselnya. Ia menatap pagar tinggi itu dengan mata yang kini sudah berubah.
Bau asing itu kini punya arti baru.
Bukan hanya pengkhianatan cinta. Tapi pengkhianatan nyawa.
Malam ini, di balik tembok itu, di tengah aroma parfum campuran, di tengah kemeriahan pertemuan mereka... Arka akan masuk. Dan ia akan membongkar semuanya, sampai tidak ada lagi rahasia yang tersisa, sampai bau busuk kejahatan itu tercium oleh seluruh dunia.
— BERSAMBUNG.......