NovelToon NovelToon
Mahkota Darah Dan Mawar Es

Mahkota Darah Dan Mawar Es

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Epik Petualangan / Balas Dendam
Popularitas:719
Nilai: 5
Nama Author: AnnaYoung

​Di dunia fantasi Eldoria yang dikuasai oleh perserikatan klan penyihir, Aura Zephyra adalah perwujudan dari kepolosan masa muda. Sebagai putri sulung dari Klan Penyihir Angin yang agung, hidup remajanya dipenuhi dengan tulusnya cinta kepada tunangannya, Gavin Elrod. Namun, di hari pernikahan mereka yang seharusnya menjadi momen paling bahagia, cinta itu berubah menjadi mimpi buruk. Gavin mengkhianatinya, membantai seluruh klannya, dan menusuk dada Aura demi merebut Inti Sihir Angin untuk ambisi takhtanya. Di ambang kematian, dalam kobaran api kuil yang hancur, Aura mengutuk Gavin dengan air mata darah.

​Bukannya lenyap, jiwa Aura justru terlempar kembali ke masa lalu—dua tahun sebelum tragedi pembantaian itu terjadi. Terbangun di tubuh remajanya yang berusia tujuh belas tahun, Aura bukan lagi gadis naif yang bisa dibodohi. Keajaiban regresi waktu tidak hanya membawa ingatannya, tetapi juga membangkitkan atribut sihir terlarang yang telah punah ribuan tahun: Sihir Es Kuno.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AnnaYoung, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kengerian di Desa Okvanh

​Tiga hari perjalanan yang melelahkan di bawah kepungan kabut aneh dan serangan para makhluk Abyss akhirnya membawa konvoi militer Aliansi Utara tiba di pinggiran Desa Okvanh.

Ini adalah pemukiman perbatasan pertama yang secara resmi menandai gerbang masuk menuju wilayah kekuasaan Kaelen Vane.

Bagi para prajurit Ksatria Hitam, desa ini biasanya menjadi pelabuhan pertama yang menawarkan kehangatan setelah berminggu-minggu melakukan tugas di luar wilayah.

Sementara di kehidupan pertama Aura, tempat ini selalu dipenuhi oleh aroma panggangan roti dari kedai-kedai lokal, riuh rendah suara tawa penduduk sipil, serta pendaran lampu gantung yang menyala ramah di setiap jendela rumah kayu.

​Namun, pemandangan yang menyambut mereka malam ini justru mengirimkan hawa sedingin es yang sanggup membekukan sumsum tulang.

Desa Okvanh sunyi senyap, tenggelam dalam keheningan yang abnormal. Tidak ada kepulan asap kelabu yang biasanya menari-nari dari cerobong batu rumah penduduk. Tidak ada satu pun lentera sihir yang menyala di sepanjang jalan utama desa, dan yang paling mengerikan, tidak ada satu pun jejak kaki manusia di atas lapisan salju tebal yang menutupi pekarangan.

​Rumah-rumah kayu berlapis pinus itu berdiri kokoh, pintu-pintu mereka tertutup rapat dan terkunci dari dalam.

Namun, atmosfer yang memancar dari sana tidak menunjukkan tanda-tanda kehidupan. Tempat itu terasa seperti kuburan massal tanpa nisan, sebuah desa hantu yang telah mati sebelum waktunya.

​"Periksa setiap sudut bangunan! Hancurkan pintu jika perlu, jangan biarkan ada satu celah pun yang terlewat!" Suara Boris menggelegar, memecah keheningan yang mencekam itu.

​Atas perintah komandan veteran tersebut, puluhan prajurit Ksatria Hitam segera berpencar dengan tangkas. Langkah kaki zirah besi berat mereka berdentang keras saat mereka mendobrak pintu-pintu rumah kayu dengan pedang terhunus dan perisai terangkat, bersiap menghadapi penyergapan apa pun.

​Aura melangkah perlahan, ia mengerutkan dahinya dalam-dalam, matanya yang sewarna perak menyapu sekeliling dengan kecemasan yang kembali singgah.

"Sial! Ini benar-benar aneh, Kaelen. Di kehidupan pertamaku, Desa Ovanh baru akan menghadapi krisis setelah pertengahan musim dingin, itu pun karena serangan dari sisa-sisa monster liar yang kelaparan dari luar batas. Mengapa sekarang desa ini sudah kosong melompong? Ke mana perginya semua orang?"

​Kaelen tidak langsung menjawab. Ia berhenti di tengah jalan desa, membiarkan jubah bulu hitamnya diterpa angin kencang.

"Seorang monster hanya akan keluar dari sarangnya jika dia menciun bau darah, Aura. Tapi di sini ... aku bahkan tidak bisa mencium bau kehidupan sama sekali. Ini bukan sekadar kepindahan massal karena panik."

​Tidak lama kemudian, Boris kembali dari barisan depan. Wajah ksatria veteran yang telah melewati ratusan pertempuran brutal itu tampak sedijit pucat—sebuah pemandangan langka yang seketika membuat ketegangan di tempat itu meningkat dua kali lipat.

​"Yang Muklia, Nona Aura ... kami baru saja menyelesaikan pemeriksaan di dua puluh rumah pertama di sektor barat," lapor Boris, suaranya sedikit bergetar.

"Tidak ada tanda-tanda pertempuran fisik sama sekali. Makanan masih tersaji utuh di atas meja, beberapa pakaian berharga milik penduduk bahkan masih menggantung di dinding. Kami bahkan menemukan sebuah tungku penghangat yang batubara magis di dalamnya baru mendingin sekitar dua hari yang lalu, menandakan tempat ini ditinggalkan dengan sangat terburu-buru. Namun, tidak ada satu pun bercak darah, tidak ada tanda-tanda kerusakan, dan yang paling mengerikan, tidak ada satu pun mayat. Seluruh penduduk desa, hampir tiga ratus jiwa, lenyap tanpa meninggalkan bekas secuil pun." Boris melanjutkan.

​Mendengar laporan itu, Aura merasakan debaran jantungnya berakselerasi dengan liar di balik dadanya. Lenyap tanpa bekas? Tanpa ada pertumpahan darah? Keganjilan ini menentang semua memori yang dia simpan dari garis waktu pertamanya.

Di kehidupan lalunya, Gavin Elrod selalu menggunakan taktik pengepungan yang brutal dan berisik. Gavin akan menggerakkan monster-monster korosif untuk membantai musuhnya, meninggalkan genangan darah hitam yang berbau busuk serta kerusakan infrastruktur yang masif.

Akan tetapi, taktik yang terjadi di Desa Okvanh ini terlalu rapi, terlalu bersih, dan di luar kebiasaan Gavin yang dia kenal.

​Aura segera memejamkan matanya, menarik napas dalam-dalam untuk menenangkan pikirannya. Ia merentangkan kesadaran magisnya keluar, membiarkan mana es murni dalam tubuhnya mengalir dan menyatu dengan udara dingin di sekitar desa, mencoba mencari anomali sekecil apa pun.

Pengetahuannya tentang masa depan mungkin telah berubah, tetapi kepekaan magisnya sebagai penyihir jenius tidak akan pernah berbohong.

​Detik berikutnya, mata perak Aura tersentak terbuka. Di ujung utara desa, tepat di dekat sebuah sumur tua berbatu yang menjadi sumber air utama penduduk, dia merasakan fluktuasi mana yang sangat tipis namun memiliki kepekatan yang menjijikkan.

​"Kaelen, di sebelah sana! Ada sisa-sisa energi sihir yang sangat kuat!" seru Aura sembari menunjuk ke arah sumur.

​Tanpa membuang waktu, Kaelen langsung membimbing Aura bergegas menuju lokasi yang dimaksud, diikuti oleh Boris dan beberapa ksatria pengawal inti. Ketika mereka tiba di depan sumur tua tersebut, bulu kuduk semua orang yang hadir seketika berdiri tegak.

​Di atas permukaan salju tebal yang membeku di sekitar sumur, terdapat sebuah pola lingkaran geometris yang sangat besar. Pola itu terukir bukan dengan cat atau tinta sihir biasa, melainkan dengan cairan hitam legam yang telah membeku dan meresap jauh ke dalam struktur es.

Bentuk pola itu menyerupai mata satu yang dikelilingi oleh rantai-rantai simbol kuno yang tidak dikenali oleh bahasa kekaisaran mana pun.

​Aura berjalan mendekat, lalu perlahan berlutut di atas salju untuk memeriksa pola tersebut lebih dekat. Dengan tangan yang dilapisi sarung tangan kain tipis, ia mencoba menyentuh salah satu simbol hitam yang membeku.

​Zzzzt!

​Seketika, sebuah hantaman rasa sakit yang luar biasa menusuk—seperti ribuan jarum tak kasat mata yang membara—menyerang kesadaran mental Aura, mencoba mengoyak jiwanya. Aura terkesiap, memekik pelan sebelum akhirnya menarik tangannya kembali dengan napas yang terengah-engah.

​"Aura!" Kaelen dengan sigap langsung berlutut di sisinya, mencengkeram bahu Aura dan menarik tubuh istrinya menjauh dari lingkaran terkutuk itu.

Mata merah delima milik sang Monster Utara itu berkilat penuh amarah dan kecemasan saat melihat telapak tangan Aura bergetar.

"Apa yang terjadi? Apa yang kau rasakan?"

​"Itu ... itu sama sekali bukan sihir dari dunia kita, Kaelen." Suara Aura bergetar, bukan karena paparan hawa dingin perbatasan, melainkan karena rasa syok yang teramat sangat. a

"Gavin ... dia tidak lagi menggunakan kekuatan dari para penyihir hitam atau sekte sesat biasa kekaisaran. Ini adalah sihir ritual pengorbanan jiwa tingkat tinggi yang berasal dari dimensi bawah—Abyss. Penduduk desa ini tidak pernah melarikan diri atau diculik dengan cara biasa. Mereka semua dikumpulkan hidup-hidup di titik ini, lalu ditarik masuk ke dalam lingkaran magis ini sebagai persembahan darah untuk memelihara belati terkutuk itu. Tebakan Umbra benar ... Gavin telah menjual seluruh kemanusiaannya pada Belati Abyss."

​Mendengar penjelasan Aura, keheningan yang berat menjalar di antara mereka. Kaelen mengepalkan tinjunya hingga terdengar bunyi gemertak tulang yang keras, sementara Boris hanya bisa menatap lingkaran hitam itu dengan tatapan ngeri.

​Rasa percaya diri mutlak yang dibawa Aura dan Kaelen saat melangkah keluar dari gerbang Ibu Kota Eldoria kini telah terkikis secara nyata.

Aura menatap lingkaran hitam di atas es dengan tatapan kosong. Ia mulai menyadari sebuah kenyataan yang mengerikan: pengetahuannya tentang masa lalu kini telah berubah menjadi bumerang.

Di saat dia bersiap untuk menghadapi mantan tunangan yang bergerak dengan logika taktik manusia, Gavin yang sekarang justru digerakkan oleh kegilaan murni dari entitas kosmik purba yang tidak memiliki batas moral ataupun aturan.

​Mereka baru saja menginjakkan kaki di perbatasan, namun musuh telah selangkah lebih maju, berburu jiwa di bawah hidung sang Monster Utara.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!