Gara-gara wine tumpah Aruna Wijaya harus menikah kontrak dengan seorang iblis berwajah tampan Devara Mahesa.
Tanda tangan kontrak diatas materai menjadi penanda Aruna resmi terjerat dalam pelukan hangat Devara yang mematikan dan penuh dendam rahasia.
Hingga Bayu datang, seorang dokter keluarga Wijaya yang menyimpan kenangan masa lalu kelam Aruna menawarkan kebebasan.
Apakah Aruna akan menerima tawaran Bayu lepas dari iblis?, ataukah akui dendam diatas materai itu sudah menjadi candu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Senjani jingga, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
DDM|24|Obrolan Malam
"Bu... Saya gak berani menentang Pak Devara, dia sudah marah sejak tadi, Ibu disuruh langsung masuk ke kamar. Sudah ditunggu" Ujar Andre sambil menunjukan bukti pesan dari Devara dilayar ponselnya yang membuat jatung Aruna seperti berhenti berdetak.
Aruna menutup kedua matanya beberapa detik lalu menghela nafas dengan kasar. Aruna tak menjawab Ia langsung berjalan ke kamar yang Andre katakan. Langkahnya terhenti didepan pintu kamar. Tangan Aruna meremas tali tas nya dengan kuat. Matanya menatap ganggang pintu itu.
Di tangannya sudah ada kartu akses yang Andre berikan tadi. Aruna menempelkannya ke arah pintu. Pintu terbuka, Aruna melangkah masuk dengan perlahan, ruangan yang dibiarkan redup. Ruangan luas yang tak seperti hotel biasanya.
Aruna menaruh tas nya di sofa, dan memilih duduk terlebih dahulu. Devara tak nampak didalam ruangan itu. Hampa dan sepi,
Setelah beberapa menit duduk, Alana mendengar suara langkah yang mulai mendekat, semerbak aroma parfum khas Devara menusuk hidung Aruna, mengisi ruangan itu dengan bau parfum pria tersebut.
Klik.. Suara lighter yang dinyalakan sang pria terdengar jelas, Devara muncul dengan piyama dada bidangnya terlihat dari belahan piyama itu, rambutnya masih dibiarkan basah membuat pria itu makin terlihat mempesona. Pria itu muncul ditengah kepulan asap rokoknya. Langkahnya terhenti saat melihat Aruna sudah duduk disofa.
"Mandi.., tubuhmu bau aroma bajingan itu" kata Devara ditengah hembusan rokoknya.
"Aku gak ada baju ganti" Ujar Aruna seraya memalingkan pandangannya, Ia sudah cukup lama menatap pria yang ada didepannya itu.
Devara menyeringai, lalu membuka lemari didekat ranjang. Ia melemparkan kemeja putih kepada Aruna.
"Pakai.." Titah Devara datar.
Aruna mengerutkan alisanya saat melihat kemeja itu, 'Aroma Devara'-batin Aruna.
Aruna sempat memutar bola matanya malas, apalagi kemeja yang diberikan itu makin membuatnya semakin malas untuk memakainya. Namun, Jika Ia tidak mandi pasti macan itu akan mengamuk. Dengan terpaksa Aruna menuruti permintaan Devara.
Setelah beberapa menit berlalu, Devara terlihat duduk di sisi ranjangnya yang sedang membaca buku dengan sangat fokus sampai tak melirik sekalipun kepada Aruna yang sudah keluar dari kamar mandi. Gadis itu terus menarik ujung kemeja yang hanya menutupi bagian sensitif-nya. Bagian paha nya terlihat sangat jelas.
Devara menyadari pergerakan Aruna, matanya beralih menatap gadis itu beberapa detik, namun tak bereaksi apapun lalu kembali fokus dengan bukunya.
Tangannya menepuk ranjang. "Duduk" ujarnya dengan datar, matanya masih menatap buku.
Aruna tak menjawab, Ia memilih duduk di sofa. Dilihatnya Devara sempat menghembuskan nafas kasar saat aruna duduk di sofa tersebut.
"Saya tidak mengulang perintah Run" Kini matanya terlihat jelas, walaupun dalam keadaan remang-remang, namun Aruna bisa melihat mata Devara yang dipenuhi dengan percikan api kemarahan.
Aruna bangkit dari duduknya, Ia masih ragu, takut, tangannya terus meremas ujung kemeja. Ingin kabur namun Ia sudah terlanjur tercebur kedalam kolam dalam tanpa ujung. Aruna mencoba mengatur nafasnya lalu berjalan perlahan mendekati Devara yang terus menatapnya seperti macan yang hendak menerkam sang mangsa.
Mata Devara tak bisa beralih dari Aruna, pria itu menutup bukunya, tato naganya terlihat jelas di punggung tangannya saat menutup buku. Devara sempat membuang pandangan beberapa detik lalu berjalan mendekati Aruna yang masih ragu mendekati ranjang-nya.
Ia mengangkat tubuh Aruna dan langsung didudukan di sisi ranjang dengan kasar, bahkan Aruna sempat mencakar punggung polosnya yang hanya tertutup kemeja tipis.
Mungkin sedikit lecet karena kuku panjang Aruna, mata Aruna sempat berkaca saat pria itu mendudukannya dengan kasar tangan kekarnya menahan tubuh Aruna hingga tak bisa beralih dari ranjang, kini mata mereka saling memandang dengan jarak yang cukup dekat.
"Sekarang, saya mau dengar langsung dari mulutmu. Apa kamu mau mencoba kabur dengan bajingan itu tadi?" Suara serak Devara terdengar sangat jelas di telinga Aruna.
Nafasnya seperti tercekat, bahkan irama jantungnya berdetak tak seperti biasa. Pertama kalinya dalam seumur hidup Aruna ditatap pria dalam jarak sedekat ini. Walaupun Aruna selalu bilang kalau dia macan dan iblis, namun tatapan Devara serasa berbeda saat menanyakan pertanyaan itu kepada Aruna. Kini tatapan benci itu sudah mulai memudar, atau hanya mulai terbiasa dengan tatapan itu.
"K-kabur?, aku gak..."
Wajah Devara semakin mendekat, Aruna semakin menyondongkan tubuhnya kebelakang. Tangannya bersusah payah menahan tubuhnya agar tak terjatuh di kasur itu.
"Jangan bohong Run" Ucap Devara lirih, suaranya membuat Aruna merinding.
Aruna memejamkan matanya sesaat, lalu mendorong tubuh Devara untuk menjauh, memberi jarak. Namun dengan cepat kedua tangan Aruna dicengkram dan dinaikkan keatas, membuat gadis itu terjatuh diatas kasur, tangan kekar Devara mengunci kedua tangan Aruna.
"DEVARAAA~" Teriak Aruna, posisinya sudah sangat dekat dengan tubuh Devara. Aroma parfum bercampur rokok pria itu mencekik paru-paru Aruna.
Devara menyeringai. "Run, jawab..."
"AKU GAK KABUR, AKU NOLAK DIA BUAT KABUR HARI INI" Teriak Aruna kembali.
Devara melepas tangan Aruna. Ia beralih dari tubuh Aruna, lalu merogoh kantongnya dan menyalakan rokoknya kembali sambil berjalan menuju sofa.
Aruna masih lemas di ranjang itu, jantungnya berdetak melebihi biasanya. Nafasnya seperti habis berlarian keliling lapangan. Gadis itu masih diam sambil menatap langit-langit kamar itu. 'Syukurlah aku selamat dari macan itu'-batin Aruna.
"Tidurlah dulu, saya masih ada pekerjaan" Ujar Devara sambil menyesap rokoknya, pandangannya sudah menuju ke layar laptop didepannya.
Aruna menengok keasal suara, pria itu terlihat lebih tenang. Walaupun wajahnya masih datar seperti biasanya. Malam itu Aruna tertidur setelah memandangi Devara sambil bertanya-tanya. Pikirannya dipenuhi banyak pertanyaan, apa yang terjadi dengan pria bertato naga itu, apa sudah berubah, apa cemburu, atau yang dikatakan Marisa benar kalau pria itu bisa jatuh cinta.
Drrttt.... Ponsel Devara bergetar, dilayar ponselnya ada sebuah pesan.
"Temui aku di Vertigo, atau aku akan menyuruh ayah menghentikan pengiriman kapal selanjutnya" pesan ancaman dari Alana, Devara hanya membaca dengan senyum singkat.
Ia menutup ponselnya, jam sudah menunjukkan pukul 11.50, Mata Devara beralih melihat Aruna yang sudah tidur pulas diranjang. Pria itu bangkit dari duduknya, mengambil jaket kulit didalam lemari.
Matanya kembali melirik Aruna, Ia mengusap kasar wajahnya lalu menaikkan selimut menutupi tubuh gadis itu. Setelahnya berjalan keluar dari kamar hotel.
"Apa perlu saya antar Pak?" tanya Andre yang sudah berada di lobby hotel.
"Mana kunci mobil, hubungi saya kalau dia bangun" Ucap Devara datar, setelah mendapatkan kunci mobilnya dengan cepat Ia menuju mobil.
Didalam ruangan vip Vertigo, Alana duduk sambil menyilangkan kakinya. Pelayan menuangkan wine kedalam gelas-nya.
Ancaman yang diberikan Alana tak bisa ditolak oleh Devara, Alana tersenyum puas melihat pesan yang sudah di baca dengan cepat oleh Devara.
Disana ada Elula gadis itu tersenyum singkat saat melihat Alana meminun wine yang Ia tuangkan. Satu gelas, dua gelas, gelas ketiga Elula kembali menuangkan wine itu.
"Nyonya, tidak apa?" Tanya Elula saat melihat Alana memegang kepalanya.
"Aman.." Setelah mengatakannya, Alana tak sadarkan diri. Elula tersenyum puas melihat perempuan itu tak sadarkan diri.