Zara Ayleen adalah perempuan religius dari keluarga sederhana yang percaya bahwa hidup selalu punya jalan lurus untuk tetap dijalani. Namun satu malam yang kelam menghancurkan keyakinannnya. Dalam keadaan yang tak pernah ia kehendaki, Zara menjadi korban dari kesalahan seorang lelaki yang bahkan tak kenal dengan baik—Arsyad Faizandra Wiratama pewaris perusahaan besar yang hidupnya penuh kendali, kekuasaan dan kesombongan. Kesalahan itu memaksa mereka terikat dalam pernikahan tanpa cinta. Bagi Arsyad pernikahannya dengan Zara merupakan bentuk tanggung jawab bukan perasaan. Bagi Zara, pernikahannya dengan Arsyad adalah ujian terberat dalam hidupnya. Dibawah satu atap, mereka hidup sebagai suami istri yang asing. Arsyad dingin dan berjarak, sementara Zara memendam luka dan berharap dalam diam.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon peony_ha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tersentuh Hidungnya
Aku memeluk ibu dan ayah erat, ibu sudah datang dengan satu jinjingan lusuh yang berisi pakaian. Dengan berlinang air mata ibu menceritakan apa yang terjadi disana, keadaan rumah terendam, banyak-banyak barang milik ayah yang rusak termasuk motor jadul milik ayah. Akupun ikut terisak, tidak kuat dengan apa yang diceritakan ibu, sebuah kelalaian yang dilakukan oleh para manusia yang tidak berfikir, mereka yang senang membuang sampah sembarangan yang pada akhirnya air meluap seiring dengan bertambahnya volume air hujan.
“Banyak sekali korban jiwa ra, atas pertolongan Allah lewat na Arsyad, ibu dan ayah berhasil dievakuasi.” Aku melirik pak Arsyad yang kini ikut duduk di sofa.
“Tidak hanya ibu dan ayah, nak Arsyad juga mengirimkan beberapa tim evakuasi untuk menolong bencana ini.” Ucap ibu sambil mengelus-ngelua lembut punggung tanganku.
Aku mengelap air mata. “Maafin zara ya bu. Zara terlambat.”
“Tidak ada yang salah disini nak.”
“Pasti ibu dan ayah sangat lapar kan, mau dimasakin apa ayah dan ibu. Spesial biar zara yang masak.”
Ibu menatapku dengan penuh keraguan, pasalnya aku dirumah sangat jarang sekali memasak bahkan pergi kedapur pun sangat jarang sekali.
“Oh anak ibu, rupanya setelah jadi istri bisa merubah anak manja ini jadi jago memasak.”
Aku tersenyum malu, ayah terkekeh melihat kelakuan aku dan ibu. “Ish ibu, Zara bisa loh masak. Kalau gak percaya coba tanya deh sama mas Ar. Dia sering makan masakan Zara, iya kan mas.” Pak Arsyad melirik kearahku dan ibu, dengan gayanya yang tenang dan tegas. Pria itu tersenyum tipis lalu menganggukan kepalanya.
Makan malam selesai, ibu dan ayah cukup menikmati masakanku yang sederhana. Hanya orek tempe dan telor balado, dan sayur bayam bening. Masakan rumahan, tapi memang itu masakan kesukaan ibu dan ayah. Bahkan pak Arsyad pun sepertinya cukup menikmati masakan sederhana itu.
Aku, ibu dan ayah duduk disofa, sementara pak Arsyad setelah makan malam tadi pria itu pamit masuk kedalam kamar karena ada kerjaan kantor yang harus diselesaikan.
“Gimana hubungan kamu dengan Arsyad.” Ayah bertanya padaku.
Aku berfikir sejenak. “Baik-baik aja yah”
“Ternyata prasangka buruk ayah pada arsyad itu melenceng ra. Ternyata na Arsyad ini orang baik. Ayah sangka dia orangkaya yang sangat sombong, ternyata dia orang yang sangat baik.”
Aku tidak menjawab apapun, aku hanya mengangukkan kepala saja.
“Apa kamu bahagia tinggal dirumah sebagus ini ra, nasib baik pria itu bertanggung jawab.” Ibu yang menambahkan.
“Zara bahagia kok bu.”
Hening, suara hujan deras terdengar sampai kedalam, hujan belum juga reda ditambah geledek petir yang saling bersahutan.
“Ibu dan ayah mau istirahat?, biar badannya lebih rileks, jangan pikirkan soal rumah dulu ya. Zara takut nanti ibu dan ayah sakit.”
Tinggalah kini aku seorang diri, tisur meringkuk diatas sofa, hawa dingin cuku menusuk pori-pori kulitku. Aku tidak berani memasuki kamar pak Arsyad, setiap kali aku melangkahkan kaki ke kamarnya, jantungku berpacu cepat, rasanya sangat takut sekali. Apalagi hanya berdua, rasa canggung pasti aku menyelimutiku.
“DUAR….” Aku terperanjat, tanpa aba-aba suara petir yang sangat keras muncul begitu saja.
“Duar…” lagi dan lagi petir itu membuatku kaget. Rasa takut diruangan yang cukup luas dan seorang diri membuatku merinding.
Pada akhirnya aku memasuki kamar pak Arsyad, membuka handel pintunya perlahan. Kamar pak Arsyad terlihat begitu nyaman, dengan nuasa lampu yang diredupkan kamarnya begitu wangi, khas seperti parfume yang sering pria itu pakai.
Aku berjalan pelan, pak Arsyad tengah fokus dengan layar laptop dipangkuannya. Layar laptopnya menyoroti wajahnya hang terlihat tegas, aku mendudukan tubuh secara perlahan disampingnya, nasib baiknya ukuran kasur yang berada dikamar pak arsyad berukuran king. Jadi aku tidak terlalu takut.
“Ekhem,” pria disebelahku berdehem pelan.
Aku menoleh, pria itu masih fokus dengan layar dipangkuannya. Aku menyadarkan tubuhku diatas kasur, menarik selimut kemudian menutupi seluruh kakiku. Apa pria ini tidak risih tidur satu ranjang dengan wanita sepertiku?, wanita yang sangat jauh masuk kedalam kriterianya.
Aku menarik nafas pelan, mengumpulkan keberanian. “Pak, eh, mas. Erh apalah itu panggilannya. Pada intinya aku mau berterimkasih banyak karena telah menolong ibu dan ayah.”
Pria itu menoleh kearahku, “bukannya pada sesama manuasia itu harus saling membantu ya?” Jawabnya sambil merebahkan tubuhnya.
“Tolong matikan lampu, saya ngantuk dan tidak bisa tidur dalam keadaan lampu menyala.”
“Jangan pak!”
“Kenapa?,”
Aku menggeleng pelan, dengan raut wajah memohon.
“Kamu takut diterkam lagi?, tanang ayleen saya sedang tidak meminum obat perangsang.” Ucapnya datar.
“Bukan gitu emm mas, sa saya takut gelap..”
“Ckc… penakut. Matikan lampu kamar, ganti disebelahmu ada lampu tidur.”
Lampu kamar sudah dimatikan, aku yang masih berkutat bagaimana cara menyalakan lampu mewah disamping tempat tidurku ini.
Set…
Pak Arsyad mendekat, tangannya melangkahi kedua kakiku, berusaha meraih saklar lampu tidur yang berada disampingku.
Deg….
Jaraknya bergitu sangat dekat, guratan wajahnya sangat terpampang jelas di depanku. Bahkan dilihat dari samping saja bentuk wajahnya begitu sempurna.
Astagfirullah ra, sadar… aku berusaha memalingkan wajah.
“DUAR…”
“IBU….” Persis seperti yang akulakukan jika ada petir, tanganku pasti refleks akan memeluk ibu. Dan kini pun terjadi, aku memeluk pak Arsyad.
Pria itu menoleh kaget kearahku, sampai…. hidung mancungnya menyentuh hidung mungilku.
*
*
Wkwk gemes deh sama Zara ini. Awas lo ya jangan sampe suka sama pak Arsyad ya Zara…
Jangan lupa like, komen dan vote. Jangan lupa kasih bintang juga⭐️⭐️⭐️⭐️⭐️. Bintang lima biar author makin sering up nya.
Love u READERSS💗