Asha, seorang gadis SMA yang gemar membaca, tanpa sengaja menemukan sebuah novel romantis bergenre dark yang langsung menarik perhatiannya. Awalnya hanya iseng, ia mulai membaca kisah kelam penuh obsesi, cinta yang beracun, dan tokoh antagonis yang kejam namun memikat. Tanpa sadar, ia terbawa suasana hingga larut malam.
Namun saat ia terbangun, dunia di sekelilingnya terasa asing.
Asha terkejut ketika menyadari bahwa dirinya bukan lagi berada di dunianya sendiri, melainkan masuk ke dalam novel yang semalam ia baca. Lebih buruk lagi, ia bukan tokoh utama yang memiliki perlindungan plot, juga bukan antagonis yang berkuasa melainkan hanya seorang figuran.
Seorang figuran yang dalam cerita aslinya dikenal karena satu hal: tergila-gila pada sang antagonis.
Dan yang paling mengerikan, Asha tahu persis bagaimana akhir dari karakter itu nasib paling mengenaskan yang bahkan tak layak disebut sebagai akhir bahagia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon mejiku, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
menerima diri
"Yang bener aja, gilaaa!" Asha menjambak rambutnya sendiri di depan cermin. "Mimpi gue itu masuk ke novel jadi istri CEO atau pangeran berkuda putih yang hobi hambur-hamburin duit! Bukannya jadi korban amarah antagonis! Mumet dah ini otak, mumet!"
Ia menghela napas kasar sampai poninya terbang. Jadi, dua gadis tadi benar-benar Rere dan Ghea, sahabat setia si Melody yang sama-sama hobi dandan menor.
"Terus sekarang gimana? Gue harus di sini nunggu ajal menjemput? Apa gue kabur ke Zimbabwe aja? Atau... bunuh diri?" Asha bergidik sendiri. "Tapi kalau gue beneran meningsoy dan nggak balik ke pelukan Emak, malah pindah ke alam baka, bisa berabe urusannya!"
Asha merengek kecil, meratapi nasibnya yang jauh dari kata estetik. "Oke, oke, tarik napas, Asha. Satu-satunya jalan cuma lanjutin alur. Biasanya kan kalau cerita tamat, gue bisa balik ke dunia asli. Fiks, bener banget!"
Dengan semangat baru, ia menyalakan keran dan mencuci wajahnya sampai bersih dari "dempul" tebal yang menempel. Begitu wajahnya kering, ia tertegun melihat pantulan dirinya.
"Widih... glowing banget muka gue! Ternyata si Melody ini spek bidadari kalau nggak dandan kayak ondel-ondel," pujinya pada diri sendiri.
Namun, baru saja ia ingin tersenyum, tiba-tiba kepalanya terasa seperti dihantam palu. Zing! Ingatan demi ingatan milik Melody masuk secara paksa ke otaknya.
Asha tersentak, memegangi pinggiran wastafel. "Anjirrrr! Ternyata ceritanya udah jalan? Dan kemarin gue... NEMBAK SI ANTAGONIS?!"
Asha ingin sekali menghilang dari muka bumi saat itu juga. Ternyata kemarin Melody menyatakan cinta di tengah lapangan dan dipermalukan satu sekolah karena nembak pangeran kegelapan sekolah mereka: Kaisar.
"Gue telat dateng! Kenapa nggak dari kemarin aja gue pindah ke sini sebelum kejadian itu!" gerutunya.
Otaknya mulai memetakan alur spoiler yang ia ingat. Tokoh utamanya adalah Zoya, si gadis cantik nan suci yang disukai oleh Galen (si protagonis). Tapi, Kaisar—si antagonis psiko—juga suka sama Zoya karena pernah ditolong saat kecil. Lalu ada Natasya yang terobsesi sama Galen.
"Dan gue?" Asha menunjuk dirinya di cermin. "Gue malah jadi fans garis kerasnya Kaisar? Si anak mafia yang bakal jadi bos mafia berdarah dingin? Mana nggak ada yang tahu rahasia itu kecuali gue sang pemegang spoiler!"
Asha mendadak berdiri tegak, menyugar rambutnya dengan bangga. "Dia anak terkaya nomor satu, tapi gayanya misterius kayak cowok miskin penyendiri. Oke, tenang. Meskipun dia psiko, tapi kalau dia kaya dan ganteng... eh, tetep aja bahaya bejir! Gue harus muter otak gimana caranya biar nggak dibantai sama itu orang!"
Asha menghela napas panjang, mencoba mengumpulkan keberanian yang tersisa. Ia memutuskan untuk membuka kepangan rambutnya, lalu mencepolnya asal ke atas. Beberapa helai rambut jatuh membingkai wajahnya, menampakkan kecantikan alami yang selama ini terkubur di balik makeup tebal.
Wajahnya ternyata sedikit chubby dengan pipi yang minta dicubit, hidung mancung yang mungil, dan bibir merah muda yang menggemaskan. Benar-benar jauh dari kesan ondel-ondel pasar malam.
"Gue pengen lanjutin alurnya, tapi masalahnya... di bab tengah kan gue disiksa sampai meningsoy!" Asha bergidik ngeri, membayangkan nasib tragis Melody di tangan Kaisar. "Gue kagak mauuuu mati konyol! Pokoknya gue harus cari cara biar tetep hidup tapi alur tetep jalan!"
Sambil mengomel kecil, ia merogoh saku roknya. Ponselnya bergetar, menampilkan pesan singkat dari Rere.
Rere Cantik: Mell, gue sama Ghea udah di kantin. Buruan beraknya! Jangan sampai itu tai lo jadi fosil di dalem!
Asha meringis membaca pesan itu. "Duh, temen gue kenapa pada ajaib begini sih mulutnya?"
Ia memasukkan kembali ponselnya dan menatap cermin untuk terakhir kali. "Oke, Melody... eh, Asha! Ayo semangat! Mari jalani hidup di dunia halu ini sampai akhir dengan semangat 45! Pokoknya, misi utama: Jangan sampai dipenggal si Kaisar!"
Dengan langkah mantap—meskipun hatinya jedag-jedug tak karuan—Asha melangkah keluar dari kamar mandi. Ia berjalan menyusuri koridor menuju kantin. Sepanjang jalan, beberapa siswa yang berpapasan dengannya tampak melongo. Mereka bisik-bisik melihat si "pemuja rahasia Kaisar" yang biasanya tampil menor, kini terlihat sangat segar dan cantik natural.