Risti adalah anak yang dikucilkan di keluarganya, hanya ada ayah dan satu saudara laki-laki yang menganggapnya. Risti adalah anak pertama ibunya yang merupakan istri kedua ayahnya. Sedangkan ibu tiri Risti memiliki 4 orang anak.
Indriana yaitu ibu Risti sudah meninggal saat melahirkan Risti, Risti pun dibesarkan oleh seorang pembantu karena ibu tirinya yang bernama Bu Dewi tidak sudi membesarkan Risti.
***
Suatu hari,
Windi yang merupakan anak sulung Bu Dewi dijodohkan oleh seorang laki-laki yang kabarnya sudah tua, penyakitan dan juga tidak bisa diandalkan. Akhirnya saat hari pernikahan Windi kabur dari rumah, tanpa sepengetahuan Risti tiba-tiba dia yang menggantikan pernikahan kakaknya itu.
Dan ternyata pria yang dinikahkan dengannya adalah seorang mafia
Apakah mereka akan berakhir bahagia?
Simak terus kisahnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fera Aisha Syaidina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Eps 24
Risti masuk ke dalam rumah dan langsung menuju ke dapur, Risti ingin sekali makan sayur asem, tapi dia tidak tau cara buatnya, Risti berjalan keluar halaman untuk memanggil bodyguard,
“Kamu, sini.” Risti melambai ke arah bodyguard yang sedang berjalan di halaman. Bodyguard itu malah celingak-celinguk seperti orang ling-lung.
“Saya nyonya?" tanya bodyguard tersebut sambil menunjuk ke arah dirinya sendiri.
“Ya iyalah, siapa lagi? masa saya melambai ke arah tiang listrik,” kata Risti. Bodyguard itu mengangguk dan berjalan ke arah Risti.
“Pinjam Hp nya ya," pinta Risti.
“Baik nyonya." bodyguard tersebut merogok saku bagian belakangnya dan mengeluarkan sebuah ponsel.
“Carikan resep sayur asem," pinta Risti lagi. Bodyguard tersebut langsung googling mencari resep sayur asem.
“Ini nyonya, bawa saja Hp nya sekalian, nanti kalau sudah selesai baru kembalikan ke saya lagi, saya selalu stand by di sini,” kata bodyguard tersebut.
“Oke lah, eh bentar, kamu tunggu sini dulu." Risti lari ke dalam dan mengambil sebuah makanan yang telah Ia beli di tukang sayur tadi,
“Ini ada getuk lindri buat makan kamu sama temen kamu, nanti kalau masakannya sudah jadi akan ku ajak kalian makan," kata Risti sambil menyodorkan piring berisi getuk lindri.
“Oke nyonya, makasih, tapi kami makan ini juga sudah cukup, soalnya tadi sudah sarapan banyak di warung makan sebelah,” kata bodyguard tersebut.
“Warung makan sebelah?” tanya Risti.
“Iya, itu juga warung makan langganan tuan Vino,” kata bodyguard tersebut.
Emangnya ada warung makan di sebelah? kok Vino nggak pernah cerita ya? batin Risti)
“Ohh, oke lah kalau begitu Hp kamu ku bawa dulu, makasih." Risti langsung masuk ke dalam menuju ke dapur.
Risti membaca resepnya terlebih dahulu,
Bahan:
- 1 ikat kacang panjang, potong-potong
- 1 buah labu siam, kupas dan potong dadu
- 1 buah jagung manis, potong-potong
- 1 genggam daun melinjo
- Melinjo
- 1 ruas lengkuas, geprek
- 2 lembar daun salam
Bumbu halus:
- 4 siung bawang merah
- 2 siung bawang putih
- 6 buah cabai merah
- 2 buah cabai rawit merah
- secukupnya garam
- secukupnya gula
- secukupnya Penyedap
- asem buah/asem jawa
- Air
“Yahh, nggak punya labu, ngga punya daun melinjo, daunnya aja ngga punya apalagi melinjonya?” gumam Risti.
“Yasudah ngga usah dikasih saja, seadanya lebih baik.” Risti segera mengupas bawang merah, bawang putih, cabai rawit untuk segera dihaluskan.
Cara memasak:
- Didihkan air dan masukan bumbu halus, lengkuas, daun salam dan asem
Risti mencari-cari daun salam dan asem di kulkas, untungnya masih ada 4 lembar daun salam meski sudah keriput.
- Setelah mendidih, masukan jagung dan melinjo.
Risti hanya memasukkan jagung saja yang sudah Ia potong-potong menjadi beberapa bagian.
- Setelah jagung setengah matang, masukan labu, kemudian kacang panjang dan trakhir daun melinjo
Di part ini Risti hanya memasukkan kacang panjang saja.
- Beri garam, gula dan penyedap. Test rasa
Risti mencoba kuahnya dan rasanya sesuai ekpektasi, agak sedikit pedas, segar, dan asem² enak.
“Ohh, ini mah simple, ngga terlalu banyak juga tahapannya,” gumam Risti.
30 menit kemudian,
“Ku kira cepat, ternyata lama,” gumam Risti.
Setelah sayur asemnya jadi Risti langsung mematikan kompor dan menempatkan sayur asemnya ke dalam sebuah mangkok kaca.
“Wahh auto makan lah.” Risti mengambil piring dan mengisinya dengan nasi.
Mumpung Vino belum pulang, makan lah sepuasnya (Batin Risti)
Risti makan dengan lahap, dia tidak tau sebenarnya Vino tau kalau dia sudah makan tadi malam. Di sela-sela makan tiba-tiba Risti teringat dengan perempuan kemarin (Vianda).
"Bagaimana kalau perempuan kemarin nekat datang ke kantornya mas Vino? wahhh ini ngga bisa dibiarin," gumam Risti. Risti segera menghabiskan makanannya dan bangkit dari duduknya untuk segera mandi. Saat ingin mengambil dia berpikir lagi.
“Tapi...aku kan sedang marah dengan mas Vino, masa tiba-tiba aku ke kantornya dia? kan lucu kalau begitu,” gumam Risti.
Risti jadi bingung, dia sebenarnya ingin sekali mengecek ke kantor Vino apakah wanita kemarin datang atau tidak ke kantornya, tapi Risti juga berfikir seandainya dia langsung ke kantor Vino begitu saja kan ngga jadi agenda marahannya.
“Duh, bingung.” Risti duduk di sofa dan menyangga kepalanya dengan satu tangan.
***
Sementara itu yang sebenarnya terjadi...
Di kantor Vino,
Vianda sedang mencoba masuk ke ruangan Vino tapi ternyata jalan menuju ke ruangannya dijaga ketat oleh para bodyguard dan juga satpam,
“Maaf mba, yang tidak berkepentingan di larang masuk,” kata satpam yang menjaga di paling depan. Baru saja Vianda ingin melangkah tapi sudah dicekal.
“Kalian tidak tau siapa saya?!” bentak Vianda kesal.
“Saya tau mbak, tapi kata pak Vino tidak ada seorangpun yang boleh masuk kecuali klien, tambahan dari pak Vino katanya kalau liat mbak langsung usir saja,” jelas satpam itu.
“Ck, apa-apain sih kak Vino,” bibir Vianda berdecak kesal. Dan sebelum dia malu dan dilihat semua karyawan dia langsung pergi keluar.
Sementara itu...
Di ruangan Vino,
Vino berdiri di depan jendela dan menatap mobil Vianda yang menjauh dari kantornya,
“Untungnya di pengacau itu tidak nekat hari ini,” gumam Vino lega.
Akhirnya Vino bisa bekerja dengan tenang tanpa harus mendapat gangguan dari Vianda, tapi Vino juga khawatir, bagaimana kalau Vianda datang menemui Risti lagi?
Vino segera menelpon bodyguard untuk segera mengunci pintu gerbang dan juga menggemboknya agar Vianda tidak bisa masuk. Vino juga menyuruh para bodyguard untuk berada di belakang rumah dan tidak stay di depan agar Vianda berteriak-teriak seperti orang gila.
Vino tau jika Vianda berteriak-teriak di depan gerbang pasti Risti akan tetap cuek dan lebih memilih tidak keluar dari rumah, kalau sudah benci mah apapun dibiarkan.
.
.
.
.
.
Terima kasih sudah membaca 🌺
Jangan lupa klik Favorite biar ngga ketinggalan di setiap up episode baru.
ありがとうございました,じゃあまたね♡
(Arigato gozaimas ta, ja matane♡)