NovelToon NovelToon
Diremehkan Suami, Diobsesi CEO Galak

Diremehkan Suami, Diobsesi CEO Galak

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami / CEO / Duda
Popularitas:7.7k
Nilai: 5
Nama Author: Nofiya Hayati

Anjani pernah mengubur mimpinya demi menjadi istri sempurna. Ia menemani Satriya dari nol dan bertahan saat hidup mereka sulit.

Ketika sukses, kini di mata keluarganya, Anjani hanyalah ibu rumah tangga biasa, membosankan, tidak bercahaya, dan selalu kalah dibanding Cintya, model cantik yang perlahan menjadi pusat dunia mereka.

Sampai satu malam…kemampuan yang selama ini terkubur tanpa sengaja menarik perhatian Ren Aksara. CEO galak yang ditakuti seluruh industri fashion itu tidak tertarik pada perempuan manja, cantik, atau pencari perhatian.

Namun entah kenapa…matanya justru terus kembali pada Anjani. Perempuan sederhana yang bahkan tidak sadar dirinya sedang perlahan membuat seorang Ren Aksara menjadi terobsesi.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nofiya Hayati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

17 Misi Menguntit Ketahuan

Pintu mobil tertutup pelan. Suara dunia luar langsung meredup, menyisakan kabin yang dipenuhi aroma kulit mobil dan pendingin udara yang sejuk.

Untuk beberapa saat tidak ada yang bicara. Ren fokus menyetir. Sae duduk di kursi belakang bersama Anjani.

Dan Anjani sendiri masih berusaha menenangkan dadanya setelah kejadian barusan. Suara Bella masih terngiang, meninggalkan bekas nyeri yang entah kapan hilangnya

Namun perlahan, setelah beberapa menit berlalu, pikirannya mulai kembali jernih. Dan justru saat itulah sesuatu terasa ganjil. Anjani mengernyit, diikuti mata yang bergantian memandang Ren dan Sae.

Sae yang sedang sibuk memainkan sabuk pengamannya mendadak merasa ada bahaya. Naluri bertahan hidupnya aktif otomatis. Anak itu mengangkat kepala dan mendapati Anjani sedang menatap mereka dengan sorot mata yang tidak nyaman. Seperti tatapan seorang guru yang baru menemukan muridnya menyontek.

Deg.

Sae langsung duduk lebih tegak.

Sementara Ren masih menyetir, namun rahangnya mengencang tipis. Pertanda pria itu juga mulai waspada.

Anjani menyipitkan mata. "Kalian...nguntit aku ya?"

Rem mendadak terasa sedikit lebih diinjak daripada seharusnya. Untung mobil tetap stabil. Sedangkan di kursi belakang, Sae membeku. Ren juga membeku, hanya saja dengan versi orang dewasa.

Sampai tiga detik, tidak ada yang menjawab. Itu justru membuat kecurigaan Anjani makin bertambah.

"Kok diam?"

Masih sunyi.

Anjani menyandarkan tubuh dengan tatapan semakin curiga.

"Lusa ketemu. Terus kemarin datang ke kontrakan. Siang ini muncul lagi di mall yang sama."

Tatapannya berpindah ke Ren. "Pak Ren."

Lalu ke Sae. "Sae."

Kembali ke Ren. "Saya nggak sebodoh itu."

Sae menelan ludah, sedikit gugup karena ia tahu menguntit itu bukan perbuatan terpuji. Di depan setor Ren tetap memandang jalan, tapi jemarinya di setir mulai mengetuk pelan, tanda klasik bahwa CEO galak itu sedang berpikir keras mencari jawaban.

Sayangnya yang paling cepat bicara tetap Sae. "Takdir," ucap bocah itu sekenanya.

Anjani menatapnya. Sae membalas tatapan itu dengan wajah datar, seperti biksu kecil yang baru mencapai pencerahan.

"Takdir mempertemukan kita," ucap Sae lagi.

Anjani sampai dibuat melongo.

Dii kursi depan, Ren mengangguk refleks. "Hm."

Begitu suara itu keluar, Ren langsung menyesal. Sekarang situasinya justru terdengar seperti dua tersangka yang sedang menggunakan alibi hasil diskusi kelompok.

Anjani menatap keduanya bergantian, lalu perlahan memijat pelipis. "Serius?"

"Serius," jawab Sae.

"Hm," sahut Ren.

Sepasang ayah dan anak itu terlampau kompak, sampai terasa mencurigakan. Anjani bahkan hampir tertawa.

Namun sebelum sempat wanita itu berkata apa-apa, jemarinya tanpa sadar menyentuh tas yang dibawanya. Tangannya menyusuri bagian lipatan dalam.

"Hm?" Ia mengernyit.

Ada sesuatu benda kecil, keras, dan tiidak familiar. Anjani menariknya keluar.

Dan detik berikutnya, wajah Ren dan Sae berubah bersamaan. Persis seperti dua pencuri yang baru melihat polisi menemukan barang bukti.

Anjani memandang benda kecil di tangannya, lanjut memandang Ren, lalu ke Sae, dan ke benda itu lagi.

"Apa ini?"

Sae langsung melihat jendela. Ren langsung melihat jalan. Tidak ada yang berani menatap Anjani. Yang satu pura-pura menikmati pemandangan. Yang satu pura-pura fokus menyetir. Padahal mobil sedang berhenti di lampu merah.

Anjani mengangkat benda itu semakin tinggi. "Ini alat pelacak?"

Sunyi turun. Dan sunyi sering kali adalah bentuk pengakuan yang paling jujur.

Mata Anjani membesar. "Kalian benar-benar nguntit aku?!"

"Saya bisa jelaskan." Ren akhirnya bicara dengan cepat, seakan ingin menyelamatkan harga dirinya yang sudah terjun bebas dari lantai dua puluh.

"Itu ide Sae," aku Ren.

Sae langsung menoleh. "Papa!"

"Saya tidak bohong."

"Itu fitnah."

"Itu fakta."

"Papa ikut pasangnya."

"Karena kamu maksa."

"Papa setuju."

"Kamu ngancam."

Anjani mulai menahan tawa. Sementara dua manusia itu mulai saling lempar kesalahan seperti pemain tenis profesional.

Ren menghela napas panjang, lalu menunjuk Sae lewat kaca spion. "Dia yang minta."

"Aku hanya khawatir."

"Dia maksa."

"Aku punya alasan."

"Dia ngancam."

"Aku negosiasi."

"Kamu bilang akan kabur."

Sae langsung mengangguk. "Iya."

Anjani berkedip heran. "Hah?"

Sae menjawab datar. "Aku bilang kalau Papa nggak mau pasang pelacak, saya akan cari Tante sendiri."

Anjani menoleh pada Ren. Ren memejamkan mata sesaat. Ekspresi seorang ayah yang sedang mengingat masa-masa sulit dalam hidupnya.

"Lalu?" tanya Anjani penasaran.

"Lalu dia bilang akan naik taksi," terang Ren.

"Lalu?"

"Dia masih kecil. Dunia luar bahaya."

"Lalu?"

"Dia bilang akan mencari sampai ketemu."

Perhatian Anjani langsung geser ke Sae.

Anak itu membalas dengan tatapan polos. "Aku memang mau cari Tante sampai ketemu. Kalau tidak ketemu aku nggak mau pulang."

Ren langsung menyela datar. "Dia serius."

"Iya," saut Sae membenarkan.

"Makanya saya pasang pelacak."

"Iya." Sae mengangguk.

"Supaya dia tidak hilang."

"Iya."

Anjani langsung menutup wajahnya. Bukan karena marah, melainkan karena sedang berusaha menahan tawa. Ya Tuhan. Selama ini ia mengira Ren Aksara adalah manusia paling mengerikan yang pernah ditemuinya.

Ternyata pria itu juga punya kelemahan, yaitu Sae.

Dan yang lebih lucu lagi, CEO besar yang ditakuti satu perusahaan itu rupanya bisa diperas habis-habisan oleh bocah enam tahun bermuka datar.

Sementara Ren yang melihat bahu Anjani mulai bergetar akhirnya menghela napas berat, lalu bergumam pelan.

"Nggak usah ketawa."

Anjani gagal. Tawanya akhirnya lepas juga. Suasana hangat seketika menyelimuti.

Di depan Ren merasa semua kekacauan yang dibuat Sae mungkin tidak sepenuhnya buruk.

Lampu merah berubah hijau. Roda mobil kembali bergerak halus membelah jalan raya. Anjani masih memegang alat pelacak kecil itu sambil sesekali menatap Sae dan Ren bergantian. Masih tidak percaya, bagaimana dua manusia ini bisa begitu absurd.

Namun baru beberapa ratus meter mobil melaju sebuah mobil putih tiba-tiba menyalip dari samping, lalu bergerak memotong jalur. Rem mobil Ren langsung diinjak cepat.

Ck.

Wajah Ren seketika menggelap. Ekspresi khas seseorang yang baru saja kehilangan sedikit kesabaran.

Mobil di depan berhenti melintang. Pintunya terbuka dan sosok yang turun membuat senyum tipis di wajah Anjani langsung menghilang.

Satriya.

"Halah." Ren menghela napas pendek. Itu cukup untuk memberi tahu bahwa pria itu sudah kesal.

Satriya berjalan cepat mendekat, kemudian mengetuk kaca mobil. Ren tidak langsung membuka. Ia menatap Satriya beberapa detik seakan sedang mempertimbangkan apakah kaca itu lebih berguna tetap tertutup. Namun akhirnya ia menekan tombol. Kaca turun perlahan.

"Ada apa?" Nada Ren dingin.

Tatapannya langsung mencari Anjani. "Saya mau bicara sama istri saya."

Mantan istri saya. Harusnya begitu, tapi rupanya ego Satriya masih belum rela mengubah istilah itu.

Ren menyandarkan tubuh. "Dari yang saya lihat tadi, pembicaraan terakhir kalian tidak terlalu ramah."

Satriya langsung mengeraskan rahang. "Ini urusan keluarga."

"Kalau begitu selesaikan seperti keluarga."

Dua pria itu saling melempar tatapan. Mirip dua singa yang sama-sama tidak suka wilayahnya disentuh. Namun sebelum situasi makin buruk, Anjani bersuara pelan.

"Pak Ren, biar saya saja."

Ren melihat Anjani melalui cermin depan. Tatapan mereka bertemu sekilas, lalu Ren menghela napas.

"Jangan lama."

Kalimat Ren  terdengar seperti perintah. Atau mungkin izin. Sulit dibedakan kalau keluar dari mulut Ren Aksara.

Anjani akhirnya turun dan berjalan menghampiri Satriya. Di dalam mobil Ren seketika sunyi. Sae menempelkan wajah ke kaca seperti agen rahasia kacangan.

Ren melirik. "Kalau hidungmu nempel lagi ke kaca, bentuknya permanen."

Sae tidak peduli. "Papa juga lihat."

Di luar, satriya langsung bicara tanpa basa-basi. "Kamu puas?"

Anjani masih diam.

"Kamu sengaja kan?"

Tatapan Anjani berubah bingung. "Sengaja apa?"

"Sengaja bikin aku kelihatan buruk."

Ah. Lagi dan lagi. Selalu begitu. Semua harus berpusat pada dirinya.

"Aku nggak ngerti maksudmu."

"Kamu ngerti. Ternyata ini alasan kamu minta cerai."

Anjani menatapnya lelah. Dan justru itu membuat Satriya semakin panas.

"Kamu sudah punya pengganti."

Anjani bahkan sampai tertawa syok. "Sekarang aku selingkuh?"

"Kamu jalan sama dia."

"Karena kamu buang aku."

"Kamu naik mobil dia."

"Karena aku jalan kaki."

"Kamu dekat sama dia."

"Kamu dekat sama Cintya."

Satriya langsung membeku sesaat. Anjani tidak memberi kesempatan.

"Kita impas."

Dan seperti biasa, kebenaran adalah benda yang paling dibenci orang yang sedang salah. "Kamu jangan mengalihkan pembicaraan!" Bentakan Satriya membuat beberapa orang menoleh, tapi pria itu tidak peduli.

"Aku datang ke sini bukan untuk berdebat."

"Lalu?"

"Aku mau kasih tahu sesuatu." Nada suara Satriya berubah dingin. "Perceraian ini nggak akan semudah yang kamu pikir. Kamu nggak punya uang. Kamu nggak punya pekerjaan. Kamu nggak punya rumah. Kamu bahkan nggak punya dokumen."

Setiap kalimat Satriya dijatuhkan satu per satu seperti batu, tujuannya menghancurkan.

"Aku bisa menuntut harta gono gini," ucap Anjani.

Satriya tersenyum sinis. "Memangnya kamu punya hak? Jangan kepedean. Selama ini aku yang bekerja mencari uang. Kamu nggak ada kontribusi. Mobil dan rumah, aku yang beli. Tabungan dari hasil keringatku. Usaha itu aku yang bangun."

"Semua itu ada setelah menikah denganku. Sebelum nikah kamu nggak punya apa-apa. Miskin banget."

"Kamu! "

"Biar sidang menentukan."

Satriya tiba-tiba menyeringai tajam. "Aku bisa bikin proses sidang jadi lama. Aku bisa bikin mahal. Aku bisa bikin kamu capek sendiri."

Tatapan Satriya turun penuh penghinaan. "Dan kalau perlu aku akan pastikan semua orang tahu siapa pihak yang salah."

Anjani mengepalkan jemari.

Satriya melanjutkan. "Kamu pikir hakim bakal percaya sama kamu? Kamu siapa? Perempuan tanpa pekerjaan. Tanpa penghasilan. Tanpa masa depan. Pada akhirnya kamu akan balik juga. Tahu kenapa? Karena kamu nggak bisa apa-apa tanpa aku."

Anjani menghela pendek. "Kita lihat saja. Aku yang nggak bisa tanpamu, atau kamu yang kelimpungan tanpa aku."

Di mobil Satriya, Cintya menguping diam-diam. Bella duduk di sampingnya. Mata anak itu masih sembab. Sisa kemarahan dan kesal masih terpahat jelas di wajahnya.

"Ayah marah ya?"

Cintya mengusap rambut Bella lembut.b"Papa cuma lagi sedih."

Bella mendengus. "Aku juga sedih."

"Hm?"

Bella memeluk bonekanya. "Lagian Mama jahat."

Cintya menahan senyum. "Kok bilang begitu?"

"Karena Mama bikin Mama Cintya jatuh.Aku nggak suka."

Anak itu menunduk, lalu bergumam pelan. "Semoga Papa menghukum Mama."

Cintya menghela napas lembut, kemudian memeluk Bella sembari menyembunyikan senyum kemenangannya di balik rambut anak itu.

Sementara itu, di mobil Ren. Sae mendengar semuanya, begitu juga Ren. Namun berbeda dengan Sae yang mulai kesal. Ren justru menyandarkan tubuh dengan tatapan terlalu tenang. Seperti seseorang yang baru menemukan jawaban dari masalah besar.

Perusahaannya memang butuh Anjani. Dan sekarang, Satriya sedang melakukan pekerjaan perekrutan gratis untuknya. Menarik, karena semakin keras Satriya menekan, semakin kecil kemungkinan Anjani menolak tawarannya.

Dan entah kenapa, pikiran berikutnya muncul begitu saja secara natural.

Cepatlah bercerai.

Ren langsung mengernyit, lalu bergegas membuang pikiran itu. Menyebalkan.

Beberapa menit kemudian, Satriya akhirnya pergi. Mobilnya melaju menjauh, meninggalkan suasana yang lebih dingin dari sebelumnya.

Anjani kembali masuk ke mobil. Ia tampak lebih redup sekarang. Matanya lebih lelah dan banyak berpikir. Mobil kembali berjalan. Sampai akhirnya Anjani bersuara.

"Pak Ren."

"Hm."

"Tawaran kerja itu..."

Ren sudah tahu pertanyaan itu akan datang.

"Masih berlaku?"

Sae langsung mengangkat kepala. Ren menatap jalan, lalu menjawab datar.

"Tentu."

Anjani menghela napas lega. Namun napas lega itu hanya bertahan tiga detik. Karena Ren melanjutkan kalimatnya.

"Tapi ada syarat."

Anjani langsung waspada.b"Syarat?"

"Hm."

"Apa?"

Ren menjawab tanpa dosa. "Selama bekerja di perusahaan saya, tidak boleh pacaran. Dilarang menjalin hubungan dengan pria mana pun."

Mobil mendadak terasa sangat hening. Anjani berkedip sekali, lalu dua kali.

"Apa?"

Ren tetap tenang. "Agar tetap fokus kerja."

"Pak Ren."

"Hm."

"Itu syarat kerja atau pesantren?"

Sae langsung menunduk. Bahu kecilnya mulai bergetar menahan tawa.

Ren mengabaikannya. "Kalau melanggar ada penalti."

Anjani sudah curiga ini akan buruk, sehingga ketika mendengar angka berikutnya, ia hampir tersedak ludah sendiri.

"Seratus juta."

"BERAPA?!"

"Seratus juta."

"PAK REN!"

"Ya?"

"Itu lebih mahal dari motor saya!"

"Kamu tidak punya motor."

"Itu bukan poinnya!"

Sae akhirnya gagal bertahan. Tawa kecilnya pecah. Sementara Ren justru terlihat sangat puas, karena akhirnya ia berhasil membuat Anjani melongo lebih lama daripada saat menemukan alat pelacak tadi.

Bersambung~~

1
ryuka
lanjuutt thoorrr👍👍👍👍👍👍
ryuka
🤭🤭🤭🤭🤭🤭🤭 eeeiiiiiyyy ada yg makin trrpesona deh nih 🤣🤣🤣🤣🤣🤣
Ifana
pasti telinga nya ren langsung merah tu liat Anjani 🤣🤣
Najwa Aini
Aduuhhh...ngakak
Najwa Aini
Nah benar. aku setuju dgn komentar Staf
Najwa Aini
Aku gak bosan kok Sae dengan papamu
Najwa Aini
Itu bapakmu lo Sae
Ayuwidia
Pasti memerah
Ayuwidia
Uhuk, perhatian yang sangat unik, Pak Ren
Ayuwidia
Cemburu, tapi gengsi bossss 😆
Ayuwidia
Woah, aku pernah kena semburan ini
Ayuwidia
Kerja di mana pun pasti ada orang yg dengki ya 😏
ryuka
lanjuutt thoorrr
ryuka
🤭🤭🤭🤭🤭 raka kamu pintarrrr
Ayuwidia
Jiahhhh percaya diri sekali. Plek ketiplek Ren Aksara
ryuka: bapak nya bodoh ga bisa jaga hati dan otakk.. ekhhh anak nyq jadi ketularan juga dehh
total 1 replies
Ayuwidia
Anak ini, selalu sukses bikin orang dewasa ngakak 😆
Ayuwidia
Ikan lohan 😆
Ayuwidia
Nih anak terlalu jujur 😆
Ayuwidia
CK, pasti suara si ulet kekekt 😏
ryuka
lanjuutt thoorr.. double up klo bisa 🤭🤭🤭🤭🤭🤭👍👍👍🔥🔥🔥🔥
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!