NovelToon NovelToon
Rahasia Di Balik Pernikahan Palsu Kita

Rahasia Di Balik Pernikahan Palsu Kita

Status: tamat
Genre:Nikah Kontrak / Penyelamat / Romansa Fantasi / Tamat
Popularitas:1.2k
Nilai: 5
Nama Author: Candra Arista

Pernikahan tanpa cinta adalah impian Alya, atau setidaknya itu yang dia pikirkan. Namun, apa yang akan terjadi jika suaminya menyimpan rahasia tentang dirinya sejak awal? Alya tidak terduga bahwa suaminya, Raka Pratama, adalah seorang yang dingin, berkuasa, dan tidak terlalu terbuka. Mereka menikah dengan kontrak, tapi dengan satu syarat yang tidak biasa: jangan pernah jatuh cinta. Apakah Alya dapat memenuhi syarat itu, ataukah cinta akan menghancurkan kontrak pernikahan mereka?
Ketika kebohongan berlangsung terus-menerus, batas antara apa yang palsu dan apa yang nyata mulai kabur. Alya harus menghadapi keputusan sulit: mempertahankan kebohongan yang telah ia jalankan atau meninggalkan pria yang telah berhasil memenangkan hatinya. Pernikahan ini tampaknya telah terjadwal dengan baik, tetapi ada satu hal yang tidak termasuk dalam kontrak: perasaan yang sebenarnya. Sekarang, Alya harus memilih antara kebenaran dan kebahagiaan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Candra Arista, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 12 – Sesuatu yang Tidak Lagi Sama

Pelukan itu hanya berlangsung beberapa detik.

Namun, bagi Raka, waktu terasa jauh lebih lama.

Tubuh Alya menempel erat padanya, tangannya mencengkeram bagian depan kemeja Raka seolah-olah pria itu adalah satu-satunya tumpuan yang bisa menahannya tetap berdiri saat itu.

Dan yang paling berbahaya, Raka tidak ingin melepaskannya secepat itu.

“Alya…”

Suara pria itu terdengar rendah.

Baru saat itulah Alya tersadar akan apa yang sedang ia lakukan.

Ia segera melepaskan pelukannya dan mundur satu langkah.

Wajahnya memerah.

“Aku… maafkan aku…”

Raka menatapnya selama beberapa detik.

Dan seperti biasa, ekspresi pria itu kembali tenang terlalu cepat.

“Operasinya berhasil,” katanya pelan. “Itu yang terpenting.”

Alya segera mengangguk cepat.

“Iya…”

Namun, jantungnya masih berdetak kacau.

Karena, untuk sesaat tadi, pelukan itu terasa terlalu nyaman.

Dan itu bukanlah pertanda baik.

Dokter mulai menjelaskan kondisi ibunya lebih detail, sementara Alya berusaha fokus mendengarkan meskipun pikirannya masih berantakan.

“Ibu Anda harus menjalani pemulihan beberapa minggu,” jelas dokter. “Tapi kondisi operasinya sangat baik.”

“Terima kasih banyak, Dok.”

Alya berkali-kali membungkuk sebagai tanda kelegaan.

Di sisi lain lorong, Dimas memperhatikan Alya secara diam-diam.

Atau lebih tepatnya, memperhatikan Alya dan Raka.

Tatapannya sedikit berubah sejak pelukan tadi.

Karena sekarang ia bisa melihat sesuatu dengan jelas.

Hubungan mereka mungkin terlihat aneh…

Tapi Raka jelas memperlakukan Alya secara berbeda.

Dan yang lebih mengganggu, Alya tampaknya mulai terpengaruh.

“Kalau begitu aku kembali kerja dulu,” kata Dimas akhirnya, sambil mendekat.

Alya langsung menolehkan kepalanya.

“Oh iya. Terima kasih banyak.”

Dimas tersenyum kecil.

“Jaga kesehatan juga. Kamu terlihat lelah.”

Kalimat itu terdengar biasa.

Namun, sebelum Alya sempat menjawab, Raka bicara datar—

“Saya akan menjaganya.”

Suasana langsung hening sepersekian detik.

Dimas menatap Raka.

Lalu tersenyum tipis.

“Bagus kalau begitu.”

Namun kali ini, senyumnya tidak sampai ke mata.

---

Sore harinya, Alya akhirnya bisa bernapas lebih lega.

Ibunya sudah dipindahkan ke ruang rawat dan masih tertidur karena efek obat.

Alya duduk di samping ranjang sambil menggenggam tangan ibunya pelan.

“Untung Ibu kuat…”

Suara pintu terbuka perlahan.

Raka masuk setelah menerima telepon di luar tadi.

“Dokter bilang kondisinya stabil.”

Alya langsung tersenyum kecil.

“Iya.”

Keheningan nyaman muncul sesaat.

Dan itu aneh.

Karena biasanya keheningan di antara mereka terasa canggung atau dingin.

Namun kali ini berbeda.

Lebih tenang.

Alya menoleh pada Raka yang berdiri tidak jauh darinya.

“Terima kasih.”

Raka mengangkat alis sedikit.

“Saya sudah sering mendengar ucapan itu.”

“Aku serius.”

Tatapan mereka bertemu.

“Aku tidak tahu apa yang akan terjadi kalau tidak bertemu kamu.”

Kalimat itu membuat Raka diam beberapa detik.

Lalu pria itu berkata pelan—

“Mungkin itu pertama kalinya saya berguna bagi seseorang.”

Alya langsung mengerutkan kening.

“Apa maksudmu?”

Raka tidak langsung menjawab.

Ia berjalan mendekat ke jendela kamar rumah sakit sebelum akhirnya berkata—

“Orang biasanya mendekati saya karena nama keluarga, uang, dan kekuasaan saya.”

Nada suaranya datar.

Namun, entah mengapa terdengar lebih jujur dari biasanya.

“Mereka selalu ingin sesuatu.”

Alya memperhatikan punggung pria itu diam-diam.

Dan untuk pertama kalinya—

Ia melihat sisi lain dari Raka.

Sisi yang selama ini tersembunyi di balik sikap dinginnya.

“Tapi aku juga butuh sesuatu darimu,” kata Alya pelan.

Raka menoleh.

“Iya,” lanjut Alya sambil tersenyum tipis. “Dan kamu juga butuh sesuatu dariku.”

Hening.

Lalu perlahan—

Sudut bibir Raka bergerak kecil.

“Berarti kita impas.”

Alya tertawa kecil.

Dan lagi-lagi, suasana terasa ringan, dengan cara yang justru berbahaya.

Karena semakin nyaman mereka bersama…

Semakin sulit mengingat bahwa semua ini hanya sementara.

---

Malamnya, mereka akhirnya pulang ke rumah.

Alya benar-benar kelelahan.

Begitu masuk ke dalam mansion besar itu, ia langsung merebahkan tubuhnya di sofa ruang tengah.

“Aku merasa habis berperang.”

Raka yang baru melepas jas meliriknya sekilas.

“Tidurlah lebih awal.”

Alya mendongak menatap pria itu.

“Kamu tidak lelah?”

“Sudah biasa.”

Jawaban khas Raka.

Namun kali ini Alya hanya menggeleng kecil sambil tertawa.

“Kamu benar-benar tidak seperti manusia biasa.”

“Apa itu sebuah hinaan?”

“Mungkin.”

Untuk pertama kalinya malam itu, Raka benar-benar tersenyum tipis.

Jelas sekali.

Dan Alya langsung membeku sepersekian detik.

Karena ternyata, kalau pria itu tersenyum sungguhan, efeknya jauh lebih berbahaya daripada wajah dinginnya.

“Jangan senyum begitu,” gumam Alya tanpa sadar.

Raka mengangkat alis.

“Kenapa?”

Alya langsung tersadar akan apa yang baru saja ia katakan.

“Bukan apa-apa!”

Ia buru-buru bangkit dari sofa.

“Aku mau tidur.”

Dan sebelum Raka sempat mengatakan sesuatu lagi, Alya langsung berjalan cepat menuju tangga.

Namun, saat ia menaiki anak tangga terakhir—

“Selamat malam, Alya.”

Langkahnya langsung terhenti.

Jantungnya berdetak aneh lagi.

Karena itu pertama kalinya Raka mengucapkan sesuatu yang terkesan begitu santai padanya.

Dan yang paling parah, nada suara pria itu terdengar hangat.

Alya tidak berani menoleh.

“…Malam.”

Lalu ia buru-buru masuk ke kamar sebelum dirinya semakin salah tingkah.

Begitu pintu tertutup, Alya langsung bersandar di balik pintu sambil memegang dadanya sendiri.

“Ini benar-benar bahaya…”

Karena perlahan—

Ia mulai mendambakan perhatian kecil dari Raka.

Dan itu bukan hal yang seharusnya terjadi.

---

Sementara itu, di lantai bawah, Raka masih berdiri sendirian di ruang tengah.

Tatapannya tertuju ke arah tangga tempat Alya menghilang tadi.

Ekspresinya kembali tenang.

Namun, pikirannya jauh dari tenang.

Ia tidak seharusnya menikmati keberadaan Alya sejauh ini.

Semua ini hanya kontrak.

Ia tahu itu.

Tapi setiap kali wanita itu tertawa…

Setiap kali Alya menatapnya dengan jujur…

Sesuatu dalam dirinya yang selama ini mati rasa mulai berubah.

Dan Raka tidak menyukai kenyataan itu.

Ponselnya tiba-tiba berdering.

Nama yang muncul di layar membuat tatapannya langsung kembali dingin.

Vanessa.

Raka mengangkat telepon itu perlahan.

“Apa?”

Suara wanita itu terdengar santai dari seberang sana.

“Kasar sekali. Saya cuma ingin makan malam dengan mantan tunangan saya.”

“Kita tidak ada urusan lagi.”

“Benarkah?” Vanessa tertawa kecil. “Tapi aku penasaran dengan istrimu.”

Tatapan Raka langsung menajam.

“Jangan mendekatinya.”

“Saya belum melakukan apa-apa.”

“Vanessa.”

Nada suara Raka berubah rendah dan berbahaya.

Namun wanita itu justru terdengar semakin tertarik.

“Kamu berubah sejak menikah,” katanya pelan. “Dan itu membuatku penasaran.”

Sambungan telepon terputus.

Namun suasana di ruang tengah mansion itu sudah berubah.

Lebih dingin.

Lebih gelap.

Karena untuk pertama kalinya, Raka mulai menyadari bahwa Alya bukan lagi sekadar bagian dari kontraknya.

Dan itu berarti, wanita itu juga mulai menjadi kelemahannya.

1
Mtch🍃
Tiba tibaaa bngt
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!