NovelToon NovelToon
DOPAMIN

DOPAMIN

Status: tamat
Genre:Balas Dendam / Mafia / Cinta Seiring Waktu / Tamat
Popularitas:2.1k
Nilai: 5
Nama Author: Key Kastara

TAMAT
DIJUAL SEBAGAI PELUNAS HUTANG.
SEKARANG DIA YANG MENENTUKAN HARGA NYAWA MEREKA.

Lima tahun lalu Zara diinjak harga dirinya oleh keluarga sendiri.
Hari ini, dia kembali sebagai Zevana Ardhani.
Bukan korban lagi. Tapi sang mafia wanita yang ditakuti di dunia korporat.

Misinya satu: BALAS DENDAM.

Sampai Arka muncul.
Putra dari guru Mafianya sendiri.
Polos. Tulus. Satu-satunya yang melihat Zevana sebagai manusia, bukan monster.

Antara nyawa, racun, dan cinta.
Zevana harus memilih: Menenggelamkan mereka semua dalam kebencian,
atau hancur karena satu-satunya pria yang bisa meluluhkan hatinya?

[MAFIA WANITA] [BALAS DENDAM] [DARK ROMANCE]

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Key Kastara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Taktik Zara

Dengan gagap pria itu melapor, diliputi rasa takut dan was-was.

"Ta-targetnya hilang, Bos!" ulangnya terbata.

[Lucukah?] kekeh pria itu.

"Maaf, Bos! Saya yakin dia masuk ke gang ini, ternyata gangnya buntu. Kayaknya saya salah lihat," ucapnya dengan nada gelisah.

[Lanjutkan pencarian, tambah orang,] titah pria itu datar, namun gelombang rasa takut seketika menjalar di seluruh tubuh sang pesuruh—terbukti dari matanya yang menyipit, dengan wajah memucat.

"Baik Bos! Segera saya sebarkan tim ke seluruh penjuru kawasan ini," jawab pria itu buru-buru, tangannya berkeringat dingin hingga hampir menjatuhkan ponselnya. Ia tahu betul apa akibatnya jika gagal menjalankan perintah Garda—kegagalan sekecil apa pun tak pernah dimaafkan oleh pria itu.

Tluk!

Ditaruhnya ponsel itu oleh pria yang dipanggil Bos, lalu ia mengepulkan asap rokok yang dihisapnya melalui pipa tulang dengan santai.

"Hufh ... Hah...." desahnya.

"Benar-benar menarik, kucing liarku, lekaslah datang," gumamnya dengan senyuman miring.

Di bawah sinar lampu dinding yang sebagian tertutup gorden, tampaklah wajah Garda. Alisnya yang tebal, dengan rahang tegas, hidung mancung, serta tubuh tinggi tegap, membuatnya terlihat gagah meski sudah menginjak usia 40 tahun.

Matanya menatap lembaran foto lama di atas meja—foto sepasang suami istri yang tersenyum bahagia sambil memangku seorang bayi mungil. Jari telunjuknya mengusap wajah wanita pada foto itu perlahan, tatapannya berubah menjadi campuran rasa rindu dan dendam yang membara. "Sudah lama sekali ya, Lara. Melihatnya, membuatku jadi merindukanmu," bisiknya pelan.

Sementara itu di suatu tempat, Zara tergeletak dengan napas tersengal-sengal. Ia memegangi bahu kanannya dengan erat, sekadar untuk menahan nyeri yang sejak tadi berdenyut-denyut.

"Hah ... Hah ... Aku juga mau mati, tapi nanti. Setelah balas dendam dulu," gumamnya sembari menutup matanya dengan punggung tangan.

Beberapa menit yang lalu, itu hampir saja terjadi. Gang itu merupakan harapan terakhirnya untuk melarikan diri. Namun naasnya, itu adalah jalan buntu yang tidak memungkinkannya memutar arah lagi, karena pria yang mengejarnya hanya berada satu belokan menuju tempatnya. Dengan refleks yang cepat, serta keputusasaan yang mendesak, ia pun memilih merayap dan bergelantungan di atas pipa-pipa licin dan basah itu, lalu memanjat ke atap ruko lantai tiga.

Meski hampir terjatuh karena pipanya lepas dari sambungan, ia sempat mengayunkan tubuh ringkihnya dalam satu gerakan cepat.

Hap!

Prak!

Pipanya patah dan terlepas, namun ia berhasil meraih ujung dinding yang retak sebagai pegangan. Hanya butuh tarikan yang kuat dengan sisa tenaga, ia pun sampai di atas atap ruko itu.

"Hah ... Gak akan ada kesempatan kedua, ini benar-benar keberuntungan," dengusnya sembari mengintip ke bawah tempat ia memanjat tadi.

Rasa ngeri seketika membuatnya bergidik. Tentu saja, tingginya bahkan lebih dari 6 meter, dan ia mampu menaikinya seperti orang kesurupan dalam waktu kurang dari 3 menit.

"Ada gunanya juga kurang gizi," gumamnya sembari memutar-mutar lengan kecilnya, lalu menatap tubuhnya yang kurus.

"Bukan cuma itu," bisik hati kecilnya. "Bertahun-tahun lari dari amukan Reno, memanjat pagar rumah saat Susi lupa menguncinya, bersembunyi di tempat sempit... tubuhmu memang sudah terlatih untuk bertahan hidup, Zara." Ia menekan dadanya pelan, merasakan detak jantung yang masih berpacu cepat.

"Sekarang apa?" monolognya sembari menatap langit malam.

Lelah dan mual. Langit malam itu seolah berputar di depan matanya. Meski memberanikan diri kabur, kenyataannya dunia di luar kamar sempitnya selalu terasa menakutkan bagi Zara. Namun demikian, ia sadar betul bahwa di mana pun ia berada, tak akan ada yang berubah. Dirinya selalu sendiri, tanpa seorang pun yang bisa diharapkan pertolongannya atau dijadikan sandaran—kecuali dirinya sendiri.

Sruk!

Zara beringsut, lalu terduduk sambil menyandarkan punggungnya pada tembok setinggi satu meter di belakangnya.

"Kemana dulu ya?" batinnya sembari mengusap-usap debu di punggungnya yang menempel dari ubin.

Tanpa menunggu jawaban dalam hatinya, Zara segera bangkit dan berjalan menuju atap bangunan yang lebih rendah dibandingkan atap ruko tempatnya berpijak sekarang.

Tap!

Hap!

Seperti seekor kucing, langkahnya begitu ringan hingga pijakan kakinya di atas atap asbes pun tidak menimbulkan suara keras. Dengan cekatan ia mengamati sekeliling, lalu melompat dari satu atap ke atap lain yang lebih rendah, hingga....

Hap!

Ia pun melompat ke atas gerobak sampah, sebelum akhirnya turun lagi ke permukaan tanah. Dengan tinggi badan 165 cm dan berat tidak sampai 45 kg, tubuhnya memang terlihat terlalu kurus untuk ukuran gadis seusianya. Namun justru itu menjadi keuntungan baginya dalam situasi ini.

Merapikan pakaian, menata rambut, lalu mengenakan kembali topinya, ia mulai melangkah. Jalanan semakin sepi, angin malam pun semakin menusuk kulit. Ia berjalan sambil melamun. Kesedihan tiba-tiba menyergap kembali hatinya saat melihat ke seberang jalan, tempat sebuah restoran makanan laut kesukaannya berdiri.

Kenangan masa kecilnya pun muncul. Saat ia bersama kedua orang tuanya makan siang di tempat itu. Seketika air mata menggenang di kelopak matanya. Namun ia segera menengadahkan wajah, berusaha menahannya agar tidak tumpah.

"Aku akan membalas semuanya. Ayah, Bunda. Kalian tidak akan mati sia-sia begitu saja," desis Zara dengan bibir gemetar menahan luapan emosi di dadanya.

Zara melangkah menyeberangi jalan, tepat di atas garis penyeberangan. Langkahnya pelan, karena ia tidak ingin terlihat tergesa-gesa. 'Toh belum ada tempat yang harus segera dituju', pikirnya. Namun ketika hampir sampai di seberang, sebuah mobil tiba-tiba berhenti tepat di belakangnya.

Deg!

"Siapa?" batinnya.

Dadanya berdegup kencang, napasnya tercekat seketika. "Masih ada yang mengikuti?" batinnya putus asa, ia sudah kehabisan tenaga.

"Nona Zara?" panggil seorang pria yang baru saja turun dari mobil sambil mendekat ke arah Zara yang kini mematung.

Zara menoleh perlahan, lalu memutar tubuhnya sepenuhnya. Terlihat dua orang pria bersetelan rapi dengan kemeja putih dan dasi hitam berdiri di hadapannya.

Glek!

"Kenapa jadi nambah orang? Siapa sebenarnya mereka," batinnya keheranan.

Ia mundur selangkah, tangannya mengepal erat di sisi tubuh. Instingnya berteriak waspada—pakaian mereka terlalu rapi untuk sekadar orang kebetulan, dan tatapan mereka terlalu terlatih untuk mengawasi setiap gerak-geriknya.

"Ikut kami. Kami tidak akan menyakiti Nona, jadi silakan masuk dengan tenang," ujarnya dengan nada yang terasa halus, namun menyiratkan perintah yang tidak bisa ditolak.

"Satu, dua ... Hah. Lebih dari tiga orang. Tinggi dan besar, ck!" batin Zara sembari mencoba mengamati keadaan sambil berpikir.

"Saya tidak kenal kalian," ucapnya lirih namun tegas, suaranya tak lagi gemetar seperti tadi. "Saya tidak punya urusan dengan siapa pun dari kalian. Tolong minggir," tambahnya, menahan diri agar tak lari seketika meski kakinya sudah bersiap melangkah.

1
yah udah kelewat😄
udah pasti si Reno🤨
diam-diam beliau sedang mengasah pisau🤭
lampunya kristal tapi gak dikasih alas tidur sekalipun ...
mana gak dikasih makan lagi, hamdeuh ...
malaikat jatuh kali🤭
bilang aja takut 🤣
beliau sedang mengumpulkan amunisi buat membalas💪 btw Susi gede omong doang🤭
nyalang itu apa kak?
namanya juga ortu, pasti bela terus anaknya, mana anaknya pinter maen belakang lagi🤣
Mami kamu cuma mau ngelampiasin emosi no🤣
si Reno baik gak?
emang kerabat kalo ortunya udah gak ada ya suka gitu, apalagi kalo soal mau rebut warisan ...
beliau sedang menciptakan monster💪
sadis bangey ya si Susi ini🤨
emang sengaja mau menghakimi aja nih bu Susi🤨
puitis banget bahasanya🤭
aku mampir kak🤭
Huda Talitha
😭 Pembuka yang mengandung bawang
Huda Talitha
Keren kak , berasa lagi baca film barat genre2 aksi darkromance gereget gimana gitu. Seru pokoknya, rekomended, lanjutkan 🤩🥰🔥
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!