NovelToon NovelToon
APA INI?

APA INI?

Status: tamat
Genre:Romantis / Tamat
Popularitas:3.3M
Nilai: 4.6
Nama Author: andee Rosalia

para readers tolong bijak ya dalam pemilih bacaan

wanita mana yang tidak merasa sedih ketika ditinggalkan suaminya, apalagi di hari pernikahan mereka setelah ijab kabul dan sumpah - sumpah pernikahan itu telah terucap

"Jika bagimu ini adalah candaan
Jelaskan padaku di mana letak rasa lucu itu...?? Biar aku bisa membantumu menertawai hidupku"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon andee Rosalia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 23

Malam sudah berlalu, mentari kembali terbit dan menjulang tinggi menyinari bumi dengar sinar dan teriknya, burung-burung telah bernyanyi, manusia telah beraktivitas namun nyatanya tidak semua yang sudah terbangun dan siap memulai aktivitasnya. Buktinya adalah aku dan Lelaki yang sayangnya masih berstatus suamiku.

Pagi ini aku terbangun dengan perasaan kesal bukan main. Seluruh tubuhku serasa ngilu. Aku bahkan sempat meringgis ketika baru bergerak sedikit.

Sungguh penyatuan dua bagian vital adalah sesuatu yang menyesatkan. Jujurnya ada rasa puas saat selesai melakukannya tapi sayangnya rasa penyesalan juga ikut besamanya apa lagi saat melihat wajah dedi.

Hal pertama yang kulihat ketika mataku terbuka adalah wajah dedi dan menurutku itu adalah sesuatu yang sangat buruk. Dedi sekarang ini sedang memperhatikan aku yang berbaring dalam dekapannya.

Sebuah senyum bahagianya seolah sebagai tanda musibah bagiku. Aku berusaha melepaskan dekapan hingga membuat dedi memutuskan terbangun dan duduk ditepi ranjang tanpa canggung sama sekali padahal yang terlihat adalah tubuh polosnya serta benda laknat yang sialnya juga memberiku kenikmatan semalam suntuk sedang berdiri dari posisi awalnya.

“apa aku memuaskanmu nyonya brawajiya?’ tanya dedi dengan devil smirk yang membuatku sadar jika ketahuan menatapi pusaka dedi beberapa menit.

“…” mendapatiku tidak menggelak dedi semakin melebarkan senyum yang terpahat di wajahnya itu, apa lagi saat aku mencoba menyembunyikan diri dibalik selimut karena saking malunya.

Dedi sempat terbahak keras entah kenapa, tapi seketika dia mendekatiku lalu tanpa kata dia membawahku ke kamar mandi dalam keadaan sama - sama tidak berbusana. dedi terus menampakkan ketengannya seolah tidak terjadi apa – apa antara kami.

Ketika baru memasuki kamar mandi, aku melihat bathtub sudah terisi, ada beberapa lilin menyala hingga menggeluarkan aroma vanila cake yang sangat ku sukai.

Dedi menuntunku memasuki bathtub, aku baru tersadar jika bathtub ternyata sangat besar hingga bisa menampungku dan dedi.

Dedi memandikanku dengan cara yang sangat lembut dan hati – hati.

Sekali lagi, ketika kulit dedi menyentuh kulitku, aku seolah merasa sensasi aneh hingga membuatku kembali bersemu. Bayangan tentang apa yang kami lakukan kemarin kini sedang bermain-main di benakku.

Wajahku semakin terasa terbakar kala ingat bagaimana dedi selalu menyebutkan namaku berulang-ulang kali saat melakukan pelepasan.

Aku tidak tahu apa makna dia memangil dan menyebut namaku yang jelas aku senang karena dia sadar sedang melakukan hubungan intim denganku bukan orang lain.

Pikiran, bayangan dan rasa senang itu kini serasa bersarang di otakku hingga sedari tadi aku memilih menghindari tatapan dedi. Jangankan menyahuti semua pertanyaan dedi, menggangkat kepala pun rasanya aku tidak sanggup. Aku sedari tadi hanya diam, menunduk malu-malu.

Setelah menyelesaikan ritual mandi kami, dedi kembali membawaku ke kamar bahkan dedi membantuku untuk menggunakan seluruh pakaian dalam sebelum memakaikan aku kemeja hitam miliknya, barulah dia yang berpakaian. Seolah dejavu tapi itu yang terjadi.

Sekali lagi Dedi menggangkat tubuhku, namun kini Dedi melangkahkan kakinya menuju ruang makan yang ternyata telah diisi oleh nyonya, tuan Brawijaya senior, juga beberapa pembantu keluarga Brawijaya, mereka semua memperhatikan kami entah kenapa seolah sangat bahagia.

Dengan hati-hati dedi mendudukan aku tepat disebelah kursi yang biasa dia tempati. Inginya melawan dan pergi dari tempat itu tapi apa daya, aku serasa tidak punya tenaga sedikit pun.

Aku belum berani mengangkat kepala tapi sebuah suara menggusikku. Orang itu tuan bram tentu saja, dengan santainya dia berkata

“sepertinya tuhan sangat menyayanggiku sampai bisa melihat singga betina ini jinak pada pawangnya” sindirnya namun aku jelas tahu maksud dari ucapannya.

“…” aku tidak bersuara. Kini aku menatapi tuan dram dengan mata menyipit. Aku berusaha menggintimidasinya tapi nyatanya gagal.

Aku masih berusaha terlihat kuat nyatanya lagi-lagi gagal karena lelaki itu seketika terbahak lepas. Menjadi pusat perhatian dengan segala perasaan yang kurang nyaman ini, entah kenapa rasa menggundang tanggisku seketika.

“bram sudah, jangan menggangu menantu kita” tegur nyonya Cheristi.

“ke angkuhanmu luntur karena kenikmatan nyonya?” tanyanya dengan sudut bibir yang mencibir

“hiks hiks”

“husstt sudah, aku bersamamu” kata dedi lalu mendaratkan sebuah ciuman di keningku.

“kau .. “ kata tuan bram kembali ingin menggejekku.

“bram sudah” tegur nyonya cheristi lagi.

“aku hanya sedang bermain-main dengannya sayang” elak tua Bangka itu.

“kamu ini sudah tua tapi tetap menggerjai menantuku. Jika dia tidak mengizinkan kau menyentuh anaknya bagaimana?”

“….” Seketika kami semua terdiam.

“kau ingin makan sendiri atau ku suapi?” tanya dedi kembali angakt suara.

“sendiri” jawabku layaknya cicitan tikus yang terjepit.

“okey makan makananmu sekarang”

“mmm” jawabku

Kami kembali makan dengan tenang. Semua hidangan sudah kami santap hingga menyisahkan piring-piring kotor. Kini kami berpindah di ruang keluarga, di ruang keluarga ini, aku bisa melihat banyak sekali piala, penghargaan bahkan foto-foto masa pertumbuhan dedi.

Sebenarnya aku penasaran seperti apa dedi saat kecil tapi kantuk menyerangku lagi. Hal hasil kala dedi mendudukkan bokongku di sofa, aku bukannya duduk dengan anggun, melainkan mencari posisi nyaman dan tidak lama aku benar-benar terlelap

Langit sore telah terlihat saat aku terbangun, ku jelajahi mataku dan ternyata aku sekarang berada di kamar dedi lagi. Tubuhku sudah merasa lebih baik sekarang hingga aku bisa meninggalkan tempat tidur lalu menuju balkon untuk mentap langit yang bewarna jingga.

Sore ini cuacanya terasa sedikit sejuk, tapi tidak menghalanggiku memperhatikan burung-burung yang terbang secara bergerombolan kearah barat seolah sedang menuju pulang.

Suara muadzin seketika terdengar olehku tapi aku belum beranjak hingga sesuatu menyentuh tubuhku dan tidak lama rasa hangat membungkus tubuhku.

Itu dedi, lelaki itu memelukku lalu meletakkan dagunya di bahuku sebagai sandaran. Di balikkannya tubuhku agar kami bersitatap. Kulihat dedi sudah segar kambali, aroma sabun mahal juga parfum sudah tercium dari tubuhnya. Di ciumnya keningku cukup lama setelah itu, dedi berkata

“mandilah, aku sudah menyuruh orang untuk membakan pakaianmu” katanya lembut

“mmm” gumamku sebagai jawaban lalu berlalu dari hadapan dedi.

Aku sudah menyerah, menyerah untuk bertindak bodoh dan terluka. Aku sekarang ini layaknya boneka Barbie yang hidup dan bergerak menggunakan batrai.

Aku hanya menggulur-ngulur waktu agar tenaganya habis hingga pada saatnya akan mati dan tidak berguna lagi. Tidak ada lagi penolakan dariku, aku tidak lagi berontak apa lagi membantah ucapan dedi.

Benar adanya, orang yang di perintahkan dedi sudah datang dan membawakan pakaian untukku. Ku pikir dedi akan menyuruh orang untuk menggambil pakaian milikku di rumah kontraka, nyatanya tidak.

Di closet yang sebelumnya hanya milik dedi bahkan sudah tergantung banyak pakaian untukku. Sekali lagi aku takjub dengan kekuatan uang, bodohnya ku baru sadar jika uang memang bukan segalanya tapi uang bisa mengatur segalanya.

Closet di kamar dedi layaknya sebuah tokoh pribadi untuk kami berdua. Di sana terdapat, banyak barang seperti tas, sepatu, sandal pesta, aksesoris seperti jam tangan, cincin, kalung hingga alat makeup yang harganya fantastic.

Semua ini membuatku takjub, Aku masih sibuk memperbaiki penampilanku hingga tanpa ku rasa dedi sudah berada di belakangku dan menatap cermin yang memantulkan tubuh kami berdua.

“kau menyukainya nyonya?” tanyanya padaku.

“…” aku tidak menjawabnya karena sudah jelas dia tahu jawabannya.

“mami sedari dulu selalu menyempatkan diri membeli perhiasan-perhiasan untukmu” kata dedi sembari memperhatikan semua perhiasan yang tersusun rapi.

Terlebih dulu dedi membantuku berdiri dan mengarahkan tubuhku agar bisa saling berhadapan dengannya. Setelah itu terjadi, di ambilnya sebuah cincin lalu dia meraih tanganku.

“ini cincin yang di wariskan oma pada mami, cincin ini sudah turun temurun dari 4 generasi dan sekarang memakai dan menjaganya” ujar dedi sembari memasangkan cincin itu di jari manis sebelah kanan.

“…” aku masih memilih diam saja.

“dan ini adalah cincin pernikahan kita” katanya sekali lagi lalu memasukkan cincin di jari manis sebelah kiri.

“….” Aku masih dalam kebungkamanku tapi mataku kini sudah beralih untuk menatap cincin di tangan sebelah kiriku.

Cincin itu, cincin yang dedi sebut sebagai cincin pernikahan kami, seketika menggingatkanku akan rasa sakit yang dia dan keluarganya pada keluargaku. Aku maunya tidak menanggis tapi luka, hinaan, trauma spontan membuat tubuhku bergetar hebat.

Dedi memelukku bahkan sebuah usapan di punggun serta ciuman di kening tidak membuatku nyaman. Aku serasa membutuhkan ibu dan ayahku.

Aku masih belum terbiasa dengan perlakuan dedi dan sentuhan dedi seutuhnya tidak bisa membuatku tenang.

“pulang” ujarku di tengah isak tangis layaknya anak kecil.

“ini adalah rumahmu. Pulang kemana lagi” bantahnya.

“orang, orangtuaku, aku ingin mereka” kataku lagi.

“ya mereka sedang menuju ke sini. Mami menggundang mereka untuk makan malam”.

“aku boleh pulang bersama mereka?”

“tidak”

“kenapa?”

“aku suamimu, dimana ada aku, di situ seharusnya kau berada”

“…” aku tidak membantah lagi.

Kini dedi menggarahkan tubuhku untuk duduk di kursi depan meja hias. Dedi menyisir rambutku dengan telatn lalu berkata.

“aku berharap anak perempuan kita sepertiku tapi memiliki fisik sepertimu”

“…”

“maaf. Aku tahu kami sudah melukaimu terlalu dalam”

“…” aku masih tidak ingin menyanggah perkataan dedi.

“salahku yang lemah, salahku yang tidak bisa membahagiakanmu saat itu, dan salahku tidak menjelaskan semuanya sebelum pernikahan kita”

“kenapa?” tanyaku pada akhirnya.

“besok aku harus cek up. Besok biar ku beri tahu kebenarannya dan besok ku harap kau memaafkanku” kata dedi menatap pantulanku di cermin intens seolah menunjukkan ke jujuran dalam ucapannya.

Pukul tujuh lebih, orangtuaku benar datang kerumah besar milik Keluarga Brawijaya. Sekali lagi terjadi pertemuan antara dua keluarga.

Kami tidak banyak melakukan banyak basa-basi karena kedua orangtuaku langsung di tuntun menuju meja makan. Kami makan dengan tenang, tidak ada pembicaraan apa lagi canda tawa kala hidangan sudah di siapkan di hadapan kami.

Setelah semuanya selesai makan, barulah kami beranjak ke ruang keluarga dan barulah terjadi percakapan antara orangtuaku dan orangtua dedi.

Kami semua telah berkumpul di ruang keluarga Brawijaya hingga orang tuaku membuka pembicaraan diantara kami. Aku tidak memperdulikan mereka yang sangat asyik membincangkan sesuatu yang tidak ku mengerti.

Cukup alot mereka menyatukan pendapat dan barulah aku mengerti jika mereka sedang pembicaraan rencana resepsiku dengan dedi. Ssecara tiba – tiba, aku merasa seakan DEJAVU dimana kejadian kelam itu akan terjadi lagi padaku dan keluargaku.

Menggetahui itu dedi menggenggam tanganku dengan cukup kuat seolah menyalirkan kekuatan dan meyakinkanku jika akan ada dirinya untuk bersamaku, kutatap wajah-wajah itu satu persatu kucoba untuk meyakinkan diri jika semuanya telah berjalan baik tidak ada lagi kisah kelam dalam hidupku, tetapi semakin aku mencoba semakin jelas ketakutan itu nenyerang,

wajahku telah memucat lalu disertai keringat dingin. Dedi terus mengelus punggungku lalu tidak lama dekapku dengan erat. Melihat aku seperti di landa kehawatiran yang berlebih, mereka semua menghentikan pembicaraannya, kini mereka menatapku dengan penuh tanya namun dedi memberikan senyuman tipisnya lalu berkata

"Tidak apa- apa lanjutkan saja, aku akan membawanya kekamar"

Tidak ada bantahan atau pemborontakan dariku karena pikiran-pikiran buruk telah mengguasaiku hingga tanpa kusadari dedi telah mendekapku kedalam gendongan ala bridel stayle dan membawaku memasuki kamar tidurnya.

Sesampainya di kamar kami sama-sama diam, aku tak sanggup untuk membuka suara dan dedi pun sepertinya enggan membuatku semakin khawatir, jadi setelah mendekati tempat tidur dedi mendudukkanku diatas kasur.

"Minggu depan kita akan mengadakan resepsi"

mendengar kata - katanya kembali menyadarkanku lelaki ini adalah orang sama yang telah mempermainkan hidupku dan apa katanya resepsi mendengar kata itu tanpa sadar aku melepaskan diri dari dekapannya lalu tanganku telah berada dilehernya dan siap untuk mencekiknya

"Permainan apa lagi yang ingin kau perankan *******"

"Sssttt tenanglah sayang tenang okey" Ucapnya mencoba memelukku kembali

"Sebenarnya apa yang kau inginkan dariku hikss kau telah merebut semuanya hiks kau kau telah hiks mendapatkan hakmu jadi hiks ceraikan aku hiks lepaskan aku hiks membiarkan kau masuk dalam hiks kehidupanku adalah kesalahan terbesarku kau telah berhasil memghancurkan semuanya aku aku juga ingin hidup bahagia mengenalmu dan keluarhamu hanya membuat hidupku sangat menderita hiks"

"..... "

"Kau.. kau tahu betapa menderitanya aku setelah pernikahan itu hiks aku harus siap menerima tatapan iba dari semua orang yang ku kenal mereka hiks mereka menghina keluargaku mereka hiks hiks kau JAHAT "

"......."

"Aku aku ingin membunuhmu hiks aku aku hiks hikss"

"Luapkan semuanya sayang luapkan dan maafkan aku itu semua diluar prediksiku"

" Jadi apa yang kau inginkan sekarang HAH" Emosi kembali menguasaiku

"Bersamamu" Ucapnya lirik namun ada ketegasan didalamnya

PLAKK

"KAU PIKIR AKU APA HAH? SAMPAH? SEENAKNYA KAU BUANG LALU KEMBALI KAU PUNGGUT TUK DIDAUR ULANG IYA oghhh kau dan kelaurgamu benar - benar hhmmmgff"

Belum berhasil aku menyelesaikan ucapanku dirinya kembali membekap bibirku dengan bibirnya menyalurkan kata yang tak terucap namun tersampaikan lewat lumatan kali ini.

Tak ada nafsu yang membara hanya decapan lembut namun sampai menembus hingga kejiwa hal itu cukup lama terjadi.

"Aku janji tidak akan ada penggulangan lagi" ujar dedi setelah melepaskan lumatannya.

"...." aku diam dan masih berusaha menggatur nafasku yang terputus-putus setelah ciuman kami.

"Aku janji tidak akan meninggalkanmu" katanya lagi meyakinkan.

"Tapi kau telah melakukannya" ujarku cepat menggeluarkan isi pikiranku

"Itu dulu tapi tidak untuk sekarang"

"Apa buktinya?" tantangku mencari keyakinan.

"Seluruh kekayaan milikku akan menjadi milikmu" ujarnya santai.

"******** kau pikir aku apa hah" Amarah seketika melandaku aku sungguh tidak suka mendengar kata-katanya yang seolah merendahkanku.

Tapi bukannya mendapatkan jawaban dedi kembali membungkam bibirku dengan bibirnya, dan dengan sangat pelan dirinya kembali menjamah tubuhku hingga membuatku terhasut gairah yang sangat memabukkan.

Ya selalu seperti itu dan cara itu memang ampuh untuk membuatku tenang. Baru juga dedi membuka pakaianku, aku segera mencegat dan berkata

“di sana masih sakit” ujarku menunduk malu.

“okey kita akan menunda proyek pembuatan baby kita. Kau mengantuk?”

“mm” jawabku asal padahal kepalaku sedang penuh saat ini dan jelas tidak akan membuatku mengantuk.

“okey sekarang berbenahlah dan kita tidur setelahnya” ujar dedi lalu menuju kamar mandi terlebih dulu.

1
Sondang Sartika Lumbanraja
yang paling aneh tuh orang tua Dewi bisa nya anak nya bolak balik dimasukkan ke kadang harimau udah tau anak nya disakiti dilecehkan dan dibuang tapi tetap aja disuruh balik ke suami nya yg gila
Irma Wati
kan judulnya apa ini.jadi cerita nya pun sm apa ini ko ngk jls
Allessha Nayyaka
pada akhirnya dewi bkl nyesel mpe mati
Kurniawati Adek
terlalu panjang alur nya,klu bisa inti nya ja supaya ga bosan membaca nya🙏
Siti Aisyah
secara agama dewi sdh bebas meskipun tdk ada ucapan ...wanita yg tidak di nafkahi lahir bathin selama 3 bulan berturut.turut itu sdh jatuh talak...jd dewi sdh wanita single lg...janda rasa perawan..krn gak pernah disentuh..🤣🤣🤣
Siti Aisyah
gak ada yg hrs dikomentarin yaa thor...prolog kepanjangan
Lestari Lestari
sumpah ini adalah novel terburuk yg pernah ku baca
Risa Istifa
🤗🤗🤗🤗🤗🤗
Risa Istifa
😭😭😭😭😭😭😭
Risa Istifa
😭😭😭😭😭😭😭😭😭😭
Jade Meamoure
cerita yg aneh tp aq tetep support agar di kesempatan lain bisa membuat karya yg lebih greget dan di sukai pembacanya
Jade Meamoure
kasih tendangan penghancur masa depan Napa...sebel aq koq teraniaya mulu
Jade Meamoure
nyimak Thor
RiStha Carvalho
ceritanya gak jelas,,, gimana kelanjutan rianti sama dedi??? menguap begitu saja. dgn mudahnya dewi balik lagi sama dedi setelah berulang kali di sakiti. bener" cerita in****ar
Nety
aku takan pernah sudi merendah kan harga dirinya.

ko aku sedikit bingung ya, sebenarnya yg ngomong ini siapa sih?? dewi yg menceritakan kisah nya apa orang lain yg menceritakan kisah dewi

hmmmm 🤔🤔??
Citra Esmi
sumpah deh geregetan aq.... pengin berhenti baca kasian dewi nya.... tapi penasaran .... huaaaaaaaa
Davina Jbg
sbnrnya msh bnyak pertanyaan yg blm terjawab sih.. spt hub rianti dan dedi, kmn dedi menghilang n jarang pulang, dan bagaiman hkdpan dedi stlah dewi menghilang.
Maritza Hanan
mumet aku bacanya 💣
Debora Tangke
capek ngikutin alurx gak jelas ,kirain saat dewi koma dan sadar utk brpamitan dan prgi utk slma2x kisahx sdh end ,kok malah jdi pux ank lagi kan janinx sdh diangkat dan mati krn kecelkaaan ?
Revalina
jujur aku belom paham alur ceritanya Keman? terus plakor nya hilang? kemana kecelakaannya kenapa? aku 😕😕
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!