Sejak kecil, Lolitta telah melewati begitu banyak penderitaan hidup. Berbagai masalah bahkan menyeretnya hingga ke penjara, menempa dirinya menjadi seorang gadis yang tangguh dan mandiri. Ia selalu menyelesaikan masalah dengan kekerasan. Meski bertunangan dengan pria kaya dan tampan, Lolitta tak pernah menjadi manja atau bergantung pada tunangannya.Di
balik ketegarannya, ia menyimpan luka yang hanya bisa ia tangisi dalam diam.
Dev Zhang, seorang konglomerat berpengaruh, menerima pertunangan itu hanya demi memenuhi permintaan sang kakek. Ia tak pernah menyadari bahwa gadis yang berdiri di sisinya telah mencintainya selama sepuluh tahun. Kedekatan Dev dengan cinta pertamanya membuat Lolitta memilih menjauh dan selalu menjaga jarak, mengubur perasaannya dalam diam.
Akankah Lolitta akhirnya berani mengungkapkan perasaan yang selama ini ia pendam pada Dev Zhang?
Dan di antara Lolitta dan cinta pertamanya, siapakah yang benar-benar dicintai Dev?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon linda huang, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 24
Dev kembali ke ruang kantornya bersama Shane setelah rapat yang menegangkan itu.
Dev menarik napas panjang sebelum akhirnya mengambil ponselnya dan menghubungi seseorang.
Tak lama kemudian panggilan itu tersambung.
Di sisi lain, Lolitta sedang berada di tempatnya sendiri. Suaranya terdengar santai, seolah berita yang sedang ramai dibicarakan publik itu tidak ada hubungannya dengan dirinya.
Dev langsung berbicara lebih dulu dengan nada khawatir.
"Lolitta, berita itu sudah dihapus. Jangan disimpan di dalam hati," kata Dev dengan suara lembut namun serius.
Di seberang telepon, Lolitta bersandar santai di kursinya sambil memainkan ujung rambutnya.
"Aku tidak apa-apa," jawab Lolitta tenang. "Ini bukan kejutan bagiku. Ada yang sengaja menyebarkannya. Jadi aku terima saja."
Dev mengerutkan kening mendengar jawaban yang terlalu santai itu.
"Aku sedang mencari tahu siapa pelakunya," ujar Dev dengan nada tegas. "Mengenai permintaan para investor, kau tidak perlu memenuhinya."
Lolitta terdiam sejenak, seolah sedang memikirkan sesuatu.
"Aku akan datang," katanya akhirnya.
Nada suaranya terdengar santai, tetapi penuh keyakinan.
"Saat ini aku ada urusan. Nanti aku akan menghubungimu saat aku akan ke sana."
Dev langsung berdiri dari kursinya, jelas tidak setuju dengan keputusan itu.
"Mereka akan menekanmu," ujar Dev dengan nada serius. "Kau tidak perlu hadir."
Namun Lolitta justru tertawa kecil di seberang sana. "Aku justru penasaran," katanya dengan nada ringan namun tajam, "dengan cara apa mereka akan menekanku. Dan apakah mereka… layak."
Dev memijat pelipisnya pelan. Ia tahu betul sifat keras kepala wanita itu.
"Lolitta," katanya lagi dengan nada lebih rendah, "aku akan mengurus masalah ini. Aku hanya tidak ingin kau merasa tertekan."
Namun Lolitta tetap tidak berubah pendirian.
"Hanya masalah kecil seperti ini tidak bisa membuatku terpuruk," jawab Lolitta dengan percaya diri. "Tenang saja. Aku adalah manager yang kau rekrut. Jadi aku harus tampil. Sampai jumpa besok."
Sebelum Dev sempat menambahkan apa pun lagi, panggilan itu sudah terputus.
Dev menatap layar ponselnya beberapa detik.
Ia mengenal Lolitta terlalu baik.
Jika wanita itu sudah mengambil keputusan—
tidak ada seorang pun yang bisa menghentikannya.
"Direktur," katanya hati-hati, "apakah Nona Fang akan tetap hadir?"
Dev bersandar di kursinya dan menghela napas pelan.
"Aku sangat memahami sifatnya," kata Dev dengan nada datar namun pasti.
"Dia bukan tipe orang yang akan mengalah dan diam saja. Apakah sudah ditemukan pelaku yang menyebarkan berita itu?" tanya Dev.
Shane menggeleng pelan.
"Belum, Direktur."
Ia kemudian membuka data di tabletnya sebelum menjelaskan.
"Tidak terlacak siapa pelakunya. Perusahaan media hanya menerima laporan anonim."
Dev menyipitkan matanya.
"Mereka diminta untuk menyebarkan berita tersebut," lanjut Shane, "tetapi tidak ada yang tahu siapa pengirim aslinya."
Dev mengetukkan jarinya perlahan di atas meja, tanda ia sedang berpikir keras.
"Orang itu cukup rapi," gumamnya pelan. Berarti seseorang memang sengaja ingin membuat masalah."
Shane mengangguk setuju.
"Sepertinya begitu, Direktur."
"Tujuannya adalah Lolitta, bukan perusahaan," kata Dev dengan nada serius. "Siapa yang ingin menyakitinya?"
Shane terdiam sejenak, mencoba memikirkan kemungkinan yang ada.
Dev kemudian melanjutkan dengan tatapan tajam.
"Cari tahu apakah di sekitar Lolitta ada orang yang bermusuhan dengannya," perintahnya tegas. "Aku tidak percaya pelakunya tidak bisa ditemukan."
Shane segera mengangguk hormat.
"Segera saya lakukan, Direktur."
Setelah itu ia berbalik dan langsung keluar dari ruangan untuk menjalankan perintah tersebut.
Keesokan harinya.
Pagi di perusahaan milik Dev terlihat lebih sibuk dari biasanya. Para karyawan berjalan cepat di lorong-lorong kantor, beberapa di antaranya bahkan berbisik membicarakan berita yang sempat viral semalam.
Tak lama kemudian sebuah mobil berhenti di depan gedung perusahaan.
Lolitta turun dari mobil dengan langkah tenang. Ia mengenakan pakaian kerja yang elegan, wajahnya terlihat santai seolah tidak ada masalah besar yang sedang menunggunya di dalam gedung itu.
Namun baru beberapa langkah ia berjalan menuju pintu masuk—
sebuah suara tiba-tiba memanggilnya.
"Nona Fang!"
Lolitta berhenti melangkah.
Di depannya berdiri Carmen Hong dengan senyum tipis di wajahnya. Di samping Carmen berdiri asistennya, Lolla Fan, yang memandang Lolitta dengan tatapan sinis.
Lolitta menatap mereka berdua dengan ekspresi datar.
"Ada apa mencariku?" tanya Lolitta santai.
Carmen menyilangkan tangannya dengan anggun sebelum bertanya balik.
"Apakah kau tahu siapa aku?"
Lolitta menatapnya sekilas dari atas ke bawah, lalu mengangkat bahu.
"Tidak penting bagiku," jawabnya singkat.
Jawaban itu langsung membuat wajah Lolla Fan berubah kesal.
Ia melangkah maju sedikit.
"Hei! Apa kau tidak tahu sedang bicara dengan siapa?" tanya Lolla dengan nada ketus.
Namun Lolitta hanya menatapnya sekilas dengan ekspresi malas.
"Hanya seorang artis yang baru naik daun," kata Lolitta dengan nada tenang namun tajam. "Kenapa harus diperbesar?"
Kata-kata itu membuat wajah Lolla langsung memerah karena marah.
Sementara Carmen Hong tetap tersenyum, meskipun jelas terlihat bahwa suasana di antara mereka mulai memanas.
Lolla langsung melangkah maju dengan wajah penuh kemarahan. Nada bicaranya terdengar tajam, seolah sengaja ingin mempermalukan Lolitta di depan orang-orang yang mulai memperhatikan dari kejauhan.
"Lolitta Fang, hanya seorang manager saja kau sudah begitu sombong," kata Lolla dengan nada mengejek. "Apa kau tidak tahu siapa Nona Hong di sini?"
Ia menunjuk Carmen yang berdiri di sampingnya. "Dia bahkan lebih penting darimu. Dia direkrut sendiri oleh Direktur."
Beberapa karyawan yang lewat mulai berhenti dan saling berbisik. Suasana di lobi perusahaan perlahan menjadi tegang.
Namun Lolitta sama sekali tidak terlihat terpengaruh.
Ia hanya menatap Lolla sebentar, lalu mengangkat alisnya dengan ekspresi dingin.
"Siapa yang bertanya?" balas Lolitta santai.
Lolla terdiam sejenak.
"Aku tidak penasaran," lanjut Lolitta tanpa sedikit pun emosi. "Kedatanganku ke sini ada urusan dengan Direktur."
Ia melirik Carmen sekilas.
"Bukan dengan artis kecil… dan peliharaannya."
Setelah mengatakan itu, Lolitta langsung melangkah pergi tanpa menunggu reaksi mereka, seolah percakapan itu tidak penting baginya.
Kata-kata terakhirnya membuat wajah Lolla langsung memerah karena marah.
"Peliharaan?" ulang Lolla dengan nada kesal.
Tangannya mengepal kuat, jelas ia ingin membalas perkataan itu.
Namun Carmen Hong yang berdiri di sampingnya justru mengangkat tangannya sedikit, memberi isyarat agar Lolla diam.
Meski wajah Carmen sedang menahan emosi.
Mampir dan dukung karyaku, yuk!
- TRUST ME
Kritik dan saran dari kakak akan memberi dukungan tersendiri untukku..
Bikin aku jadi semangat terus untuk berkarya..
Jangan lupa juga untuk Like, Komen, Share, dan Subscribe, ya..
Ditunggu ya, kak..
Terima kasih..
🥰🥰🥰