NovelToon NovelToon
Aluna : Bayang - Bayang Luka

Aluna : Bayang - Bayang Luka

Status: sedang berlangsung
Genre:Dokter / Pelakor / Penyesalan Suami / Kehidupan Manis Setelah Patah Hati / Naik ranjang/turun ranjang / Cintapertama
Popularitas:6k
Nilai: 5
Nama Author: tanty rahayu bahari

Aluna terjebak dalam pernikahan neraka. Di mata dunia, dia adalah istri Arvino Hardinata. Namun di balik pintu tertutup, dia dianggap sebagai "pembunuh" oleh suaminya sendiri. Aluna bertahan demi Lili, satu-satunya sumber kekuatannya, sambil berharap suatu hari Arvino melihat ketulusan cintanya—sebelum penyakit dan kelelahan batin menggerogoti Aluna sepenuhnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon tanty rahayu bahari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 24: Kehancuran di Tengah Hujan

​Surat gugatan cerai itu kini tergeletak di lantai, kusut, mencerminkan kekacauan di mata Arvino. Dia tidak pernah menyangka akan kehilangan kendali atas 'kontrak' ini. Dia selalu berpikir bahwa aku akan bertahan, takut pada Papa dan mencintai Lili.

​"Kau tidak bisa melakukan ini," Arvino mengulanginya, suaranya kini lebih berupa ancaman yang rapuh, bukan kemarahan yang membara.

​"Aku bisa, Kak. Aku sudah melakukannya," aku menatapnya tanpa gentar. "Jika Kakak ingin menjaga harga diri Kakak, segera hubungi pengacara Kakak dan kita selesaikan ini baik-baik. Kalau tidak, aku akan menyerahkan gugatan ini ke pengadilan, dan seluruh dunia akan tahu bahwa pernikahan Hardinata adalah lelucon yang dibangun di atas kebencian."

​Arvino maju selangkah, menatapku seolah ingin mencekikku, tapi ia menahan diri. Kilatan di matanya adalah pertarungan antara keangkuhan yang terluka dan ketakutan absolut akan kehilangan Lili.

​"Kau tidak akan mendapatkannya. Lili akan tetap bersamaku," desisnya.

​"Mungkin. Tapi setidaknya aku akan bebas," jawabku. "Pikirkan baik-baik, Kak. Aku akan menunggu jawaban Kakak sampai malam ini. Jika Kakak tidak merespons, besok pagi gugatan resmi akan masuk."

​Aku mengambil tasku, membalikkan badan, dan berjalan keluar.

​Aku berhenti di depan kamar Lili sebentar, menarik napas. Aku tidak bisa melihatnya. Aku harus kuat. Aku harus pergi sekarang, sebelum air mataku jatuh.

​Aku turun ke lantai dasar. Mama dan Papa Hardinata belum bangun. Aku meninggalkan rumah itu dengan terburu-buru.

​Aku sampai di Rumah Sakit Merdeka, menjalani hari dengan autopilot. Tanganku melakukan operasi, otakku memproses diagnosa, tapi jiwaku tertinggal di rumah itu.

​Sore harinya, saat aku baru saja selesai dengan kasus operasi minor, aku menerima pesan singkat dari Ardo.

​Ardo: Aluna. Kau harus tenang. Ada kecelakaan.

​Aku: Siapa?

​Ardo: Kak Vino. Mobilnya terbalik di jalan tol menuju kantor. Hujannya sangat lebat.

​Duniaku berhenti berputar. Semua kebencian yang kurasakan padanya hilang dalam sekejap, digantikan oleh kepanikan. Arvino. Kecelakaan.

​"Aku harus pergi," kataku pada rekan kerjaku, Dokter Risa. "Segera."

​Aku bergegas keluar, tanpa mengganti seragam bedahku yang masih berbau antiseptik.

​Aku mengendarai mobil dengan kecepatan gila, menuju Rumah Sakit Hardinata. Itu adalah rumah sakit terbaik di Jakarta, dan sudah pasti Arvino dibawa ke sana.

​Saat aku tiba di lobi IGD Rumah Sakit Hardinata, kekacauan sudah terjadi. Papa Hardinata sudah ada di sana, berteriak pada para perawat. Mama menangis histeris. Ardo terlihat pucat, berusaha menenangkan mereka.

​Aku langsung bergerak seperti seorang dokter, bukan seorang istri.

​"Di mana dia?" tanyaku pada Ardo.

​"Ruang resus, Lun. Trauma parah. Dokter Adrian sedang menanganinya," Ardo menunjuk.

​Aku bergegas masuk ke Ruang Resus (resusitasi). Di sana, pemandangan itu terasa mengerikan. Arvino terbaring di ranjang, wajahnya berlumuran darah, kakinya disangga, dan tangannya sudah diperban. Dr. Adrian dan timnya bekerja cepat.

​"Aluna! Kau tidak boleh di sini!" bentak Papa Hardinata, mencoba menarikku.

​Aku menepis tangan Papa. "Saya dokter, Papa! Saya perlu tahu kondisinya!"

​Aku mendekati ranjang Arvino. Dr. Adrian menoleh, matanya terkejut melihatku mengenakan seragam bedah RS Merdeka.

​"Aluna! Kau harus keluar!" kata Dr. Adrian, tapi kemudian dia melihat ketenangan dan tekad di mataku. "Dia mengalami trauma abdomen tertutup dan fraktur terbuka di kaki kanan. Kita harus segera operasi. Pendarahan internal tidak terdeteksi jelas, tapi kita harus bersiap."

​Aku mengabaikan Dr. Adrian, langsung memeriksa Arvino. Arvino setengah sadar. Matanya terbuka, menatap langit-langit, atau menatapku, aku tidak tahu.

​Aku memegang lengannya yang tidak terluka. "Kak Vino! Kau mendengarku?"

​Arvino menoleh padaku. Pandangannya kosong, tapi ada kilatan pengakuan yang sangat menyakitkan.

​"Kau... kau bahagia, kan?" bisiknya, suaranya serak dan nyaris tak terdengar, mengacu pada surat cerai.

​Air mataku tumpah. Baju bedahku basah. "Jangan bicara bodoh, Kak! Kau harus bertahan! Kau harus hidup untuk Lili!"

​Aku menatap Dr. Adrian. "Saya akan ikut. Saya akan menjadi asisten pertama Anda, Dokter. Saya tahu semua riwayat kesehatannya."

​Aku berdiri di sana, sebagai Dokter Aluna, bukan sebagai istri. Aku harus menyelamatkan pria yang telah menyiksaku, karena jika dia mati, Lili akan benar-benar kehilangan segalanya.

​Dr. Adrian ragu, lalu mengangguk. Dia tahu dia membutuhkan seorang bedah yang tenang, dan ia tahu keahlianku. "Baik. Suster, siapkan Dokter Aluna untuk operasi. Cepat!"

​Operasi berjalan selama lima jam yang menegangkan.

​Kaki kanan Arvino mengalami patah tulang yang parah, namun yang paling mengkhawatirkan adalah perutnya. Ada pendarahan internal ringan, tapi tim bedah berhasil menghentikannya. Aku bekerja di samping Dr. Adrian, tangan bedahku setajam dulu.

​Di saat-saat paling kritis, saat denyut jantung Arvino melemah, aku berbicara padanya.

​"Kak Vino, dengarkan aku! Kau tidak boleh menyerah! Lili butuh kamu! Aku butuh Kakak! Papa dan Mama butuh Kakak! Kakak harus berjuang! Aku tidak akan pernah memaafkan Kakak jika Kakak menyerah sekarang!"

​Aku tidak tahu kenapa aku mengatakan 'Aku butuh Kakak'. Apakah itu kebohongan untuk membuatnya berjuang, atau kebenaran yang baru kusadari?

...----------------...

​Kami berhasil. Arvino selamat.

​Saat ia dipindahkan ke ruang ICU, aku berjalan keluar dari ruang operasi. Aku melihat Papa, Mama, dan Ardo menunggu dengan cemas.

​"Dia selamat," kataku, seragamku penuh noda darah (darah Arvino), wajahku basah oleh keringat dan air mata.

​Mama langsung memelukku. Papa Hardinata menatapku, wajahnya dipenuhi rasa terima kasih yang tak terhingga, dan rasa malu yang mendalam atas perlakuan mereka.

​Aku melepaskan pelukan Mama. Aku sangat lelah.

​Aku berjalan ke kamar mandi, membersihkan diri dan mengganti seragam. Ketika aku kembali, Ardo menahanku.

​"Lun, Papa ingin bicara denganmu," kata Ardo, menunjuk ke Papa Raharja yang berdiri di sudut.

​Aku berjalan menuju Papa. Papa yang biasanya angkuh kini terlihat tua dan rapuh.

​"Aluna," katanya, suaranya serak. "Terima kasih. Kau menyelamatkan anakku. Kau menyelamatkan nyawa anakku."

​"Saya hanya melakukan tugas saya sebagai dokter, Papa," jawabku dingin.

​Papa menatapku lama. "Aku melihat surat itu. Surat cerai. Aku tahu Arvino telah menyakitimu. Aku minta maaf. Kami semua minta maaf."

​Ini adalah pertama kalinya Papa Raharja meminta maaf.

​"Jangan minta maaf, Papa. Itu tidak akan mengubah fakta. Aku akan tetap menceraikan Kak Vino," kataku, memegang teguh keputusanku.

​Papa menghela napas. "Jika itu maumu. Tapi Aluna... setidaknya, tinggallah sebentar lagi. Arvino akan koma selama beberapa hari. Lili butuh kau. Kami butuh kau. Selama Arvino sakit, bisakah kau tinggal di rumah itu? Demi Lili?"

​Aku menatap Lili. Pria itu mungkin membenciku, tapi aku adalah penyelamatnya, dan aku adalah ibu bagi putrinya. Aku tidak bisa meninggalkan Lili sendirian.

​Aku mengangguk. "Aku akan tinggal. Sampai Kak Vino sadar dan stabil. Setelah itu, aku akan pergi, dan kita akan lanjutkan proses perceraian."

​Aku membalikkan badan, berjalan menuju kamar Arvino di ICU. Aku tahu pria itu sudah terbaring tak berdaya. Aku menang dalam pertempuran hukum, tapi aku kalah dalam pertempuran hatiku sendiri.

...****************...

Bersambung...

Terima kasih telah membaca💞

Jangan lupa bantu like komen dan share ❣️

1
leahlaurance
kabur aja menjau sana aluna.hatinya tetap untuk sarah istrinya
leahlaurance
tungu aja istri mu mati ,mungkin rasa bersalamu sampai masuk kubur
leahlaurance
kenapa si kamu bodoh amat wajai perempuan tingalin aja dia
اختی وحی
trllu bertele² ceritanya, sampe bab ini msih bgitu² aja,kejadian berulang
leahlaurance
kan ada pengasuh
leahlaurance
makanya jangan bodoh,masa enga ada kamar lain
اختی وحی
ada bab yg seolah² mrk ini tinggal bareng sma mertua,tp ad bab yg menjelaskan klw mrk tdk serumah dngn orang tuanya, bingung jg
leahlaurance
perempuan bodoh,kau pantas dapat perlekuan seperti itu.
leahlaurance
bagus bangat ceritanya,jiwa ku ikut terseksa tambah beben fikiran😂🤭
leahlaurance
menurut ku aluna juga punya hak menolok.tapi demi cinta butanya kali ya.
leahlaurance
bertepuk sebelah tangan ya aluna
shabiru Al
sebaiknya jika ingin memulai lagi,, carilah rumah baru agar suasana nya pun baru tanpa ada kenangan menyakitkan dan bayangan sarah
leahlaurance: enga dapak ku bayangkan kalau aku menikah dgn ipar ,walau itu wasiatnya
total 1 replies
shabiru Al
entah dengan cara apa arvino bisa meluluhkan hati aluna
shabiru Al
hukuman yang terberat adalah pengabaian dan rasa yang sudah hilang sepenuhnya
shabiru Al
benar maaf saja tdk cukup untuk satu tahun penyiksaan yang kejam dan tdk berdasar.. enak aja
shabiru Al
aluna yang malang tpi hebat mau bangkit dan ttp maju kedepan💪
shabiru Al
bodoh kalau aluna ttp bertahan demi lili
shabiru Al
ya kirain bakalan berubah fikiran aluna nya,, good aluna setidaknya tdk terlalu tercekik berada dlm atap yang sama
shabiru Al
aku kira aluna tdk akan berani memperjuangkan kebahagiaan nya sendiri kebebasan nya sendiri,, good job aluna... 👍
Yulianti Yulianti
ini udah tamat sampai sini bukan kak
tanty rahayu: belum ka 😊
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!