Natalie terpaksa bekerja pada Ares demi memenuhi kebutuhan ekonominya, termasuk bekerja di club malam dan kemudian menjadi asisten pribadinya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sabana01, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 24: Rekonsiliasi dan Batasan Baru
Di kafe yang tenang, ketegangan terasa lebih tebal daripada asap rokok. Dion duduk di hadapan Natalie, yang kini ditemani Ares. Tatapan Dion terbagi antara keterkejutan melihat transformasi Natalie dan kemarahan diam-diam terhadap pria asing yang kini mengklaimnya.
"Aku melihat ibumu, Dion. Dia sudah aman sekarang," kata Natalie, memecah keheningan. "Dia bilang kau yang membantunya menghilang. Terima kasih."
Dion mengabaikan Ares sepenuhnya. Matanya terpaku pada Natalie. "Aku melakukannya untukmu, Nat. Aku tahu kau harus pergi. Aku tidak bisa menjagamu di sini, jadi aku memastikan beban terbesarmu, ibumu, tidak pernah menyeretmu kembali ke sini."
Dion tersenyum pahit. "Aku selalu tahu kau ditakdirkan untuk hal-hal besar, Nat. Tapi aku tidak tahu kau akan berakhir dengan... dengannya." Ia melirik Ares dengan jijik yang nyaris tak terlihat.
Ares, yang selama ini diam, kini berbicara. Suaranya tenang, dalam, dan penuh kekuasaan.
"Aku mengerti pengorbananmu, Dion. Dan aku menghargainya. Tapi mari kita perjelas aturannya," kata Ares. "Natalie adalah milikku. Kau adalah masa lalunya, dan aku adalah masa depannya. Loyalitasmu telah memberinya utang padamu, dan utang itu kini beralih padaku."
Ares mengeluarkan sebuah kartu memori yang sangat kecil dari sakunya dan mendorongnya ke hadapan Dion.
"Ini adalah akun dengan dana yang cukup untuk memberimu kebebasan seumur hidup. Pindah. Mulai hidup yang jauh dari bayangan kami. Jangan pernah menyebut nama Rima, Natalie, atau aku, kepada siapa pun. Jika kau menuruti ini, kau akan aman," jelas Ares.
Dion menatap kartu itu, lalu kembali ke Ares. "Aku tidak melakukannya untuk uang. Aku melakukannya untuknya."
"Tentu," balas Ares, sinis. "Tapi di dunia ini, niat baik tidak akan membuatmu tetap hidup. Hanya kekuatan dan uang yang bisa."
Dion menghela napas, ia memahami bahasa kekuasaan yang kejam itu. Dia melihat Natalie, yang kini duduk tegak, sebagai partner yang setara dengan Ares, bukan sebagai wanita muda yang ia lindungi di jalanan.
"Kau terlihat bahagia, Nat?" tanya Dion, nadanya penuh rasa ingin tahu dan kesedihan yang tulus.
Natalie menatap mata Dion. Ia berutang kejujuran padanya.
"Aku aman, Dion. Aku kuat. Dan dia..." Natalie meraih tangan Ares dan menggenggamnya, sebuah deklarasi yang jelas. "Dia adalah satu-satunya orang yang pernah melindungiku dengan kekuatannya, bukan dengan kelemahan. Aku mencintainya, Dion."
Mendengar pengakuan itu, bahu Dion melemas. Rasa sakitnya nyata, tetapi dia juga melihat bahwa Natalie kini berada di liga yang berbeda, liga yang dia tahu dia tidak akan pernah bisa masuki.
"Aku mengerti," kata Dion, suaranya pelan. "Aku hanya ingin kau aman, Nat."
Kesepakatan Akhir
Dion mengambil kartu memori itu, bukan karena keserakahan, tetapi karena ia mengerti bahwa ini adalah satu-satunya cara untuk menutup babak ini dan memastikan Natalie benar-benar bebas.
"Aku akan pergi. Aku akan menghilang," kata Dion. "Tapi beritahu Rima, aku akan selalu menjaganya. Dari jauh."
"Dia akan tahu," janji Natalie.
Ares mengangguk. "Kau membuat keputusan yang cerdas, Dion. Jangan pernah melihat ke belakang. Jika kau pernah membutuhkan bantuan, kau tahu cara menghubungi Rima. Itu adalah satu-satunya jembatanmu ke kami."
Dion berdiri. Dia menatap Natalie untuk terakhir kalinya, tatapan perpisahan yang mengandung semua kenangan masa kecil mereka.
"Hati-hati, Nat. Dia adalah pria yang berbahaya," bisik Dion.
"Dan aku adalah wanitanya," balas Natalie, senyumnya dingin namun penuh kekuasaan.
Dion pergi, menghilang ke dalam malam, membawa serta rahasia dan loyalitasnya.
Babak Baru
Setelah Dion pergi, Ares dan Natalie kembali ke mobil mereka yang menunggu.
"Kau menanganinya dengan baik," kata Ares, ia meraih dagu Natalie dan menciumnya lembut. "Kau jujur padanya. Itu adalah risiko yang perlu diambil."
"Dia adalah pahlawan ibuku, Ares. Dia pantas mendapatkan kejujuran," jawab Natalie.
"Dan sekarang, kau adalah Bayanganku sepenuhnya, tanpa ada ikatan yang tersisa dengan masa lalumu. Ibuku aman, Buku Merah sudah kita kuasai, dan para pengagum rahasiamu sudah dilunasi," kata Ares, tangannya memegang erat tangan Natalie.
Saat mobil mereka melaju kembali ke penthouse yang menjulang tinggi, Natalie menatap ke luar jendela. Ia tidak lagi melihat gadis yang ditinggalkan di Cilacap, atau pelayan bar di Eclipse. Ia melihat wanita yang duduk di samping pria yang paling berkuasa dan paling berbahaya di kota—wanita yang menjadi satu-satunya kelemahannya, dan kini, kekuatan terbesarnya.
Natalie telah menemukan penebusan, bukan melalui pengampunan, tetapi melalui kekuasaan dan cinta yang lahir dari api