Tak pernah di sangka kehidupan bahagia keluarga Azka akan berakhir mengerikan hanya karena Ayahnya di tuduh menghamili anak dari seorang kaya dan sangat berpengaruh di desanya.
Azka yang sakit hati, terpaksa mengambil jalan pintas untuk membalaskan kekejaman para warga yang sudah di butakan oleh uang.
Dia terpaksa bersekutu dengan Iblis untuk membalaskan sakit hatinya.
Bagaimanakah nasib Azka, selanjutnya? Yu ikuti kisahnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hasri Ani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
KEBENCIAN UNTUK WARDAH
Wardah terdiam begitu lama di tempat. Batinnya berkecamuk, ingin mengatakan apa yang di dengarnya, namun ia ragu.
Akhirnya, dirinya di kagetkan dengan kedatangan Ibunya.
"Nduk, kok malah melamun. Sudah sana gegas pulang, hari sudah mulai gelap. Nanti ada Sobirin, yang mengantarkanmu pulang." Ucap Bu Rahma.
"Bu, sepertinya... ada yang sengaja menginginkan Bude meninggal, Bu. Bukan karena murni karena kelalaianku. Aku ingat betul, aku hanya pergi lima belas menitan, tidak seperti yang, Embak Parmi katakan itu, Bu." Ucap Wardah yang sebenarnya ingin berkata langsung ke masalah inti nya.
"Owalah..., Wardah. Kamu itu, udah nggak becus jagain Ndoro, masih berpikiran picik seperti itu. Aku lo ingat betul kamu perhi jam berapa, wong pas kamu pergi, pas banget aku mau nengokin, Ndoro kok. Mbokya kamu tu nyebut, Wardah. Sudah untung, kamu itu tidak di hukum, masih saja mau cari kambing hitam." Ketus Parmi tidak terima. Yang tiba-tiba berada di sana membuat terkejut, Wardah.
"Sudah sana pulang, Wardah! Jangan mencari
masalah lagi di rumahku. Ibuku baru saja menutup mata untuk selamanya. Kamu malah ingin membuat onar.
Emang dasar anak pungut! Nggak jelas keturunannya siapa, ya begini ni, sikapnya. Nggak ada sopan santunnya sama sekali di rumah orang. Bi, seharusnya, Bibi buang saja waktu itu, si anak yang nggak tau budi ini." Cerca Sulis yang nampaknya sangat marah.
Bu Rahma seketika ketakutan. Dia segera mendorong tubuh anaknya menjauh. "Nduk, sana pulang. Sobirin sudah menunggumu di teras. Ayo cepat! Jangan lagi mencari masalah di rumah ini. Bahaya, Nduk." Bisik Bu Rahma yang sepertinya sangat takut terhadap, keponakannya itu.
Wardah pun mengikuti saran Ibunya. Dia pun mengikuti Ibunya sampai teras rumah.
Parmi dan Sulis nampak tak tenang. "Embak, bagaimana ini? Kayaknya si anak pungut itu mendengar segalanya, yang kita ucapkan barusan." Parmi memainkan kuku jarinya terlihat sangat gelisah.
"Tetap tenang, dan terus awasi. Dan buat kamu, seandainya dia terlanjur mengatakan akan rahasia kita kepada Bibiku, kamu harus bersikap tenang dan harus pandai membantah nya. Ingat Parmi, selama ini kita tidak pernah gagal. Jadi aku pastikan kali ini pun kita aman." Ucap Sulis tegas. Parmi yang awalnya begitu panik pun, sudah mulai tenang.
"Embak, bagaimana kalau si Wardah itu, kita
lenyapkan juga, Embak. Bahaya! Sepertinya dia perempuan yang tidak biasa. Kalau tidak segera di habisi, akan beresiko kedepannya. Dan akan mempengaruhi nama baik, Embak Sulis. Yang berencana mau nyalon lurah tahun ini." Usul Parmi.
Sulis terlihat berpikir. "Memang perempuan itu sangat berbahaya. Aku tidak mau rencanaku gagal total. Ya sudah, lenyapkan dia secepatnya. Aku tidak mau menanggung resiko." Ucap Sulis. Parmi pun mengangguk. Dia pun ijin keluar untuk mencari seseorang yang sanggup mengerjakan tugas dari Majikannya.
"Emang harus segera di habisi, tuh anak. Kayaknya juga selalu di lirik-lirik suamiku. Dasar anak pungut nggak tau diri! Beraninya cari muka di depan, Ndoro, juga di depan suamiku. Untunglah ada kejadian ini, kalau tidak, aku nggak bisa leluasa melenyapkanmu. Huh...! Kali ini rasakan kamu, Wardah!" Gumam Parmi menuju depan rumah.
Saat parmi sampai teras, dia semakin emosi melihat suaminya yang tertawa renya dengan Wardah, dan Sobirin. Jarang sekali ia melihat suaminya tertawa seperti itu saat bersamanya. Tapi, dengan Wardah, dia begitu terlihat bahagia. Batinnya.
"Dasar gadis Sundal! Terang-terangan menggoda suamiku. Awas kamu, gadis pungut! Sebenatar lagi, kamu nggak bakal bisa tertawa selebar itu." Geram parmi, dengan pelan. Lalu menghampiri ke tiganya.
Dengan menahan rasa cemburu dan amarah yang membuncah, ia dekati suaminya.
"Mas! Dia itu gadis sial! Jangan lama-lama ngobrol dengan dia. Nanti nasib kamu sama seperti, Ndoro lo."
Ucap Parmi tanpa basa-basi.
Sobirin dan Wardah terlihat menghembuskan napas dalam mendengar ucapan Parmi tersebut.
"Kamu itu bicara apa, Par?! Wong aku cuma nyapa saja sama mereka. Wardah lo, mau pulang sore ini juga.
Padahal kan Budenya mau di makamkan, malam ini." Ucap Seno, yang tau istrinya cemburu.
"Kang Seno. Kita jalan dulu, ya? Udah mulai gelap, takut kemalaman. Mari Embak Wardah." Ucap Sobirin yang sudah menyalakan mesin motornya. Wardah mengangguk lalu segera naik.
Seno tersenyum kepada mereka. Lalu ia melirik Parmi kesal.
"mbok ya, kamu itu jangan asal ceplos begitu, Par. Kan aku jadi nggak enak sama mereka. Kamu itu, kebiasaan."
Gerutu Seno.
"Gimana nggak asal ceplos, Mas. Kamu itu kalau ketemu Wardah, senyum mu itu lebar sekali. Kayak melihat bidadari saja. Ya wajar lah aku cemburu." Kesal Parmi.
"Ya wajarlah...!? Eh...! Emang Wardah itu cantik, badannya ramping. Nggak kayak kamu, gembrot, nggak mau diet lagi. Muka kusam, nggak mau di rawat. Dan itu, tuh! Pake baju sukanya pake daster doang. Sepet aku liatnya, Par! Sudah-sudah, capek aku kalau berbicara sama kamu." Ucap Seno akhirnya keluar juga unek-unek nya.
Bagai di sambar petir. Parmi membeku di tempat, perlahan air matanya mengalir. Tidak menyangka dia akan mendapat ucapan sadis dari suaminya seperti ini. Selama ini, suaminya selalu memujinya cantik, dan suka akan penampilannya. Namun, barusan... "ASSTAAGAAA!! !" Gumamnya sambil menggigit bibir nya miris. Dia memegangi dadanya yang terasa sangat sakit.
"Cuma karena gadis yang tak punya etika itu, kamu menghinaku, Mas? Mengapa kamu tega berkata seperti itu kepadaku, Mas? Bukankan sebelumnya kamu bilang aku ini cantik? Aku tidak terima ini, Mas. Aku tidak terima! Huhu...!" Parmi menangis meraung-raung, lalu berlari menjauh. Perasaanya hancur, sehancur-hancurnya. Dia segera menaiki motornya yang terparkir.
Seno berusaha mengejar, namun terlambat, Parmi sudah jauh. "Hehalaaaahhh! Kok aku bisa keceplosan....! Waduh... bakal nggak dapat uang rokok lagi ini. Ah sial! Masa aku harus kerja, sih? Haduh.., males banget aku. Bisa-bisa aku jadi hitam, dan hilang ketampananku ini. Terus nggak PD lagi, dekat-dekat wanita cantik. Huh... nasib...! Hah! Ya sudahlah, nanti aku kelonin aja semalaman pasti dia luluh lagi. Tapi, kata-kataku tadi benar-benar keterlaluan. Apa dia masih mau maafin aku ya? Hemm. Ada Embak Sulis. Tapi, dia juga nggak membantu. Dia kalau di mintai duit, selalu bilang, minta sama si Parmi. Emang ya? Kaya-kaya tapi pelit. Sial!" Seno yang sangat anti dengan bekerja pun mulai gelisah.
***
Parmi pun sampai juga di rumah preman kampung yang biasa menerima sewaan sebagai tukang pukul.
"Jepri! Pri! Aku ada kerjaan buat kamu. Ayo, kita eksekusi sekarang juga." Ucap Parmi kala melihat Jepri sedang main kartu di serambi rumahnya bersama dengan dua orang temannya.
"maen ayo aja. Emang, siapa yang mau di eksekusi? Ngawur aja kamu. Semua itu harus di rencanakan matang dulu, Parmi." Ucap Jepri santai dengan rokok yang masih di sisi sudut bibirnya.
"Ah...! Ini mah nggak usah rencana. Dia sedang di perjalanan pulang sekarang. Dan nggak ada orang juga di rumahnya. Ayo cepat." Parmi menarik lengan, Jepri.
"Iya. Iya! Lalu, bayarannya gimana?" Tanya Jepri masih santai.
"Beres. Embak Sulis yang bayar kita."
"Nah, kalau ini aku siap. Cikrak, Ucok, ayo kerja."
Jepri mengajak dua temannya.
"Banyak amat. Cuma eksekusi dua orang aja, Jepri."
Protes Parmi dengsn mata melotot kepada Jepri.
"Ya, bagi-bagilah, Par. Pelit amat si, jadi orang." Parmi
hanya menyipitkan bola matanya tak sanggup membantah.
"Ya, Sudah ayolah."
"Lah! Kamu juga ikut, Par?" Tanya Jepri yang mulai menyalakan mesin motornya.
"Iya! Saya pengen lihat dengan mata kepala saya sendiri, bagaimana dia tersiksa, lalu mehong!" Ucap Parmi begitu antusias.
"Cek! Kamu itu nggak berubah ya, Par. Masih saja sadis hatimu itu." Jepri menggelengkan kepalanya.
"Nggak ada ampun buat orang yang sudah bikin hidup aku sengsara. Ayolah berangkat. Aku sudah gatal pengen nampar wajahnya yang sok cantik itu." Parmi pun melajukan motornya duluan. Lalu di ikuti Jepri dari belakang, bersama kedua temannya yang satu motor bersamanya.