NovelToon NovelToon
Pewaris Dalam Bayangan

Pewaris Dalam Bayangan

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Persahabatan / Action / Romantis
Popularitas:252
Nilai: 5
Nama Author: Hime_Hikari

Semua orang melihat Kenji Kazuma sebagai anak lemah dan penakut, tapi apa jadinya jika anak yang selalu dibully itu ternyata pewaris keluarga mafia paling berbahaya di Jepang.
Ketika masa lalu ayahnya muncul kembali lewat seorang siswa bernama Ren Hirano, Kenji terjebak di antara rahasia berdarah, dendam lama, dan perasaan yang tak seharusnya tumbuh.
Bisakah seseorang yang hidup dalam bayangan, benar-benar memilih menjadi manusia biasa?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hime_Hikari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 24 – Rahasia yang Terungkap

Malam turun perlahan di langit kota, meninggalkan kabut tipis yang menyelimuti jalan-jalan kecil menuju sekolah Emerald. Hujan telah berhenti, tetapi dinginnya masih tertinggal seperti bekas luka yang enggan hilang. Kenji melangkah keluar dari rumah setelah memastikan seluruh penjaga sudah lewat dari area pintu utama. Ia bergerak diam, memanfaatkan setiap sudut gelap taman agar tidak ketahuan. Sejak percakapan dengan Kazuma siang tadi, kepalanya tidak berhenti berputar.

Kata-kata itu masih menggema. “Jangan dekat-dekat Ren ataupun Ryuga kalau kau ingin tetap hidup.”

Kazuma mengucapkannya dengan tatapan terluka, namun penuh rahasia. Kenji tahu ayahnya menyembunyikan sesuatu  sesuatu besar, sesuatu yang berhubungan dengan ibunya. Dan setiap kali nama “Takatori” disebut, Kazuma terdiam seolah nafasnya ditarik paksa dari dadanya.

Kenji tidak tahan lagi, ia butuh jawaban dan Ren adalah satu-satunya orang yang mungkin memilikinya. Gudang belakang sekolah Emerald tampak sepi, diterangi lampu jalan yang meredup-remang. Lokasinya berada di area yang jarang dilalui siswa hanya petugas kebersihan yang biasanya lewat. Kenji menarik napas panjang sebelum mendorong pintu besinya.

Di dalam, bau debu dan karat memenuhi udara. Rak-rak tua, meja kayu yang setengah patah, serta papan bekas kegiatan sekolah menumpuk di sudut ruangan. Tapi di tengah kegelapan itu, Kenji mendengar suara langkah pelan.

“Kenji?”  Ren muncul dari balik rak buku besar.

Wajahnya tampak pucat, bukan karena takut pada Kenji  melainkan karena tubuhnya sendiri belum pulih sepenuhnya dari kejadian di atap. Saat ini Ren dan Kenji hanya tinggal berdua saja.

“Kau datang,” ucap Ren pelan.

Kenji menatapnya tanpa ekspresi. “Aku butuh jawaban.”

Ren menelan ludah, lalu mengangguk perlahan. “Aku tahu.”

Kenji mendekat, menatap Ren dengan mata gelap yang dipenuhi beban. “Kau bilang kemarin Ryuga dibuang. Tapi dia juga bilang ibuku dibunuh bukan oleh keluargamu.”

Ren menutup mata sebentar, seperti berusaha menelan rasa sakit yang lama disembunyikan. Ia menatap kearah Kenji tanpa mengeluarkan sepatah kata apapun, lalu dia kembali memandang suasana di sekolah saat ini.

“Kau mungkin nggak percaya ini,” katanya, “tapi tidak semua orang di keluarga Hirano ingin perang dengan Kazuma. Termasuk Mamaku.”

Wajah Kenji berubah tegang. “Mamaku? Apa hubungan Mamamu dengan Mamaku?”

Ren mengambil sebuah buku kecil dari dalam jaketnya. Ia membuka halaman tengah, memperlihatkan foto lama dua perempuan tersenyum di bawah pohon sakura. Salah satunya adalah ibunya Kenji, Sayaka. Satunya lagi perempuan muda dengan rambut perak pendek dan mata lembut Mama Ren.

“Mereka sahabat,” ucap Ren.

“Mereka bertemu jauh sebelum perang pecah.” Kenji terdiam lama, rasa hangat dan asing menusuk dadanya. Ibunya pernah bahagia. Mempunyai seseorang selain Kazuma.

“Aku … tidak tahu,” kata Kenji pelan.

“Tidak ada yang tahu,” jawab Ren.

“Karena jika ada yang tahu mereka dekat, perang antara dua keluarga akan lebih parah,” kata Ren.

Kenji memejam mata, mencengkram ujung meja. “Lalu … siapa yang membunuh Mamaku?”

Ren menggeleng. “Bukan Hirano.”

“Orang dalam keluarga Kazuma sendiri,” Ren menambahkan lirih. “Ryuga tidak berbohong.”

Suasana dalam gudang itu seperti membeku. Tak ada suara selain detak jantung Kenji yang bergema di telinganya sendiri.

“Siapa?” tanya Kenji, hampir berbisik.

Ren menghela napas panjang. “Aku tidak tahu.”

“Kami hanya tahu satu hal … orang itu bekerja untuk seseorang bernama Whisperer.”

Kenji membuka mata, tatapannya berubah tajam seperti pisau, Whisperer lagi. Nama itu seperti bayangan gelap yang selalu mengikuti sejak kejadian di atap. Seseorang yang memanipulasi perang tiga keluarga selama ini. Seseorang yang bahkan membuat Kazuma ketakutan.

“Kenapa dia membunuh ibuku?” tanya Kenji

“Apa salah ibuku?” tanya kembali Kenji bergetar.

Ren menunduk. “Aku tidak tahu alasan pastinya, tapi… ibu Ren pernah bilang bahwa Misaki  menemukan sesuatu. Sesuatu besar yang bisa menghancurkan ketiga keluarga.”

“Dan itu sebabnya dia dibunuh,” tambah Ren.

Kenji mengepalkan tinjunya begitu keras hingga buku jari memutih, suaranya pecah. “Kalau begitu aku harus tahu apa yang dia temukan.”

Ren menatapnya dengan mata penuh kecemasan. “Kenji … kau harus hati-hati. Setelah kejadian malam itu, Ryuga bilang orang-orang Takatori mulai bergerak.”

Kenji menegang. “Takatori lagi.”

“Ya,” Ren menegaskan. “Dan simbol di topeng orang yang membidikmu itu simbol keluarga Takatori.”

Gudang kembali hening. Kenji teringat simbol T merah menyala di topeng yang ia lihat sebelum pingsan. Simbol yang membuat seluruh tubuhnya gemetar.

“Kenapa mereka mengincarku?” tanya Kenji.

“Karena … ” Ren berhenti dan menatap Kenji lama, sangat lama. “Karena mungkin kau bukan cuma pewaris Kazuma.”

Kenji menegang. “Maksudmu apa?”

Ren hendak menjawab, tapi tiba-tiba gedebuk! suara benda jatuh terdengar di luar gudang. Kenji dan Ren langsung menoleh. Mereka merasakan ada seseorang yang mendengarkan pembicaraan mereka.

Ren meraih lengan Kenji. “Ada orang!”

Kenji meraih besi panjang di lantai, mendekati pintu pelan. Jantungnya seperti menabrak tulang rusuk. Ia membuka pintu sedikit dan melihat bayangan seseorang berlari di balik pagar.

“Kejar!” Ren berteriak.

Mereka berdua berlari keluar gudang, melewati rumput basah dan genangan air. Angin malam menusuk kulit mereka. Orang itu berlari cepat, menyeberang ke area kelas, lalu menabrak meja hingga bros kecil jatuh ke tanah. Kenji berhenti sejenak mengambilnya. Bros itu bersimbol T merah.

“Takatori,” desis Kenji.

Ren tertegun. “Dia memata-matai kita—”

“Kenapa mereka tahu kita di sini?” Kenji bertanya cepat.

Ren menatapnya serius. “Karena mereka selalu mengincar kau sejak kecil, Kenji.”

“Kenapa? Apa salahku?!” seru Kenji.

Ren hendak menjawab, tapi tiba-tiba bruk! Seseorang melompat dari atap gedung kelas. Kenji dan Ren mundur refleks. Sosok itu memakai masker hitam, pakaian gelap, dan bergerak sangat cepat, lebih cepat dari manusia biasa. Tanpa kata-kata, ia mengayunkan pisau tepat ke arah Kenji.

Ren berteriak, “Kenji!”

Kenji menepis serangan itu tapi terlambat  pisau itu menggores lengannya. “ARGH!” Sosok bermasker itu hendak menyerang lagi, namun cahaya lampu jalan memantulkan sebagian wajahnya. Dan Kenji membeku. Karena mata di balik masker itu matanya Mirip Kenji. Tidak hanya mirip identik.

Ren juga melihatnya, wajahnya memucat. “Tidak mungkin”

Sosok itu mundur, bersiap menghilang, sebelum berkata dengan suara rendah. “Berhenti mencari kebenaran, Kenji Kazuma. Kau sedang berjalan menuju kematianmu sendiri.”

Ia melompat ke atas pagar dan menghilang. Kenji terdiam, gemetar, matanya tak berkedip menatap tempat sosok itu pergi.

Ren mendekat, memegang pundaknya. “Kenji … kau nggak apa-apa?”

Kenji tidak menjawab. Pikirannya berputar cepat, simbol Takatori, foto bayi, ucapan Ryuga. Dan sekarang seseorang yang berwajah seperti dirinya. Semua seperti potongan puzzle yang sengaja disebarkan untuknya.

Dengan suara lirih, Kenji akhirnya berkata. “Aku … sudah melihat dia sebelumnya.”

Ren terkejut. “Kapan?”

Kenji menelan ludah. “Di mimpi burukku waktu kecil.”

Ren menatapnya horor. “Sosok bermasker itu—”

Kenji memejamkan mata, suara bergetar. “Dia yang berdiri di depan rumahku… saat ibuku meninggal.”

Ren mendekat, menggenggam kedua bahu Kenji. “Kenji itu berarti—”

Namun sebelum Ren sempat menyelesaikan kalimatnya, ponsel Kenji berdering keras. Nomor tak dikenal. Dengan tangan gemetar, Kenji mengangkatnya, suara berat dan berbisik terdengar dari seberang.

“Akhirnya kau ingat aku … Kenji.” Kenji membeku dan Ren membelalak.

Orang di sambungan telepon itu melanjutkan. “Kembalilah ke tempat Mamamu mati, sudah waktunya kau tahu siapa dirimu sebenarnya.”

Telepon terputus. Kenji menatap layar ponselnya dengan wajah pucat.

Ren berbisik, “Kenji siapa itu—?”

Kenji menjawab pelan, penuh ketakutan. “Itu… suara orang yang kubenci sejak kecil… suara Whisperer.”

1
Glastor Roy
yg bayak tor up ya
Glastor Roy
update
Glastor Roy
up
Glastor Roy
update ya torrr ku
Hime_Hikari: hallo kak di tunggu saja kak untuk update terbarunya
total 1 replies
putri baqis aina
Teruslah menulis dan mempersembahkan cerita yang menakjubkan ini, thor!
Hime_Hikari: Terima kasih kak 😁😁
total 1 replies
Ryner
Author, kapan nih next chapter?
Hime_Hikari: Ditunnggu saja ya kak

Terima kasih kak
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!