Hidup Anaya tidak pernah beruntung, sejak kecil ia selalu di jauhi teman-temannya, dirundung, di abaikan keluarganya. kekacauan hidup itu malah disempurnakan saat dia di jual kepada seorang CEO dingin dan dinyatakan hamil setelah melakukan malam panas bersama sang CEO.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Pena cantik, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
penyesalan
Meski dari luar ia terlihat tegar, dingin dan kukuh. Namun di hatinya sebenarnya hancur berantakan.
Saat mobil berhenti di lampu merah. Ia memalingkan wajahnya menatap luar, memastikan Oma tidak melihat matanya yang mulai memerah—siap meneteskan air mata.
Perasaannya campur aduk antara marah, takut pada kemungkinan yang akan membuat jantungnya berhenti.
Ia takut, kalau Farah benar-benar tidak membutuhkan nya lagi.
Selama ini, Jackson berfikir bahwa menemukan Farah itu sudah cukup untuk membawanya ke sisinya. Tetapi siapa sangka ternyata wanita itu begitu membenci dirinya.
Pikirannya dipenuhi rasa bersalah yang mendalam. Kenangan masalalu berputar di kepalanya, saat dia menghancurkan hidup wanita itu.
Tatapan Farah yang ketakutan, rintihan nya saat ia menyiksanya, teriakan terakhir saat sebelum Jackson mengambil kehormatannya.
Semua kenangan pahit itu bergulung di kepalanya.
Jackson mengacak rambutnya prustasi, "Kau benar-benar brengsek, Jack!" desisnya.
Untuk kali pertamanya ia membenci dirinya sendiri.
Setiap kali bayangan itu muncul dadanya terasa sesak.
Selama ini, ia merasa paling berkuasa, kuat, dan dihormati. Apapun yang dia inginkan pasti akan dia dapat.
Farah adalah satu-satunya yang ia biarkan menyentuh sisi rapuhnya. Seorang Jackson yang terkenal kejam itu kini tunduk pada seorang wanita.
~
Rumah besar itu sunyi ketika Jackson masuk. Fani hanya bisa mengikutinya dari belakang, ia jelas khawatir dengan keadaan cucunya.
Jackson Tidka mengatakan sepatah kata pun saya turun dari mobil. Kondisi ini tidak lah baik untuknya.
Ia pun menyuruh para bodyguard untuk kembali ke penginapan mereka.
Mara sayang mengambil jaket milik Fani, "Siapkan air hangat, ya."
"Baik nyonya," jawab mara. Sekilas ia melirik tuan muda nya, sangat dingin dan menakutkan.
Sementara itu, Jackson melepaskan jasnya Dengan kasar. Melemparkan nya ke sofa tanpa perduli letak nya.
langkahnya cepat, penuh tekanan menuju salah satu kamar disana.
"Son.." panggil Fani hati-hati.
Jackson tak menjawab, ia membanting pintu dengan keras.
Brak!
Fani terlonjak kaget. Pintu itu hampir pecah. Fani hanya bisa menghela nafas panjang.
Ia tahu, saat ini suasana hati cucu nya itu sendang tidak baik-baik saja.Jackson memiliki emosi yang buruk, biasnya ia melampiaskan emosi nya pada barang-barang di sekitar bahkan lebih parahnya lagi bisa menyakiti dirinya sendiri.
Didalam kamar yang sunyi, Jackson menumbuk dinding melampiaskan emosinya yang menggebu.
Nafasnya yang terdengar lebih erangan marah dan putus asa.
Ia mengacak rambutnya, berjalan mondar-mandir, dadanya naik turun.
bugh! Bugh!
Argh!
Tangannya berdarah akibat benturan keras tembok.
Bayangan Farah yang menggenggam tangan dimas terus menghantui pikirannya, seperti cambukan tanpa henti.
'Dia suamiku... dan mereka anak-anak kami.'
Kata-kata itu terus berputar, menampar kepalanya dengan keras.
Lalu, ia meraih kursi menendangnya hingga terjungkal. ia melampiaskan amarahnya, namun tidak ada yang membuat amarahnya mereda.
Tubuhnya luruh ke lantai, bersandar di pinggiran tempat tidur. "Tuhan, aku tahu aku salah. Aku sudah menyakitinya," batinnya sambil menggigil, suaranya nyaris tak terdengar.
"Tapi bisakah aku diberi kesempatan? Satu kesempatan untuk memperbaiki semua ini, untuk membuatnya bahagia, memberi dia kehidupan yang layak dan perlindungan yang aman."
Rasanya sakit, teramat dalam mengetahui bahwa maaf itu mungkin terlalu jauh untuk ia terima.
"Aku tidak pantas," Jackson mengaku lirih, "tapi bolehkah aku berharap… bolehkah aku percaya bahwa masih ada ruang untuk menebus semua luka ini?"
Jackson mengacak rambutnya, tubuhnya membungkuk, ia menangis tanpa suara.
Untuk pertama kalinya ia membiarkan dirinya terlihat lemah. Air matanya jatuh tanpa bisa ia tahan.
"Aku... Apa aku akan kehilangan dia?" suara itu nyaris tak terdengar.