Sebagai Putri Changle, seharusnya ia menikmati kemewahan dan cinta. Namun, gadis modern ini justru terperangkap dalam tubuh seorang putri kuno dengan masa lalu yang mengerikan: dikhianati oleh kekasihnya sendiri, disiksa tanpa ampun, dan meregang nyawa dalam kesengsaraan. Takdir memberinya kesempatan kedua. Dengan Sistem Poin dan Ruang Ajaib sebagai senjatanya, Putri Changle bangkit dari kematian untuk menuntut balas.
Setiap poin yang dikumpulkan adalah langkah menuju pembalasan. Setiap level yang diraih adalah tameng untuk melindungi diri dari musuh-musuh yang mengintai. Namun, semakin dekat ia dengan tujuannya, semakin dalam ia terjerat dalam labirin rahasia kelam yang mengubur masa lalunya dan asal-usul Sistem itu sendiri.
Mampukah Putri Changle mewujudkan dendamnya, ataukah ia hanya pion dalam permainan yang jauh lebih besar dan berbahaya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Itsme AnH, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Menyalahgunakan Kekuasaan
"Tentu saja, karena Putri Changle begitu anggun, cerdas, dan mempesona ...." Pangeran Chu muncul dari arah belakang dengan langkah ringan, tapi berwibawa. Ia berdiri di sisi Song Zhiwan, aroma cendana dari jubahnya menyapu indra gadis itu, menciptakan sensasi nyaman dan memabukkan. "Membuatku terpesona sejak pertama kali bertemu."
Pangeran Chu menatap Song Zhiwan dengan tatapan lembut yang membakar, seolah hanya ada mereka berdua di dunia ini. Perlahan, ia mengulurkan tangan dengan gerakan anggun yang memikat. "Wanwan, sudah larut. Aku datang menjemputmu pulang."
Mata Song Zhiwan berkaca-kaca, senyumnya merekah bagai bunga plum di musim semi. Sentuhan perhatian Pangeran Chu bagai kehangatan mentari setelah badai. Ia menyambut uluran tangan itu, jemarinya gemetar halus saat bersentuhan dengan kulit Pangeran Chu yang hangat.
Dengan senyum cerah yang memancar dari kebahagiaan, mereka berdua hendak pergi dari Kedai Makan Fufan yang mulai sepi. Meninggalkan Guan Shiqing yang menahan gejolak sakit hati, wajahnya pucat pasi bagai mayat hidup.
"Pangeran." Suara Guan Shiqing yang tercekat, penuh kebencian dan keputusasaan, menghentikan langkah mereka. "Anda seorang bangsawan terhormat, pejabat istana yang seharusnya menjunjung tinggi keadilan. Beraninya Anda menyalahgunakan kekuasaan untuk membalas dendam pribadi! Apa Anda tidak takut aku akan melaporkanmu kepada Kaisar, dan nama baik Anda tercoreng selamanya?"
Pangeran Chu dan Song Zhiwan bertukar pandang, seolah saling mengerti tanpa perlu kata.
Tanpa berbalik sepenuhnya, Pangeran Chu hanya menoleh sedikit, sorot matanya tajam menghunus Guan Shiqing, membuatnya merasa seperti ditelanjan9i dan dihakimi. Senyum sinis tersungging di bibirnya, menunjukkan bahwa ia tidak peduli sedikit pun dengan ancaman Guan Shiqing.
"Memang benar aku membalas dendam, menyalahgunakan kekuasaan. Laporkan saja. Hukuman dari Paman Kaisar ... akan kuterima dengan patuh," jawab Pangeran Chu dingin, suaranya bagai desiran angin yang menusuk tulang. Tidak ada sedikit pun rasa takut atau penyesalan di matanya.
"Kau—" Guan Shiqing geram, amarahnya membuncah tapi tak berani ia lampiaskan. Ia tahu, berhadapan dengan Pangeran Chu sama saja dengan mencari masalah besar.
"Namun, jika ada yang berani menyakiti calon istriku, menyentuh sehelai rambutnya saja, lain kali bukan hanya sekadar pemberhentian jabatan yang akan kuberikan ... nyawa akan menjadi taruhannya. Aku akan mencabut nyawanya dengan tanganku sendiri, dan menjadikannya pelajaran bagi siapa pun yang berani mengusik kebahagiaan calon istriku."
Song Zhiwan semakin terpesona oleh Pangeran Chu, hatinya berdebar kencang mendengar janji yang begitu berani dan penuh cinta. Sementara Guan Shiqing mundur selangkah, tubuhnya gemetar hebat, raut ketakutan terpancar jelas di wajahnya yang semakin pucat.
Pangeran Chu menatap Song Zhiwan yang terpana dengan senyum penuh arti, seolah mengatakan bahwa semua yang ia lakukan adalah demi cintanya pada gadis itu.
Kemudian mereka pergi, meninggalkan Guan Shiqing yang terpuruk dalam keputusasaan dan kebencian.
Di Rumah Changyuan yang megah dan sunyi, Guan Shiqing berlutut di depan Nyonya Ketiga di aula leluhur yang dingin dan suram. Aula itu dipenuhi dengan papan nama para leluhur yang telah meninggal, debu-debu sejarah menempel di setiap sudut ruangan, menciptakan suasana yang mencekam dan menakutkan. Dua pelayan berdiri tegak di belakang Nyonya Ketiga, wajah mereka tanpa ekspresi, siap melaksanakan perintah apa pun yang diberikan.
"Dasar tidak berguna!" hardik Nyonya Ketiga dengan suara yang menusuk telinga, matanya memancarkan kemarahan yang membara. "Kau telah merusak urusan baik putraku, menghancurkan rencananya untuk mendapatkan Song Zhiwan. Kau hanya membawa malu bagi keluarga kita!"
"Berlututlah di sini saja, dan renungkan kesalahanmu. Tanpa perintah dariku, tidak seorang pun boleh membiarkannya keluar dari aula ini, apalagi memberikannya makanan atau minuman!"
Kemudian, Nyonya Ketiga mendengus jijik dan pergi dari aula leluhur, meninggalkan Guan Shiqing yang terpuruk dalam kesedihan dan kemarahan. Langkahnya yang berat bergema di seluruh ruangan, meninggalkan keheningan yang mencekam.
Guan Shiqing tetap berlutut, punggungnya tegak meskipun tubuhnya terasa lemas. Dua pelayan berjaga di belakangnya, mata mereka mengawasi setiap gerakan Guan Shiqing, memastikannya tidak melanggar perintah Nyonya Ketiga.
'Song Zhiwan, jangan harap kau bisa menikahi Pangeran Chu dengan lancar! Aku tidak akan membiarkanmu bahagia, aku akan melakukan apa pun untuk menghancurkanmu!' Guan Shiqing menatap papan nama para leluhur yang telah meninggal dengan tatapan penuh kebencian, tetapi mata, pikiran, bahkan hatinya dipenuhi dengan rencana jahat untuk membalas dendam.
Tiba-tiba, Xie Zhan yang mengenakan jubah berwarna hijau tua memasuki aula leluhur dengan langkah tergesa-gesa, wajahnya menunjukkan kekhawatiran yang mendalam. "Qing'er ...."
Xie Zhan patah hati melihat istrinya berlutut di lantai yang dingin, tubuhnya terlihat lemah dan rapuh. Dia ingin membantunya berdiri, memeluknya erat dan menghiburnya, tetapi keberadaan dua pelayan di belakang menghentikan niatnya. Dia tahu bahwa ia harus berhati-hati, karena setiap tindakannya akan diawasi dan dilaporkan kepada Nyonya Ketiga.
Dia menatap kedua pelayan itu dengan tajam, matanya memancarkan kemarahan yang terpendam, lalu berkata dengan dingin. "Mundur! Berikan kami ruang untuk berbicara."
Kedua pelayan itu menunduk dengan patuh dan mundur keluar dari aula leluhur, meninggalkan Xie Zhan dan Guan Shiqing berdua di dalam ruangan yang sunyi dan mencekam.
Xie Zhan segera membantu Guan Shiqing yang terlihat lemah dan pucat, berdiri. Ia memegang kedua lengannya dengan erat, merasakan tubuhnya yang gemetar.
"Qing'er, apa kamu baik-baik saja?" tanya Xie Zhan khawatir, suaranya bergetar karena emosi yang meluap-luap. Hatinya hancur melihat istrinya menderita, dan ia merasa bersalah karena tidak bisa melindunginya.
Guan Shiqing memasang ekspresi menyedihkan di wajahnya, air mata mulai mengalir di pipinya, lalu menepis tangan Xie Zhan dari lengannya dengan lembut, seolah ia tidak pantas disentuh oleh sang suami. "A-Zhan, kenapa kamu tidak menulis surat cerai saja? Aku tidak ingin menjadi beban bagimu lagi."
Guan Shiqing menunduk, menyembunyikan wajahnya yang penuh dengan kesedihan dan keputusasaan. "Biarkan aku pergi, A-Zhan. Berada di sisimu hanya akan menyusahkanmu, dan membuatmu menderita. Aku tidak ingin menjadi penghalang bagi kebahagiaanmu."
Xie Zhan segera meraih kedua lengan Guan Shiqing kembali, memegangnya dengan erat seakan takut sang istri akan menghilang begitu saja. "Qing'er, apa yang kamu bicarakan? Aku tidak akan pernah menceraikanmu, aku tidak bisa hidup tanpamu. Kamu adalah istri yang kunikahi secara sah, wanita yang kucintai dengan sepenuh hatiku."
"Saat aku berburu dulu, aku diracuni. Jika bukan karena kamu menyelamatkanku, mungkin aku sudah menjadi tulang belulang di hutan belantara, dan keluargaku akan berduka selamanya." Xie Zhan berbicara sambil mengenang kenangan masa lalunya, saat pertama kali bertemu dan mengenal. Guan Shiqing. "Bagaimana mungkin aku memiliki kejayaan hari ini jika bukan karena pengorbananmu? Kamu adalah penyelamatku, Qing'er."
"Qing'er, aku tidak akan pernah mengecewakanmu dalam hidup ini, aku berjanji akan selalu mencintaimu dan melindungimu," imbuh Xie Zhan dengan tulus, matanya memancarkan cinta dan kesetiaan yang tak tergoyahkan.
"A-Zhan, aku percaya padamu," kata Guan Shiqing dengan suara lirih, air mata masih mengalir di pipinya. Ia memeluk Xie Zhan erat-erat, menyembunyikan senyum kemenangan yang terukir di bibirnya.
Tanpa sepengetahuan Xie Zhan, Guan Shiqing diam-diam senang di dalam hatinya karena lagi-lagi berhasil menaklukkan sang suami dengan jasanya di masa kecil, memanipulasinya dengan rasa bersalah dan hutang budi.
"A-Zhan, kenapa kamu tidak memohon pada Putri saja?" saran Guan Shiqing dengan kemurahan hati yang dibuat-buat, bersikap seperti istri yang berbudi luhur dan rela berkorban demi kebahagiaan suaminya. "Dia sangat mencintaimu sejak kecil, dia pasti hanya marah sementara padamu karena kamu menikahiku dan mempermalukannya di depan umum."
"Qing'er, aku sudah menikahimu, bagaimana aku bisa menyenangkan wanita lain? Itu tidak pantas, dan akan merusak reputasimu." Xie Zhan tak setuju pada pendapat Guan Shiqing, merasa tidak nyaman dengan ide tersebut. "Kamu menganggapku orang seperti apa? Apakah kamu pikir aku akan mengkhianati cintamu?"
"Terlebih lagi ...." Xie Zhan tampak gelisah, wajahnya memerah karena malu. "Terlebih lagi, dia sudah bertunangan dengan Pangeran Chu, dan pernikahan mereka akan segera dilangsungkan. Tidak ada gunanya aku pergi menemuinya."
Guan Shiqing memegang lengan Xie Zhan dan membujuk dengan lembut, berusaha meyakinkannya bahwa rencananya adalah yang terbaik. "A-Zhan, kamu tidak tahu pemikiran wanita. Dia pasti hanya cemburu padamu, dan mencari seorang pria hanya untuk membuatmu cemburu dan menyesal telah menikahiku."
"Benarkah?" tanya Xie Zhan dengan ekspresi cerah, harapan muncul di matanya. Namun, melihat ekspresi Guan Shiqing yang berubah menjadi masam, ia segera menyadari kesalahannya.
Xie Zhan segera merubah raut wajahnya, terlihat enggan dan ragu-ragu. "Qing'er, jika aku melakukannya ... bukankah itu akan menyakitimu? Aku tidak ingin membuatmu sedih."
"A-Zhan, aku tidak apa-apa. Aku rela melakukan apa pun demi kebahagiaanmu, meskipun itu berarti aku harus mengorbankan perasaanku sendiri." Guan Shiqing menggeleng, air mata hampir menetes dari pelupuk matanya, menunjukkan pengorbanan yang besar. "Kamu adalah suamiku, langitku, dan seluruh duniaku ... tentu saja aku berharap kamu baik-baik saja, dan bahagia."
"Qing'er ...." Xie Zhan merasa terharu dengan pengorbanan Guan Shiqing yang begitu besar, dia merangkul sang istri dengan lembut dan penuh kasih. "Mendapatkan istri sepertimu, apalagi yang kuharapkan sebagai seorang suami?"
Mata Guan Shiqing dipenuhi kebencian yang membara, tapi ia menyembunyikannya dengan baik di balik senyum palsu yang ditunjukkan pada Xie Zhan.
Guan Shiqing berjanji pada dirinya sendiri untuk membalas dendam pada semua orang yang telah menyakitinya, dan tidak akan berhenti sampai ia mendapatkan apa yang diinginkannya ....
Thor aku stop baca critanya ya..
diawal crita seru, sekarang SDH seperti crita Indosiar yg terus bersambung..
udah bosan dgn drama guan shiqing..
kok ceritanya ne guan shiqing yg jadi pemeran utama...?
kmana nih momo....... gunakan sistem dong.....
sistem apa? greget bgt.. masalah nya cuma berputar2 di sini aja ga selesai- selesai. trs kelebihan putri cangle apa? masa lemah bgt. mudah di tindas, mau di skip tp penasaran. wkwkwk 🤣🤣🤣🤣
bagusan pemeran perempuan pas novel perempuan beracun kesayangan pangeran lebih cerdas & keren😄
semangat nulisnya😍😍😍