Zakia tak pernah membayangkan hidupnya bisa berubah total karena fitnah yang ia dapatkan. Di usia yang masih muda yakni 22 tahun, Zakia terpaksa melewati jalan hidupnya dengan cara bekerja tanpa kenal lelah, semua itu ia lakukan demi membantu keluarganya. Bahkan, keinginannya untuk melanjutkan kuliah terpaksa ia urungkan demi membantu keluarga untuk mencicil motor.
Zakia selalu menatap langit dan berharap bisa mendapatkan setitik kebahagiaan di sela-sela kesengsaraan yang ia Terima. Namun siapa sangka, harapan kecil itu terpaksa runtuh dalam satu hari. Sebuah fitnah yang tidak pernah ia bayangkan menghancurkan nama baiknya, mulut manusia lebih cepat menyebarkan fitnah dari pada fakta, hal itu membuat hidup penuh dengan penenakan.
Akhirnya, demi menyelamatkan kehormatan kedua mempelai keluarga, Zakia dan pria itu terpaksa menjalan pernikahan. Akankah mereka akan menjadi pasangan yang penuh cinta? Atau hanya menjadi pasangan suami istri di atas kertas?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Oceanluv_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 13
"Nanti sampe sana yang sopan ya Ren, karena kita semua tau kejadiannya persisnya gimana dan ini sebagai bentuk pertanggungjawaban serta niat baik kamu," nasehat Lili.
Daren yang duduk di belakang mengangguk setuju, sedangkan Hana di sampingnya sedari tadi menatap cermin dan memastikan make up nya tetap bagus.
"Sok cantik lo!" ejek Daren.
"Emang gue cantik sih!" jawab Hana tak kalah jutek. Pokoknya bersama Daren, dia tidak boleh kalah dalam hal perdebatan.
Sekitar setengah jam perjalanan dari rumah Daren ke rumah Zakia, begitu sampai di depan rumah Zakia terlihat Sinta dan Rega yang menunggu di depan. Kepala Daren menoleh kana-kiri mencari keberadaan Zakia. Kemana perginya wanita itu?
"Lagi di dalam kakak gue bang," celetuk Rega. Daren sempat merasa malu karena ketahuan, namun semua itu ia tutupi dengan wajah tenangnya.
"Duduk dulu pak buk, bentar ya Zakianya saya panggil dulu."
Sinta bergegas ke kamar Zakia, hanya dengan satu kali ketukan pintu kamar tersebut terbuka, memperlihatkan Zakia dengan dress berwarna hijau Sage dan rambut yang digerai indah.
Zakia ke luar dari kamar dan berjalan ke ruang tamu bersama dengan ibunya, sebelum duduk dia menyalim pak Jamrud dan bu Lili serta Hana, kecuali Daren ia hanya tersenyum kepada pria itu.
Zakia kemudian duduk di samping ibunya dan menatap mereka ber empat. Pak Jamrud merasa suasana semakin canggung, maka langsung memulai kegiatan inti yang akan mereka lakukan.
"Jadi gini bu Sinta, Zakia, niat kami datang ke sini bukan semata-mata untuk merendahkan atau untuk mengasihani Zakia, kami hanya ingin menghargai Zakia yang sudah kami anggap sebagai anak kami sendiri."
"Memang kita tahu kalau kalian berdua sempat merasakan kejadian yang kurang mengenakkan, tapi semua itu dilakukan dengan rasa ikhlas dan tanpa ada niatan untuk mengarah ke hal itu, tapi kita juga sama-sama berharap, semoga dengan pembuktian seperti ini, omongan para manusia di luar sana mulai berkurang sedikit demi sedikit," lanjut pak Jamrud.
Semua anggota keluarga mengangguk, kecuali Daren yang dari tadi menatap Zakia, wanita itu terlihat melamun, ia hanya memainkan jarinya, pandangannya bahkan tidak mengarah ke pak Jamrud.
"Jadi bagaimana Zakia, bersediakah Zakia menerima lamaran yang diajukan anak kami Daren dan menjadikan Zakia sebagai istri Daren dan menantu keluarga kami?" tanya pak Jamrud tegas.
Zakia menatap pak Jamrud, ia mulai menarik nafas dan tersenyum, "iya saya bersedia Pak," jawab Zakia mantap.
Jantung Daren yang tadinya berdegup kencang langsung mencelos saat mendengar jawaban Zakia, terdengar mantap tapi seperti akan menghadapi masalah baru, Daren juga tidak bisa mengelak bahwa saat ini dia juga sedikit takut, takut jika kehidupan pernikahan mereka nanti jauh dari yang dia harapkan.
"Jadi bagaimana dengan tanggal pernikahan kalian? Kalau saya diskusi dengan keluarga saya, mungkin jaraknya dua minggu dari sekarang, tidak usah berlama-lama biar tidak menimbulkan fitnah yang lebih dalam," tutur bu Lili.
Sinta dan Rega terperanjat kaget, dua minggu dari sekarang, bagaimana dengan persiapan segala macam? Bisa-bisa sesak nafas Sinta mengejar semua itu.
"Kalau boleh mengajukan pendapat, Zakia boleh minta sesuatu?" Daren yang tadi menunduk langsung menegakkan kepalanya, tubuhnya yang tadinya sedikit bungkuk kini duduk tegap, bagaimanapun ini permintaan sang calon istri jadi harus didengarkan.
"Iya Zakia boleh Nak, ini acara kalian berdua, kamu bebas mau ngasih pendapat," kata bu Lili.
"Boleh ga kalau acara nikahnya konsepnya intimate wedding aja, Kia mau nikahnya di mesjid aja, dekor seadanya dan cukup akad aja, ga usah terlalu banyak kali acaranya, cukup simple aja yang penting bermakna," pinta Zakia.
Mereka semua saling pandang, terkecuali Daren yang memandangi Zakia. Kenapa wanita ini mengajak menikah sederhana? Sementara orang di luar sana banyak orang yang menikah dengan acara besar-besaran, apa karena kejadian itu?
"Ini ga ada berkaitan sama kejadian kemaren, ini murni keinginan Kia biar biayanya ga terlalu boros, karena yang penting itu bukan hari pernikahannya tapi hari setelah acara pernikahan itu terjadi, makanya Kia mau yang sederhana aja," jelas Zakia.
Semua yang dikatakan Zakia tak sepenuhnya bohong tapi tak sepenuhnya juga jujur, dia memang sedikit takut untuk bertemu tetangga jika mereka mengadakan pesta besar-besaran, tapi Zakia juga tidak ingin lelah, mengingat kondisinya yang belum terlalu membaik membuat Zakia berpikir keras untuk acara bahagianya nanti.
"Daren gimana Nak?" tanya Sinta kepada Daren.
" Daren oke aja tan, asalkan Zakianya nyaman, lagian juga kayak gitu lebih enak, ga terlalu capek nanti pas selesai acara," jawab Daren.
"Alhamdulillah kalau kalian maunya gitu, entar biar kita bantu cari vendor, baju dan segala perlengkapan lainnya sampai cateringan yang enak," jawab pak Jamrud.
Mereka semua mengangguk setuju, tak lama kemudian Sinta berdehem, "kalau gitu kita makan ya, biar bisa diskusi sambil makan," kata Sinta sambil tersenyum canggung. Tanpa menunggu persetujuan mereka, Sinta langsung bangkit, Zakia yang melihat itu pun tak tinggal diam, sudah lama rasanya dia tidak membantu ibunya untuk hal seperti ini.
"Zakia pamit bantu mama bentar ya bu," pamit Zakia ke Lili. Lili mengangguk dan tersenyum, pelan-pelan Zakia bangkit dari duduknya, kakinya yang dipukul sepertinya semakin parah karena tidak mendapat pengobatan yang rutin.
Bagaimana ingin berobat, bahkan makan saja Zakia tidak mau. Saat ingin melangkah ke depan, ngilu di kaki Zakia tiba-tiba memenuhi kakinya.
"Akh!" ringisnya. Hana sigap langsung berdiri dan memegang tangan calon adik iparnya itu.
"Lo gapapa?" tanyanya khawatir. Wajah Zakia terlihat menahan sakit, bibirnya terkulum ke dalam namun ia hanya mengangguk atas pertanyaan yang dilontarkan Hana.
"Zakia kalau ga kuat duduk aja gapapa, jangan dipaksain," pinta bu Lili. Zakia menggeleng dan tersenyum, berkata seolah dia baik-baik saja, Daren melihat itu, melihat bagaimana Zakia menahan sakitnya tapi tetap tersenyum, wanita ini tetap berusaha menjadi paling kuat di sela-sela rasa sakitnya sendiri, pikir Daren.
"Mending lo duduk aja deh, biar gue yang bantu mama lo, udah lo duduk aja gapapa," pinta Hana. Zakia kembali didudukkan di sofa, sedangkan Hana bergegas ke dapur untuk membantu Sinta dalam menyiapkan makanan mereka.
"Eh Nak ga usah repot-repot," kata Sinta segan. Hana tidak peduli ia tetap mengambil nampan yang dipegang Sinta lalu membawanya pergi dari sana.
"Ma kayaknya kaki kak Zakia makin parah deh," tutur Rega di dapur.
"Mama udah cape bilangin ya Ga, mama juga takut kalau kakinya makin parah, tapi mudah-mudahan oas udah nikah nanti dia bisa dengerin omongan Daren, karena ini juga demi kebaikan dia," jawab Sinta.
Dia juga ingin melihat anaknya sehat, kalau memang semau nasehat yang ia berikan tak mempan di kuping Zakia, mudah-mudahan nanti ucapan Daren bisa ia dengarkan, karena ini semua demi kebaikannya sendiri.
Hai semuanya, ga terasa Daren udh ditahap lamaran aja, hm gimana? Penasaran ga sama. kehidupan rumah tangga Daren dan Zakia nanti, dipantau terus ya semuanya, makasih.