Sanaya Oktavia Pradifta terlahir di keluarga Pradifta. Mempunyai papa, mama, dan seorang adik tiri perempuan. Hari-harinya dipenuhi luka dan tangisan oleh keluarganya. Hingga suatu hari saat dirinya tertabrak mobil dan meninggal ia malah terbangun dengan situasi, kondisi, dan dunia yang berbeda.
Yah dirinya TERJEBAK DI DUNIA NOVEL yang pernah ia baca di kamar lama mamanya. Dan bagaimana caranya ia menghindari ending tragis di novel ini?
Tapi dibalik itu semua Sanaya akan mengetahui siapa jati dirinya yang sebenarnya. Semua rahasia didunia novel ini akan terungkap serta kedatangan dirinya yang dinantikan oleh bangsa fairy.
Penasaran? Yuk buruan baca ceritanya!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elhery_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
24. Rencana Perjodohan
Roselie menghapus air matanya. Mata sayunya yang penuh kesedihan kembali normal. Ia merapikan gaun dan tatanan rambutnya yang rusak saat berlari tadi. Ia mendekati cermin kamarnya. Ia bisa melihat dirinya di depan cermin.
Tubuh mungil dengan wajah yang putih dan cantik. Manik matanya berwarna biru laut dan memiliki surai kuning keemasan yang sama dengan Aland. Wajahnya begitu cantik dan elok layaknya bidadari. Kecantikan yang sudah tidak diragukan lagi.
Tatapannya yang sayu menyorot tajam pada pantulannya dicermin.
"Kau bukan Sanaya yang lemah yang suka ditindas oleh semua orang. Kau bukan Sanaya yang selalu pasrah menerima nasib buruknya. Sekarang kau adalah Roselie. Putri Roselie dari kerajaan Ainsley. Sejak kau terlempar kedunia ini kau tidak boleh pasrah pada takdir burukmu. Kali ini kau harus merubah takdir tragis mu." Ucapnya dengan penuh tekad.
Roselie berbalik dan berpikir. Untuk mencegah nasib buruknya didunia ini maka ia harus punya rencana dulu.
Aku harus punya rencana agar bisa menghindari takdir buruk dalam novel ini dan menjalani hidupku dengan nyaman.
"Baiklah sekarang aku sudah menemui semua tokoh utama dalam novel ini. Dimulai dari raja Edward, pangeran Edgar, pangeran Aland, dan pangeran Felix. Hanya sang tokoh utama wanita ini saja yang belum aku temui."
Roselie bingung menyadari ada hal yang salah dalam alur cerita ini semenjak ia masuk. Yang pertama, pertemuan pertamanya dengan raja Edward dan kedua pangeran yang lebih cepat dari yang ditulis dinovel.
Yang kedua, raja Edward dan kedua pangeran yang seharusnya membencinya malah menyayanginya.
Yang ketiga, pertemuannya dengan pangeran Felix yang lebih cepat daripada yang ia duga. Gara-gara mencari buku di perpustakaan di pusat kota, ia malah bertemu dengan pangeran Felix yang sedang menyamar. Dan seharusnya itu tidak terjadi.
Yang keempat, yang paling membingungkan adalah kenapa sikap pangeran Felix berbeda dengan yang digambarkan dinovel. Menurut yang dinovel pangeran Felix digambarkan sebagai pangeran kelam yang dingin, pendiam, dan acuh tak acuh. Pangeran Felix tidak pernah berinteraksi dengan orang-orang. Ia menutup dirinya dari siapapun. Tapi kenapa dipertemukan pertama mereka, pangeran Felix malah membantunya bahkan mengobrol dengannya saat itu. Dan hari ini Roselie merasa pangeran Felix terlihat ceriah dan tidak seperti orang yang menutup diri. Apa yang membuat pangeran Felix berubah? Pikirnya merasa bingung.
Ada apa dengan tokoh utama pria itu? Sikapnya berbeda dengan yang digambarkan dinovel. Tapi itu sekarang tidak perlu dipikirkan yang harus aku pikirkan adalah raja Edward dan kedua pangeran. Kasih sayang mereka itu...... Apakah akan bertahan lama?
Roselie menggeleng. "Aku seharusnya tidak terlena dengan semua kasih sayang ini. Raja Edward dan kedua pangeran memang menyayangiku tapi itu bukan berarti perasaan mereka tidak bisa berubah. Kedua pangeran memang menyayangiku layaknya seorang adik tapi setelah bertemu dengan Aurora mereka pasti berubah dan malah menjauhiku."
"Dalam novel, walaupun raja Edward tidak menyayangi putri Roselie tapi dia juga tidak pernah menyanyangi Aurora yang saat itu disukai oleh Edgar. Jadi, mungkin raja Edward juga tidak berubah kan? Walaupun suatu saat nanti Aurora akan muncul, dia tidak akan meninggalkan ku, bukan?" Tanya Roselie pada dirinya sendiri. Ia memiliki harapan besar pada raja Edward.
"Jadi mulai sekarang aku tidak boleh terlena dengan kasih sayang yang diberikan kedua pangeran itu. Aku harus mengontrol perasaanku pada mereka. Dan untuk pangeran Felix, aku harus menjauhinya. Kalau perlu aku tidak boleh sampai terlihat dan bertemu lagi dengannya. Dia yang membunuhku dalam novel ini. Maka aku harus menghindarinya." Tekad Roselie pada dirinya. Ia sudah yakin dengan keputusannya saat ini. Bahwa dirinya harus merubah nasibnya dalam dunia novel ini.
"Roselie, ini papa, apakah kau ada didalam?" Raja Edward bertanya dari luar pintu kamar.
Roselie terkejut mendengar suara raja Edward diluar. Ia merapikan rambut dan wajahnya sekali lagi. Papanya tidak boleh tau jika ia baru saja menangis. Jika papanya tau dia pasti akan bertanya-tanya dan menimbulkan masalah baru lagi.
"Iya pa." Sahut Roselie dari dalam.
CLEK
Pintu kamar terbuka dan terlihatlah raja Edward yang berdiri di depan pintu kamar. Roselie tersenyum melihat papanya.
"Ada apa pa?" Tanya Roselie.
"Apa yang kau lakukan didalam kamar sampai mengunci pintu?" Tanya raja Edward mengabaikan pertanyaan Roselie.
"Em.... tadi Roselie lagi baca buku di kamar karena itu Roselie mengunci pintunya?" Jawab Roselie beralasan.
Raja Edward mengangguk, tapi tanpa sengaja ia melihat mata Roselie yang bengkak seperti baru saja menangis.
Ia menjulurkan tangannya ke wajah Roselie. "Kenapa matamu bengkak? Kau menangis?"
"Iya, tadi Roselie habis menangis. Itu gara-gara kisah buku yang Roselie baca tadi menyedihkan jadi Roselie terbawa perasaan dan menangis." Untung saja sebelum membuka pintu ia sudah memikirkan alasan jika papanya bertanya perihal matanya.
"Lain kali jangan menangis lagi. Kalau kau menangis karena membaca buku itu papa tidak akan memperbolehkan mu membaca buku lagi." Ucap raja Edward tidak suka. Ia tidak suka putrinya mengeluarkan air matanya untuk alasan apapun.
Ia tersenyum. "Iya pa. Em...... papa kenapa mencari Roselie? Kenapa tidak memanggil prajurit saja kemari?"
"Papa ingin menunjukkan sesuatu padamu."
"Menunjukkan sesuatu? Apa itu?" Tanya Roselie penasaran.
Raja Edward tidak menjawab, sebagai gantinya ia menggendong Roselie. "Kau akan tau nanti," Balas raja Edward membuat Roselie semakin penasaran.
Raja Edward membawa Roselie ke depan pintu gerbang istana. Didepannya ada sebuah kereta kuda. Ia menurunkan Roselie.
"Kalian turunlah." Perintah raja Edward entah kepada siapa.
Setelah mendengar perintah Raja Edward dari dalam kereta kuda tersebut keluar tiga sosok wanita yang dikenali Roselie. Tiga sosok tersebut berjalan dengan pakaian pelayan khas kerajaan Ainsley. Mereka menunduk hormat memberi salam.
"Hormat hamba kepada yang mulia raja Edward dan tuan putri Roselie."
Mata Roselie terbuka lebar melihat tiga sosok tersebut. Senyum lebar menghiasi wajahnya. "Farah, Mira, dan Lala," Serunya.
Tiga sosok tersebut yang namanya dipanggil Roselie tersenyum hangat pada Roselie. "Iya tuan putri," Jawab mereka bersama.
Roselie melepas genggaman tangannya dan berlarian ke arah mereka. Ia memeluk mereka bertiga dengan tangannya yang kecil. Farah, Mira, dan Lala terkejut dengan reaksi Roselie. Mereka menunduk takut pada raja Edward yang menyoroti mereka dengan tatapan dingin.
"Tuan putri lepaskan, tuan putri tidak boleh seperti ini," Kata Farah melepas pelukan Roselie.
"Roselie senang kalian bertiga ada disini." Seru Roselie senang.
"Kami juga senang bisa bersama tuan putri lagi." Kata Lala tersenyum lembut.
"Ya kami senang bisa bertemu dengan tuan putri." Lanjut Mira.
"Roselie, kemari." Ucap raja Edward menarik tangan Roselie ke sisi-Nya.
"Papa membebaskan pelayan-pelayan ini dari penjara bawah. Dan sesuai permintaanmu para pelayan ini akan kembali bekerja sebagai pelayan pribadimu lagi." Roselie tersenyum senang. Ia pikir permintaannya hari itu tidak akan dikabulkan papanya. Tapi ternyata permintaannya dikabulkan.
Ia memeluk raja Edward dari samping. "Terima kasih pa, Roselie sayang papa."
Raja Edward tersenyum dan mengangguk. "Papa juga sayang padamu."
.......................
"Bagaimana kabarmu?" Tanya raja Delio ingin berbasa-basi sejenak.
"Tidak usah basa-basi. Apa tujuanmu datang kemari." Tukas raja Edward to the point.
Raja Delio terkekeh mendengar perkataan raja Edward. Sudah ia duga jika temannya itu tidak akan mudah percaya dengan maksud tujuannya datang kemari.
"Baiklah jika kau sudah tau yang sebenarnya. Jadi aku datang kemari ingin agar kita melakukan kerjasama." Ucap raja Delio memasang wajah serius.
Pandangnya beralih ke raja Delio. "Kerjasama apa?"
"Kerjasama antar kerajaan. Jadi aku ingin agar para penyihir kerajaanmu dan penyihir kerajaanku sama-sama dilatih dengan khusus. Dengan begitu penyihir kerajaanku dapat menguasai teknik sihir kerajaanmu begitu juga sebaliknya. Bukankah itu Menguntungkan bagi pasukan perang kerajaan kita." Tutur raja Delio menjelaskan kerjasamanya.
Raja Edward menyeringai mendengar kerjasama yang ditawarkan temannya itu yang seperti sebuah permintaan.
"Kenapa kau tiba-tiba ingin penyihir kerajaanmu dan kerajaanku bekerjasama? Bukankah teknik sihir dalam suatu kerajaan tidak bisa dikuasai oleh penyihir kerajaan lain. Karena teknik itu berasal dan diciptakan oleh orang kerajaan itu sendiri. Atau kau sepertinya mengetahui sesuatu?" Tuding raja Edward merasa bahwa temannya menyembunyikan sesuatu darinya.
Raja Delio meneguk minumannya sebelum kembali bicara. "Kau benar, aku menemukan sesuatu."
Raja Delio bergumam mengucapkan sebuah mantra dan dalam sekejab tangannya sudah terdapat sebuah buku. Ia memberikannya pada raja Edward.
"Buku apa ini?"
"Dalam buku ini tertulis sebuah kisah jika teknik sihir suatu kerajaan bisa dikuasai seperti menguasai teknik sihir kerajaannya sendiri. Dalam buku ini terdapat cara-cara dan penjelasannya." Ujar raja Delio menjelaskannya dengan semangat.
"Kau yakin? Bisa saja buku ini hanya kisah bualan saja."
"Tadinya aku berpikir begitu, tapi setelah aku mencobanya pada penyihir kerajaanku itu berhasil hanya saja kekuatanku sedikit terkuras karenanya tapi itu tidak masalah. Jika terus dilatih hal itu tidak akan menjadi masalah." Balas raja Delio meyakinkan.
Raja Edward membaca buku ini dalam beberapa menit menggunakan sihirnya. Ia melirik ke arah raja Delio yang menunggu reaksinya.
Ia tersenyum. "Baru kali ini kau menemukan sesuatu yang berguna."
Raja Delio terkekeh mendengar sindiran temannya. Ia tidak merasa kesal sama sekali.
"Jadi, kau menyetujuinya?"
"Ya, aku setuju."
Kedua raja itu sama-sama menjabat tangan mereka sebagai tanda bahwa mereka menyetujui kerjasama ini.
"Edward, aku tidak menyangka kau membawa putrimu itu kembali ke istana." Ucap raja Delio tiba-tiba. Membuat raja Edward yang tadinya ingin minum kembali meletakkan cangkirnya.
Ia menyorot tajam ke arah raja Delio. "Itu bukan urusanmu."
Kali ini raja Delio memberikan raja Edward tatapan sebagai seorang teman bukan sebagai raja.
"Aku sudah mengatakannya padamu Edward, rasa marah dan kekecewaan mu membuat kau mengambil keputusan yang salah. Matamu buta untuk bisa melihat putrimu sendiri." Tutur raja Delio.
Raja Edward mengalihkan pandangannya ke arah lain. Ia sadar sepenuhnya jika perbuatannya dulu salah bahkan sangat salah.
"Kau tidak perlu mengatakan hal itu padaku."
Raja Delio tersenyum sinis. "Aku membayangkan, bagaimana raut wajah Amber saat tau suaminya membuang putrinya yang berharga dan ia jaga dengan baik. Mungkin jika Amber masih hidup dia akan menangis dan mungkin akan menceraikan mu."
"TUTUP MULUTMU ITU!" Sentak raja Edward menyorot dingin raja Delio. Aura yang dikeluarkannya terasa mencekik di ruangan tersebut. Kata-kata tersebut berhasil membuat amarahnya keluar dengan cepat.
Jangankan membayangkan berpikir saja raja Edward tidak berani. Hal yang sejak dulu ia takutkan adalah saat istrinya mengatahui kelakuan kejamnya pada putri mereka sendiri.
"Kenapa? Aku hanya membayangkannya saja." Tutur raja Delio dengan santai.
"Cih, jika tidak ada urusan lain lebih baik kau pergi dari sini." Ucap raja Edward mengusir secara langsung.
"Baiklah-baiklah, aku tidak akan membahas hal itu lagi. Jadi mari kita bahas hal lain." Ucap raja Delio tidak ingin membuat temannya marah.
"Aku baru kali ini melihat putrimu itu. Wajahnya benar-benar mirip dengan Amber. Cantik dan imut secara bersamaan. Dan dari yang kulihat tadi sepertinya putrimu cukup dekat dengan putraku."
Raja Edward terlihat tidak suka dengan pembicaraan tentang putrinya. Ia merasa was-was dengan raja Delio yang sepertinya merencanakan sesuatu yang membuat putrinya menjauh darinya.
"Kau masih ingat hari dimana aku dan Yera mengunjungi Amber yang saat itu masih mengandung? Amber mengatakan ingin menjodohkan......." Ucapannya terpotong oleh suara raja Edward.
"Itu tidak akan pernah terjadi!" Ujarnya dengan nada dingin dan mata yang menyorot penuh kemarahan.
Cukup hari itu ia hampir kehilangan putrinya kali ini ia tidak akan membiarkan siapapun mengambil putrinya darinya. Tidak akan!
Roselie adalah sumber kebahagiaannya sekarang. Sejak Roselie masuk ke kehidupannya ia dan kedua putranya merasa seperti hidup kembali. Perasaan hangat saat Roselie tersenyum dan perasaan sedih saat Roselie menangis tanpa sadar membuatnya tidak bisa kehilangan sosok Roselie.
Sejak Roselie masuk ke dalam istana. Istana ini menjadi lebih hidup dan berwarna. Kecerian yang dibawa Roselie di istana ini membuat semua orang juga ikut merasakan kesenangan dalam dirinya. Sifat Roselie yang ceriah, penyayang, dan baik pada semua orang tanpa memandang status seseorang membuatnya disukai oleh semua orang. Sifat keras kepala dan keberanian dalam dirinya membuat semua orang melihat ratu Amber dalam dirinya.
Dia adalah cahaya dan permata paling berharga yang aku punya saat ini. Aku sudah pernah kehilangan Amber tapi kali ini aku juga tidak akan membiarkan siapapun merebut putriku.
Raja Delio tertawa melihat reaksi raja Edward yang sudah bisa ditebaknya. Ia beranjak dari tempat duduknya dan melangkah keluar. Sebelum menutup pintu, ia menoleh ke arah raja Edward.
"Baiklah, aku tidak akan memaksamu melakukan hal itu. Tapi ada satu hal yang perlu kau ingat baik-baik Edward. Jika putrimu dan putraku sama-sama saling mencintai, kau bahkan takdir sekalipun tidak akan bisa menghentikan mereka bersatu." Ujarnya menyeringai lalu menutup pintu.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Apa pesan kalian buat :
Roselie
Raja Edward
Pangeran Felix
Edgar
Aland
Author 😌
Ketik di kolom komentar ya😉
Vote yang banyak dan komen yang banyak buat author. Semoga sehat selalu ya.
See u 💙💙💙