Hidup Evelina Lim hancur seketika saat ia menangkap kekasihnya Rangga berselingkuh dengan adik tirinya, Jesslyn Lim.
Di titik terendah, Eve berpapasan dengan Edric Kho, mantan prajurit TNI baru pulang dari misi Afrika Selatan.
“Kamu kurang apa sih, Mas?”
“Tidak kurang apa-apa. Cuma kurang istri.”
Dipicu amarah, Eve menerima tawaran itu dan menikah kilat.
Eve mengira suaminya hanya mantan tentara sederhana, tanpa tahu Edric adalah Direktur Utama Kho Group, pewaris konglomerat raksasa Jakarta. Ia merahasiakan identitasnya, ingin dicintai sebagai Edric, bukan pewaris keluarga Kho.
Rahasia besar itu akhirnya terbongkar. Ia berhadapan dengan saingan kekuasaan Valen Kho, pesaing cinta Calista Sia, serta misteri kematian ibu Eve.
Eve harus memilih: kabur, atau bertahan di samping pria misterius ini.
Edric Kho siap mempertaruhkan segalanya demi wanita yang dinikahinya dalam sekejap.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vionique, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 32
Bab 32: Musuh dari Musuh
Jesslyn Lim datang ke kafe dengan kacamata hitam besar.
Calista Sia sudah menunggu di meja sudut, mengaduk cappuccino tanpa benar-benar meminumnya. Ia tidak berdiri saat Jess duduk. Ia hanya menatap memar tipis di pipi Jess yang masih terlihat meski ditutup concealer tebal.
"Kamu terlihat buruk," kata Calista.
Jess membuka kacamata dengan kasar. "Kalau kamu mengundangku untuk menghina, aku pergi."
"Aku mengundangmu karena musuhnya musuh adalah teman."
Jess tertawa pahit. "Kita bukan teman."
"Belum."
Calista menyandarkan punggung. "Nyonya Prawiro tahu tentang kamu bukan karena kebetulan."
Jess membeku.
"Apa maksudmu?"
"Pikirkan. Di acara sebesar itu, tepat setelah Eve diperkenalkan, tepat setelah semua orang menatapnya seperti ratu baru, kamu dipermalukan di pintu samping." Calista menunduk sedikit. "Terlalu rapi untuk disebut nasib buruk."
Jess menelan ludah. Luka di pipinya terasa panas lagi.
"Eve tidak akan..."
"Dulu kamu juga mengira Eve tidak akan menikahi Edric Kho, kan?"
Kalimat itu mengenai titik paling sakit.
Calista tidak perlu bukti. Ia hanya perlu memberi arah pada kebencian yang sudah mencari tempat pulang.
"Edric punya orang di mana-mana," lanjut Calista. "Kalau mereka ingin Nyonya Prawiro melihatmu, itu mudah."
Jess menggenggam cangkir sampai kukunya memutih. Dalam kepalanya, malam itu berubah bentuk. Nyonya Prawiro yang menamparnya bukan lagi istri sah yang marah. Ia menjadi tangan panjang Eve. Semua tawa tamu, semua tatapan jijik, semua rasa malu, kini punya satu wajah: Evelina Lim.
"Apa maumu?" tanya Jess.
Calista tersenyum.
"Aku bisa memberimu uang. Tempat tinggal baru. Orang yang bisa menjadi sandaran setelah Santoso membuangmu."
"Sebagai gantinya?"
"Kamu dengarkan aku. Kamu tahu keluarga Lim. Kamu tahu luka Eve. Aku butuh itu."
Jess menatapnya lama.
Di luar jendela kafe, Jakarta bergerak seperti biasa. Di dalam, dua perempuan yang sama-sama merasa dikalahkan oleh Eve akhirnya menemukan meja yang sama.
"Baik," kata Jess. "Aku ikut."
Calista mengangkat cangkir.
"Untuk musuh bersama."
Jess tidak tahu bahwa sejak awal ia bukan rekan, melainkan alat. Calista memperhatikan cara bahu Jess turun, cara matanya menyala setiap kali nama Eve disebut, dan tahu ia telah memilih pisau yang tepat. Pisau itu retak, murah, dan berkarat oleh iri hati, tetapi justru karena itu mudah diarahkan.
"Langkah pertama," kata Calista lembut, "kamu berhenti bertindak impulsif. Mulai sekarang, kalau ingin Eve sakit, kita buat dia terlihat pantas disakiti."
Jess mengangguk, tidak menyadari bahwa kalimat itu lebih beracun daripada kopi di depannya.
Di Rumah Lim, Gunawan menonton ulang berita Gala Amal untuk ketiga kalinya.
Layar televisi menampilkan Edric mengalungkan Heart of the Ocean pada Eve. Angka dua ratus miliar muncul di bar bawah. Melani berdiri di belakang sofa, wajahnya tegang.
"Dua ratus miliar," bisik Gunawan. "Dia membayar sebanyak itu untuk kalung yang bahkan disumbangkan atas nama Eve."
"Itu berarti dia sangat mencintai Eve," kata Melani pelan.
Gunawan menoleh tajam. "Itu berarti dia bisa membayar."
Melani tidak membantah.
"PT Lim Jaya bisa selamat. Utang bank, pajak, semua bisa ditutup. Eve punya saham. Eve punya rumah. Sekarang dia punya akses ke uang Kho."
"Dia tidak akan memberi."
"Maka kita minta orang yang masih bisa membuatnya merasa bersalah."
Melani memahami maksudnya. "Suliana Ong."
Gunawan menatap layar. Di sana, Eve tersenyum di bawah cahaya biru safir. "Perempuan tua itu selalu merasa punya hak atas Eve. Kalau dia meminta mahar untuk cucunya, Edric Kho akan bayar."
"Kalau dia menolak?"
Gunawan membuka laci meja dan mengeluarkan map cokelat. Di dalamnya ada Akta Pengalihan Saham yang sudah disiapkan, nama penerima manfaat ditulis untuk pihak Lim.
Melani menyentuh kertas itu dengan ujung jari. "Kamu sudah menyiapkan ini."
"Orang yang kalah karena tidak siap hanya orang bodoh."
Tiga malam kemudian, Gunawan masuk ke RS Tan lewat pintu samping.
Ia memakai jaket gelap dan topi. Informasi jam jaga ia dapat dari seseorang yang pernah bekerja di bagian administrasi rumah sakit. Uang kecil membuka banyak pintu kecil.
Sepanjang perjalanan ke kamar Oma Ong, ia mengulang alasan di kepala. Ia bukan penjahat. Ia ayah yang terdesak. Perusahaan harus diselamatkan. Eve hidup mewah karena nama Lim juga pernah memberinya rumah. Jika ia mengambil sedikit dari kekayaan Kho, itu hanya mengembalikan keseimbangan. Kebohongan yang diulang cukup sering mulai terdengar seperti doa.
Kamar Oma Ong tenang. Bu Yanti, perawat pendamping malam, duduk di sofa kecil dan hampir tertidur.
"Bu," kata Gunawan dengan suara dibuat panik. "Nurse di meja depan mencari Ibu. Katanya soal obat."
Bu Yanti bangkit bingung. "Sekarang?"
"Katanya mendesak."
Begitu Bu Yanti keluar, Gunawan menutup pintu dan menguncinya.
Oma Ong membuka mata.
"Kamu," bisiknya.
Gunawan duduk di samping ranjang. "Saya tidak ingin menyakiti siapa pun. Saya hanya butuh bantuan."
"Pergi."
"Telepon Edric. Minta seribu miliar rupiah sebagai mahar untuk Eve."
Oma tertawa lemah. "Mahar? Kamu tidak malu memakai kata itu?"
Wajah Gunawan mengeras. "Kalau tidak mau, tekan jempol di sini."
Ia mengeluarkan map, bantalan tinta, dan kertas akta. Oma Ong membaca beberapa baris dengan mata tua yang masih cukup tajam.
"Kamu mau merampas hak Evelina."
"Saya mau menyelamatkan keluarga."
"Keluarga yang kamu hancurkan sendiri."
Gunawan menggertakkan gigi. "Jangan sok suci."
Oma Ong menatapnya lama. Napasnya berat, tetapi suaranya tiba-tiba lebih jelas.
"Aku selalu curiga kematian Lilian bukan bunuh diri."
Tangan Gunawan berhenti.
Monitor di samping ranjang berbunyi pelan.
Oma melanjutkan, "Kamu pembunuhnya?"
Wajah Gunawan berubah pucat. Hanya sedetik, tetapi cukup. Lalu ia tertawa kasar.
"Kamu sudah tua. Mulai mengigau."
"Matamu menjawab sebelum mulutmu."
"Diam."
Gunawan menarik tangan Oma Ong. Tubuh tua itu mencoba melawan, tetapi tenaganya terlalu sedikit. Ia menekan ibu jari Oma ke bantalan tinta.
Di luar, Bu Yanti kembali dan menemukan pintu terkunci.
"Oma? Pak? Buka pintu!"
Monitor mulai berbunyi lebih cepat.
Oma Ong meronta, napasnya tersengal. Gunawan memaksa tangannya ke kertas akta.
Pintu digedor.
"Buka!"
Vincent Tan kebetulan berjalan di koridor membawa catatan kunjungan. Ia mendengar bunyi monitor yang berubah menjadi alarm tajam. Tanpa menunggu keamanan, ia mundur dua langkah lalu menabrakkan bahu ke pintu.
Sekali.
Dua kali.
Kunci rusak.
Vincent masuk dan melihat Gunawan menekan tangan Oma Ong.
"Lepaskan dia!"
Ia mendorong Gunawan keras sampai pria itu menabrak kursi. Oma Ong terkulai di bantal, wajahnya pucat, monitor menjerit.
Gunawan mengambil map dan berlari keluar lewat celah sebelum petugas datang.
Vincent tidak mengejar. Ia menekan tombol darurat, memeriksa nadi Oma, lalu berteriak memanggil dokter.
Saat perawat masuk, Vincent sudah menghubungi Edric.
"Ric," suaranya kaku. "Datang ke RS Tan sekarang. Gunawan menyerang Oma Ong."
Di ranjang, monitor jantung berubah menjadi alarm panjang yang membuat seluruh koridor membeku.