Pernikahan adalah impian semua orang, termasuk Calista, ia terpaksa harus menikah dengan sosok pria yang seharusnya ia benci, karena sudah membunuh ayahnya. Namun, ayah Danis justru menukar semuanya dengan sebuah pernikahan dengan sang putra. Alih-alih mendapatkan kebahagiaan, Calista justru tersiksa. Ia di benci ibu dan kakak Danis, bahkan tak di anggap oleh Danis. Pria itu bersikap dingin padanya. Beberapa bulan kemudian, Calista sudah muak, apalagi saat Danis meminta akan menikah dengan kekasihnya, ia yang tak siap di madu, akhirnya memilih meminta cerai. Namun sebelum itu, Calista memberikan hak Danis, ia dan Danis malam itu melakukan hubungan suami istri untuk yang pertama kali, sebelum paginya Danis menceraikan Calista.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Julia And'Marian, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 17
Rania masih berdiri di tepi trotoar. Tangannya gemetar menggenggam tas. Air matanya terus mengalir tanpa henti. Orang-orang yang berlalu-lalang sesekali menoleh kepadanya. Namun tak ada yang benar-benar peduli.
Perlahan... Ia mengangkat ponselnya.
Nama pertama yang muncul di kepalanya adalah...
"Mama..."
Jarinya menekan tombol panggil. Tak lama kemudian...
"Halo, Rania?"
Begitu mendengar suara ibunya, tangis Rania langsung pecah.
"Ma..."
Ratna yang sedang duduk di ruang tamu langsung berdiri.
"Rania? Kamu kenapa?"
"Aku... diputusin, Ma...."
Ratna membelalakkan mata. "Apa?"
"Kevin ninggalin aku...."
Tangis Rania semakin menjadi.b"Dia... dia datang sama perempuan lain...."
Ratna mengepalkan tangan. "Kurang ajar anak itu!"
"I-ia mutusin aku di depan banyak orang...."
Ratna ikut naik pitam. "Kamu sekarang di mana?"
Rania menyebutkan nama kafe tempat ia berada.
"Tunggu di sana. Mama jemput."
"Iya..."
Telepon pun terputus.
Empat puluh menit kemudian... Mobil Ratna berhenti di depan kafe. Begitu melihat putrinya duduk sendirian di bangku luar, hati Ratna ikut terasa sesak.
Wajah Rania sembap. Riasannya berantakan. Gaun yang tadi dipakainya dengan penuh percaya diri kini tampak kusut.
Ratna segera memeluk putrinya. "Sudah... jangan menangis."
"Ma...."
Rania menangis di pelukan ibunya.
Ratna mengusap rambut putrinya perlahan. "Kalau dia berani meninggalkan kamu, berarti dia memang bukan laki-laki yang pantas."
Namun... Di balik kata-kata itu... Ratna justru mulai diliputi kecemasan.
Belakangan ini... Banyak hal dalam hidup mereka mulai berantakan.
Danis semakin menjauh.
Sari gagal menjadi menantu.
Kini... Rania pun ditinggalkan kekasihnya. Entah mengapa... Ratna mulai merasa keberuntungan keluarganya perlahan menghilang.
Malam harinya... Rumah keluarga Arganta kembali sunyi.
Danis belum pulang dari kantor.
Rania mengurung diri di kamar.
Sedangkan Ratna duduk sendirian di ruang keluarga. Tatapannya kosong mengarah ke buku tabungan yang berada di atas meja. Ia membukanya perlahan. Beberapa lembar mutasi rekening terlihat di sana.
Ratna mengembuskan napas panjang. "Uangku semakin sedikit...."
Selama ini... Hampir semua kebutuhan pribadinya dipenuhi oleh Danis. Mulai dari belanja. Arisan. Perawatan di klinik kecantikan. Hingga berbagai investasi yang pernah ia coba. Namun sejak Danis menolak terus memberikan uang dalam jumlah besar...
Ratna mulai kesulitan. Ia memang masih memiliki tabungan. Tetapi gaya hidupnya jauh lebih besar daripada pemasukan yang dimilikinya. Ratna menutup buku tabungan.
"Harus ada cara supaya uangku bertambah...."
Keesokan harinya...
Ratna menghadiri pertemuan arisan di sebuah restoran mewah. Beberapa perempuan seusianya tampak sedang mengobrol sambil menikmati kopi.
Salah satunya adalah Melisa.
Perempuan yang terkenal gemar berbisnis. "Ratna!"
Ratna tersenyum tipis. "Sudah lama tidak bertemu."
Mereka pun duduk di meja yang sama. Obrolan ringan berlangsung beberapa menit.
Hingga tiba-tiba... Melisa berkata pelan.
"Ratna..."
"Iya?"
"Kamu pernah dengar investasi emas digital?"
Ratna menggeleng. "Belum."
Melisa tersenyum lebar. "Aku baru ikut dua bulan."
"Bagaimana hasilnya?"
"Wah..." Melisa mengeluarkan ponselnya. "Lihat ini."
Ia memperlihatkan tangkapan layar. Angka keuntungan yang tertera tampak sangat besar.
Ratna membulatkan mata. "Sebanyak itu?"
"Iya."
"Setiap bulan dapat keuntungan dua puluh persen."
Ratna terdiam. "Dua puluh persen?"
"Iya."
"Kalau kamu tanam seratus juta... Dalam beberapa bulan bisa jadi ratusan juta."
Ratna mulai tertarik. "Benarkah?"
Melisa mengangguk penuh keyakinan. "Sudah banyak yang ikut bergabung. Bahkan suamiku juga aku ajak ikut."
Ratna menggigit bibir pelan. Jumlah keuntungan itu terdengar sangat menggiurkan.
Apalagi... Belakangan ini ia memang sedang membutuhkan tambahan uang.
Melisa kembali berkata, "Kalau kamu mau, nanti aku kenalkan sama konsultannya."
Ratna mengangguk pelan. "Boleh juga...."
Sore harinya...
Ratna pulang dengan membawa beberapa brosur investasi. Ia membacanya berulang kali.
Di halaman depan tertulis kalimat besar.
"Investasi Emas Syariah. Keuntungan Tetap Hingga 20% Setiap Bulan."
Ratna tersenyum sendiri. "Kalau benar seperti ini... Uangku akan cepat bertambah."
Ratna masih memandangi brosur itu cukup lama. Jemarinya mengusap pelan tulisan yang tercetak besar di bagian depan.
"Keuntungan Tetap Hingga 20% Setiap Bulan."
Semakin lama ia membacanya... Semakin besar pula harapan yang tumbuh di dalam benaknya.
"Dua puluh persen..."
Kalau ia menanam uang seratus juta... Sebulan kemudian ia akan mendapatkan dua puluh juta. Kalau uang itu diputar lagi... Dalam beberapa bulan, jumlahnya akan terus bertambah.
Ratna mulai membayangkan berbagai hal.
Ia tidak perlu lagi meminta uang kepada Danis. Ia bisa kembali berbelanja sesuka hati. Mengikuti arisan kelas atas. Bahkan membeli tas bermerek yang beberapa waktu lalu sempat ia incar.
Senyumnya perlahan mengembang. "Sepertinya ini memang jalan keluarnya...."
Keesokan paginya...
Ratna kembali menghubungi Melisa.
"Melisa."
"Iya, Ratna?"
"Aku jadi tertarik."
"Serius?"
"Iya."
Melisa terdengar senang. "Kalau begitu, siang ini ikut aku saja."
"Mau ke mana?"
"Ketemu konsultannya."
Ratna langsung mengangguk. "Baik."
Siang hari...
Mereka bertemu di sebuah gedung perkantoran yang tampak mewah.
Di lantai dasar terpampang sebuah logo perusahaan investasi.
Ruangan resepsionis terlihat bersih. Para pegawainya mengenakan jas rapi. Beberapa orang tampak sedang duduk di ruang tunggu sambil mengisi formulir.
Ratna mengangguk pelan. "Kelihatannya profesional...."
Melisa tersenyum. "Makanya aku berani ikut."
Tak lama kemudian... Seorang pria berusia sekitar empat puluh tahun menghampiri mereka.
"Selamat siang, Ibu Melisa."
"Siang, Pak Adrian."
Pria itu menoleh kepada Ratna. "Ini yang Ibu ceritakan?"
"Iya."
"Teman saya."
Pak Adrian langsung mengulurkan tangan. "Selamat datang, Bu Ratna."
Ratna membalas jabatan tangan itu dengan ramah. "Silakan masuk."
Mereka dipersilakan menuju sebuah ruangan yang cukup luas.
Di dalamnya terdapat layar besar yang menampilkan grafik kenaikan harga emas.
Pak Adrian mulai menjelaskan dengan suara tenang. "Program kami menggunakan sistem perdagangan emas digital."
Ratna mengangguk pelan. "Keuntungan berasal dari selisih transaksi."
Di layar muncul berbagai grafik dan angka yang tampak meyakinkan.
Ratna memang tidak terlalu memahami dunia investasi.
Namun cara pria itu berbicara terdengar begitu percaya diri.
"Yang menarik..." Pak Adrian tersenyum. "Semakin besar modal yang Ibu tanam, semakin besar pula keuntungan yang akan diterima."
Ratna mulai tertarik. "Kalau saya menanam dua ratus juta?"
Pak Adrian segera membuka tabel simulasi. "Dengan nominal itu... Ibu berpotensi memperoleh sekitar empat puluh juta setiap bulan."
Ratna membulatkan mata. "Empat puluh juta?"
"Iya."
"Tentu selama mengikuti program sesuai ketentuan."
Ratna menelan ludah. Jumlah itu bahkan lebih besar daripada uang bulanan yang selama ini sering ia minta kepada Danis. Dalam hati ia mulai berpikir... "Kalau uangku terus bertambah... aku tidak perlu lagi bergantung pada siapa pun."
Pak Adrian kembali berbicara.
"Kalau Ibu mendaftar minggu ini, ada bonus tambahan berupa satu gram emas."
Melisa langsung menyela. "Aku juga dapat bonus itu waktu daftar."
Ratna semakin yakin. Ia memandangi formulir pendaftaran yang baru saja disodorkan.
Tangannya perlahan mengambil pulpen. Namun... Sebelum menandatangani... Ia masih sempat bertanya.
"Kalau sewaktu-waktu saya ingin menarik uang?"
Pak Adrian tersenyum ramah. "Tentu bisa, Bu. Asalkan mengikuti prosedur." Jawaban itu terdengar begitu meyakinkan.
Tanpa berpikir panjang lagi... Ratna akhirnya membubuhkan tanda tangannya di atas formulir.
Pak Adrian tersenyum lebar. "Selamat bergabung, Bu Ratna."
Ratna ikut tersenyum puas.