NovelToon NovelToon
Red Thread

Red Thread

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Cinta Seiring Waktu / Wanita Karir / Trauma masa lalu / Office Romance
Popularitas:2.5k
Nilai: 5
Nama Author: About Gemini Story

Lima tahun bukan waktu yang singkat untuk melupakan—terutama bagi Althea Reycecilia Rosewood, wanita dewasa berusia 27 tahun berparas cantik, dibalut pakaian casual yang membuatnya terlihat elegan, tatapan lembut dengan mata penuh kenangan. Setelah lama tinggal di luar negeri, ia akhirnya kembali ke Indonesia, membawa harapan sederhana 'semoga kepulangannya tak menghadirkan kekecewaan' Namun waktu mengubah segalanya.

Kota tempat ia tumbuh kini terasa asing, wajah-wajah lama tak lagi akrab, dan cerita-cerita yang tertunda kini hadir dalam bentuk kenyataan yang tak selalu manis. Namun, di antara perubahan yang membingungkan, Althea merasa ada sesuatu yang masih mengikatnya pada masa lalu—benang merah yang tak terlihat namun terus menuntunnya kembali, pada seseorang atau sesuatu yang belum selesai. Benang yang tak pernah benar-benar putus, meski waktu dan jarak berusaha memisahkan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon About Gemini Story, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Sambutan Hangat

Pesawat pribadi Keluarga Moonstone mendarat mulus di Bandara Le Bourget, Paris, siang menjelang sore. Langit cerah di Paris memancarkan biru pucat dengan semburat awan tipis, angin membawa aroma khas kota itu—perpaduan udara hangat, roti panggang dari boulangerie, dan samar wangi bunga yang mulai bermekaran.

Begitu turun dari tangga pesawat, Al membenarkan posisi gendongan yang membungkus Baby Cio di gendongan Thea. Udara Paris cukup panas, membuat pipi bayi mungil itu memerah, tapi ia hanya menggumam pelan lalu kembali bersandar nyaman di dada Thea.

Dua mobil hitam menunggu di area VIP. Sedan pertama untuk mereka bertiga, sedan kedua mengangkut koper-koper besar—setengahnya berisi perlengkapan Baby Cio, mulai dari stroller lipat, sterilisator botol, hingga pakaian hangat.

Paris sore itu memantulkan kehangatan musim panas yang khas. Langit biru membentang luas tanpa awan pekat, hanya sesekali dihiasi awan tipis yang melayang malas. Suhu hangat, sekitar 27 derajat, membuat orang-orang memenuhi teras café dengan gaun ringan, kemeja tipis, dan kacamata hitam. Gelas anggur berkilau di bawah cahaya matahari, aroma croissant dan kopi panggang menyeruak ketika mobil hitam yang ditumpangi Thea dan Al melintas di jalan utama.

Di pelukannya, Baby Cio tertidur pulas dengan pipi kemerahan karena udara hangat, sementara Thea hanya menatap keluar jendela, diam. Matanya menangkap pemandangan indah, balkon-balkon penuh bunga warna-warni, jalanan berbatu yang memantulkan cahaya senja, dan lengkungan Seine yang berkilau keemasan. Tapi keindahan itu tak mampu menenangkan hatinya.

Didalam mobil tepatnya di kursi belakang, suara mesin mobil yang lembut memberi ruang bagi pembicaraan serius. Aleron membuka laptopnya begitu pintu tertutup rapat.

“Update terakhir dari tim hukum,” katanya sambil memutar layar ke arah Thea. “Seperti yang kita duga waktu zoom meeting kemarin—Valmont Jewels memang sudah meluncurkan desain itu duluan. Tapi mereka tidak punya bukti tertulis kepemilikan sebelum tanggal bocornya file.”

Thea menunduk, mengingat lagi wajah-wajah tegang di layar saat rapat jarak jauh dua hari lalu. Waktu itu, kepala IT memberi laporan bahwa mantan karyawan yang keluar setahun lalu ternyata masih punya akses ‘hantu’ ke server lama. Celah itu yang dimanfaatkan untuk menyalin desain Phoenix, lalu menjualnya ke Valmont.

“Apa mantan karyawan itu sudah ditemukan?” tanya Thea.

“Sudah. Lokasinya di Marseille. Tim legal di Paris sudah menghubungi pihak berwenang. Tapi fokus kita sekarang adalah mengamankan reputasi proyek. Itu kenapa besok pagi kita meeting dengan firma hukum yang khusus menangani pelanggaran desain internasional,” jawab Al dengan nada mantap.

Thea menarik napas panjang. “Kalau mereka sudah memasarkan duluan, apa nggak terlambat?”

“Tidak, selama kita bisa buktikan konsep asli dan catatan desainnya lahir di MS Corporation lebih dulu. Dan ingat,” Al menatapnya, “yang mereka punya cuma visual. Detail teknis material, finishing, dan sertifikasi batu permata hanya ada di tanganmu.”

“Al…” suara Thea akhirnya pecah, lirih, “aku masih tidak bisa tenang. Kalau desain Phoenix benar-benar diluncurkan oleh Valmont Jewels lebih dulu… bagaimana nasib tim kita? Bagaimana masa depan proyek ini?”

Aleron, duduk di sampingnya, mengalihkan pandangannya dari layar tablet yang sejak tadi ia buka. Aleron menghela napas pelan, menutup layar tabletnya. Di layar tadi masih terpampang laporan investigasi internal, detail bocornya desain, jejak digital mantan karyawan yang jadi penghianat, dan potensi klaim Valmont Jewels.

Mobil berbelok melewati Boulevard Saint-Germain yang ramai. Suara gelak tawa turis bercampur dengan musik jalanan membuat suasana terasa meriah, namun hati Thea justru semakin berat. Tangannya mengusap lembut punggung Baby Cio yang tidur pulas di pangkuannya, seakan mencari pegangan.

“Phoenix bukan sekadar proyek,” gumam Thea, matanya masih menatap keluar jendela, tapi fokusnya kabur. “Itu masa depanku, Al. Aku sudah taruh semua diriku di sana… kalau benar-benar hancur, aku—”

“Aku tidak akan biarkan itu terjadi.” Suara Al terdengar tenang tapi tegas, kontras dengan hiruk pikuk Paris di luar. Tatapannya mengunci wajah Thea. “Valmont mungkin berusaha menjatuhkan kita, tapi kita punya keunggulan yang tidak bisa mereka curi: jiwa dari desainmu. Phoenix lahir dari hatimu, Thea. Dan hatimu tidak bisa dipalsukan.”

Thea menoleh, menatap Al sejenak. Ada keyakinan dalam suara pria itu yang sedikit meruntuhkan dinding kecemasan di dadanya, meskipun masih tersisa rasa was-was.

Mobil melewati jembatan di atas Sungai Seine, airnya berkilau diterpa sinar senja. Di kejauhan, menara Eiffel menjulang anggun, berkilau keemasan. Keindahan itu seharusnya membuat tenang, tapi justru terasa kontras dengan ketegangan yang menyelimuti mereka.

Thea memejamkan mata sejenak, lalu berbisik lirih, “Aku hanya takut… kita akan terlambat.”

Aleron meraih tangannya, menggenggam erat. “Kita sudah selangkah di depan, Thea. Kita hanya perlu memastikan langkah berikutnya tepat. Malam ini, kita harus istirahat dulu. Besok, baru kita persiapkan dengan matang langkah kedepan kita ya."

Thea terdiam, jemarinya menggenggam balasan genggaman Al. Di luar, Paris musim panas tampak begitu hidup, tapi di dalam mobil itu, dunia mereka terasa seolah terbelah dua, antara kehangatan keluarga yang menanti, dan badai Phoenix yang siap meledak kapan saja.

♾️

Mobil hitam elegan itu akhirnya berbelok ke jalanan privat yang dipenuhi pepohonan rindang. Mansion keluarga Moonstone tampak megah di ujung jalan—arsitektur klasik khas Prancis dengan dinding batu putih, balkon berukir, dan jendela-jendela tinggi yang terbuka lebar menyambut angin musim panas. Cahaya matahari sore jatuh lembut di halaman depan, memantul di air mancur yang berdiri anggun di tengah taman.

Begitu mobil berhenti, Thea merasakan jantungnya berdegup lebih cepat. Baby Cio masih tertidur di pelukannya, tubuh mungil itu hangat dan wangi susu. Thea menatap wajah damai sang bayi, seolah berusaha meminjam ketenangan darinya.

Aleron keluar lebih dulu, lalu membuka pintu untuk Thea. “Ready?” bisiknya lembut.

Thea menelan ludah, lalu mengangguk kecil. “Sejujurnya… tidak,” jawabnya lirih, membuat Al tersenyum samar sambil menggenggam tangannya erat.

Pintu besar mansion terbuka, menampilkan sosok Mariana Moonstone dan Harry Moonstone yang sudah menanti di ambang pintu. Mariana tampak anggun dengan gaun biru pastel, sementara Harry berdiri tegap dengan kemeja berwarna navy, aura hangat langsung terasa dari sorot mata mereka.

Mata Mariana langsung membesar begitu melihat Baby Cio dalam pelukan Thea. Ia menutup mulutnya dengan tangan, suaranya bergetar, “Oh my God… Aleron… Althea… this our little boy—” Mariana bergegas menuruni tangga marmer, menghampiri Thea dengan mata berkaca-kaca.

Thea, yang awalnya canggung, perlahan menyerahkan Baby Cio ke pelukan Mariana. Perasaan campur aduk menyeruak—antara takut, lega, dan haru. Mariana mendekap bayi itu dengan penuh kasih, mengusap pipi chubby Baby Cio yang kini mulai menggeliat kecil. “Tampan sekali… oh, dia benar-benar malaikat kecil.”

Harry mendekat, menunduk menatap Baby Cio. Senyumnya hangat, penuh kebanggaan. “Welcome to the family, little one.” Ia lalu menepuk bahu Aleron dengan bangga. “You’ve done well, son.”

Aleron hanya tersenyum singkat, lalu melirik Thea. Ia tahu, momen berikutnya adalah hal yang paling menegangkan bagi gadis itu.

Mariana mengangkat wajahnya dari Baby Cio, kini menatap Thea dengan sorot mata yang lembut, namun juga penuh kerinduan. “Althea…” panggilnya pelan.

Thea membeku. Sudah sekian tahun ia tidak menatap langsung wajah kedua orang tua Aleron. Ada rasa bersalah, ada luka lama, juga rasa rindu yang tak bisa ia tolak.

Mariana melangkah mendekat, lalu menggenggam tangan Thea. “It’s been too long. You don’t know how happy I am to see you again… and to see you holding this baby.” Suaranya bergetar, matanya berkaca-kaca.

Thea menggigit bibirnya, mencoba menahan air mata. “Thea juga senang bisa bertemu Mommy dan Daddy lagi,” ucapnya lirih.

Harry menambahkan dengan suara tegas tapi penuh kehangatan, “You’re part of this family, Thea. Don’t ever doubt that.”

Kata-kata itu membuat tangis Thea pecah. Ia tak mampu lagi menahan semua perasaan yang terpendam. Mariana langsung menariknya ke dalam pelukan, merangkulnya dengan erat, seolah ingin menebus semua tahun-tahun yang hilang.

Di sisi lain, Baby Cio yang ada di gendongan Mariana mulai menggeliat, matanya terbuka perlahan, lalu mengeluarkan suara rengekan kecil. Mariana tertawa kecil sambil mengusap punggung mungilnya. “Even he can feel the emotion in this house,” katanya, membuat suasana menjadi lebih hangat.

Aleron berdiri sedikit di belakang, menatap pemandangan itu dengan senyum penuh rasa syukur. Untuk pertama kalinya setelah semua kekacauan, rumah itu terasa benar-benar hidup.

♾️

Sore itu, sinar matahari musim panas menembus kaca besar mansion keluarga Moonstone, memantul di lantai marmer putih. Suasana hangat menyambut ketika Mariana menggandeng Baby Cio yang tertidur pulas, sementara Harry membawa koper kecil Thea.

Mariana berjalan mendampingi mereka di koridor lantai atas. Lampu gantung kristal berkilau lembut, dan aroma lavender dari diffuser membuat udara terasa nyaman.

“Ini kamar untukmu, Thea,” ucap Mariana sambil membuka pintu lebar.

Tampak sebuah kamar luas dengan ranjang canopy putih, tirai tipis melambai terkena angin sore, serta cradle bayi mungil yang sudah disiapkan di samping ranjang. Di balkon kecil, pemandangan taman bunga berwarna-warni terbentang indah.

Thea terdiam, menatap kamar itu dengan perasaan campur aduk. “Mom… ini terlalu indah dan pasti sangat merepotkan. Terima kasih banyak Mom.”

Mariana tersenyum hangat. “Sayang, kamu sudah seperti anak kami sendiri. Tidak perlu sungkan.”

Namun, sebelum Thea sempat melangkah masuk, Aleron langsung menyela, alisnya berkerut.

“Tunggu. Kenapa Thea di sini? Lalu aku tidur di mana?”

Mariana menoleh dengan wajah bingung. “Ya tentu saja di kamarmu sendiri, di sebelah.”

Al langsung menghela napas panjang, lalu mengusap wajahnya dengan ekspresi setengah putus asa. “Mommy… aku maunya satu kamar dengan Thea dan Cio. Lagipula aku juga harus membahas masalah Phoenix”

Thea langsung menoleh tajam. “Al! Tidak usah macam-macam.”

Harry yang sejak tadi berdiri di pintu, ikut tertawa kecil mendengar perdebatan itu. Dengan logat asing namun jelas, ia berkata, “Belum menikah… tidak boleh sekamar.”

Wajah Thea langsung memerah. “Betul, Dad. Terima kasih, akhirnya ada yang mengerti.”

Namun bukannya menyerah, Aleron justru semakin merengek. Ia mendekat ke Mariana sambil menarik lengannya, seperti anak kecil yang memohon.

“Mommy, please… aku nggak bisa tidur kalau nggak di dekat mereka. Aku sudah terbiasa bangun malam untuk Cio, terbiasa lihat Thea di sebelahku. Kalau dipisahkan, aku pasti susah tidur.”

Thea terbelalak mendengar rengekan itu. “Astaga, Al… bisa-bisanya kamu merengek begitu…”

Harry terkekeh sambil menggelengkan kepala. “Anak ini… sudah dewasa tapi masih seperti anak kecil.”

Mariana mencoba menahan tawa, lalu menatap Thea. “Thea, bagaimana menurutmu? Kalau kamu merasa tidak nyaman, tentu kita tetap pisahkan kamar.”

Thea menggigit bibir, bingung harus menjawab apa. “Sejujurnya… Thea rasa memang lebih baik terpisah. Kita kan… belum menikah.”

"Padahal kamu sendiri yang selalu menolakku ketika aku mengajakmu menikah" Gerutu Al yang masih terdengar oleh semua orang membuat orang tuanya terkekeh dan Thea tersenyum kikuk.

Namun tiba-tiba, Baby Cio yang berada di gendongan Mariana menggeliat pelan, membuka matanya, lalu meraih baju Aleron dengan tangannya yang mungil. Bayi itu merengek manja, seakan tidak rela dipisahkan dari Al.

Semua yang ada di situ terdiam sejenak, lalu saling pandang.

Harry menghela napas, kemudian tersenyum. “Baiklah… kali ini boleh. Tapi ingat, kalian harus bertanggung jawab.”

Mariana menambahkan dengan lembut, “Hanya kali ini, ya. Karena Baby Cio sepertinya sudah memilih sendiri.”

Thea langsung menutup wajahnya dengan kedua tangan, pipinya panas sekali. “Ya Tuhan… bisa gila aku lama-lama sama laki-laki ini.”

Aleron justru tersenyum lebar, lalu merangkul bahu Thea dengan ekspresi penuh kemenangan. “Nah, kan? Bahkan Cio pun maunya kita bertiga.”

Mariana akhirnya menyiapkan satu kamar besar itu untuk mereka bertiga. Sore itu, sementara matahari mulai meredup di balik jendela besar, Thea masih kikuk dengan keputusan itu… sedangkan Aleron tampak paling bahagia di dunia.

♾️

Matahari sudah benar-benar tenggelam, dan lampu gantung kristal di ruang makan memancarkan cahaya hangat keemasan. Meja panjang dengan taplak putih elegan tertata rapi, piring porselen antik, sendok garpu berkilau, dan lilin aromaterapi kecil di tengah meja. Aroma sup krim jamur, ayam panggang rosemary, dan roti baguette segar memenuhi ruangan.

Thea duduk di sisi Aleron, sementara Baby Cio diletakkan di bassinet kecil di dekat meja agar tetap bisa dekat dengan mereka. Mariana duduk di ujung meja, memimpin suasana, sementara Harry sudah sibuk memotong ayam panggang untuk menyiapkan piring Thea.

“Silakan, sayang, makanlah banyak. Kau pasti lelah setelah perjalanan panjang,” ucap Mariana sambil menyodorkan piring.

Thea tersenyum gugup. “Terima kasih, Mommy.” Mendengar Thea memanggilnya mommy membuat Mariana tersenyum lembut.

Harry menatap Thea sambil tersenyum lebar. “Apa masakannya cocok dengan lidahmu? Kalau tidak kita bisa menggantinya.”

Thea terkekeh kecil. “Dad, ini sudah sangat enak. Thea suka.”

Percakapan mengalir begitu hangat, tak ada jeda canggung seperti yang Thea takutkan sebelumnya. Bahkan Mariana dan Harry benar-benar memperlakukannya seolah sudah menjadi bagian keluarga sejak lama.

Namun di sela tawa itu, Thea sesekali melirik ke arah Aleron. Lelaki itu tetap tenang, sesekali menyuapi Baby Cio dengan sendok kecil bubur bayi. Tapi di matanya, Thea tahu ada kegelisahan lain.

Akhirnya Mariana menyinggung topik serius. “Al, Thea… apa yang sebenarnya terjadi dengan proyek Phoenix? Dari yang kami dengar, ada masalah cukup besar di Valmont Jewels.”

Thea menunduk sejenak, lalu menarik napas. “Ada mantan karyawan yang membocorkan desain awal ke pihak kompetitor. Saat ini kami sedang dalam tahap klarifikasi legal, tapi… ada kemungkinan Phoenix harus ditunda.”

Harry mengangguk pelan. “Apa Daddy juga perlu turun tangan ? Tapi yang penting, jangan biarkan tekanan itu merusak kalian. Terutama kamu Thea. Daddy tau kamu sangat kuat dan hebat.”

Aleron menggenggam tangan Thea di bawah meja, menenangkan. “Tidak perlu dad. Kami akan hadapi bersama. Aku janji, Thea tidak akan sendirian menanggung ini.”

Thea melirik ke arahnya, hatinya berdesir. Untuk sesaat, suasana hangat makan malam itu seolah menghapus seluruh beban Phoenix.

♾️

Selesai makan malam, mereka semua berkumpul di ruang keluarga. Sofa empuk, lampu temaram, dan jendela besar yang memperlihatkan langit malam Paris menciptakan suasana intim.

Aleron mengambil ponselnya dan menekan layar. Wajah Stella muncul pertama kali di layar, disusul Adrienne yang duduk di sampingnya. Begitu video call tersambung, keduanya langsung berteriak hampir bersamaan.

“THEA!!!”

“BABY CIO!!!”

Thea sampai terkejut, nyaris menjatuhkan ponsel. “Astaga… kalian berdua kenapa heboh sekali?”

Stella sudah mencondongkan wajahnya dekat kamera. “Aku serius, kamu kelihatan makin cantik."

Adrienne menambahkan dengan wajah merajuk, “Aku iri sekali. Kenapa kalian nggak bawa aku sekalian? Aku mau ketemu Baby Cio, mau gendong dia!”

Aleron yang duduk di sebelah Thea terkekeh. “Kalian kalau ikut, mansion ini bisa tambah ramai. Mommy bisa pusing nanti.”

Mariana yang mendengar itu dari belakang, langsung ikut bicara dalam bahasa Inggris dengan senyum hangat, “Don’t worry, you both are welcome anytime.”

Adrienne langsung berseru, “See?! Bahkan Mommy saja mengizinkan! Jadi ayo, Stella, kita cari tiket ke Paris!”

Stella tertawa terpingkal-pingkal. “Tunggu dulu, aku juga harus menyesuaikan jadwal suamiku dulu. Tapi serius Thea, aku pengen banget ketemu Baby Cio. Kamu tahu kan, aku aku sangat merindukanmu dan sangat ingin bertemu keponakan tampanku.”

Thea tersenyum haru, sambil mengarahkan kamera ke bassinet. Baby Cio sedang menguap, lalu tersenyum kecil dalam tidurnya. Stella dan Adrienne langsung menjerit gemas bersamaan.

“Aaaahhh!!! Lucu banget! Aku bisa meledak sekarang!” seru Adrienne dramatis.

Thea menutup mulutnya menahan tawa, sementara Aleron menggeleng sambil menyeringai. “Kalian berdua harus sabar. Nanti kalau sudah waktunya, kami akan pulang, dan Baby Cio akan langsung dititip ke kalian supaya bisa puas gendong.”

Stella dan Adrienne saling pandang di layar, lalu kompak mendengus. “Iri!”

Ruang keluarga pun penuh tawa. Thea merasa hatinya menghangat—untuk pertama kalinya dalam waktu lama, ia merasa benar-benar memiliki “rumah”, bukan hanya tempat tinggal.

♾️

Malam harinya, kamar itu sudah dipenuhi ketenangan. Lampu gantung kristal di tengah ruangan dipadamkan, hanya tersisa dua lampu meja berwarna keemasan yang temaram, menciptakan suasana hangat dan intim. Udara musim panas Paris membawa aroma bunga mawar dari taman luar yang sedikit menyusup lewat jendela yang terbuka.

Di sisi ranjang besar, Baby Cio sudah terlelap di bassinet kecil dengan selimut tipis menutupi tubuh mungilnya. Sesekali tangannya bergerak refleks, lalu kembali tenang. Suara napasnya halus, hampir seperti musik pengantar tidur yang menenangkan hati.

Althea baru saja menepuk perlahan dada kecil bayi itu, memastikan ia benar-benar pulas. Setelah yakin, ia beranjak pelan, mengambil cardigan tipis, lalu menuju sofa panjang di sudut kamar. Di atas meja kecil sudah ada berkas-berkas print out yang tadi siang ia bawa dari kantor cabang MS Paris.

Tak lama, Al masuk membawa dua gelas teh hangat. Ia meletakkan satu di hadapan Thea, lalu duduk di sampingnya. “Teh chamomile. Biar kamu bisa lebih tenang,” katanya lirih.

Thea tersenyum kecil, meski matanya masih tampak letih. Ia menyesap sedikit, lalu meletakkan gelas itu di meja. “Masalah Phoenix ini… aku benar-benar tidak bisa berhenti memikirkannya, Al.”

Al menghela napas, lalu meraih map di meja. “Aku sudah minta tim legal dan IT di Jakarta mengirimkan laporan. Bocoran desain itu jelas berasal dari mantan karyawan yang dulu kita keluarkan. Dia menjual potongan sketsa pada Valmont Jewels. Aku sudah punya nama, dan besok aku akan bawa ke rapat darurat.”

Thea menegakkan tubuh, wajahnya serius. “Kalau benar itu dipakai Valmont, kita bisa kehilangan klien besar. Mereka pasti berpikir aku yang menjual desain atau aku yang meniru. Padahal, Phoenix itu aku rancang dari nol. Itu… bagian dari diriku, Al.”

Al menatapnya dalam-dalam. “Aku tahu. Dan aku tidak akan biarkan siapa pun merusak hasil karyamu. Besok kita harus ambil dua langkah, pertama, kumpulkan bukti kepemilikan desain Phoenix dari awal—semua draft, catatan, bahkan file CAD. Kedua, kita harus temui langsung investor utama. Aku akan bicara sendiri, meyakinkan mereka. Kamu tidak perlu menghadapi serangan itu sendirian.”

Thea menunduk, menggenggam ujung cardigan di tangannya. “Aku takut, Al. Aku takut kalau ini menghancurkan segalanya… termasuk kepercayaanmu padaku.”

Al mendekat, jemarinya menggenggam tangan Thea erat. “Dengar aku. Thea, kepercayaan itu tidak bisa dihancurkan oleh sketsa curian atau rumor murahan. Kamu bagian dari Phoenix. Bahkan, kamu adalah Phoenix itu sendiri. Kalau ada yang berusaha menjatuhkanmu, aku akan berdiri paling depan.”

Suara Al tenang tapi tegas, membuat Thea terdiam. Matanya mulai berkaca-kaca, tapi kali ini bukan hanya karena cemas—ada rasa hangat yang merembes di dadanya.

Mereka duduk dalam diam sejenak. Di luar jendela, suara samar mobil kota Paris masih terdengar, tapi di kamar itu hanya ada ketenangan.

Al kemudian mencondongkan tubuh, suaranya lebih lembut. “Kau tahu, Thea… dulu aku selalu percaya Paris adalah kota cinta. Tapi malam ini aku sadar, bukan Paris yang membuatku jatuh cinta pada malam ini… tapi karena aku bisa duduk di sini bersamamu, membicarakan masa depan, sementara bayi kecil kita tidur dengan damai.”

Thea menoleh, terperangah. Ia tak menjawab, hanya membiarkan pipinya memanas, lalu bersandar pelan pada bahu Al. Dan di bawah temaram lampu emas itu, dengan berkas Phoenix yang terbuka di meja, mereka tahu, malam ini hanyalah awal dari pertempuran panjang. Tapi mereka juga tahu, mereka tidak lagi berjuang sendirian.

1
Stella
Bagus banget, jadi mau baca ulang dari awal lagi🙂
About Gemini Story: wahhh terimakasih kak 🤗 sehat selalu ya kak🤗
total 1 replies
Jena
Ga nyesel banget deh kalo habisin waktu buat habisin baca cerita ini. Best decision ever!
About Gemini Story: wahh terimakasih kak 🤗 aku seneng ada yang suka sama cerita aku hehe ☺️ sehat dan bahagia selalu ya kak 🤗
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!