Rhaella Delyth adalah seorang gadis cantik dengan kepribadian dingin dan ekspresi wajah yang selalu datar. Meskipun berasal dari keluarga terpandang, kehidupan yang ia jalani jauh dari kata bahagia. Kehadirannya di dunia tidak pernah diharapkan, membuatnya tumbuh dengan hati yang keras dan kesulitan untuk mempercayai orang lain.
Sementara itu, Gabriel adalah seorang pemuda tampan dan berkarisma yang lahir di lingkungan keluarga kaya dan berpengaruh. Di balik pesonanya, ia memiliki sifat dingin, tak mudah didekati, serta sisi kejam yang tidak banyak diketahui orang.
Bagaimana kisah pertemuan mereka bermula? Ikuti perjalanan mereka dalam cerita ini, yang penuh dengan intrik dan adegan penuh ketegangan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eireyynezkim, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 24
Waktu sudah menunjukkan pukul sepuluh malam sepanjang jenis kelamin masih asyik menyelami alam mimpinya. Bahkan kini seorang gadis yang tertidur itu sudah berada di atas tubuh si pria, dengan nyenyaknya si gadis malah sudah menduselkan wajah dan menenggelamkan wajahnya di dada bidang sang pria.
Hingga sampai sang gadis merasa ingin buang kecil, barulah dia bergerak kecil dan merasakan ada yang aneh dengan tempat tidurnya, gadis itu pun sedikit menelisik keadaan kasur dan terkejut ternyata dia sedang berada di atas tubuh seseorang, kemudian dia pun langsung melihat siapa pemilik tubuh itu, dan dia semakin terkejut melihat siapa pelakunya.
"Kenapa ada El tidur di sini? Ini juga kenapa gue bisa-bisanya tidur di atas badan El sih? Sejak kapan gue tidurnya kaya begini?" Gerutunya sendiri dengan suara yang pelan tapi sudah mengganggu seseorang di bawah sana.
"Berisik Rha" ucap Gabriel dengan suara serak khas orang bangun tidur, Rhaella sudah melotot karena El malah mempererat pelukannya dan membawa Rhaella untuk berbaring di sampingnya. Rhaella sudah terdiam tak bisa berkata-kata di tambah detak jantungnya yang sudah berdetak lebih kencang, bahkan mungkin Gabriel bisa mendengarnya.
"Eel i-ini apartemen gue" ucap Rhaella gugup yang masih berada dalam pelukan Gabriel.
"Hmm gue tahu" ucapnya dengan suara seraknya.
"Ini udah malem, lo nggak di cariin sama nyokap bokap lo?" Tanya Rhaella pada Gabriel, Gabriel pun perlahan membuka matanya yang sedikit berat, lalu merogoh handphone di saku celananya dan melihat jam, ternyata sudah jam 10 malam, dia pun melonggarkan pelukannya sehingga membuat Rhaella langsung bangun dari tidurnya.
"Mau kemana?" Tanya Gabriel yang melihat Rhaella ingin turun dari tempat tidurnya.
"Gue mau masuk kamar mandi" jawab Rhaella lalu berjalan menuju kamar mandi. Gabriel hanya melihat Rhaella yang pergi, kemudian dia sendiri pun beranjak dari tempat tidur dan duduk di tepian kasur.
"Gue punya janji sama bunda dan ayah, mereka masih bangun atau tidur yah?" Gumamnya sendiri mengingat bunda dan ayahnya yang ingin berbicara dengannya.
Beberapa menit kemudian Rhaella pun sudah keluar dari kamar mandi, dan Gabriel pun kemudian pergi menuju kamar mandi untuk mencuci mukanya, Rhaella tidak menegurnya dia sudah malas ingin menegur Gabriel yang seenaknya dengannya.
Setelah beberapa saat Gabriel pun keluar dari kamar mandi dan tidak melihat keberadaan Rhaella di dalam kamar, Gabriel pun keluar dan dia melihat Rhaella yang baru saja masuk ke dalam apartemen.
"Abis dari mana?" Tanya Gabriel.
"Buang sampah"
"Gue balik dulu, besok gue jemput" ucap Gabriel.
"Ngga usah, gue bawa motor sendiri aja"
"Besok gue jemput ngga ada bantahan" ucap datar Gabriel, Rhaella hanya menghela nafas lelahnya menghadapi sikap Gabriel yang aneh ini.
"Iyah" jawab seadanya Rhaella.
Good girl" Gabriel mengelus lembut pipi Rhaella, kemudian pergi dari apartemen Rhaella untuk menuju kediamannya sendiri.
...
Saat sudah sampai di kediamannya jam menunjukkan pukul 11 lewat dan keadaan mansion sudah sangat sepi, karena para maid biasanya sudah beristirahat setelah menyelesaikan tugas mereka, dan mereka akan bangun jika memang di butuhkan oleh majikannya untuk melakukan sesuatu.
Gabriel pun kemudian pergi menuju lift setelah sampai dia berjalan menuju kamar orang tuanya untuk melihat apakah mereka sudah tertidur, dan benar saja ternyata mereka sudah tertidur nyenyak sambil berpelukan. Kemudian Gabriel pun menutup pelan pintu kamar kedua orang tuanya. Dan kembali naik lift untuk menuju lantai kamarnya.
Setelah sampai di kamarnya dia langsung menuju kamar mandi untuk membersihkan dirinya, setelah selesai dengan rutinitasnya dia pun membuka handphonenya untuk membaca apa yang di kirimkan oleh Rufus tentang data-data Rhaella dia butuhkan.
"Ternyata lo anak tuan Leif Blaze saudara tiri Daena, tunggu dulu ..." gumamnya terhenti saat dia sudah mengingat akan sesuatu. Dia pun kembali mengotak atik handphonenya untuk mencari data yang pernah di perlihatkan oleh Rufus saat di markas waktu itu.
"Leif Blaze pernah menikah dengan Idylla Delyth Kendrick, itu berarti Rhaella anak dari istri pertama Leif Blaze yaitu Idylla Delyth Kendrick" gumamnya membaca data-data Leif Blaze.
"Apa hubungan Rhaella dengan ayah serta ibu dan saudara tirinya nggak baik? Sampai Rhaella seperti itu setelah keluar dari kediaman Blaze?" Gumamnya kembali.
"Kalau gue tanyain ini langsung ke Rhaella udah pasti dia nggak bakal mau kasih tahu, jadi cara satu-satunya ya gue sendiri yang cari tahu, sorry sayang kalau gue harus nguntit lo lagi" ucapnya kemudian kembali turun menuju meja makan untuk makan malam.
Saat sudah sampai di meja makan Gabriel di kejutkan dengan keberadaan Abangnya yang juga sedang makan malam, Dia pikir kakaknya sedang tidak ada di rumah karena tidak melihat motornya di bagasi tadi saat datang.
"Kemana aja lo tadi, di cariin bunda sama ayah juga" ucap sang kakak melihat adiknya yang baru saja datang.
"Ada urusan" jawab datar Gabriel mengambil piring dan nasi serta lauknya.
"Griffin udah tidur?" Tanya Gabriel pada kakanya.
"Udah dari tadi" jawab Godric kemudian di angguki oleh Gabriel.
"Terus motor lo mana, gue tadi nggak liat?" Tanya kembali Gabriel. "tiba-tiba aja mati mendadak pas dijalan, ya udah gue kesininya pake taxi terus motor gue suruh anak buah ayah buat bawa ke bengkel" Gabriel lagi-lagi menganggukkan kepalanya.
"Gue mau tanya sama Lo?" Tanya Godric pada Gabriel, Gabriel hanya mengangkat sebelah alisnya tanda bertanya apa?
"Lo beneran udah punya cewe dek?" Tanya serius Godric yang masih tidak percaya jika adiknya memang sudah punya kekasih.
"Hmm"
"Kok gue ngga percaya sih"
"Terserah"
"Jangan-jangan lo ngancem dia lagi" Gabriel hanya menggulir bola matanya malas menghadapi kekepoan kakanya.
"Ck, jawab yang bener napa sih"
"Iya, gue udah punya cewe, calon istri malah"
Uhuk uhuk uhuk ....
Gabriel yang melihat kakaknya tersedak pun langsung memberikan air minum Kemudian Gabriel menepuk pelan punggung kakaknya yang berada di sampingnya.
"Lo... Lo yang serius kalau ngomong bisa ngga sih" ucap kesal Godric pada adiknya.
"Serius" jawab datar Gabriel.
"Serius?" Tanya kembali Godric untuk meyakinkan.
"Kenapa?" Tanya datar Gabriel mengangkat sebelah alisnya.
"Ya lo nggak boleh langkahin gue lah anjir, gue ini Abang lo, jadi gue duluan yang kawin baru lo terus baru Griffin"
"Mana ada peraturan begitu?" Tanya Gabriel tidak terima.
"Diiiih Lo nggak tahu yah... " Ucapan Godric terpotong saat Gabriel sudah lebih dulu menjawab padahal dia belum menyelesaikan ucapannya.
"Nggak"
"Gue belum selesai ngomong astagaaa..."
"Oh lanjut" Godric dibuat kesal sekesal kesalnya oleh adiknya yang satu ini, dia harus lebih bersabar menghadapi singa jantan yang satu ini.
"Lo ngga tahu kalau nggak boleh ngelangkahin kakak sendiri, itu pamali katanya orang"
"Oh"
"Ck, sabar gue sabar banget gue ngomong sama lo" ucap Godric yang sedang mengelus dadanya sendiri menghadapi sifat adiknya yang tembok dan kulkas berjalan ini. Sedangkan Gabriel tidak terpengaruh dengan tindakan dan gerutuan kakaknya, dia malah asyik menikmati makanannya.
...
Rhaella saat ini sedang mengendarai motornya ingin membeli makan malamnya karena dia sedang malas untuk memasak, hingga dia sampai di penjual nasi goreng tapi saat sudah turun dari motornya dia malah bertemu dengan seseorang yang baru dia kenal kemarin.
'perasaan waktu gue anter dia kemarin, rumahnya lumayan jauh deh dari sekitaran sini, dia ngapain di sini?' Rhaella bertanya dalam hati melihat orang itu. Lalu dia pun berjalan mendekat ke arah penjual nasi goreng itu yang memang disana terdapat seseorang yang dia kenal.
"Bang nasi goreng spesialnya satu" ucap Rhaella pada penjual itu
"Makan sini atau di bungkus neng?"
"Bungkus" jawab datar Rhaella. Kemudian seseorang itu yang mengenal suara Rhaella pun berbalik, dan terkejut melihat keberadaan Rhaella.
"Eh Rhaella " ucap Isabell.
"Hm"
"Sorry gue nggak jadi ke apartemen lo tadi, gue abis pindah ke kos baru gue, karna gue pikir udah kemalaman ya gue pikir lo udah tidur, gue lupa ambil nomor lo buat kasih tahu" ucap Isabell pada Rhaella.
"Nggak papa" Isabell pun menganggukkan kepalanya.
"Lo kos sekitar sini?" Tanya Rhaella.
"Iyah, kos gue ada di sekitaran sini" jawab Isabell.
"Ini neng punya neng, kalau yang ini punya neng juga" ucap penjual nasi goreng itu.
"Berapa bang?" Tanya Rhaella.
"Gue aja yang bayar Rha" ucap Isabell pada Rhaella.
"Berapa bang totalnya sama punya saya" tanya Isabell.
"Totalnya empat puluh ribu neng" jawab penjual itu pada Isabell.
"Nih bang kembalinya ambil aja"
"Makasih banyak neng" jawab penjual itu tersenyum senang.
"Sama-sama"
Kemudian mereka berdua pun berjalan menuju kendaraannya masing-masing tak lupa elsa mengucapkan terimakasih karena sudah di bayarkan nasi gorengnya oleh Isabell.
"Gue langsung balik" ucap Rhaella.
"Iya gue juga, eh Rha nomer lo mana?"
"Siniin handphone lo"
"Nih" ucap Isabell memberikan handphonenya pada Rhaella.
"Nih Isa" ucap Rhaella memberikan kembali handphone Isabell.
"Ok, ya udah hati-hati Rha pulangnya"
"Hm lo juga"
Kemudian mereka pun berpisah untuk pulang Rhaella ke apartemennya dan Isabell ke kos barunya.
Flashback on
Setelah di Usir oleh ibu angkatnya dan Luna, Isabell tidak punya pilihan lain selain langsung menempati kos barunya itu, padahal dia bilang kepada pemilik kos akan pindah besok, tapi karena keadaan dia sudah harus pindah di malam hari begini, untung saja dia bukan perempuan yang suka bergaya feminim yang harus kemana-mana menggunakan make up, jadi dia hanya membawa pakaiannya serta buku-buku pelajarannya saja serta sepatu. Dia membawa semua miliknya menggunakan koper yang bisa memuat banyak pakaian, tapi dia hanya punya sedikit pakaian yang itu-itu saja, karena memang dia bukan tipe perempuan suka berbelanja.
"Gue telepon ibu pemilik kos dulu deh, kasih tahu kalau gue pindah malah ini, biar di kasih kuncinya" ucapnya kemudian menghubungi pemilik kos tersebut.
Setelah menelepon dia pun langsung bergegas pergi menuju kosnya menggunakan motornya yang dia simpan di belakang rumah.
Saat sampai ibu pemilik kos sudah menunggunya, dia langsung memberikan kunci kosnya.
"Ini dek kuncinya, ibu masuk pulang dulu yah, takut di cariin bapak" ucap ibu kos itu.
"Makasih banyak Bu, maaf sudah mengganggu waktu istirahat ibu" ucap Isabell yang tidak enak hati karena sudah menelpon malam-malam seperti ini.
"Nggak papa, kamu yang nyaman yah tinggalmya bayar bisa kapan aja pas kamu ada uang"
"Eh engga Bu saya udah ada uang ko, besok saya bayar ke ibu "
"Ya udah kalau gitu ibu pulang dulu, assalamualaikum"
"Waalaikum salam"
Flashback off
Sampailah Isabell di kos barunya yang memang sudah sudah lengkap dengan isinya.
Mungkin dia hanya perlu membeli perlengkapan untuk masak memasak dan perlengkapan mandinya yang tidak sempat dia bawa.
"Keadaan ibu sama adik-adik di panti gimana yah? Udah lama ngga kesana" gumamnya sendiri sambil memakan nasi gorengnya.
"Gue ke sana lah kapan-kapan kangen juga sama bocil-bocil" lanjutnya kembali.
Drrrt
Ting
Sebuah notifikasi dari handphonenya membuat Isabell melirik kemana handphonenya berada, setelah mendapatkannya dia langsung melihat siapa yang mengiriminya pesan.
"Dia cowok yang baik, tapi kenapa dia baik sama gue, padahal dia baru kenal sama gue" gumamnya sendiri pada seseorang yang mengiriminya pesan.
Merrit baru saja mengirimkan bukti pembayarannya pada Isabell, tapi justru dia yang merasa tak enak karena dia menerima uang hasil penjualan motornya tapi motornya masih berada di tangannya, bukankah itu konyol.
Isabell hanya geleng-geleng kepala mengingat kejadian beberapa waktu lalu.