~Karya Original~
[Kolaborasi dari dua Author/BigMan and BaldMan]
[Update setiap hari]
Sebuah ramalan kuno mulai berbisik di antara mereka yang masih berani berharap. Ramalan yang menyebutkan bahwa di masa depan, akan lahir seorang pendekar dengan kekuatan yang tak pernah ada sebelumnya—seseorang yang mampu melampaui batas ketiga klan, menyatukan kekuatan mereka, dan mengakhiri kekuasaan Anzai Sang Tirani.
Anzai, yang tidak mengabaikan firasat buruk sekecil apa pun, mengerahkan pasukannya untuk memburu setiap anak berbakat, memastikan ramalan itu tak pernah menjadi kenyataan. Desa-desa terbakar, keluarga-keluarga hancur, dan darah terus mengalir di tanah yang telah lama ternodai oleh peperangan.
Di tengah kekacauan itu, seorang anak lelaki terlahir dengan kemampuan yang unik. Ia tumbuh dalam bayang-bayang kehancuran, tanpa mengetahui takdir besar yang menantinya. Namun, saat dunia menjerumuskan dirinya ke dalam jurang keputusasaan, ia harus memilih: tetap bersembunyi/melawan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon BigMan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 23 - Latihan yang Sesungguhnya: Bagian 2: Tebasan Pertama
Sora mengayunkan pedangnya lagi dan lagi, keringat mulai membasahi dahinya meskipun udara begitu dingin.
Napasnya berat, kedua lengannya mulai terasa kaku, tapi ia tidak berhenti. Setiap kali pedangnya meleset dari jalur yang benar, suara tenang Abirama akan memperingatkannya.
"Jaga keseimbangan."
"Jangan hanya mengandalkan kekuatan tanganmu."
"Kendali itu lebih penting daripada kecepatan."
Setiap kata-kata itu masuk ke telinganya, Sora mencoba memperbaiki ayunannya. Namun semakin lama, semakin terasa sulit. Pedangnya terasa semakin berat, napasnya semakin pendek, dan tubuhnya mulai goyah.
"Sudah cukup?" tanya Abirama, menatapnya dengan tenang.
Sora menggigit bibirnya. Ia tahu jika menyerah sekarang, Ayahnya tidak akan memarahinya. Tapi ia tidak mau berhenti. Ia tidak mau mengecewakan ayahnya—atau dirinya sendiri.
Dengan sisa tenaga, ia mengayunkan pedangnya sekali lagi.
—SRAK!
Kali ini, ayunannya lebih stabil. Tidak sehalus milik Abirama, tapi jauh lebih baik daripada sebelumnya.
Mata Abirama menyipit sedikit, kemudian ia mengangguk. "Bagus. Sekarang kita lanjut ke teknik berikutnya."
Sora menoleh dengan terkejut. "Masih lanjut?"
Abirama tertawa kecil. "Tentu saja. Kau pikir seorang pendekar hanya bisa mengayun lurus?"
Sora menarik napas panjang dan mengangguk.
Abirama mengangkat pedang kayunya. "Ada beberapa teknik dasar dalam ayunan pedang. Masing-masing memiliki tujuan dan keunggulannya sendiri. Dengarkan baik-baik."
Ia mulai memperagakan gerakan pertama.
1. Ayunan Vertikal
Abirama mengangkat pedangnya tinggi di atas kepalanya, lalu menebaskannya lurus ke bawah. Gerakannya sangat presisi, seakan pedangnya membelah udara itu sendiri.
"Ini adalah ayunan paling dasar. Digunakan untuk serangan langsung dan menghancurkan pertahanan lawan. Tapi jika dilakukan tanpa kontrol, mudah ditebak dan bisa dikontra."
Sora mengangguk dan menirukannya.
—SRAK!
"Ayunanmu terlalu berat di akhir. Coba lebih halus."
Sora mencoba lagi. Dan lagi.
2. Ayunan Diagonal
Kali ini, Abirama mengayunkan pedangnya dari bahu kiri ke pinggang kanan, lalu dari bahu kanan ke pinggang kiri.
"Serangan ini lebih sulit dibaca dibandingkan ayunan lurus, dan butuh tenaga lebih banyak."
Sora mengikuti, merasa lebih nyaman dengan gerakan ini dibandingkan sebelumnya.
3. Tebasan Mendatar
Gerakan ini lebih rumit. Abirama menebaskan pedangnya mendatar, dari kiri ke kanan dan sebaliknya.
"Digunakan untuk menyerang beberapa lawan sekaligus atau menghentikan serangan dari samping. Tapi butuh kendali yang sangat baik."
Ketika Sora mencoba, pedangnya sedikit goyah. Abirama langsung melihatnya.
"Jangan buru-buru. Rasakan ayunannya."
Sora menarik napas dan mencoba lagi, lebih lambat kali ini. Sedikit demi sedikit, ia mulai terbiasa.
4. Ayunan Cepat Beruntun
Teknik ini jauh lebih sulit. Abirama mengayunkan pedangnya dengan kecepatan yang meningkat, menciptakan serangkaian serangan yang terus-menerus.
"Tidak semua musuh bisa dikalahkan dengan satu tebasan. Kadang kau harus menyerang berkali-kali tanpa memberi mereka kesempatan untuk membalas."
Sora mencoba, tapi setelah beberapa ayunan, tangannya mulai bergetar.
"Tenang. Jangan paksa tubuhmu terlalu keras. Kau belum terbiasa."
Sora menggertakkan giginya, tapi ia mengerti. Ia harus membangun daya tahan dulu.
Sora mengayun dan mengayunkannya lagi, tanpa keluhan apapun.
Hingga tanpa terasa, matahari mulai turun di ufuk barat, mewarnai langit dengan semburat jingga dan merah. Sora terduduk di tanah, tangannya nyaris mati rasa.
Abirama duduk di dekatnya, menatapnya dengan ekspresi bangga yang tersembunyi di balik wajah tenangnya.
"Bagaimana rasanya?" tanyanya.
Sora terengah-engah, lalu tersenyum lemah. "Luar biasa melelahkan."
Abirama tertawa. "Itu wajar. Tapi kau sudah melakukan lebih baik dari yang kuduga."
Sora terdiam sejenak, lalu menatap ayahnya. "Ayah… kalau aku terus berlatih, bisakah aku menjadi pendekar sehebat Ayah?"
Abirama menatapnya dalam-dalam, lalu berkata, "Sora, kau tidak perlu menjadi seperti Ayah. Kau harus menjadi lebih dari itu."
Sora tertegun. Kata-kata itu tidak ia duga.
Abirama bangkit dan menatap langit. "Ayo pulang. Besok kita lanjut lagi."
Sora mengangguk, meskipun tubuhnya masih terasa berat.
Hari ini adalah awal dari perjalanannya. Dan ia tahu, masih banyak yang harus ia pelajari.
Empat hari berlalu
Hari kelima, Sora merasa tubuhnya lebih kuat meskipun masih lelah. Selama empat hari berturut-turut, hanya ayunan pedang yang menjadi rutinitasnya.
Dari tebasan vertikal hingga serangkaian ayunan cepat, ayahnya selalu mengajarinya dengan penuh kesabaran dan disiplin. Sora bisa merasakan kekuatan dalam tubuhnya mulai bangkit, tetapi ia tahu itu masih jauh dari cukup.
Saat mereka berjalan menuju pasar untuk mengambil beberapa bahan makanan, suasana pagi itu terasa cerah. Sora berjalan di samping Abirama, matanya tertuju ke tanah, berusaha menghindari pandangan orang-orang sekitar.
Di pasar, suasana riuh dengan pedagang yang menawarkan barang dagangan mereka. Tiba-tiba, Sora mendengar suara yang familiar.
"Sora!" Emi berlari mendekat dengan senyum cerah. "Hei, lama tidak bertemu! Apa kabar?"
Sora mengangkat kepala sejenak, matanya bertemu dengan mata Emi yang penuh semangat. Namun, hanya ada sedikit kekakuan dalam tatapan Sora—ia hanya mengangguk.
Emi menyadari ada yang aneh. "Kau tidak tampak seperti biasanya. Ada apa?"
"Ah, aku baik-baik saja," jawab Sora datar, suaranya terasa dingin. "Aku... hanya sibuk."
Emi terdiam sejenak, merasa ada sesuatu yang tidak beres, tapi ia memutuskan untuk tidak mendesak lebih jauh. "Ayo, ikut aku bermain, Sora! Sudah lama kita tidak bermain bersama."
Sora hanya menggelengkan kepala tanpa kata, menatap jalan di depannya. "Aku tidak bisa. Ada hal lain yang harus aku lakukan."
Emi sedikit bingung, tapi kemudian ia mencoba tersenyum. "Baiklah, kalau begitu, sampai nanti, ya."
Sora hanya mengangguk. Emi pun mundur, kecewa namun memahami bahwa Sora tampaknya tidak ingin bergaul hari itu.
Tiba-tiba, Liliane juga muncul dari antara kerumunan. "Sora, mau menemaniku?" Liliane bertanya, suara lembut namun sedikit cemas.
Sora menatap Liliane dengan pandangan kosong. "Aku tidak bisa. Ada hal yang lebih penting."
Liliane melirik Abirama yang berjalan di samping Sora. Sepertinya, mereka sedang dalam perjalanan ke suatu tempat, dan Sora sama sekali tidak tertarik untuk berbicara lebih banyak.
"Baiklah," kata Liliane dengan senyum tipis, meskipun ada sedikit keheranan di wajahnya. "Jaga diri baik-baik, ya."
Sora mengangguk sekali lagi, lalu melangkah pergi tanpa menunggu respon. Liliane hanya bisa memandanginya, tidak tahu harus berkata apa lagi.
Di sepanjang jalan, Sora tetap terdiam. Tak ada yang lebih penting baginya selain melanjutkan latihan.
Abirama menatap anaknya dengan ekspresi serius namun tidak mengekspresikan kekhawatiran. "Kau sudah memilih jalanmu, Sora," katanya pelan, "Tetapi, ingatlah, tidak semua orang bisa memahami keinginanmu."
Sora hanya mengangguk pelan, menatap ke depan. Seperti yang ayahnya katakan, ia harus melatih dirinya tanpa ada gangguan. Rahasia pelatihannya tetap harus tersembunyi, setidaknya untuk saat ini.
1. Disiplin >> Lulus.
2. .... ?
Lanjut thoorr!!! /Determined//Determined/