Ketika cinta harus diakhiri karena syarat dari kedua orang tuanya yang mendambakan seorang menantu hafiz Al'quran.
Dan aku terpaksa menikah dengan perempuan lain yang tidak aku cintai karena hutang jasa.
Bagai mana kelanjutannya simak ceritanya di novel. CINTA TERHALANG 30 JUZ AL'QURAN.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon pelangi senja11, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 24. Hinaan
Didalam kamar, Ariel juga sudah bangun, karena dia juga harus menjalankan kewajibannya sebagai umat muslim.
Tapi air belum keluar dari kamar, dia harus menunggu Fira kembali ke kamar lebih dulu, karena kamar mandi dirumah itu hanya satu.
Ariel berdiri didekat jendela rumah, pandangan Ariel kemudian beralih pada suara pintu yang terbuka.
Ariel membeku, mulutnya menganga, matanya tidak berkedip menatap indahnya ciptaan tuhan didepannya saat ini.
Buku mata yang lentik, mata yang sepit, wajah yang cantik, hidung mancung, pipi kemerah-merahan, membuat si empu begitu cantik dan akan tergoda imannya setiap lelaki yang memandangnya.
"Apakah ini yang namanya bidadari, aku tidak mimpi 'kan ?" Ariel menepuk-nepuk pipinya.
Safira juga mematung melihat Ariel, yang terus menatapnya, dia mengernyit heran, karena Ariel tidak beralih melihatnya."
Safira sama sekali tidak menyadari kalau dia lupa memakai cadarnya kembali tadi setelah berwudhu.
"Mas, kamu baik-baik saja, apa mas demam lagi ?" tanya Safira heran.
Ariel tidak menjawab, dia terus menatap dan mengagumi kecantikan yang dimiliki oleh Safira.
Jantung Ariel berdetak begitu cepat, kaki dan mulut susah untuk digerakkan, Ariel belum pernah melihat gadis secantik Safira.
Arumi lebih cantik jika dibandingkan dengan Maya yang pernah menjadi kekasihnya, dan menjadi rival dengan Bobi.
Namun kecantikan Safira sungguh sempurna, jauh lebih cantik dari Arumi. Lima Arumi pun belum tentu mengalahkan kecantikan seorang Safira.
"Mas, kamu baik-baik saja 'kan ?" Safira menjadi khawatir, melihat Ariel terus menatapnya dengan tubuh yang tidak bergerak sedikitpun.
"Bidadari, sangat sempurna." Lirih Ariel, masih menatap Safira tidak berkedip.
Safira mengernyit, sesaat kemudian dia menyentuh wajahnya, dia sekarang menyadari kalau Ariel seperti ini karena melihat wajahnya.
"Astaghfirullah, aku lupa, cadar ku." Safira langsung berbalik, dia langsung berlari kekamar mandi lagi untuk mengambil cadarnya.
Ariel tersentak saat suara pintu tertutup oleh Safira yang keluar mengambil kembali cadarnya.
Ariel memegang dadanya, untuk menetralkan degupan jantungnya yang berdetak sangat kencang.
"Cantik, aku salah mengira, dibalik cadar ternyata dia menyimpan kecantikan yang alami." Lirih Ariel mengagumi kecantikan seorang Safira.
Tidak lama kemudian, Safira masuk kedalam kamar sudah lengkap dengan cadarnya.
Safira sudah tidak berani lagi menatap Ariel, dia malu, tanpa berkata apa-apa, Safira langsung memakai mukena dan merentang sajadahnya.
Sedangkan Ariel, tersenyum melihat tingkah malu Safira, sepertinya Ariel mulai menyukai Safira.
Disaat Safira hendak melakukan sholat subuh, Ariel langsung mencegahnya.
"Tunggu, jangan sholat dulu, tunggu aku berwudhu dulu, kita sholat berjamaah." Ujar Ariel tanpa menunggu jawaban dari Safira, dia langsung keluar dari kamar.
Safira, menunduk, dia menunggu Ariel, seperti permintaan Ariel, padanya tadi.
Setelah berwudhu, Ariel kembali kekamar, namun dia berpapasan dengan Pak Imran dan Buk Siti yang hendak berwudhu juga.
"Fira sudah bangun ?" tanya Buk Siti pada Ariel saat berpapasan, karena hanya melihat Ariel saja yang keluar dari kamar mandi.
"Sudah, Buk, dia sudah dikamar," Jawab Ariel.
"Oh," Jawab Buk Siti menanggapi jawaban Ariel.
"Iya Buk, kalau begitu aku kekamar dulu." Ujar Ariel lagi diangguki oleh Buk Siti dan Pak Imran.
Saat sampai dikamar, Ariel langsung berdiri di sajadah yang sudah direntangkan oleh Safira saat dia berwudhu.
Tanpa berkata apapun lagi, Ariel langsung memimpin sholat, di ikuti oleh Safira sebagai makmum.
Selesai menunaikan ibadah shubuh, keduanya bershalawat, dan berdoa memohon agar ibadahnya diterima oleh Allah, dan di lancarkan segala urusannya.
Subuh hari ini, keluarga Pak Imran tidak ke mesjid, seperti biasanya, karena merasa lelah, dengan kejadian Ariel dan Safira semalam.
Tidak terasa, pagi sudah terang, seperti biasa, di kampung itu, banyak warga yang melakukan sholat subuh di mesjid, tapi banyak juga yang melakukannya dirumah.
Buk Siti sudah bersiap-siap hendak pergi bekerja kerumah Pak RT, tempat biasanya dia mencuci.
Sedangkan Pak Imran, dia sedang menyiram tanaman yang dia tanam didepan rumah.
Beberapa warga sedang membicarakan soal Safira dan Ariel yang ditangkap warga kampung sebelah sedang berbuat mesum.
"Kok, bisa-bisanya mereka berbuat seperti itu, padahal Fira itu baru pulang dari pondok." Ujar warga yang suka ngerumpi.
"Aku tidak menyangka Safira seperti itu, padahal dia sangat taat." Ujar Ibuk yang satu lagi.
"Kalian seperti tidak tau aja, begitulah kalau Anaknya tidak didik dengan benar." Timpal Ibuk lain lagi.
"Eh, tapi mereka semalam sudah dinikahkan," Imbuh Ibuk yang satu lagi.
"Sama saja, malu tau, apalagi kepergok sama warga, kalau aku yang jadi Ibuknya, aku sangat malu, tidak berani menampakkan wajahku lagi didepan warga." Sindir Ibuk yang pertama suka ngerumpi.
Ibuk Siti dan Pak Imran yang mendengar obrolan mereka, Buk Siti sudah mengepalkan tangannya.
"Ibuk-ibuk, itu tidak seperti yang kalian dengar, Safira dan Ariel, mereka tidak melakukan seperti itu, mereka difitnah." Buk Siti mencoba membela Safira, karena memang benar mereka difitnah.
"Alah, di fitnah, mana ada warga memfitnah, kalau bukan dipergok, dan dibawa kerumah Pak RT. Gak usah membela Buk," Jawab Ibuk yang suka ngerumpi itu.
"Lagian punya Anak gadis, eh malah namung lelaki yang tidak jelas asal usul, sok baik, sekarang tau 'kan akibatnya." Imbuh Ibuk yang satu lagi.
"Benar itu, mungkin Safira disuruh sama Buk Siti begitu, agar Safira cepat punya suami, secara dia 'kan jelek." Timpal yang lain lagi.
"Jangan menghina Anak ku, dari mana kalian tau kalau Safira jelek ?" Buk Siti sudah tersulut emosi, dia bisa menerima kalau dirinya dihina, tapi tidak dengan Anaknya.
Buk Siti ingin menjambak Ibuk yang mengatakan Safira jelek, namun Pak Imran suaminya langsung mencegat dan menggeleng-gelengkan kepala tanda melarang.
"Jangan marah Siti, apa namanya bukan jelek, sejak kecil aku gak pernah melihat wajah Safira, selalu ditutup, kalau bukan jelek kenapa tidak dibuka saja itu penutup, coba lihat Arumi Anak Pak Ustadz, dia cantik, dia tidak menutupi wajahnya walaupun Anak Ustadz." Ujar Ibuk yang suka ngerumpi, bisa dikatakan Namanya Ibuk Halimah.
"Seharusnya malu, Buk, bukan marah, emang udah kenyataan, Safira dan Nazriel itu berbuat mesum, buktinya mereka dinikahkan." Tambah Ibuk yang satu lagi yang bernama Nini.
Mendengar itu, Buk Siti semakin emosi, dia sudah sangat marah, ingin sekali dia merobek mulut Ibuk-ibuk itu, tapi Pak Imran selalu mencegatnya.
"Ibuk-ibuk, saya mohon, pergilah, saya bisa mengurus keluarga saya, apain yang yang terjadi dikeluarga saya itu bukan urusan kalian !" Ujar Pak Imran yang juga sudah tidak tahan dengan cibiran par Ibuk-ibuk.
"Dasar, sudah miskin, buat malu kampung lagi." Hina Ibuk-ibuk itu lagi sebelum melangkah pergi.
Pak Imran mengusap dadanya sambil beristighfar.
Buk Siti menangis, dia sangat sedih dengan hinaan, sindiran, dan cacian Ibuk-ibuk tadi.
Pak Imran mengusap kedua bahu Buk Siti, meminta Bik Siti bersabar dan beristighfar.
Bersambung.
Ternyata orang" kampung g' prnh liat wajahnya fira,,klo si reza liat pasti dia mau jga ma fira..
Jdi g' sabar liat si ustad itu bungkam,,
Tpi g' pa" jga sich lo mereka nikah kn mereka bkan saudara kandung
Semoga cepat ktmu y kesel aq ma ustad sombong itu..Apa ariel y pemilik kebun yg baru itu..