NovelToon NovelToon
Ketulusan Cinta Wisnu

Ketulusan Cinta Wisnu

Status: tamat
Genre:Romantis / Komedi / Cintamanis / Tamat
Popularitas:2.3M
Nilai: 4.9
Nama Author: Syala yaya

Sebuah ikatan pernikahan harus berlandas cinta, kasih sayang dan komitmen untuk terus bersama.

Tapi apalah daya ketika pernikahan itu terjadi hanya karena sebuah bentuk pertanggungjawaban dari kesalahan.

Wisnu Tama, seorang pria berusia 27 tahun yang harus menikahi Almira Putri, gadis polos berusia 22 tahun.

Bagaimana cara Wisnu menakhlukkan hati wanita yang sudah menjadi istrinya itu, agar mau memaafkan kesalahan yang tidak dia sengaja dan mau sama-sama mempertahankan ikatan suci berlandas kebencian menjadi sebuah ikatan cinta? Ikuti yuk kisahnya.

Ini novel kedua saya dan merupakan sequel dari novel pertama.

Selamat membaca ^_^

Follow IG @Syalayaya

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Syala yaya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 24 Ucapanku adalah Do'aku

Wisnu sudah selesai mandi, merasa suka sekali dengan pakaian yang telah dipersiapkan Almira untuknya. Pas untuknya.

Karena letak kamar mandi berada di rumah bagian belakang dan menyatu dengan ruangan dimana terdapat juga dapur dan meja makan berada, Wisnu berjalan sambil mengamati kesibukan istri dan mertuanya disana. Mendadak hatinya menjadi hangat.

Jauh di dalam hatinya dia merasa jatuh cinta dengan keharmonisan keluarga barunya itu. Merasa sangat beruntung bisa hadir dan kini hidup di tengah-tengahnya.

Wisnu membeku menatap interaksi anggota keluarga itu, kebersamaan yang teramat sangat dia rindukan seumur hidupnya. Bersama keluarganya sendiri, keharmonisan yang hanya bisa dia rasakan beberapa saat saja dalam ingatan.

Terimakasih ya Allah, Engkau menganugerahkan keluarga indah ini untukku melalui jalanMu yang misterius. Sabarkan pula diriku saat mengahadapi kerasnya hati istriku Ya Rabb. Beri jalanMu untuk meluluhkan dan melembutkan hatinya agar menerima ketulusan hati ini.

“Wisnu, kenapa masih berdiri di sana, ayo kita makan,” teriak Pak Ramlan melambaikan tangannya.

Wisnu yang masih termangu menatap area dapur segera mengalihkan pandangannya. Dia tertangkap sedang melamun.

“Iya, Pak. Saya menaruh handuk saya dulu,” jawab Wisnu sambil mengangguk dan melangkah hendak kembali ke kamar.

“Ira, bantu suamimu dulu sana. Jadi istri itu kayak ibumu, menyiapkan keperluan bapak dan semuanya, jangan cuma bisanya minta duit sama mengomel,” seloroh Pak Ramlan sambil duduk di meja makan.

Ibu Halimah cuma bisa tertawa sambil mendorong pundak suaminya yang sudah menggodanya dengan ungkapan kata mengomel, sebuah hal yang menjadi kebiasaannya setiap hari.

Wisnu ikut tertawa dalam hati mendengarnya, dia masih berjalan menuju rumah tengah dimana kamarnya berada. Menyadari Almira menyusul dirinya dengan iseng berhenti melangkah hingga sukses ditubruk Almira dari belakang.

“Sengaja ya, melakukan kontak fisik?” ucap Wisnu sengaja menggoda, menoleh ke belakang yang terlihat Almira mundur menjadi salah tingkah.

“Kamu tadi yang berhenti tiba-tiba,” jawab Almira cepat mengusir rasa malu.

“Alasan,” goda Wisnu lagi sambil meraih handle pintu dan membukanya.

Almira terdengar menghela napasnya dengan perasaan yang kesal tapi tidak mau meladeni Wisnu. Mengekori langkah Wisnu ke dalam kamar sembari menarik lembut handuk dari tangan pria yang sah menjadi suaminya itu dan menaruhnya di jemuran kecil yang berada di pojokan kamarnya.

“Besok, aku belikan handuk baru untukmu, aku lupa tidak membelikan untukmu,” ucap Almira masih menyampirkan handuk dan menatanya dengan rapi. Wisnu menatap saja dengan mengangguk.

“Sepertinya aku betah tinggal di rumah ini,” ungkap Wisnu masih berdiri memandang almira. Gadis itu menoleh cepat dan nampak tatapannya masih saja menolak.

“Apa sulit sekali menerimaku?” tanya Wisnu dengan suara datar tapi sebenarnya maknanya dalam.

“Kenapa kamu mencoba mengingkari janjimu?” lontar Almira dengan pertanyaan balik.

“Bukan mengingkari, tapi mencoba mencari celah,” sahut Wisnu tersenyum dan segera meraih sisir di meja rias sampingnya, mengalihkan pandangannya ke arah cermin. Memandang Almira dari sana.

“Lagipula, kamu mau menumpang di rumah mertuamu? Kamu harus kerja, kan?” oceh Almira yang sebenarnya jauh didalam hatinya takut kalau Wisnu benar-benar ingin tinggal di desanya.

“Bekerja bisa dimana saja, bukankah begitu?” sahut Wisnu santai.

“Bapak dan ibuku sudah menunggu kita, bisa cepat sedikit dandannya?” omel Almira mengalihkan pembicaraan, dia sudah lelah beradu mulut.

“Kira-kira ada tidak ya, yang merasa iri dengan kebersamaan kita?” Wisnu menoleh dan berjalan mendekati Almira.

“Siapa yang akan iri?” sahut Almira berdecak sambil ikut berjalan hendak ke luar kamar.

“Siapa yang tahu, bukankah aku tidak jelek-jelek amat, ya?” lontar Wisnu lagi sudah berjalan beriringan.

“Cih, kamu jelek saja, tidak usah membawa nama Amat, apalagi Ismed,” adu Almira bersungut tapi malah diberi kekehan Wisnu.

“Bagaimana reaksi dari temanmu saat tahu kamu menikah dengan pria yang lebih ganteng dari Amat dan Ismed ini?” tanya Wisnu masih saja kuat menggoda.

“Kasihan, mereka memberiku tatapan mata kasihan, kamu tidak bisa melihatnya tadi?” balas Almira berhenti melangkah dan menatap Wisnu dengan ekspresi sangat kesal.

“Dia menatap kasihan justru untukku, kenapa pria tampan, baik dan lembut begini bisa menikah dengan wanita judes, ketus dan jelek?” ucap Wisnu membalas sambil telapak tangannya menyentuh ujung kepala Almira dan mengusapnya gemas.

“Ish, lepas!”

“Fiuuhh! Belajar dengan giat ya, Dek Ira? Ternyata kamu belum lulus kuliah ya. Besok aku akan mencoba mencarikan pekerjaan untukmu,” ledek Wisnu membuat Almira merah padam menahan malu.

“Benarkah? Boleh sambil kuliah juga?” tanya Almira menyusul langkah lebar Wisnu menuju ke rumah belakang

“Tentu saja, di Hotel tempatku bekerja atau di yayasan milik salah satu temanku, pilih mana?”

“Hotel? Kamu kerja di Hotel bagian apa?” tanya Almira merasa penasaran.

“Bersih-bersih kamar, kamu mau juga?”

“Nggak, ngapain bersih-bersih kamar? Yang lain ada?” tanyanya lagi masih tertarik.

Wisnu merasa sangat terhibur. Rupanya Almira bukan tipe wanita yang hanya bisa marah saja tapi mendadak bisa menyenangkan juga.

“Tukang membersihkan toilet atau kebun mau?”

“Yang lain?” tolaknya lagi.

“Kalau kamu ingin mendapat pekerjaan bagus dengan ijazah lulusan SMA, kamu bisa tuh menikah dengan pemilik Hotelnya,” goda Wisnu sambil tertawa.

“Do'akan saja, biar aku bisa lepas dari pria menyebalkan sepertimu,” cerocosnya kesal.

“Aamiin ya Allah. Semoga Almira menikah dengan pemilik Hotelnya biar bisa merasa bangga,” ucap Wisnu merasa sangat puas menggoda Almira.

“Jadi, kamu tidak apa-apa melepaskan aku nantinya?” lontar Almira menoleh.

“Harusnya aku yang bertanya padamu, apa kamu akan rela dan merasa baik-baik saja saat aku melepaskanmu?” balas Wisnu balik dengan suara serius.

“Kita lihat, dua minggu lagi. Apa Tuhan berada di pihakku atau dipihakmu,” sahut Almira dengan helaan napasnya. Batinnya merasa berdebar.

Wisnu hanya bisa memandangnya gusar. Harapannya akan runtuh seketika ataukah akan ada keajaiban yang bisa dia songsong untuk memupuk harapan baru masa depan hidupnya.

“Asalkan kamu jangan pernah membuatku jatuh cinta,” lontar Wisnu kemudian.

Almira menelan salivanya dengan wajah menunduk, mereka berdiri berhadapan. Wisnu masih sabar menunggu jawaban.

“Aku tidak bersyukur menikah dengan orang yang memperkosaku, jadi rasa cintamu tidak akan merubah apapun,” jawab Almira memandang Wisnu dengan mata berkaca-kaca.

“Bagaimana kalau keadaannya berbalik? Kamu yang jatuh cinta padaku?” balas Wisnu menatap mata Almira lurus dan dalam.

“Itu tidak akan mungkin, rasa benciku lebih besar dari rasa apapun itu untukmu.”

“Ayo, kita buktikan. Siapa disini yang kuat. Kamu yang sudah mulai menyukaiku sejak beberapa tahun yang lalu, atau aku yang mulai menyukaimu sejak malam itu?” lontar Wisnu membuat Almira mundur beberapa langkah dengan perasaan terkejut dan bingung.

“Kamu … tahu sesuatu?” ucap Almira dengan mimik wajahnya yang gelisah.

“Maafkan aku, tapi aku tidak tahu bahwa penolakanmu untukku bukan karena masalah malam itu saja, tapi karena hal lain yang tidak aku mengerti.”

Almira membisu, melepaskan pandangannya dari Wisnu dan berjalan ke arah ruangan dimana meja makan sudah nampak adik dan orang tuanya menunggu dirinya dan Wisnu untuk bergabung. Wisnu segera menyusul.

Sambil memberikan senyuman Almira dan Wisnu ikut duduk bergabung.

“Ayo Ira, layani suamimu. Ambilkan nasinya dan lauknya juga.”

Suara ibunya lembut selalu membuat Almira malah tidak bisa menolak perintahnya. Dengan cepat dia raih piring dan mengambilkan Wisnu makanan.

“Dan ingat, seorang istri itu harus hebat dimana, Bu?” ucap Pak Ramlan kepada bu Halimah untuk menggoda anak gadis ketusnya.

“Di dapur dan di kasur,” jawab ibunya diberi kekehan renyah Ayahnya yang ada di meja makan, begitu juga Wisnu.

“Astaga, kalian ini kenapa tidak malu sih?” decak Almira mendengus kesal saja dengan kelakuan orang tuanya yang kelewat terbuka dan selalu harmonis.

Lontaran lucu selalu hadir di rumahnya setiap waktu. Hal yang terkadang membuatnya iri tapi malu juga kalau melihat kelakuan orang tuanya dihadapan Wisnu seperti sekarang ini.

“Kalian 'kan sudah menikah, ngapain malu,” oceh ibunya masih tertawa.

“Dan bocah satu ini, memakai headset terus! Tidak takut telingamu jadi bolot ya?” decak Almira meraih benda berkabel itu dari telinga Ersa yang masih asyik memainkan ponselnya.

“Ihh ….apapan sih. Ini untuk menjaga otakku tetap waras, tahu tidak?” omelnya meraih kembali dengan menarik kabel headset dari tangan Almira.

“Kita makan dulu, letakkan ponselmu,” seloroh Almira sambil menyerahkan piring ke atas meja di hadapan Wisnu, kemudian meraih piring untuknya sendiri.

“Kita berdo'a bersama dulu sebelum makan,” ucap Pak Ramlan segera diberi sikap serius kedua anak dan istrinya, Wisnu segera mengikuti.

*

Rasa cinta yang sepertinya mulai hadir, kini seolah mengalir mengisi nadiku.

Menyeruak ingin terlepas dan memelukmu.

Tapi apalah artinya semua ini, saat rasa itu masih belum bisa saling bertepuk. Sehingga kesabaranku harus pula hadir untuk meneguhkan.

Memaksaku menunduk hingga aku bisa menakhlukan egomu, memenangkan hatimu, mendapatkan balasan cintamu. (Wisnu-Almira)

Bersambung …

Terimakasih ya masih bersama Wisnu. Terimakasih juga dengan bentuk dukungannya melalui Like, komentar posifif juga kritik yang membangun, juga vote untuk novel receh ini.

Semoga suka dan terhibur.

Ayoo masuk GC dan ngobrol bersama Syala juga kakak admin Dewi-Disa❤ juga member disana yang baik dan ramah. ikuti event juga yaa.

Salam Cinta dan Persahabatan dariku ~ Syala Yaya🌹🌹

1
Hotlin Situmorang
lanjutkan ceritanya
Siti Nina
oke
Hotlin Situmorang
Wisnu memang bertanggung jawab
Luwis Ida yasa
tidak bosen rasanya q BCA novel ini apa lagi yang bab ini hehehe
Dasem Ida Faizah
lucu bgt
Dasem Ida Faizah
lucu bgt
Suhartik Hartik
lucu ya kisah Alan dan yashna... dibikin kisah dong
Suhartik Hartik
author nya top banget bikin obrolan ringan tapi excellent banget
Nnuraeni Eni
Keren .keren ..kereeeeen... 👏👏
Nnuraeni Eni
Setuju tuh 😉
Nnuraeni Eni
Uuuuh So Sweet 😘😘
Nnuraeni Eni
Aku udh baca ini 2x lho kak , tp ga bosen buat baca lg .. Kisahnya itu yg bikin pembaca jd senyum² sendiri ... Kena dihati 🥰🥰
Nnuraeni Eni: /Kiss//Kiss//Kiss//Wilt/
total 2 replies
SETIA RINI
luar biasa
YK
karya luar biasa
YK
ck, lupa ya pernah nyium Isna???
YK: aduh, salah komen... 😌
total 1 replies
YK
aamiin...
YK
biar si johan kebakaran bulu ketek...
YK
mobilmu otw, ihsan...
YK
jadi curigation, nih, sama Bagus. jangan2 Imran diracun sama dia. biar wisnu balik sama depe dan almira dia jual...
YK
bagas ini kyknya dominan banget. bukankah dia yg minta putus lalu ngotot balikan lagi... mencla mencle...
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!