Felisberta Divya Deolinda gadis pemalas dan putri kesayangan keluarganya, Naumi sebagai seorang sahabat selalu membantu dia dalam pelajaran. Sampai suatu hari terjadi kecelakan dan membuat Feli koma, saat terbangun dia terkejut mendapatkan dirinya ada di dalam novel yang selalu dibacanya berjudul ‘Bos Mafia Muda’. Pemeran utama wanita di novel itu bernama Shanaya, dalam cerita Shanaya berakhir menyedihkan. Feli menjadi Shanaya dan menjadi istri dari Bos Mafia Muda itu yang bernama Shankara Pramudya Anggara. Di usia yang masih muda Shankara bisa menaklukkan semua Mafia yang ada di Negaranya, sosok laki-laki itu ditakuti semua orang tidak ada siapa pun yang berani menentang maupun melawannya karena itu Shankara Pramudya Anggara dikenal sebagai Bos dari semua Mafia yang ada di Negaranya atau di sebut Bos Mafia Muda. Alur ceritanya berubah seiring waktu setelah Feli menjalankan kehidupannya bersama Shankara.
@KaryaSB026
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Gibela26 Siyoon93, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 23
“Bos tunggu !!”
Ngos-ngosan membuka pintu “Annya ? dia tidak ada di sini ?” mencari keluar.
“Bukannya ini tempat tinggal Ibunya Bos ?” Raymond mulai menyadarinya.
“Ibu ?” mengecek setiap ruangan dan sudut rumah.
“Dimana mereka ?”
“Sudah ku cari di luar tidak ada Bos.”
Annya dan Ibunya Shankara datang dari pintu depan “Sedang apa kalian ?”
“Annya, Ibu …” nada pelan takut kehilangan.
Berlari memeluk Feli sampai jinjingan yang di pegang Feli jatuh “Eh …”
“AWAS….” teriak Raymond melihat anak panah mengarah pada mereka.
“Ibu takut ….” mundur menjauh.
“Tidak Ibu kembalilah,” Feli melepaskan pelukan Shankara.
“Siapa yang menyerang kita ?” Raymond meningkatkan kewaspadaan.
“Ibbuuuuu ….” Feli berlari cepat mencegah Ibu mertua nya dari anak panah.
Feli tepat waktu mendorong Ibu mertua nya menjauh namun tidak disangka malah terjatuh sampai kepalanya terbentur pohon.
“KURANG AJAR,” menangkap anak panah yang sedikit lagi mengenai Feli.
“Ibuuu bangun aku mohon bangunlah,” memegang kepalanya.
“Astaga darah,” darah dari kepala ibu mertua nya mengenai tangan.
“Cepat bersembunyi !” pinta Shankara.
Feli menggeser tubuh Ibu mertua nya ke belakang pohon besar untuk bersembunyi dari serangan musuh. Shankara menghadang semua anak panah sedangkan Raymond mencari musuh yang bersembunyi di balik pepohonan.
“Bos jumlah mereka tidak banyak.”
“Kemampuan tidak seberapa berani masuk wilayahku !!!”
Feli merobek bajunya “Ini bisa menghentikan sementara pendarahannya.”
Musuh keluar dari persembunyian dengan terang-terangan menyerang Shankara.
“Bermain keroyokan gue ladenin,” Raymond mengikat tangannya menggunakan rantai yang menggantung di rumah kayu.
“Bodoh,” Shankara dan Raymond terlalu meremehkan musuh. Musuh bukan mengincar mereka melainkan Feli.
“Ibu aku mohon bertahanlah !”
“Hahaha dia bisa bertahan dan kamu tidak,” siap menebas leher Feli.
“Enak aja,” Feli memutar badan lalu menendang cepat pedang itu.
“Sasaran mereka bukan kita Bos tapi Annya.”
Dengan cepat Shankara membasmi musuh “Tidak akan aku biarkan kalian menyentuh orangku.”
“Hahahaha ….”
“Berhasil menghindar dari yang satu datang yang lain, aku sudah tidak sanggup lagi.”
Shankara menembak orang itu “Shan ?” suara lemah Feli.
Feli jatuh pingsan “Raymond bawa Ibu !” menggendong Feli.
“Hemn.”
Mereka datang ke mansion dengan penampilan berantakan membuat semua orang panic “Menantuku …” Nenek berlari kecil.
“Annya ?”
“Bersihkan rumah kayu !” perintah Shankara ke Dika, Dika melirik Nina untuk membantunya.
“Apa-apa an ini kenapa mereka berdua terluka ?”
Lisa menelpon “Dokter cepat datang ke mansion sekarang !”
“Terlambat sedikit saja nyawamu melayang,” ancam Shankara.
Dokter ketakutan sesegera mungkin pergi ke mansion, beberapa menit kemudian akhirnya dokter datang.
“Bagaimana keadaan mereka Dokter ?”
“Luka ditangan nyonya muda harus di rawat dengan baik jangan sampai terinfeksi selain itu nyonya muda mengalami shok berat.”
“Lalu menantuku ?” tanya Nenek melihat keadaan Ibu Shankara.
“Cedera ringan di kepala tidak terlalu berbahaya namun karena kehilangan cukup banyak darah membuatnya pingsan.”
“Hah syukurlah ….”
“Nenek …”
“Sebaiknya anda istirahat Nyonya,” ucap dokter.
“Lisa jaga Bibi dan adik iparmu !”
“Baik.”
Ola membawa Nenek beristirahat di kamarnya, Lisa mencuri pandangan kearah Shankara berharap mendapatkan penjelasan.
“Ganti baju Nyonya !” perintah Shankara.
“Baik Tuan.”
Semua penjaga memperketat pengamanan di setiap penjuru mansion.
“Jangan tinggalkan mereka sendirian.”
“Hemn …”
Setibanya di lokasi Dika dan Nina mengecek barang bawaan musuh yang tergeletak tidak bernyawa.
“Tidak ada petunjuk,” menggeledah tubuh mereka.
“Mereka tau Bos dan Annya berada disini sepertinya dari mata-mata.”
“Tidak mungkin, sejak Annya masuk ke mansion semua mata-mata di tangkap tapi …”
“Tapi apa ?”
“Penghianat.”
“Bos …”
“Luka yang di dapatkan istri dan Ibuku harus di bayar berkali-kali lipat.”
“Orang yang mengirim mereka tidak menargetkan Bos tapi Annya berarti …” Raymond menyanggah.
“Dia tidak menginginkan kekuasaan melainkan Bos.”
“Selediki lebih lanjut!”
“Hallo ?” Shankara mengangkat telpon.
“Shan ada tamu !”
“Siapa ?”
“Dia bilang rekan kerjamu dari pulau barak. Dia sangat tampan,” puji Lisa.
“Sudah punya suami jangan genit-genit,” memutus panggilan.
“Dasar Shan siapa juga yang genit hanya memanfaatkan saja.”
Melirik Shankara yang mendekat “Ku dengar ada yang menyerang mu dan Shanaya.”
“Bagaimana keadaan Shanaya ?” tanya Khara menuangkan the.
“Aku rasa benda ini milikmu,” melempar anak panah.
Sebelum kembali ke mansion Nina menemukan kode barang milik Khara di anak panah yang di gunakan musuh. Shankara memberi kode Khara untuk berakting bersamanya.
“Aku tidak sebodoh itu demi mendapatkan cinta Annya,” menodongkan senjata.
“Hemn,” Shankara pun menarik pelatuk pistol miliknya.
Kini suasana mansion mencengkam, semua orang saling menodongkan senjata.
“Dia milikku jika ingin mendapatkannya langkahi mayatku,” tegas Shankara.
Meski terjadi pertengkaran mata Shankara mengawasi setiap gerakan anak buahnya dan benar saja dia menemukan satu orang yang mencurigakan. Semua orang nampak waspada tapi dia sangat santai dan tersenyum puas dibalik suasana yang terjadi. Khara yang mengerti rencana Shankara melepaskan tembakan ke tembok lalu pergi.
“Urusan kita belum selesai,” ucap Khara tanpa berbalik.
“Lagi ?” Feli yang tidak sengaja melihat kejadian dari lantai atas kembali lagi ke kamar.
“Bubar !!!”
Semua anak buahnya kembali menjaga di luar kini tersisa mereka bertiga.
“Dimana Raymond ?”
“Iya Bos.”
“Semua sudah di selidiki Bos anak panah itu asli.”
“Kurang ajar,” melempar gelas sampai pecah.
“Aku ingin lihat siapa di balik semua ini,” melirik mata-mata yang pergi secara diam-diam.
“Ikuti orang itu !” memerintahkan Raymond.
“Bos …”
Shankara melirik Nina “Boleh saya melihat keadaan Annya ?”
“Gara-gara penghianat itu aku melupakannya.”
“Kenapa Bos diam saja ?”
“E’eeh ?” Nina bingung.
“Ayo !!” ajak Dika.
“Kemana ?” bisik Nina.
“Menemui Nyonya Muda kita.”
“Oh okey.”
“Annya …” Nina berlinang air mata sesampainya di kamar Feli.
“Dasar cengeng,” celetuk Raymond.
“Hey loe bener-bener yah,” Dika kesal.
“Aih kenapa mereka dramatis sekali sih,” batin Feli pura-pura masih tidur.
“Aku akan menjaganya kalian pergilah !!”
“Baik Bos.”
Shankara menyadari Feli pura-pura “Sayang sekali kamu masih tertidur,” meraba paha Feli di balik selimut.
“Tapi tidak apa-apa aku akan melakukannya sendiri,” rabaan nya menuju area sensitif Feli.
Feli bertahan untuk sementara “Gila nih cowok.”
“BERHENTI !!!” Feli terperanjat dari tempat tidur menghadang Shankara mendekat.
“Obat yang sangat manjur.”
“Dasar buaya aku masih dengan keadaan begini masih aja,” hendak berlari menjauh namun Shankara menarik tangannya hingga kini dia berada dibawah Shankara.
“Setidaknya hanya kamu yang ku perlakukan seperti ini,” mencium leher Feli.
“Ahh hentikan kalau tidak …”
“Kalau tidak apa ?”
“Bos …” melihat adegan yang tidak biasa Raymond langsung berbalik.
“Sepertinya kesopanan mu harus di uji lagi Raymond.”
“Mati gue.”
“Kenapa Ray tidak ketuk pintu dulu sih,” menarik selimut menutupi dirinya.
“Dia lucu kalau lagi mau,” Shankara tersenyum kecil.
“Bos, Khara minta bertemu secara pribadi.”
“Katakan padanya tunggu 30 menit lagi di tempat biasa !”
“Baik Bos,” segera pergi.
“Kali ini aku melepaskan mu, tunggu aku pulang,” mengambil jaket lalu pergi.
Setelah memastikan Shankara pergi bersama Dika dan Raymond, Nina datang menemui Feli.
“Syukurlah Annya sudah membaik.”
“Ha’ah hampir saja jadi santapan harimau.”
“Hah ?”
“Bawakan aku beberapa buah-buahan !” pintanya ke seorang pelayan.
“Aku punya sesuatu untuk Annya.”
“Apa itu ?”
“Tara ….”
“Daging panggang ? dari mana kamu mendapatkannya ?”
“Tentu membuatnya sendiri.”
“Benarkah ?”
“Cobalah !”
Memotong daging “Emn rasanya enak.”
“Memang Nina ini paling mengerti,” mengambil potongan selanjutnya.
“Eh iya apa Annya tau berita terbaru kejadian di rumah kayu ?”
“Tidak.”
“Kalau begitu …”
“Nina ?”
“Ah iya kenapa ?”
“Sejak aku pingsan berada disini bagaimana bisa tau ?”
“Hehe benar juga.”
“Katakan berita apa yang kamu ketahui !”
“Di mansion ada mata-mata, Bos sengaja berakting menyalahkan Tuan Khara untuk mencari tau siapa mata-mata nya.”
“Ketemu ?”
“Hemn.”
“Lalu ?”
“Sepertinya Bos ingin membiarkan mata-mata itu melapor terlebih dahulu setelah itu baru memberinya pelajaran.”
“Pantas saja Khara meminta bertemu dengan Shankara secara khusus.”
“Untungnya itu hanya acting,” dalam hati menghela nafas lega.
“Nina kenapa tidak mengingatkanku sih ?” Feli baru ingat Ibu mertua nya.
“Ada apa ?”
“Dimana Ibu mertua ku ? aku ingin melihat keadaannya.”
“Oh itu …” sebelum Nina menjelaskan Feli sudah berlari keluar kamar.
“Annya tunggu …” mengejarnya.
“Dimana ?”
“Kamar tamu.”
“Annya aku curiga sebenarnya kamu atlet kan ?” sesampainya di ruang tamu.
“Apa kata dokter ?”
“Nyonya akan baik-baik saja setelah beristirahat, luka di kepalanya tidak terlalu parah cukup di rawat secara berkala.”
“Benarkah begitu ? lalu kenapa Ibu masih belum sadar ?”
“Cucu menantu ?” Nenek terkejut melihat Feli berada di kamar Ibu mertuanya dengan keadaannya belum pulih.
“Nenek ?”
“Pelan-pelan !”
“Aku sudah jauh lebih baik.”
“Meski begitu kamu harus lebih banyak istirahat.”
“Berada di kamar seharian sangat membosankan,” bujuk Feli.
“Baiklah baiklah yang penting kamu baik-baik saja.”
Disela pembicaraan Nenek dan Feli tangan Ibunya Shankara bergerak “Ibu …”
“Menantu, cepat panggil dokter !” pinta Nenek.
Dokter datang langsung memeriksa “Bagaimana dokter ?” tanya Feli tidak sabar.
“Pasien masih perlu istirahat, saya akan menulis resep.”
“Ibu dimana aku sekarang ?” semua orang terkejut mendengar pertanyaan Ibunya Shan.
“Dokter ini ?”
“Sungguh keajaiban akibat benturan di kepalanya pasien sekarang pasien mengingat kembali dan sudah normal kembali.”
“Benarkah ?”
“Aku senang sekali mendengarnya Ibu sudah membaik selain itu,” Feli berlinang air mata.
“Menantuku apa kamu baik-baik saja ?”
“Ibu mengkhawatirkan aku ?” memeluknya.
“Aku beruntung sekali punya menantu sepertimu,” menghapus air mata Feli.
“Cepat bagikan hadiah untuk semua orang di rumah ini !”
“Baik Nyonya besar.”
“Annya ada apa ?” Nina merasa ada yang salah dengan Feli.
“Apa karena terlalu bahagia sampai aku merasa kepalaku terasa berat dan kenapa …”
“Annya …”
Dokter segera memeriksa “Gawat Nyonya muda terkena racun.”
“APAA ???”
Situasi di rumah yang tadinya bahagia kini kembali menjadi suram, kepanikan dan kecemasan memenuhi seisi rumah terlebih lagi dokter mengatakan hanya pemilik racun yang memiliki penawarnya.
“Ibu apa yang harus kita lakukan sekarang ? jika menantu dibiarkan begitu aku takut dia akan…”
“Tidak akan ada hal buruk yang terjadi pada cucu menantuku, segera hubungi Shankara.”
“Baik Nyonya besar.”
“Bos tidak bisa di hubungi.”
“Lakukan sesuatu …”
“Nyonya muda suhu badannya terus menurun.”
“APA ?”
“Cepat ambil penghangat ruangan !”
“Bawakan air panas untuk mengompresnya !!!”
“Aku harus menyusul Bos.”
***
“Butuh waktu lama untuk datang,” Khara menyambut Shankara.
“Benar, seorang istri perlu di urus dengan baik oleh suaminya.”
“Dia pamer ?” batin Khara.
Khara menuangkan minum “Sungguh beruntung.”
“Semua sudah di selidiki ?”
“Seseorang memberikan mereka uang dengan jumlah besar untuk menjadi mata-mata di mansion mu.”
“Jadi mereka orang ku ?”
“Penasaran siapa yang menyogok orangmu ?”
Tersenyum aneh “Katakan !”
“Haselin,” memberikan beberapa lembar foto Haselin memberikan uang ke anak buahnya.
“Cinta uang,” memutar pisau di tangannya.
“Ada hal lain lagi yang harus aku beritahu padamu.”
Melirik Khara “Haselin hanya bagian kecil ada orang besar di belakangnya.”
“Sudah ku duga dia tidak akan berani bertindak sejauh ini tanpa adanya orang kuat di belakangnya.”
“Aku masih menyelidiki siapa orangnya. Sulit untuk mendapatkan informasi orang besar di belakang Haselin, dari semua tindakan yang di lakukan hanya Haselin satu-satunya orang terlihat.”
“Tidak perlu buru-buru, kita ikuti saja permainannya.”
“Kou sudah tau ?”
“Mencurigai satu orang namun belum pasti dia orangnya.”
“Jadi kita harus berpura-pura tidak akur ?”
“Menurutmu ?”
“Ah baik lah, ada yang ingin aku tanyakan tapi mungkin kamu enggan menjawab.”
“Dia baik-baik saja.”
“Baguslah setidaknya kamu menjaga dia dengan baik.”
“Tidak usah mengkhawatirkannya dia orangku pasti aku menjaganya.”
“Dua orang ini bener-bener terus terang,” hela Raymond.
“Gue kira loe mau bersaing bersama mereka.”
“Gue masih sayang sama nyawa gue,” membalas Dika.
“Kalau di pikir-pikir Annya lebih cocok jadi mafia.”
“Mafia ?”
“Dari gaya dia berpakaian dan bertindak sudah sama,” mengingat kejadian sebelum-sebelumnya.
“Annya jadi mafia mustahil, dia cewek lembut gak cocok.”
“Lembut loe bilang ? dasar rubah gampang banget berubah pendapat.”
“Annya berbeda dari cewek lain.”
“Gue setuju.”
“Suts…”
“Kenapa ?”
“Ada keributan di luar,” bergegas mengecek keluar.
“Nina ?”
“Kurang ajar, mereka menghalangi gue masuk !” menonjok salah satu anak buah Khara yang menghalanginya.
“Loe kerasukan ?”
“DIAM …”
“Oh okey okey …”
“Dimana Bos ?”
“Di dalam,” jawab Dika segera.
“Bos maaf saya lancang.”
“Ada hal penting apa sampai kamu berani ?”
“Eh itu soal Annya.”
“Annya ?” terperanjat.
“Dia terkena racun.”
Shankara cepat-cepat pulang ke rumah di susul Khara dan yang lainnya. Setibanya di mansion Shankara berlari cepat untuk sampai ke kamar, di kamar sudah ada Nenek dan Kak Lisa yang berjaga.
“Bagaimana bisa ?”
“Sebelumnya Shanaya baik-baik saja tapi dia tiba-tiba pingsan, setelah di periksa dokter ternyata dia terkena racun. Dokter bilang racunnya beraksi lambat namun setelah menyebar bisa menyebabkan kelumpuhan bahkan kematian,” jelas Nenek.
“Racun pelumpuh dengan dosis tinggi bisa menyebabkan kematian, artinya orang itu berniat membunuh Annya,” sambung Lisa.