NovelToon NovelToon
Oh My Fak Girl

Oh My Fak Girl

Status: tamat
Genre:Cintapertama / Dosen / Tamat
Popularitas:2.4M
Nilai: 4.8
Nama Author: Naya_handa

Di hari pertama kuliah di kampus barunya, Raka Adiyaksa Putra di pertemukan dengan sosok terkenal itu.


“Waahh,, ada yang mesti lo tau juga nih dari kampus ini… " Fery mencondongkan tubuhnya pada Raka seraya memperlihatkan senyuman lebarnya. Raka mengernyitkan dahinya, tanda tidak mengerti pada maksud ucapan Fery. "Reva, f*ck girl kampus sini.” ujar Fery dengan mata membulat.


“Apaan sih lo?!” Raka menaruh kopi di hadapannya, ia mengerti maksud sahabatnya, yang ia bahas tidak akan lepas dari masalah betina.


Terlihat seorang gadis cantik dengan senyum tipis tengah berjalan dengan santai melewatinya. Di sampingnya ada seorang laki-laki yang berjalan sambil terus merapikan rambutnya, ia terlihat sangat gugup.


Raka mengernyitkan dahinya. Ia merasa familiar dengan wajah yang dilihatnya.

Lantas siapa F*ck girl terkenal ini?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Naya_handa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 24

Kelam telah sepenuhnya menenggelamkan hari. Niken yang masih terjaga saat itu tengah berdiri di hadapan sebuah foto yang terpajang di ruang keluarganya. Wira yang sejak tadi membujuknya untuk segera tidur, akhirnya menyerah karena Niken masih betah memandangi sepasang mata bulat yang sangat ia rindukan.

Tangannya terangkat, mengusap lembut wajah cantik seorang gadis kecil yang berdiri di samping Raka. Bibirnya bergetar menahan tangis yang bisa pecah kapan saja.

“Mamah rindu kamu sayang…” lirih Niken dengan buliran air mata yang mulai meleleh di sudut matanya.

Ia tertunduk di depan foto tersebut, dengan tangan yang membekap mulutnya. Tidak ada suara tangis yang terdengar, hanya gerakan naik turun bahunya yang terlihat jelas.

Tanpa Niken sadari seseorang tengah memperhatikannya dari kejauhan dan berjalan mendekatinya. Ia berdiri di samping Niken dan ikut memandangi wajah polos yang kerap muncul di mimpinya.

“Waktu panjang yang kita lewati ternyata masih belum cukup membuat kita terbiasa tanpa Lana di samping kita ya Mah…” tutur Raka dengan hembusan nafas kasarnya.

Niken terangguk, dadanya terasa sangat sesak. Raka mengusap bahu Niken dan menyandarkan kepalanya ke bahunya yang tegap.

“Raka hanya bisa mengenangnya dan tidak ada satupun yang Raka lupakan dari Lana.” Ujar Raka seraya memejamkan mata.

Dalam ruang imajinya, Ia merasa ada jemari yang terselip di antara jari tangannya. Menggenggam tangannya dengan erat.

“Kak Raka, kak Raka sayang kan sama Lana?”

Suara gadis kecil itu kembali terngiang di telinga Raka. Pertanyaan yang selalu Lana tanyakan saat ia sedang merasa kesepian.

Raka menarik nafas dalam-dalam lalu tersenyum. Bayangan gadis itu benar-benar terasa ada di sampingnya. Menatapnya dengan tatapan teduh dan senyum yang selalu tersungging di bibir tipisnya.

“Iya, Kakak akan selalu sayang Lana…” batin Raka dengan yakin.

Perlahan Raka membuka matanya. Gigi ompong milik Lana yang selalu menjadi bahan Raka menggodanya, kini terlihat jelas di depan matanya.

“Aku cantik kan kak? Mirip sama snow white?” tanya Lana seraya menatap lekat Raka dan tersenyum dengan lebar. Mata bulatnya mengerjap beberapa kali dengan genit ke arah raka.

“Kalo gag ompong, kamu cantik. Makanya sebelum tidur, cuci muka dan gosok gigi dulu, biar giginya cepet tumbuh.” Ledek Raka yang selalu berhasil membuat Lana merajuk padanya.

Raka kembali tersenyum, betapa ia sangat merindukan setiap ekspresi menggemaskan yang di tunjukkan Lana padanya.

“Kalo nanti aku cantik, aku akan cari teman laki-laki yang banyak. Jadi aku gag akan di gangguin kak Raka lagi.” Tukas Lana sambil mengerucutkan bibirnya.

Raka tersenyum ketir, betapa ia sangat menantikan Lana tumbuh di sampingnya, tapi nyatanya semua hanya menjadi sebuah harapan “Miss you Lana….” Batin Raka.

****

Reva masih belum bisa memejamkan matanya, sedari tadi dadanya berdebar tidak menentu. Berkali-kali ia menghembuskan nafasnya dengan kasar dan mengusap dadanya perlahan. Satu kenyataan yang harus Reva hadapi setiap hari adalah, ia lebih sulit terlelap di malam hari di banding terbangun di pagi hari.

Ia memandangi beberapa foto di galery handphonenya. Terlihat tarikan tipis di sudut bibirnya saat ia melihat wajah wanita paruh baya yang tengah berdiri di sampingnya dengan tawa lepasnya. Reva memeluknya dengan erat, seolah tidak ingin terpisah sedikitpun.

“Bu, gimana kabar ibu? Reva kangen….” Lirih Reva seraya mengecup layar handphonenya.

Hampir genap sebulan Reva tidak bertemu dengan wanita kuat yang selalu memberinya semangat untuk bertahan. Apapun masalah yang Reva hadapi, dengan melihat senyum Ratna, semua beban terasa ringan dan Reva selalu siap menghadapinya.

Reva mencoba memejamkan matanya, namun yang muncul di pikirannya adalah sepasang mata  tajam yang menatap Reva dengan lekat. Ya, tatapan milik Raka.

“Astaga!”

Reva segera bangkit dan duduk di atas tempat tidurnya. Ia menggelengkan kepalanya beberapa kali mengusir bayangan Raka yang tiba-tiba muncul di pikirannya.

Mengingat kejadian tadi siang, membuat Reva merasakan wajahnya menjadi panas. Tubuhnya pun terasa gerah. Reva menarik nafas dalam-dalam, ia mencoba menenangkan dirinya sendiri seperti yang biasa ia lakukan saat ingin melupakan setiap hal tidak menyenangkan dalam hidupnya.

“Reva, semua yang lo alami hari ini sama sekali tidak penting. Lupakan, dan besok lo akan merasa lebih baik.” Gumam Reva dengan mata terpejam.

Inilah yang ia lakukan setiap kali berusaha menghipnotis dirinya sendiri untuk melupakan setiap kejadian yang ingin ia lupakan. Dan biasanya, keesokan harinya, bayangan hari ini lenyap begitu saja, seolah tidak pernah terjadi.

“Awww…”

Reva mengaduh, saat tiba-tiba kepalanya terasa begitu pening. Ia memijat kepalanya dengan lembut, berharap rasa sakit yang beberapa hari ini ia rasakan bisa segera menghilang. Tapi nyatanya tidak, kepalanya terasa berdenyut dan berat.

“Kenapa sekarang gue jadi sering sakit kepala ya kalo lagi berusaha melupakan sesuatu? Apa mungkin memori di otak gue penuh?” dengus Reva yang masih memijat kepalanya.

Karena tak kunjung sembuh, Reva segera bangkit menuju kamar mandi. Membersihkan dirinya sebelum mulai berdiri menghadap sang pemilik hidupnya dengan pakaian tertutup.

****

Seperti biasanya, pagi ini Raka sudah berdiri di depan pintu dan menunggu Reva keluar dari rumahnya. Ia terlihat tampan dengan kemeja abu muda yang ia gulung bagian lengannya hingga ke sikut. Sebuah jam bermerk melingkar di tangan kirinya dan rambutnya tertata dengan rapi.

Terlihat handle pintu yang berputar, Raka segera menegakkan tubuhnya dan merapikan kerah bajunya. Tak lupa, ia pun mengusap rambutnya yang terlihat sedikit basah.

“Pagi Re…” sapa Raka dengan senyum tampannya saat wujud Reva tampak dari balik pintu.

“Pagi,” sahut Reva dengan senyum tipisnya.

Reva membalikan tubuhnya sejenak dan mengunci kost-annya sebelum pergi. Hanya sekilas ia menatap Raka, tidak ada adegan tatap-tatapan seperti halnya di film India atau drama Korea.

Reva terlihat cantik dengan kemeja berwarna hijau botol dan berkerah tinggi. Celana panjangnya terlihat rapi tanpa lipatan sedikitpun.

Raka menyentuh tengkuknya sendiri, merasakan kekecewaan karena Reva hanya bersikap biasa saja. Padahal ia sudah merapihkan diri di depan cermin sejak pagi hari bahkan melewatkan sarapannya. Jika diingat, entah berapa baju yang kini berserakan di kamarnya karena ia merasa tidak cocok dengan beberapa baju yang tidak ia pilih.

Mereka berjalan menuju tempat Raka memarkirkan mobilnya. Seperti biasa juga Raka membukakan pintu mobil untuk Reva dan segera duduk di balik kemudinya.

“Lo udah sarapan?” tanya Reva dengan tatapan polosnya. Raka hanya menggelengkan kepala. “Mau roti isi?”

Reva menyodorkan setampuk roti yang ia masukan ke dalam kotak makan.

“Boleh buat gue?” Raka terlihat begitu senang.

Reva hanya mengangguk. Dengan segera Raka meraih kotak makan tersebut dan melahap roti tersebut dengan semangat. Matanya membulat saat merasakan potongan roti yang bertemu dengan lidahnya. Ia begitu menikmatinya.

“Pelan-pelan, gue gag akan minta balik.” Cetus Reva seraya tersenyum. Raka tak menggubris ucapan Reva, ia hanya mendelik dan meneruskan makannya dengan semangat. “Lo kayak seminggu gag ketemu makan, tau gag?”

Reva terkekeh kecil dan mengalihkan pandangannya keluar jendela. Kelakuan Raka cukup menghiburnya di pagi ini. Dan yang di maksud, hanya tersenyum seraya mengusap sudut bibirnya yang menyisakan lelehan mayonaise.

****

Makasiihh buat yang masih setia baca... tungguin update selanjutnya yaaa... jangan lupa like, komen dan vote.. Happy reading.. xoxoxo

1
Andi Agus
Luar biasa
Iwan Sukendra
kelamaan
Pujianto Ajha
Luar biasa
mang tri
aku bacanya marathon, duhhh menyedihkan banget sih reva 🥺
Susi Lawati
Biasa
naya_handa: Makasih sudah mampir kak. makasih juga ratingnya. semoga kedepannya tulisanku lebih baik lagi
total 1 replies
Susi Lawati
Buruk
Pena Hitam
wew
naya_handa: kenapa kak?
total 1 replies
mang tri
ya ampuuunn nyesek banget sih 😭
Tia rabbani
ga nunggu alea keluar penjara
Tia rabbani
jahat banget alea
Tia rabbani
like
Tia rabbani
gaskeun fery.. biar alea luluh
Tia rabbani
alea punya rencana jahat apa ya buat Reva?
Tia rabbani
alea nanti sama fery ya?
Tia rabbani
apa yg Alana alami ya sampe ilang ingatan gitu
Tia rabbani
reva bakal marah ga ya klo tau raka direktur
Qaisaa Nazarudin
Mungkin kah Laras jodohnya Theo..🤔🤔
Qaisaa Nazarudin
Oh Ferry yg nikah dgn Alea?? Aku bacanya terlalu banyak di skip,aku baca yg penting aja..
Qaisaa Nazarudin
Thor satu kan Theo dgn Alea..🙏🙏
Qaisaa Nazarudin
OMG semoga Theo gak kenapa2..🤲🤲🥹🥹
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!