" Om om, mau jadi ayah Aga ndak. Aga ndak punya ayah. Ibu Aga tantik lho Om."
" Hahaha, anak ini lucu bener."
Seorang bocah kecil tiba-tiba bicara seperti itu kepada pria asing. Wajah polosnya tersebut tidak bisa membuat si pria marah meskipun dia dipinang dadakan oleh bocah itu.
Tapi siapa sangka anak kecil itu datang bersama dengan seseorang yang ia kenal.
" Kamu, ini anakmu?"
" Maaf, kami permisi."
Wanita itu langsung pergi membuat si pria penasaran.
Siapa sebenarnya mereka dan apa yang terjadi? Dan mengapa Aga mengatakan bahwa tidak punya ayah?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon IAS, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
JAYO 24: Tatanya Ibu Sok Tantik
Pagi hari di Malang
Rendi benar-benar mengikuti semua perintah Kaivan, yakni mengantarkan Aga ke sekolah. Sebuah praduga langung muncul di kepalanya bahwa ini nanti akan jadi bagian dari tugasnya kedepannya. Melihat bagaimana Kaivan memproteksi Dara dan Aga, maka isi pikirannya itu pastilah tidak salah. Jika begini, mungkin dia akan mencari orang khusus untuk antar jemput Aga. Tentunya bukanlah supir biasa. Namun hal tersebut tentu harus dibicarakan dengan Kaivan. Ada hal lain tentunya mengapa Kiavan melakukan ini terhadap Aga.
Seperti yang sudah diketahui, bukan tentang pengantar jemput, melainkan sosok ayah yang diinginkan oleh Aga.
" Tuh lihat, udah beda lagi cowoknya?"
" Iya ih dasar ganjen. Kayaknya kemarin cowok itu hoong deh kalau dia pemilik perusahaan."
" Iya, paling cuma buat nakut-nakutin kita aja. Haah, dasar."
Telinga Rendi langsung panas mendengar gunjingan para tetangga Dara yang baru saja lewat. Saat ini dia memang tengah berada di teras menunggu Aga selesai bersiap. Pram sebenarnya memintanya masuk, tapi Rendi tidak mau karena lebih berada di teras.
" Wah ini mulut ibu-ibu beneran minta di sumpel."
" Dah nggak usah ditanggepin. Biarin aja, udah biasa."
Awalnya Rendi ingin menyambangi mereka, tapi Dara yang sudah keluar bersama Aga mengatakan hal seperti itu sehingga membuat niatnya urung.
" Gimana Boy, udah siap. Uluh uluh, kok lemes gitu, semangat dong. Ayah Kaivan lagi ada urusan bentar jadi sementara Om Rendi yang anter Aga. Kalau mukanya lemes gitu, Om Rendi kan jadi sedih."
Rendi berbicara dengan gaya anak-anak. Ia tahu kehadirannya tidak seperti Kaivan, tapi bagaimanapun juga ia harus bisa dekat dengan Aga. Selain ini adalah perintah, Rendi juga ingin Aga mengenal pria dewasa lain yang juga menyayanginya. Figur paman atau kakak ingin Rendi berikan kepada anak itu. Dirinya yang lahir tinggal membuatnya senang jika berdekatan dengan anak kecil. Ketika di Jakarta, dia pun sangat dengan dengan si kembar Kamal dan Kamil.
" Maaf Om Lendi, ayo let's go kita belangkat."
Rendi senang akhirnya Aga bisa terlihat bersemangat. Sebelumnya oleh Dara, Aga juga sudah diberi pengertian perihal Kaivan yang kedepannya mungkin tidak akan bisa selalu mengantarkannya ke sekolah. Dara memberi tahu bahwa Kaivan adalah seorang pemimpin yang memiliki banyak kesibukan, jadi jika suatu hari Kaivan tidak bisa bermain dengan Aga maka Aga sebisa mungkin memahaminya.
Meskipun usianya baru 4 tahun, Aga tampaknya memahami apa yang diucapkan sang ibu. Ia terlihat menyadari sesuatu bahwa Kaivan memanglah bukanlah ayahnya. Meskipun ia sudah meminta tapi hingga saat ini Kaivan belum lah jadi ayahnya.
" Om Lendi, ehmmm apa Om Ganteng nda bisa jadi ayahku?"
Rendi sedikit terkejut dengan pertanyaan Aga. Tapi ia paham saat ini anak itu tengah merasa gelisah. Terlihat dari raut wajahnya yang tidak ceria.
" Kenapa Aga bilang kayak gitu?"
" Soalnya tata ibu-ibu di setital lumah, Om ganteng nda selevel sama ibunya Aga. Masutnya nda selevel itu apa?"
Jeng jeng jeeeeng
Rendi tersentak mendengar apa yang baru saja keluar dari bibir Aga. Anak sekecil itu bagaiman bisa mendengar perkataan buruk dari orang disekitarnya. Rendi yakin pasti bukan hanya itu saja yang Aga dengar. Rasanya ia ingin marah, namun sebisa mungkin dia mendinginkan kepalanya.
" Aga denger pas kapan itu? Terus apa lagi yang Aga denger?"
" Pas Aga main di halaman, banyak Om. Tatanya ibu sok tantik, kan padahal Ibu emang tantik Om. Telus tatanya Ibu tuh janda gatel. Emang apa sih Om janda gatel? Nah iya satu lagi, tatanya Om Ganteng nda muntin jadiin Ibu istli, paling cuma buat mainan aja. Emang olang bisa buat dimainin ya?"
Saking terkejutnya Rendi sampai menepikan mobilnya, ia mengusap wajahnya kasar. Kini amarahnya benar-benar muncul, bagaimana bisa mereka bicara jahat seperti itu sampai terdengar ke seorang anak kecil. Rendi yakin bahwa mereka pasti tahu Aga ada di sana, namun sepertinya orang-orang itu memedulikan Aga. Atau bisa jadi mereka menganggap bahwa anak itu tidak akan mengerti.
Sekarang tugas Rendi adalah menjelaskan secara baik perkataan para tetangga itu dengan baik agar Aga tidak memiliki persepsi buruk. Ini tentu bukan tugas yang mudah, jika tidak ada Aga maka Rendi pasti sudah mengumpat.
" Boy, apapun yang Aga dengar jangan dimasukin ke hati. Om Ganteng, beneran mau jadi ayah Aga. Om yakin itu karena Om adalah teman Om Kaivan. Jadi Aga nggak perlu mendengarkan ucapan itu. Dan Ibu Aga, dia adalah wanita yang baik dan juga hebat. Mereka bicara begitu karena belum mengenal ibu Aga dengan baik. Nah Om ada ide, gimana kalau mulai sekarang Aga manggil Om Ganteng dengan panggilan Ayah. Pasti Om Ganteng bakalan seneng."
" Begitu ya, apa benel Om Ivan suta talau dipanggil Ayah?"
Rendi langsung mengangguk cepat, setidaknya memang itu adalah kenyataan. Kaivan memang senang dengan panggilan tersebut, " Van, lu utang banyak ma gue."
Rendi terlihat sangat puas melihat wajah Aga yang sepertinya akan melakukan ide darinya. Namun sepertinya ia harus menyampaikan apa yang didengar oleh bocah itu kepada Dara dan Kaivan. Sebelu mengatakannya kepada Dara, orang yang pertama harus tahu adalah Kaivan.
Selepas mengantarkan Aga sampai di kelas, Rendi tidak langung menuju ke kantor. Ia lebih dulu duduk diam di dalam mobil untuk menelpon Kaivan. Ia tahu Kaivan menaruh orang di sekitar Dara dan Aga, tapi mungkin mereka tidak melaporkan hal-hal seperti itu dan lebih fokus dalam penjagaan.
" Jadi Aga ngomong kayak gitu? Buset, tuh emak-emak kayaknya kagak percaya sama gue. Beneran harus gue blacklist tuh mereka dari daftar pelamar pekerja. Oke thanks Ren buat infonya."
" Oke bro, ya udah gue ke kantor dulu."
Rendi lega, dan hal yang harus ia lakukan adalah menghubungi Dara. Tapi dia kembali mempertimbangkan. Rendi rasa, ia akan menangguhkan cerita itu terhadap Dara. Dia juga tidak ingin Dara menjadi kepikiran.
" Haah, mulut orang-orang kok bisa pada jahat ya. Padahal mereka nggak tahu dan nggak kenal Deket."
TBC
UCAOAN NYA AGA BENAR SEMUA ❤