Deminya ia rela mempertaruhkan nyawa. Pengabdian dan sumpah setia selalu menjadi prinsip di atas segalanya. Namun ketika pengabdian dan sumpah setia itu diuji dengan penghianatan, akankah ia berpaling dari janjinya?
"Kami mengabdi tanpa menghitung untung, berjuang di atas harapan sang bumi pertiwi, di seluruh penjuru langit khatulistiwa kami mengudara, mengumandangkan sumpah setia pada negri."
Bersama gadis pujaan hati, kisah Lettu Pratama Adiyudha mengudara melintasi cakrawala bumi pertiwi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon sinta amalia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 24 Idola kaum hawa
Tangisan ibu lirih mengucap syukur, menyambut Tama dengan pelukan sehangat mentari pagi.
"Bu, maafin Tama."
"Pak,"
Clemira membiarkan Tama yang meluapkan segala kerinduan serta luapan kebahagiaan bersama keluarganya. Ia digiring keluar dari ruangan sidang setelah sebelumnya bersalaman dengan semua perangkat pengadilan dan pengacaranya.
"Terima kasih."
.....
"Makasih, bi." Clemira menatap Rayyan sedikit mendongak dengan mata yang melepaskan binar-binar haru hingga jatuhnya tuh becek-becek kaya kubangan abis ujan deres, keduanya berdiri di luar ruangan sebelah pojok kanan bersama ajudan Rayyan agar seluruh area itu terangkum dari pandangan terkhusus pintu keluar ruang sidang dimana nantinya Tama akan keluar bersama keluarganya.
Rayyan menggeleng, "itu memang sudah menjadi hak Tama dan Prasasti, abi dan yang lain hanya mengurai benang kusutnya saja."
Clemira tersenyum dengan air mata yang sudah menggenang, dapat ia lihat bentuk kasih sayang Rayyan padanya memang sepanjang masa, "Cle tau bukan cuma kasih sayang ibu aja yang sepanjang masa...." ia menghambur memeluk Rayyan, "sayang abi banyak-banyak."
"My little girl..." gumam Rayyan menghela nafasnya lega seraya mengusap surai panjang Clemira.
Seiring dengan ledakan di pintu keluar ruang pengadilan terbuka, membludak pula pengunjung pengadilan yang masuk dari luar, karangan bunga sebagai ucapan selamat berjubel memenuhi ruangan, Tama dan Pras semakin dibanjiri oleh buket bunga, belum lagi pamor mereka yang menanjak bak selebriti paling laris di nusantara.
"Bang Tama!!!" serbuan para wanita muda, wanita tua da wanita jejadian berlarian persis berburu diskon setengah harga, bahkan spanduk bergambar wajah Tama mereka bentangkan dan bawa ke dalam, sampe-sampe tuh spanduk sempat melintasi wajah beberapa office boy pengadilan yang sedang bekerja karena aksi mereka yang berlarian histeris sambil nenteng spanduk.
"Bang Tama!!! Selamat ya, foto bareng bang! Boleh kan?!" Bukan hanya satu atau dua namun puluhan jepretan memotret wajah Tama.
"Woo...wooo....selow sistah! Ada orang nih, maen tubruk-tubruk, situ banteng?!" sewot Clemira jengkel, percayalah saat ini Clemira seperti selembar kertas yang terhempas oleh ledakan fans dadakan Tama. Abi Rayyan bahkan harus menarik dirinya bersama ajudan yang melindungi mengingat tenaga perempuan yang sedang menggilai idolanya itu setara dengan tenaga kawanan bison .
Tama meringis tak enak hati jika harus menolak, hingga akhirnya ia melayani mereka dengan sopan, bahkan beberapanya mencubiti pipi Tama gemas, tanpa perlawanan berarti dari Tama, justru raut kebingunganlah yang tergambar di wajah Tama.
"Ya Allah, bang...aslinya ganteng abis ih!" oceh beberapa wanita gemas, Rayyan langsung melirik dengan kedua alis terangkat ke arah putrinya, "ooo....ganteng katanya...waduhhh gawat!" ujar Rayyan mengompori, ia mengu lum bibirnya kencang-kencang melihat wajah manyun dan tak bersahabat Clemira, sama persis seperti wajah Clemira kecil saat menyadari kasih sayang Pramudya dan Langit terbagi dengan anak-anak kandung mereka.
"Om Langit udah ngga sayang cimoy lagi! Dedek terus yang digendong!"
"Om Pram udah ada dedek, cimoy dilupain!"
Bibir Clemira maju sampai depan lobi melihat itu, "apa-apaan tuh?! Breng sekk banget deh!" akhirnya ia berseru kesal dan Rayyan mengangguk mantap, karena memang ia sudah dapat menebak kejadian apa yang akan terjadi selanjutnya.
"Gak bisa dibiarin!!! Keenakan dikelilingin cewek gitu, berasa jadi artis! Bener ngga bi?!" Clemira jelas tidak sedang bertanya pada Rayyan, namun ia sudah menyimpulkan sendiri dan meminta dukungan Rayyan, ia sudah siap menghentak dan menyingkirkan satu persatu wanita disana yang ngerubungin Tama kaya ngerubungin beras gratis dengan pukulan telaknya.
Namun belum ia maju, Rayyan sudah menahannya terlebih dahulu, "udah biarin aja. Kamu ngga capek gitu? Yuk balik...umi pasti udah nunggu! Nanti setelah urusan hukumnya selesai ketemu lagi, biar dia nanti yang datang ke rumah. Kebangetan kalo ngga datang, ngga sopan, pengen abi balikin lagi ke bui..." Rayyan menggusur Clemira dengan mudahnya untuk segera pulang, meski putrinya itu sudah sekuat tenaga mempertahankan posisinya sebagai kekasih yang tak dianggap sekarang.
"Tapi bi, tapi itu! Masa kakak ngga ketemu Tama dulu! Mereka ngga liat berita gitu, kalo Tama punya some one special?! Si topi channel!" ocehnya marah-marah.
"Saat ini Tama pasti mau ngabisin waktunya sama keluarganya dulu, belum lagi urus administrasi ini dan itu masa hukumannya masih tersisa juga..nanti juga dia ke rumah, udah ayok pulang lah...abi udah lapar," santainya berujar dan menarik Clemira dari sana, tak mau putrinya nekat untuk menghampiri Tama yang akan berimbas pada perkelahian antar wanita nantinya.
Tama mengangguk pasrah, meski selanjutnya para pegawai pengadilan dan kepolisian segera membubarkan kerumunan fans dadakan itu, membawa Tama dan keluarga untuk segera memasuki mobil di parkiran. Tama celingukan mencari Clemira dan keluarga serta papa Rangga, namun dalam radarnya ia tak menemukan orang-orang penting itu.
"Nyari opo to le?" tanya ibu.
"Ibu ada liat Clemira sama pak Rayyan?"
"Tadi sudah duluan keluar, mungkin sudah di luar atau pulang. Nanti saja setelah urusan kamu selesai, kita ke rumahnya, le. Sekalian ngucapin makasih sama anter sedikit oleh-oleh dari kampung." Jawab ibu yang langsung berjalan cepat karena digiring oleh polisi.
Sampai bertemu kembali, cinta....
**Jleb**!
"Idola baru, hemm?!" matanya mengkilat sama seperti garpu tajam yang kini ada di genggaman tangannya dan menusuk buah pepaya sampai tembus dan mentok di atas permukaan piring. Bahkan sepertinya sebentar lagi piring pun ikut pecah ditusuknya, kekuatan wanita kan seperti kekuatan alam jika sedang marah.
Kenyataan itu tidak bisa lebih memanas lagi saat Clemira mendapati sosial media milik Tama yang justru dibuat oleh Clemira sendiri dibanjiri followers sampe ribuan. Bahkan followersnya saja kini kalah jauh di bawah Tama. Tama tak pernah kerajinan bikin akun medsos, yang menurutnya tak terlalu penting. Lagipula ia jarang membuka dan bercentil-centil ria dan mengumbar aktivitas kehidupannya di depan khalayak ramai.
Puluhan DM yang memuji dan memuja Tama memperburuk suasana hati yang memang sudah kacau itu.
Sesuai janji Tama dan keluarga, tempat kedua yang ia datangi setelah markas kesatuan adalah kediaman Rayyan, bersama keluarga yang datang kembali ke ibukota.
Ibu sampe repot-repot bawa ini dan itu sebagai oleh-oleh untuk keluarga Ananta.
Tama hanya bisa diam, baru keluar sebagai pesakitan, kini ia harus disidang kembali oleh gadisnya.
"Asik, ya?!" ketusnya, "enak?"
"Apanya, dek?" dengan tanpa dosanya Tama bertanya.
Wajah Clemira semakin mengkerut, lantas Tama tertawa dan menggosok-gosok rambut yang baru saja di keramas dan di blow dengan hair dryer itu. Sontak saja gadis itu menepisnya, "ngga usah pegang-pegang. Bekas fans kamu tuh! Di cium-cium ya, udah ada yang ngajak makan malem?" ketusnya benar-benar mengalahkan pak raden.
"Mas cari-cari kamu waktu itu, tapi kayanya kamu udah keburu pulang sama pak Ray..."
Wajahnya mulai membuat raut jelek sebagai bentuk kritik dan ketidakpercayaannya.
Tama kembali terkekeh tanpa suara, "mau temani saya besok?" tanya nya kalem, dalem...menenangkan dengan suara beratnya.
"Kemana, jalan sama fans?!" tembak gadis ini masih berputar di circle fans. Yang benar saja Tama, ia sampe terbang-terbang ditubruk oleh para wanita itu dia masih nyantai kaya orang berjemur di pantai. Kayanya pria itu mesti disentil ginjalnya.
Sudah ke sekian kalinya Tama terkekeh geli, gadisnya itu memang lucu persis boneka beruang di pitain. Namun Tama tak pernah sampai melakukan hal memalukan hanya untuk membuat Clemira membaik, toh nanti gadis ini akan membaik dengan sendirinya. Ngga perlu sampe bawa-bawa bunga anggrek hutan yang langka atau edelweis di gunung sana buat mbujuk Clemira. Cukup dikasih jantung sama ginjalnya saja ia sudah senang.
"Cari kado buat dekgam,"
Alisnya naik sebelah, lehernya begitu pelit untuk menoleh jadinya lirikan mata Cle hanya sekilas saja melihat ke samping, "cuma dekgam doang? Buat tantenya mana?"
Senyum Tama yang melebar membuat lesung pipinya keluar, "buat tantenya nunggu waktu yang tepat, soalnya request'an tantenya berat di ongkos.."
Kini ada kemajuan, lehernya udah ngga pelit lagi buat noleh meski wajahnya masih judes, khan! Apa Tama bilang, ngga perlu nyari bunga hutan atau edelweis.
"Janji ngga mau ada fans kamu."
Tama mengangguk mantap, "siap. Laksanakan ndan!"
Seringai Clemira tercipta manakala ide briliant versi dirinya memenuhi otak cerdasnya.
.
.
.
.
.