Seorang gadis manis kabur dari rumahnya demi mendapatkan perhatian dari sang kakak, hobinya adalah membuat masalah dan koleksi medali kerusuhan yang dia buat agaknya sudah dapat memenuhi seisi kamarnya.
Namanya adalah Ariana, gadis kecil ini mendapatkan perlindungan luar biasa dari sang Kakak akibat sebuah kejadian yang pilu, hingga saat sang Kakak hendak melakukan sebuah perjalanan bisnis. Dengan sangat terpaksa dia harus menitipkan adiknya pada salah seorang sahabat dekatnya.
Pembuat onar itu seolah bertemu seorang pawang yang mampu membuatnya tunduk. Pria yang merupakan sahabat sang Kakak sekaligus orang yang sangat anti perempuan itu kini justru jatuh hati pada Ariana.
Oh ya ampun! Bagaimana ini? Teman-teman ayo kita tolong Axel untuk menaklukan gadis kecil pembuat onar ini!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon LIXX, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 24. SAH
Arkana dan sang Papa langsung menatap Ariana yang masih setia menunduk. Kesal berpadu dengan senang kini tengah di rasakan mereka.
"Ariana, kamu yang akan menjalani rumah tangga, bagaimana menurutmu?" Tanya Papa Ariana dengan wajah yang serius, meski demikian matanya nampak berbinar penuh harap.
"Aku menerima apapun yang terbaik menurut kalian, tapi aku mohon.. Ariana mencintai Kak Axel, dan Ariana ingin hidup bersamanya." Tutur Ariana, Axel tersenyum merasa bangga pada pencapaiannya.
"Apa kamu serius?" Tanya Arkana, dia menatap Axel yang tengah cengar-cengir layaknya orang yang baru gila.
"Aku serius Kak, ak..." Belum selesai Ariana berucap, Arkana langsung berdiri dan menarik lengan adiknya ke luar ruangan.
Di luar sana keadaan sangat senyap, ketiga sahabat Ariana juga memilih pulang, entahlah mereka pulang ke rumah atau ke mana, yang jelas mereka sudah tidak ada di sana saat ini. Arkana menatap dua manik mata Ariana yang sangat membuatnya rindu selama ini.
"Apa ingatan mu kembali?" Tanya Arkana, Ariana menganggukkan kepalanya membenarkan.
"Syukurlah, kakak bahagia mendengarnya." Arkana langsung memeluk Ariana, Ariana juga membalas pelukan itu dengan hangat.
"Apa kamu tahu itu juga Ar?" Ariana mengangkat alisnya, kata 'itu' sungguh sangat ambigu di dengar telinga.
"Itu apa kak?" Ariana yang memang belum tahu apa maksud sang Kakak menatap lekat kakanya.
"Kalo orang yang menderita fobia semacam itu, saat dia..." Ariana menutup mulut Kakaknya, semburat merah tergambar di kedua pipi Ariana.
"Aku tahu, tapi tolong jangan bahas itu sekarang." Ariana merasa sangat malu membahas hal yang pribadi semacam itu dengan Kakanya, karena mau bagaimanapun Kakanya itu laki-laki.
"Feet... iya, kamu harus sering minum vitamin Ar." Amanah Arkana, Ariana menganggukkan kepalanya patuh.
"Kamu sudah belajar cara memuaskan suami mu kan Ar?" Ariana lagi dan lagi tersipu, kenapa sang Kakak menjadi sangat vul*gar? Pikir Ariana.
"Bisa bukan kita bahas yang lain?" Ariana yang tersipu menatap Kakaknya malu-malu.
"Hahaha.. Ar, di mata pria, istri itu adalah permata, selain itu dia juga pemuas. Makananya aku mewanti-wanti, karena bagaimanapun Axel itu memiliki kerajaan bisnis sendiri Ar." Arkana mewanti-wanti, Ariana menangguk faham.
"Sayang? Lama banget!" Singgung Axel yang tiba-tiba keluar dan menarik lengan Ariana untuk masuk kembali.
"Ariana, kita akan lakukan ijab qobul sekarang. Apa kamu benar-benar bersedia?" Tanya Papa Ariana berusaha meyakinkan putrinya akan pilihan yang dia ambil.
"Iya Pa, aku bersedia hidup bersama Kak Axel." Jawab Ariana, Axel benar-benar bahagia mendengarnya.
Dua orang saksi akhirnya di datangkan, dan acara ijab qobulpun akhirnya benar-benar terjadi.
SAH
Suara itu akhirnya terdengar lirih dan membuat Ariana yang berada di samping Axel semakin tersipu, Ariana mengecup punggung tangan suaminya.
Axel yang nampaknya sudah sangat tidak sabar langsung memeluk Ariana, semua orang tertawa dengan tindakan yang sangat kekanak-kanakan itu.
.
.
.
Di sisi lain, seorang wanita cantik dengan rambut hitam yang di kepang tengah menatap warungnya yang sudah tutup, waktu juga sudah malam namun dia nampak tidak rela meninggalkan tempat itu.
"Riana!!" Teriak seorang laki-laki yang tersenyum lebar ke arah wanita yang bernama Riana itu.
"Sensen, ini udah malam. Ngapain di sini?" Tanya Ariana menatap bocah yang suka ceplas-ceplos dan nyerocos itu dengan senyum di bibirnya, dan sebuah lesung pipi manis terukir di pipi kiri dan kanannya.
"Ikut aku!" Sensen menarik lengan Riana menuju kendaraan roda dua milik Sensen, rok yang di pakai Riana agaknya menyulitkannya untuk naik.
Sensen yang peka langsung membuka jaketnya dan menaruh jaket itu di atas paha Riana, meski bukan salah satu bangsawan ternama atau orang kaya baru. Sensen adalah pria yang sangat berjuang untuk mendapatkan apa yang dia inginkan, dia adalah sosok perintis yang mantap meski bukan pewaris yang mutlak.
Sensen mengajak Riana ke sebuah pasar malam yang cukup ramai di kunjungi banyak orang, sebagai seorang janda Riana cukup faham dengan segala gerak-gerik Sensen selama ini.
"Kenapa ke sini?" Tanya Riana merasakan hangat yang menempel di kedua pipinya saat Sensen menangkup kedua pipinya itu.
"Liburan dong, emang mau apa lagi?" Sensen menjawab dengan santainya, dia membawa Riana untuk mencoba segala permainan yang ada.
Ada perasaan hangat yang belum pernah Riana rasakan sebelumnya, di desanya wanita banyak yang menikah muda. Termasuk juga Riana yang menerima sebuah perjodohan yang di lakukan oleh kedua orang tuanya dengan seorang anak tentara.
Mereka berharap dengan perjodohan itu Riana dapat hidup bahagia dan mendapatkan perlindungan dari sang suami, namun nahas. Pernikahan dini itu agaknya membuat Riana sangat tersiksa, dia di perlakukan layaknya binatang di kediaman sang mertua. Boro-boro merasakan apa itu pacaran, merasakan di sayang saja Riana tak pernah.
"Katanya akan ada pesta kembang api malam ini, Riana mau liatkan?" Pinta Sensen, Riana tersenyum dan menganggukkan kepalanya.
'Tidak semua pria sama, aku percaya padanya.' Lirih Riana dalam batin, tangannya yang di tarik Sensen menuju ke tengah lapangan seolah melayang bersama angin malam.
Banyak muda-mudi dan hirup-pikuk manusia yang saling berdesakkan, Riana merasa sangat canggung saat beberapa kali tanpa sengaja Sensen memeluknya atau bahkan sebaliknya.
Duar..
Duar..
Duar..
Kembang api menyala di langit, kerlipan warna-warni nampak indah menghiasi langit malam. Lampu di sekitar pasar malam mati di susul dengan lampu di sekelilingnya. Pandangan Riana langsung tertuju pada sekelilingnya yang membuat darah mendidih.
Mereka semua nampak masuk dalam dunia mereka dan merasakan cinta dari pasangan mereka, Sensen yang kadang gak akhlak itu agaknya malam ini akan menjadi sosok Pangeran impian.
"Riana?" Bisik Sensen meletakkan keningnya di atas kening Riana, Riana tertegun saat merasakan hembusan nafas Sensen yang terasa sangat dekat dan hangat.
"Aku mencintai mu, Riana." Ucap lagi Sensen, Riana akhirnya mengangkat wajahnya. Riana berusaha memberanikan dirinya untuk secara langsung bersitatap dengan dua manik Sensen.
"Aku mencintai mu, Riana." Sensen kembali mengutarakan kalimat yang sama. Riana merasakan debaran hebat di dadanya, dia tak ingin berbohong bila Sensen adalah sosok pria yang manis meski banyak modus tapi dia tak penah mengingkari perkataannya sekalipun.
"A..aku.. " Riana tiba-tiba merasa gugup, kegagalan atas rumah tangga yang sebelumnya dia rasakan menjadi sebuah ketakutan tersendiri baginya.
"Aku mencintai mu, Riana." Kembali kalimat itu terdengar indah di telinga Riana. Riana tak sanggup menolak ketulusan Sensen, dia juga sudah tak sanggup lagi menahan gejolak di dadanya.
Meski awalnya ragu, Riana menarik tengkuk Sensen dan mengecup bibir itu dengan lembut dan lambat, mereka seolah masuk pada dimensi alam bawah sadar mereka. Perasaan dan pernyataan cinta dari Sensen berhasil merobohkan tembok pertahanan Riana.