Asmara dan Andra jarang mengobrol walau pun sudah 10 tahun bertetangga, dan rumah mereka berseberangan. Namun suatu kejadian tragis malah mendekatkan mereka. Herannya, masalah datang bertubi-tubi, sampai Asmara mendapati kalau Andra adalah Boss baru di kantornya.
Sejak itu mereka saling mengamati. Lagipula... Tetangga itu memang adalah CCTV terbaik, bukan?!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Septira Wihartanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Seven si Player
“Wah, di gedung ini ada taman ya ternyata! Di atas gedung loh ini!” Asmara tampak senang saat melihat taman di dalam gedung. Di sana masih sepi karena ternyata taman itu khusus bagi orang-orang yang memiliki akses saja, dan jajaran sekretaris Beaufort termasuk orang yang diberi kunci akses.
Seven berjalan santai di belakang Asmara sambil menghembuskan asap rokoknya, matanya menatap bokong bidadari di depannya. Tampak kilatan cahaya di maniknya.
“Ingin sekali aku menggigit bongkahan kenyal itu…hehe,” gumam Seven sambil menyeringai.
“Jay?” Asmara tiba-tiba menoleh ke belakang, “Kita minum kopi di mana?”
“Hm? Terserah Bu Asmara saja.” Seven kembali memasang wajah ‘normal’. Tapi matanya kini tertuju ke dada Asmara. Asmara sampai jengah dan akhirnya memeluk tubuhnya sendiri.
Mata Seven kini tertuju ke wajah Asmara, “Maaf ya Bu, tapi saya tidak mampu mengalihkan pandangan dari, sosok yang cantiknya suka kelewatan.”
“Tetap saja itu kurang ajar.” gumam Asmara sambil mundur selangkah.
“Saya yakin saya bukan pria pertama yang melakukan hal ini.” Seven maju beberapa langkah dengan perlahan.
“Ya tetap saja kurang ajar.” kata Asmara lagi, sambil mundur beberapa langkah
“Mohon maaf, sebagai gantinya saya akan traktir Bu Asmara.”
“Ah ya, boleh juga.”
“Tapi nanti.”
“Nanti?”
“Iya…”
Entah bagaimana caranya kini Asmara sudah berada di sudut yang agak gelap, terhimpit dinding batu dan berada di bawah payung yang tidak terlihat dari luar. sepertinya Seven sengaja membuat Asmara risih sehingga langkah Asmara bisa dikendalikan, dan kini wanita itu terdesak.
“Jay?”
Seven membuang rokoknya dan menginjak lintingan itu, lalu tangannya terangkat dan mengelus pipi Asmara.
“Kamu ini… wanita yang paling cantik yang pernah kulihat di hidupku. Aku bahkan pertama kali melihatmu tidak dalam kondisi terbaikmu.” desis Seven. “Pria yang meninggalkanmu buta total tampaknya…”
“Jay, aku peringatkan-”
“Mau jadi pacarku nggak? Aku akan meninggalkan semua wanita yang kumiliki demi kamu.” bisik Seven sambil menatap lurus ke arah Asmara, ia menangkup jemari Asmara dan mencium punggung tangan wanita itu.
“Kamu ngomong begini ke semua wanita kan? Hampir semua wanita muda di gedung ini menatapku dengan marah.” desis Asmara.
“Mereka datang sendiri, aku senggang ya kuladeni. Tapi kalau kamu… berbeda.”
“Mana aku percaya?!” sahut Asmara sewot sambil berusaha menggeser tubuhnya karena himpitan tubuh Seven sudah terasa sesak menekan dadanya.
“Boleh kucium?” ini pertanyaan berikutnya dari Seven, si pendosa.
“Hah?”
Berikutnya ia merasa tangan Seven sudah berada di leher belakangnya.
Asmara sampai tidak sanggup berteriak, bahkan berpaling, saat bibir Seven mendarat di bibirnya dengan eratnya dan mengaitkan lidahnya ke lidah Asmara. Semua bagaikan sekejap mata bagi Asmara. Tangan Seven menahan tengkuknya agar kepala Asmara tetap di posisinya, sementara tangannya menahan kedua tangan Asmara di belakang punggung.
Se sapan bibir pemuda di depannya ini begitu memabukkan, seorang professional kelas kakap. Ciumannya sangat intens dan tidak ragu-ragu. Menandakan tingginya hasrat di dalam dirinya.
BRAKK!!
Tubuh Seven tiba-tiba tersentak ke belakang dipaksa menjauhi Asmara, pegangan tangannya terlepas, Asmara terbebas dari ciumannya yang memaksa.
Berikutnya yang Asmara sadar, Andra sudah di depannya. Ia dalam posisi menekan tubuh Seven ke dinding, dan salah satu tangannya ada di leher pemuda itu, mencekiknya dengan erat.
“Aduh, siapa sih yang bilang-bilang saya ada di sini?” keluh Seven. dengan nada malas
“Jangan ganggu punya saya…” geram Andra mengancam Seven.
“Yang mana yang ‘punya saya’? Dia? Memang dia punya bapak?” desis Seven dengan senyum licik.
“Kamu bisa memiliki semua perempuan di dunia, kecuali yang ini. Mengerti?!”
“Atau apa?” tantang Seven.
“Atau kita duel.”
“Yakin sekali dia memilihmu Pak? Dia tidak melawan atau berteriak waktu saya cium.”
“Saya tidak memiliki kesempatan untuk teriak!” protes Asmara.
“Tapi enak kan?” kekeh Seven.
Asmara diam saja. terus terang saja itu ciuman paling enak yang pernah ia rasakan.
“Tapi saya tidak suka!” sahut Asmara kesal.
“Enak tapi tidak suka. Hipokrit…” ejek Seven.
“Pokoknya…” Andra mengeratkan cengkramannya, sampai Seven sulit bernafas, “Jauhi Asmara atau kamu berhadapan dengan saya.”
Lalu Andra menyentak tubuh Seven sampai punggung pemuda itu membentur dinding, lalu pria itu dengan agak kasar menarik lengan Asmara dan membawa wanita itu pergi dari sana.
“Huff…” Seven menghembuskan nafasnya karena lega Andra sudah pergi, lalu membersihkan debu dari pakaiannya.
Ia berkacak pinggang sambil menatap ke arah patio.
Six ada di sana, duduk memperhatikannya. Entah sudah berapa lama wanita itu di sana, tapi perkiraan Seven, ia datang dengan Andra untuk menyergap. “Pengkhianat.” gumam Seven.
“Aku masih butuh hubungan baik dengan Pak Andra.” kata Six sambil menatap Seven tanpa ekspresi.
“Dalam rangka apa?”
“Karier kamu, Jay. Kamu harus berada di posisi Direksi,”
“Aku memiliki impianku sendiri Joline. Bukan hanya bekerja di balik meja. Dan perusahaan ini… terlalu berbau konspirasi untukku.”
“Terserah kamu. Kamu dilatih untuk mendampingi para petinggi, tapi ya ini hidup kamu, kamu bebas memilih… kakak.” Six tersenyum penuh arti lalu berdiri dan meninggalkan Seven untuk merenung di sana sendirian.
Dengan rasa dongkol Jay menatap punggung saudari kembarnya itu sampai menghilang masuk ke lift. “Yah, paling tidak aku sudah menang dapat ciuman daripada si duda monoton itu. Berikutnya rencana apa lagi yaaa…. sebelum mereka nikah nih.” kekehnya licik.
**
Andra menggandeng Asmara sampai ke parkiran mobil. Gandeng yang benar-benar berpegangan tangan. Asmara hanya menurut karena ia sendiri dalam keadaan shock berat.
Tapi di lain pihak, ada perasaan aneh yang menghiasi dadanya.
Perasaan ‘diinginkan’.
Dan yang menginginkannya, orang setampan Seven, yang secara usia bahkan lebih muda 10 tahun darinya.
Sejak lama ia digoda-goda para pria, termasuk Hector dan Dominic.Tapi menurut Asmara hal itu hanya bercanda.
Kini setelah bibir Seven mendarat di bibirnya… Asmara jadi berpikir, benarkah semua itu hanya bercanda? Setelah selama ini ia didoktrin oleh Adit,kalau ia ‘produk gagal’, tidak akan diinginkan siapa-siapa, orang mau dekat-dekat dengannya hanya karena orang tuanya, kini setelah kedua orang tuanya meninggal, Asmara adalah makhluk yang terbuang.
“Ya Ampun…” desis Asmara. Pipinya mulai merah karena malu.
“Ya Ampun, apa?!” dengus Andra sambil duduk di kursi pengemudi. Ia menatap Asmara sambil mengerutkan keningnya.
“Ap-apa yang terjadi barusan Pak?” tanya Asmara dengan mata membulat.
“Ibu hampir saja dimakan serigala. Itu yang terjadi.” kata Andra dengan nada kesal. “Kalau saja Six tidak memperingatkan saya, ibu sudah kehilangan kehormatan di atas atap!”
“Sampai begitu Pak?”
“Setiap sudut gedung itu adalah ranjang cinta Seven.”
“Masa sih Pak?! Lebay aja Pak!”
“Saya kenal Seven sudah lebih dari 10 tahun. Sejak dia masih SMP, magang di Beaufort mondar-mandir pakai baju putih biru, sampai kuliah juga part time di Beaufort, sampai sekarang dia jadi sekretaris, dan memang begitu tingkahnya!”
“Sejak SMP begitu tingkahnya?”
“Entah kapan dia kehilangan keperjakaannya tapi dia memang player sejati.”
“Wooooow… kenapa akhir-akhir ini saya serasa jadi bunga diantara kumbang ya?”
“Bangga?”
"Yaaaa... tidak juga, hanya kaget saja sih...” Asmara salah tingkah.
“Tahu begitu tadi tidak saya ganggu ya aktivitas kalian.” sindir Andra sambil mendengus kesal.
“Ah! Mawar Putih dan kue manis!”
“Hah?”
“Kata Jay, Bu Susan suka Mawar Putih dan Kue yang manis. Kita cari itu saja untuk buah tangan! Saya mau bikin janji bertemu beliau besok pagi. Masa kita bertemu Bu Susan ujug-ujug tangan kosong minta jadwal? Kan tak pantas Pak.”
Andra tertegun saat menyadari cepat sekali topik pembicaraan mereka berubah. Tapi apa boleh buat, Asmara kembali lagi ke mode sekretaris secepat kilat, yang memang jadi jobdesknya. Dan saat ini masih jam kantor.
Jadi dengan menghela nafas, Andra menyalakan mesin mobilnya dan menuju Mall terdekat untuk mencari hampers.
aahh, aku ralat.. yang KEREN ADALAH MADAM @Angspoer
yakin madam makannya hanya nasi dkk doank? canggih banget sumpah isi otaknya.... aku padamu madam.. @Angspoer