Akibat desakan dari sang mommy akhirnya Noah terpaksa menikah dengan Zoe adik tirinya. Noah menganggap Zoe sebagai adiknya sendiri bahkan, setelah menikah-pun Noah tetap mengatakan pada semua orang bahwa Zoe adalah adik bukan istrinya.
Pernikahan rahasia antara Noah dan Zoe dari publik ternyata membuat Zoe cukup sakit hati. Ia menaruh perasaan pada Noah yang ia anggap sebagai pria satu-satunya setelah sang daddy yang pantas di jadikan suami tapi, Noah tak pernah mengakuinya lebih dari gelar ADIK.
Apa yang akan Zoe lakukan? Mungkinkah ia akan selalu bersabar menunggu posisi barunya atau pasrah melepaskan Noah?!
....
Bagi yang baru baca cerita ini mohon baca dulu novel IMPOTEN HUSBAND.
Jangan lupa vote, like and komennya say, mohon kritik dan saran tapi dalam bahasa yang manusiawi ya😄
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon wilia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Teror yang sama
Pagi ini seperti biasa Noah mengantar Zoe ke sekolahnya. Keduanya masih terlihat baik-baik saja walau wajah tampan Noah terlihat di penuhi beban berat.
Bagaimana tidak? Semalaman ia tak bisa tidur nyenyak karena pusaka perjakanya terus bangun. Noah bahkan berendam air dingin berulang kali tapi, saat naik ke atas ranjang dan melihat Zoe yang tidur dengan pose menyesakan celananya, tentu ia kembali berendam.
Berbeda dengan Noah yang kusut, senyum Zoe justru lebih bercahaya dari biasanya. Zoe bukannya tak tahu penyebab wajah kusut Noah tapi ia hanya pura-pura polos.
"Kakak sakit?" Tanya Zoe menatap cemas Noah yang sedang mengemudi.
"Kalau sakit, ayo kita ke rumah sakit."
Noah menggeleng seadanya. Ia masih pusing akibat penyiksaan semalam dan sekarang ia benar-benar mengantuk.
Bibir Zoe menipis. Ia kembali melihat ke luar jendela puas dengan kinerjanya tadi malam.
"Terus saja kau lakukan seperti itu Zoe. Jika sudah tak tahan dia pasti akan melakukannya padamu," Batin Zoe tersenyum licik.
30 menit kemudian mereka sampai. Zoe turun dari mobil tapi tidak dengan Noah yang memang terlihat memijat pelipisnya pening.
"Kakak yakin baik-baik saja?" Zoe melihat dari jendela luar.
"Hm. Zoe pergilah masuk kelas!"
Zoe memutari body mobil sampai ke jendela di samping Noah. Pria itu membuka kaca jendela mobil tahu akan maksud sang adik.
Cup..
"Jangan lupa istirahat!" Peringat Zoe setelah berhasil mengecup sudut bibir Noah.
"Nanti pulang kakak tak bisa jemput. Pulang dengan Ximen tapi langsung ke apart, hm?"
"Baik, kak!" Jawab Zoe mengangguk segera berjalan menuju gerbang.
Noah menatap Zoe yang ingin berlari seperti biasa masuk ke area depan sekolah tapi, tiba-tiba ada motor yang masuk dan berhenti di sampingnya.
Zoe juga berhenti menatap intens motor pria itu sampai ia ingat kejadian tempo hari.
"Haven?" Tebaknya cepat.
Pria itu membuka helmnya hingga mata Zoe membelo jengah. Benar saja, Haven sudah tersenyum penuh arti padanya.
"Selamat pagi!"
"Lalu?" Tanya Zoe menaikan alisnya sinis.
Haven justru tersenyum kecil. Sikap ketus Zoe ternyata tak berubah.
"Jika ada yang mengucapkan selamat pagi maka jawabannya juga selamat pagi. Sudah belajar-kan?"
"Ck! Jangan ganggu aku," Ketus Zoe lalu berjalan meninggalkan Haven yang justru melajukan motornya pelan seirama dengan langkah Zoe hingga mereka beriringan.
Noah menatap tajam Haven tapi sayang, pria itu tak sadar akan keberadaanya disini. Tatapan Noah benar-benar tak berkedip menyorot interaksi Haven dan Zoe yang seperti sudah saling kenal tapi Zoe belum membuka diri.
"Tuan!"
Penjaga gerbang yang sedari tadi melihat mobil Noah tak kunjung bergerak muncul di jendela mobil.
"Tuan! Ada yang perlu saya bantu?"
"Hm. Tidak ada," Jawab Noah lalu melajukan mobilnya stabil dengan pikiran jadi kemana-mana.
Setahunya Zoe tak pernah punya teman laki-laki. Apalagi, selama ini Zoe selalu mengatakan siapapun yang dekat dengannya.
"Mungkin hanya kebetulan," Gumam Noah menepis berbagai pikiran buruknya tentang Haven.
Namun, sekuat tenaga ia berusaha tak memikirkan soal kedekatan Zoe dan pria itu tapi ia bertambah penasaran dan tak tenang.
"Tanyakan saja padanya."
Noah memelankan kecepatan mobil lalu mengeluarkan ponselnya. Ia menghubungi nomor Zoe hingga panggilan itu terjawab.
"Zoe!"
"Kau siapa?"
Deg..
Rahang Noah mengeras mendengar suara laki-laki yang menjawab panggilannya. Pikiran Noah sudah tak bisa di kondisikan sampai wajahnya menggelap.
"Dimana Zoe?" Geramnya hebat.
"Slow, bro! Zoe dia sedang.."
"Kembalikan ponselkuu!!!"
Suara pekikan Zoe terdengar kesal di seberang sana.
"Ini siapa? Pacarmu? Kenapa namanya.."
"Berikaan!!"
"Aku berikan tapi, panggil namaku dengan benar!"
"Jelek!"
"Ayolah!"
"Sialaan!!" Umpat Noah naik pitam.
Noah langsung mematikan panggilan itu dengan dada naik turun menahan emosi tiba-tiba saja rasa panas dan tak suka itu memenuhi dadanya sampai ingin sekali Noah menyeret pria itu pergi.
"Shitt!! Memangnya apa urusanku? Biasa teman sekolah seperti itu. Kenapa jadi emosi?" Racau Noah memukul kemudinya kesal.
Akan aneh jika ia marah-marah tak jelas pada Zoe padahal tak ada yang terjadi diantara mereka. Hanya bertengkar seperti remaja pada umumnya.
Tapi, kenapa harus marah? Tidak perlu sampai seperti ini, bukan?
"Tidak-tidak. Bagaimana jika lelaki sialan itu punya maksud jahat pada Zoe?! Jelas mereka tak boleh dekat. Zoe itu polos dan aku tak bisa membiarkannya di sakiti siapapun. Yah, itu alasannya," Gumam Noah menemukan penyebab rasa tak sukanya tadi.
Noah kembali fokus mengemudi dengan niat mantap menegur Zoe saat pulang sekolah nanti.
.....
Di koridor sekolah sana, Zoe di buat kesal mati-matian dengan Haven yang seenaknya saja mengambil ponselnya saat jatuh di depan tadi.
"Masih marah?"
"Jangan menyentuh barang-barangku sembarangaan!!" Geram Zoe berjalan cepat di depan Haven yang mengejarnya.
"Aku hanya bercanda."
"Itu tak lucu."
"Tapi, siapa My Love itu? Pacarmu?"
"DIAAM!!" Tekan Zoe terhenti dan berbalik menatap tajam Haven yang menyeringai.
Kemaren Zoe begitu acuh padanya dan sekarang Haven tahu bagaimana cara mendekati gadis bar-bar dengan cover polos ini.
"Kau sudah punya pacar?"
"Sudah. Dan jangan mendekatiku lagi!" Tekan Zoe menjentikan jarinya di depan wajah tampan Haven tapi pria itu justru langsung menggenggamnya.
"Kauu.."
"Aku antar ke kelas!" Enteng Haven mengenggam paksa tangan Zoe tak peduli akan pemberontakan gadis itu.
Para siswa dan siswi yang ada di koridor dan lantai bawah saling pandang bahkan mereka cukup terkejut saat Haven berani mendekati Zoe padahal sebelumnya tak ada yang bermental mengusik gadis emas keluarga Ming itu.
"Lepaass!!" Zoe ingin meninju tapi ia tahan karena citranya di sekolah ini sangatlah lemah lembut dan acuh.
Apa kabar jika satu sekolah ini tahu jika sikapnya bahkan kurang lebih dengan Ziochi yang terkenal badas dimana-mana.
"Lepass!! Sialan!!" Geram Zoe saat Haven membawanya masuk ke lift.
"Panggil namaku dulu!"
"Jelek!"
"Ok!"
Haven semakin mengeratkan genggamannya hingga emosi Zoe kian mendidih. Saat lift tertutup Zoe langsung melesatkan tinjuannya ke wajah Haven yang terkejut dengan serangan mendadak Zoe.
"Kau.."
Bugh..
Zoe menendang perut Haven hingga pria itu terhantam ke dinding lift. Dengan emosi yang belum usai itu, Zoe bersiap melayangkan satu bongkeman lagi ke pelipis Haven tapi sayang lift sudah terbuka.
Buru-buru Zoe memasang wajah lugu dan membenahi seragamnya yang sempat berantakan membuat Haven mematung.
Spesies macam apa ini? Pikirnya heran dengan Zoe.
"Pomey!!" Panggil Zoe pada sosok gadis yang selalu membawa cermin kecil berbentuk lolipop itu kemana-mana.
"Zoe?"
"Belum masuk-kan?" Tanya Zoe keluar dari lift tanpa peduli akan kondisi Haven yang masih terkapar di dinding lift.
Pomey terdiam menatap syok pada Haven. Pipi pria itu lebam dan jangan acuhkan darah di hidungnya.
"Haveen!!" Pekiknya berlari melewati Zoe yang mengernyit heran melihat Pomey sepanik itu.
"Haven! Haven apa..apa yang terjadi padamu?" Membantu Haven berdiri.
"Tidak ada. Hanya di terkam bunglon Amazon."
"Jangan membual!! Lihat wajahmu bonyok begini!"
Zoe acuh. Ia berjalan masuk ke kelasnnya dan melihat Lionger sudah duduk di kursi tepat di belakangnya.
"Zoe! Kau lihat Pomey?"
"Di lift. Kenapa?" Zoe duduk di kursinya.
"Ponselnya ketinggalan."
"O." Singkat Zoe lalu membuka tasnya.
Tapi, ia kepikiran soal Haven dan Pomey.
"Haven itu siapanya Pomey?"
"Dari mana kau tahu Haven?" Tanya Lionger heran. Pasalnya Zoe tak pernah mau tahu soal orang lain yang tak ada hubungan dengannya.
"Tidak ada. Tadi aku lihat mereka bertemu".
Lionger mengangguk lalu duduk di kursi samping Zoe. Wajahnya terlihat lebih serius dari biasanya.
"Haven itu sepupunya Pomey!"
"Sepupu?" Tanya Zoe terkejut. Jadi yang ia pukul tadi adalah sepupu sahabatnya sendiri.
"Yah. Kebetulan Haven satu kelas dengan pacarnya Pomey. Jadi itulah kenapa Pomey selalu berziarah ke sana."
"Ck! Kau pikir itu kuburan?!" Jengah Zoe tapi Lionger hanya cekikikan.
Namun, ia ingat satu kartu yang tadi ia temukan di meja Zoe.
"Oh iya. Ini kartu ucapan lagi. Sepertinya kau harus bawa pena kemana-mana setelah ini," Kelakar Lionger mengekuarkan sebuah kartu ucapan dari sakunya dan di berikan pada Zoe.
"Hanya kartu?"
"Tidak juga. Hadiahnya sudah-ku urus, tenang saja!" Jawab Lionger tersenyum konyol.
Zoe mengambil kartu itu lalu membukanya Mata Zoe menajam melihat kalimat ambigu dan misterius yang kembali tertera di sana.
TUNGGU SAATNYA. KITA AKAN BERKUMPUL
Zoe meremas kartu itu lalu menatap ke sekeliling tempat ini. Ia yakin, ini bukan lagi orang iseng atau sekedar menerornya tapi, ada maksud lain disini.
"Zoe! Kenapa?"
"Apa kau lihat orang yang meletakan ini di mejaku?" Tanya Zoe menatap Lionger serius.
"Tidak. Tapi, coba kau cek cctv kelas."
Tanpa banyak bicara lagi Zoe keluar dari kelas. Ia berjalan menuju tangga untuk pergi ke ruang monitor cctv dengan tangan terkepal erat.
Di tengah perjalananya Zoe merasa ada yang membuntuti. Ia tak menghiraukan itu sampai pada pertengahan tangga ia langsung berbalik menarik kerah seragam sosok itu dan di hantamkan ke dinding dengan posisi membelakanginya.
"SIAPA KAU??" Geram Zoe menekan kepala sosok itu kuat sampai suaranya terjepitnya keluar.
"Z..Zoe! Zoe ampun!"
Deg..
Zoe terkejut langsung membalikan tubuh sosok itu menghadapnya.
"Kau?"
.....
Vote and like sayang