Yuk follow dulu ig nya Othor
'@lady.nuree
__
RUBY ALDERIA SMITH, tak ada kebahagian dalam hidupnya
Di fitnah oleh saudara angkat memang tak akan pernah di hiraukannya, tapi sakit, sakit hati jika orang tuanya tak mempercayainya.
Hidup rumit seorang gadis membuatnya tegar menghadapinya, walau berat tapi tetap harus semangat demi kelanjutan hidup nya.
MARAH, tentu pasti marah ! ruby anak yang mandiri walaupun selalu manja kepada orangtua dan kaka nya, tapi Ruby tidak pernah menyusahkan keluarganya.
dengan mengingat masalalunya membuat Ruby ingin membalas perbuatan Agatha, tapi tidak untuk keluarganya karena Ruby terlalu menyanginya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon lady nuree, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
EPS 23
Dering ponsel di pagi hari membangunkan dia yang sedang terlena dengan mimpi indahnya, Ruby meraba-raba mencari keberadaan telpon nya yang sedari tadi terus berdering. Tercantum nama Kenzi disana dengan malas Ruby menggeser Ikon hijau di layar Hp nya.
" Eum ? ". Sapa Ruby tanpa mengatakan sesuatu
" Ada apa pagi buta begini meneleponku, mengganggu saja !". Sambungnya masih dalam keadaan terlilit selimut kesayangannya.
" Ua sorry, aku hanya memberi bahagia saja". Seru Kenzi kesal di seberang sana.
" Cepat katakan ".
" Dia sudah sadar by, apa kau tidak ingin melihatnya ?". Tutur Kenzi
" Hanya info ini aja ? tidak penting, sudah lah lakukan saja yang aku katakan kemarin ! aku mau lihat hasilnya aja, ngerti ?". Gerutu Ruby tidak suka kalau tidurnya di ganggu, menyebalkan. Batinnya.
Tutt,,,tutt,,tutt
Sambungan langsung di matikan oleh sepihak, Kenzi yang bahagia berubah jadi kesal karena ucapan dingin Ruby. Tapi itu sudah biasa untuknya, dia pun sadar bahwa Ruby memang tidak suka jika waktu istirahatnya di ganggu oleh siapapun terkecuali oleh Kaka angkatnya.
Semua anggota mafia Red Phoenix mengetahui semua itu termasuk siapa dirinya, karena kebaikan dan kebijaksanaan Lady nya mereka bersumpah untuk melindungi semua orang yang Lady sayangi.
Keberadaan Edward dan David pun mereka semua sudah mengetahui alasannya, kedua saudara itu sangat mereka nantikan kehadirannya untuk memperkuat organisasinya. Red Phoenix beranggotakan para jenius muda, tidak sembarang orang masuk ke dalam organisasi. Dia yang ingin bergabung pasti akan melewati tes yang begitu berat dan peraturan yang begitu ketat.
Kini David telah sehat bugar, selama dia di sana tidak pernah melihat bagaimana seorang Lady yang memimpin beribu anggotanya ini, dia hanya melihat kepercayaan nya saja di sana.
David melatih dirinya dengan keras setelah pulih dari masa kritis nya, Kenzi dan Lucky yang menatap bangga kepadanya. Tidak perlu bersusah payah mengeluarkan segenap tenaga mereka, toh dia nya sudah memiliki tekad yang kuat untuk membalaskan dendam nya.
Edward belum mengetahui kalau adiknya kini sudah berada di tangan Ruby, setiap saat Kakek jakson dan Edward mencari di setiap sudut kota untuk menemukan David, tapi sampai sekarang belum ada titik terang keberadaan jejaknya.
***
" Lumayan !". Ucap Ruby menatap sekeliling bangunan. Ya, sekarang Ruby berada tepat di depan perusahaan kakek jakson, dia tidak pernah berkunjung ke perusahaan milik kakek jakson
Ruby terus berjalan menuju Resepsionis yang berada di depan, setiap karyawan yang berlalu lalang di sana tidak ada satu orang pun yang tidak memperhatikan Ruby, semuanya menatap lekat keberadaannya tapi Ruby hanya acuh.
" Maaf, bisa bertemu dengan pemilik Perusahaan ini ?". Sapa Ruby sopan ke pada resepsionis yang berpakaian kurang normal menurut Ruby.
Sapaan Ruby sangat di acuhkan oleh mereka.
" Maaf mba, apa saya bisa bertemu dengan pak Jakson Abraham ?". Tanya Ruby sekali lagi dengan masih sopan.
" Maaf, dia sedang tidak berada di tempat,". Jawab Resepsionis 1 dengan malas.
" Apa sudah membuat janji dengannya ?". Tanya Resepsionis 2 kepada Ruby dengan dandanan menor nya.
" Belum ". Jawab Ruby
" Jika belum ada janji tidak bisa menemuinya, beliau orang sibuk". Sarkas Resepsionis 1 dengan nada sombongnya
" Pergi sana mengganggu saja dasar bocah !". Usir Resepsionis 2 keluar dari tempatnya.
" Bisa pinjamkan telpon nya, biar aku hubungi dia ". Ucap Ruby.
" Tidak dipinjamkan, memangnya ada urusan apa anak kecil seperti mu menemui bos kami ?". Nyalang resepsionis itu dengan melipatkan kedua tangannya di depan perutnya.
" Yasudah jika tidak bisa, anda sendiri saja yang menghubungi kakek Jakson, beritahu dia jika cucu nya datang berkunjung !". Seru Ruby menaikan satu alisnya.
" Cucu ?". Ucap resepsionis 1 mendekati Ruby.
hahahahahahah
Tawa kedua resepsionis itu mengundang semua karyawan yang ada di lantai bawah.
" Jangan bohong, bos kami tidak memiliki cucu, dasar pembohong !". Seru resepsionis itu dengan tawa mengejek.
" Dasar gadis murahan ". Ejek mereka berdecak pinggang.
" Sudah pergi, merusak pemandangan aja". Usir mereka sedikit mendorong bahunya dengan telunjuk.
" Siapa yang murahan ? Saya ?". Tunjuk Ruby pada dirinya sendiri, kelakuan mereka sudah sangat keterlaluan menurut ruby.
" Berkaca lah ! bukan aku yang murahan, tapi kalian ! mau kerja, apa mau manggung hah ?". Cerocos Ruby tanpa takut menghadapi mereka berdua. Mereka yang berada di sana hanya menahan tawanya.
" Lihat, baju kalian juga kurang bahan, apa tidak dingin ?". Sambungnya lagi.
Kedua resepsionis itu geram di hina didepan semua karyawan yang sedang menyaksikan,
" Dasar bocah sialan, itu mulut tidak makan kursi sekolah apa ! Sangat tidak sopan !". Marah Resepsionis 1
Plakkkkkkk,,, Pllaaakkk
Mereka menampar Ruby bergantian membuat tubuh Ruby terjatuh karena kuatnya tamparan dari mereka.
" Pergi sekarang juga, atau Satpam akan menyeret mu keluar dari sini". Teriak Resepsionis itu memanggil satpam.
" Seret dia keluar sekarang juga".
Sebelum mereka menyeret Ruby keluar, terdengar sura bariton menggema di sana. Terdengar suara langkah ter buru-buru membelah kerumunan.
" Apa yang sedang kalian lakukan disini hah ?". Suara Tegas terdengar di telinga mereka semua yang berada di sana.
Semua orang langsung berlari berhamburan ke tempatnya masing masing.
Jakson menuruni anak tangga di ikuti Edward yang kebetulan sedang ada pekerjaan di sana.
Ruby masih tertunduk di lantai dengan sedikit bibirnya sobek dan mengeluarkan darah, pipi merah terasa sangat panas karena bekas tamparan yang lumayan kuat.
"Ada apa ini, siapa dia?".Tanya Jakson menatap kedua resepsionis itu bergantian.
Edward hanya acuh melihat keluar cermin yang ada di sekelilingnya tidak peduli dengan keadaan sekitar.
" Maaf tuan, gadis itu membuat keributan disini, kami sudah menyuruhnya pergi dengan baik-baik tapi dia malah ngotot ingin bertemu dengan anda ". Seru resepsionis itu dengan sopan nya.
Jakson dan Edward mendengar ucapan dari resepsionis itu langsung mengalihkan pandangannya menatap ke bawah lantai yang berada tidak jauh dari mereka.
Ruby menengadahkan wajahnya menatap dingin ke arah mereka.
" Baby ". Teriak Edward memeluk Ruby dengan erat dan langsung membantu nya bangun, wajah Edward berubah menjadi sangat menyeramkan kala melihat kekasih hatinya seperti itu.
Jakson yang mendengar teriakan itu langsung menghampiri Ruby dengan khawatirnya.
" Sayang apa yang terjadi, ini wajahmu kenapa, ini juga kenapa bibir mu berdarah ?!". Tanya Jakson beruntun, Ruby mengalihkan pandangan matanya ke arah Resepsionis itu dengan mata berkaca-kaca.
" Siapa yang kelakukan ini hah?". Marah Edward menghampiri mereka dan menamparnya berulang kali sampai tubuh mereka terjatuh ke lantai.
Plaak,, plaak.
" Berani sekali kalian menyentuh dia dengan tangan kotor kalian ! ". Rahang Edward sampai bergetar menahan amarah nya.
" Maa,,,,aa,,,aff tuan kami tidak tau ". Bela mereka untuk dirinya sendiri.
" Kenapa tidak menghubungi Kakek jika kamu kesini sayang ?". Tanya Jakson mengelus rambut surai milik Ruby.
" Handphone Ruby ketinggalan kek, makanya tadi aku mau minjam telpon di sana tapi tidak dikasih, katanya tidak dipinjamkan !". Seru Ruby menunjuk meja resepsionis di belakang sana.
" Shh, kalian memang keterlaluan ! Dengar, mulai hari ini kalian saya pecat !". Sentak Jakson tak terima dengan perlakuan mereka kepada Ruby.
" Jangan pecat kami, tolong maafkan kami hiksss,,,hiksss". Permohonan mereka tidak di perduli sama sekali, Ruby tersenyum menang melihat mereka seperti itu dan di saksikan oleh kedua resepsionis. Dasar wanita licik ! batin resepsionis.
Mereka bertiga langsung pergi meninggalkan perusahaan hendak pulang ke mansion.
" Apa ini sakit ?". Tanya Edward mengolesi lukanya dengan hati-hati.
" Eum".
" Tidak biasanya datang ke perusahaan kakek, ada apa?". Tanya kakek Jakson
" Tidak ada ! Tadinya Ruby hanya ingin menghilangkan jenuh saja di rumah ! Tapi tadi itu, aah menyebalkan ! ". Gerutu Ruby memegang pipinya yang lumayan bengkak.
" Lihatlah, wajahmu lucu jika seperti ini baby". Ledek Edward
"Di mana yang lucu nya ka ? lihatlah jelek sekali !". Rengek Ruby menyenderkan kepalnya di pintu mobil sembari bercermin.
" Tetep cantik , ia kan dad ?". Edward menoleh ke arah Jakson yang berada di kursi depan bersama supirnya.
Jakson Menoleh ke arah belakang dengan menahan tawa melihat wajah bengkak Ruby seperti bakpaw yang masih dalam kukusan.
" Tetap cantik ". Jakson segera mengalihkan pandangannya lagi ke depan.
" KAKKEk". Teriak Ruby
hahahahahahahha
Mereka tertawa lepas melihat kelakuan Ruby yang seperti ini.
Edward meraih tangan Rub tapi segera Ruby tepis dengan sangat kasar
" DON'T TOUCH ME ".
|
Semangatt terus...