Danisa adalah istri Kaivan yang sangat menyayangi dan mencintai nya sehingga Kaivan selalu melakukan yang terbaik buat Danisa.
Kaivan selalu ingin membahagiakan istri nya itu, tapi Danisa tidak menyukai cara Kaivan memperlakukan dirinya yang menurut Danisa Kaivan terlalu over dan banyak bicara hingga Danisa ingin membuat Kaivan menceraikan nya.
Sehingga Kaivan meminta bantuan kepada salah satu dokter cantik untuk membantu dirinya terlepas dari Kaivan.
Tapi kebersamaan Kaivan dan dokter cantik itu semakin dekat, dan membuat sikap Kaivan juga berubah hingga membuat Danisa merasa cemburu dan menyesal dengan apa yang sudah dia lakukan.
Apa Kaivan akan memaafkan Danisa atau malah memilih untuk berpisah kuy kita simak selanjut nya di karya aku.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon 💫✰✭𝕸𝖔𝖒𝖞𓅓 𝕹𝕷✰✭🌹, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kaget
Waktu terus beranjak, Danisa sudah ngga sabar ngin segera jam makan siang, dirinya sudah membuat janji mau bertemu dengan Dinda di sebuah cafe.
"Sebentar lagi, aku akan bicara dengan Dinda biar aku hidup tenang dengan mas Kaivan." Gumam Danisa sambil membereskan meja kerja nya.
Danisa bangun dari duduk nya lalu memandang jam dinding yang ada di ruangan nya.
Seandainya hubungan ku kembali baik dengan mas Kaivan, aku akan segera menyelsaikan pekerjaan ku di sini dan kembali ke kota xxxx dimana aku dan mas Kaivan bersatu."
Danisa terus mengembangkan senyuman nya sambil mengenang masa-masa dimana dirinya dan Kaivan hidup bahagia.
"Berangkat sekarang saja lah biar aku yang menunggu dia saja." Gumam Danisa lalu pergi meninggalkan ruangan nya menuju tempat yang sudah di janjikan dengan Dinda.
Dinda mengendarai mobil nya ke arah Cafe yang sudah di janjikan dengan Dinda.
Hati nya sangat bahagia sekali seperti yang di rasakan oleh Kaivan, mereka berdua seperti orang yang pertama jatuh cinta satu sama lain nya.
Sedangkan Kaivan kini sedang menunggu Dinda keluar dari kantor untuk siap-siap mengantarkan Dinda ke sebuah cafe.
Sama seperti Danisa istri nya, Kaivan pun terus menyunggingkan senyuman nya, dirinya benar-benar tidak bisa lepas dari Danisa.
Danisa sudah menjadi candu buat dirinya hingga dirinya tidak bisa lagi berpaling kepada wanita mana pun, bahkan kepada Dinda yang selalu menemani nya setiap hari.
Dari pandangan pertama Kaivan memang sangat mencintai Danisa hingga Kaivan sudah berjanji kepada dirinya sendiri apa pun yang terjadi dirinya akan selalu bersama dengan Danisa.
********
Dinda yang masih di dalam ruangan nya melihat jam yang ada di pergelangan tangan nya.
"Baiklah, sekarang waktu nya kita ketemu dan bicara berdua Danisa, jangan bilang kalau kamu akan membatalkan rencana awal kamu untuk menjauh dari mas Kaivan." Gumam Dinda lalu pergi ke luar dan menghampiri Kaivan yang sudah menunggu nya di dalam mobil.
Kaivan yang melihat Dinda menghampiri nya langsung keluar dan membuka kan pintu untuk Dinda.
Dengan wajah yang sedikit kesal, Dinda masuk ke dalam mobil dan langsung duduk tanpa mengucapkan terima kasih seperti biasa nya.
Dinda masih kesal karena semalam harus mendengar de sa han Kaivan di saat bercinta dengan Danisa.
Kini Dinda sudah berada di dalam mobil bersama Kaivan. "Mas, kamu cukup antar aku sampai depan cafe saja ya, kamu tolong bawain aku berkas di rumah di atas meja depan, tadi pagi ketinggalan dan butuh untuk nanti setelah makan siang."
Dinda harus menahan rasa kesal nya di depan Kaivan dan juga di depan Danisa nanti.
Sebenar nya Dinda sengaja meninggalkan berkas nya agar Kaivan tidak tahu kalau pertemuan siang ini di cafe bersama Danisa.
"Baik." Hanya satu kata yang keluar dari bibir Kaivan.
Kaivan tidak ingin banyak bicara lagi dengan Dinda karena Kaivan tahu kalau Dinda menyukai nya karena banyak bicara.
Kaivan pun melajukan mobil nya menuju cafe yang sudah di pesan oleh Dinda.
Sepanjang perjalanan Kaivan hanya terdiam, di pikiran nya hanya ada Danisa istri nya seorang.
"Kenapa aku seperti orang yang lagi jatuh cinta ya." Gumam bathin Kaivan sambil fokus mengemudi.
Entah kenapa semenjak kejadian malam tadi, wajah Danisa terus hadir dalam pikiran nya.
Dinda ikut diam dan sesekali melirik kearah Kaivan, "Mulai hari ini kamu akan menjadi milik ku mas." Gumam bathin Dinda.
Danisa yang memang sudah sampai terlebih dahulu dia langsung memesan makanan da minuman kesukaan nya.
"Aku makan duluan saja deh, syukur-syukur Dinda datang nya setelah makanan ku habis." Gumam Danisa.
Danisa menunggu sambil menyantap makan siang nya tanpa ada perasaan apa pun, yang ada hanya perasaan bahagia di hati nya.
Mobil Dinda sudah berada tepat di depan cafe, Dinda sengaja tidak menyuruh Kaivan untuk masuk ke pelataran parkir karena takut Kaivan melihat mobil nya Danisa.
"Mas, aku turun di sini saja, kamu langsung balik ke rumah saja, kunci rumah nya di tempat biasa." Ucap Dinda yang memang dia suka menyimpan kunci nya di bawah pot bunga kesayangan nya.
"Oke." Jawab Kaivan dengan singkat.
Dinda turun dari mobil dan langsung masuk ke dalam cafe mencari sosok Danisa.
Kaivan memutar balik mobil nya lalu pergi meninggalkan cafe.
Dinda melihat Danisa yang sedang menikmati makan siang nya sendirian, sebenar nya hati Dinda kesal dan sangat emosi karena suara yang dia dengar semalam, tapi dirinya harus profesional aga Danisa mengutarakan maksud dan tujuan nya saat ini.
"Hai Nis." Sapa Dinda sambil melambaikan tangan nya.
"Hai Din, ayo silahkan duduk, kamu mau pesan makan dulu atau bagaimana?" Tanya Danisa.
"Kita bicara sambil makan saja, kebetulan tadi di jalan aku sudah pesan via telepon."
Dinda memang sering makan di Cafe tersebut, sehingga mereka sudah mengenal Dinda hingga Dinda bisa memesan makanan via telepon.
"Nah makanan ku datang." Ucap Dinda ketika melihat seorang pelayan cafe membawa kan makanan ke meja nya.
"Selamat menikmati makan siang nya non Dinda." Ucap pelayan yang sudah mengenali nya.
"Enak ya kalau sudah kenal dengan orang yang ada di cafe ini, begitu datang sudah di sediakan." Ucap Dinda.
"Karena aku sudah berlangganan di sini dan mereka juga sudah kenal dengan aku." Jawab Dinda.
Mereka berdua pun menikmati makan siang nya, Danisa yang memang terlebih dulu menikmati makan siang nya, maka dia selesai duluan.
"Ada apa kamu ngajak aku bicara empat mata siang ini?" Tanya Dinda penasaran.
"Aku minta sama kamu jangan terlalu dekat dengan mas Kaivan, aku tahu kamu mneyukai nya kan?"
Dinda yang mendengar ucapan dari Danisa hanya tersenyum smirk, dia sudah menduga nya.
"Kenapa? Bukan kah kamu yang menginginkan nya? Bukan kah kamu yang meminta sama aku untuk mendekati mas Kaivan? Bukan kamu sendiri yang bilang kalau kamu ingin berpisah dari mas Kaivan? Jadi aku harus merayu nya sampai mas Kaivan benar-benar masuk ke dalam pelukan ku, dan asal kamu tahu sedikit lagi aku akan mendapatkan nya, tapi kamu malah menggagalkan rencana kamu sendiri." Ucap Dinda dengan sangat jelas.hingga seseorang yang berada di belakang mereka mendengar nya dengan sangat jelas hingga dirinya kaget dan menjatuhkan tas yang sedang dia pegang.
Danisa dan Dinda kaget sehingga dengan refleks mereka langsung melihat ke arah suara yang terjatuh.
Sungguh kaget Danisa melihat siapa yang ada di hadapan nya kini hingga Danisa merutuki dirinya sendiri.