NovelToon NovelToon
Jerat Kakak Angkat

Jerat Kakak Angkat

Status: sedang berlangsung
Genre:Beda Usia / Cinta Terlarang / Playboy
Popularitas:506.2k
Nilai: 4.9
Nama Author: Titin

Memiliki dua kepribadian yang bertolak belakang membuat Alvaro terjerumus dalam kesalahan besar. Sayangnya lagi kesalahan yang dia lakukan bukan dengan orang lain, melainkan dengan adik angkatnya sendiri.
Menyadari kesalahannya Alvaro berusaha lepas dari jerat yang menyiksa itu. Tapi sayang perasaannya terlanjur dalam. Lalu bagaimana dengan Irene, adik angkatnya yang menjadi korban kepribadian gandanya. Mungkinkah Irene merasakan perasaan yang sama. Untuk cerita setengahnya baca kelanjutannya ya...

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Titin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Part 24

Alvaro mungumpat dalam hati. Kenapa selalu begini. Saat bermesraan dengan orang lain, bayangan Iren tiba tiba saja datang. Membuat dia kehilangan hasratnya. Yang lebih parah, perasaan jijik pada lawannya tiba tiba datang.

"Maaf." ujarnya sembari memijit pelipisnya. Ada apa dengan hatinya, kenapa dia seperti ketergantungan dengan sosok Iren. Bahkan menyentuh Tery juga dia tak mampu.

Seperti saat ini, tiba tiba aroma tubuh Tery membuatnya mual. Parfumnya tercium begitu pekat dan menyengat.

"Uhuk!" Alvaro menutup mulutnya, lalu berlari kekamar mandi.

Alvaro membasuh mukanya dengan air berulang kali. Lalu menyugar rambutnya dengan kasar.

Dengan sorot mata tajam, dia menatap pantulan wajahnya sendiri di depan cermin. Tiba-tiba terdengar ketukan halus di pintu kamar mandi.

Tok..!

Tok...!

"Varo, kau tidak apa apa." tanya Tery, dari luar pintu.

"Hmmm."

"Baiklah aku tunggu diluar."

"Hmmm."

Alvaro kembali mengusap kasar wajahnya. Setelah cukup lama menatap wajahnya sendiri pada pantulan cermin, barulah dia keluar dari kamar mandi.

Tery menatap Alvaro dengan tatapan khawatir. Bukan karena sikapnya, tapi karena perasaan lelaki itu yang sudah berubah. Mungkin karena mereka terlalu lama berpisah, hingga mengikis rasa yang ada.

Biasanya, lelaki itu selalu agresif saat di dekat Tery. Dia tak pernah bisa bila tak menyentuh Tery. Tapi sekarang, dia bahkan sengaja tidur di luar rumah, seolah sengaja menghindar.

Alvaro berdiri di depan Tery, menatap wajah gadis itu lekat lekat. Dia ingin memastikan, bahwa perasaan jijik oleh sentuhan Tery sudah hilang.

Tapi baru saja wanita itu menggerakkan tangannya ingin menyentuh Alvaro. Lelaki itu tiba tiba merasa mual.

"Tery, kau pulang saja. Aku ada pertemuan penting lima menit lagi." pinta Alvaro, membuat gerakan Tery mengambang di udara.

Wanita itu menatap Alvaro dengan tatatan tak rela. "Apa tidak bisa aku tunggu saja disini?"

"Ini akan lama, aku tidak tau kapan selesai. Lagi pula akan repot bila kau menunggu di sini. Itu mengganggu konsentrasi ku." sahutnya

Tubuh Tery terlihat layu seketika. Padahal dia masih sangat rindu dengan pria ini. Dia ingin menyentuh rahang tegas itu dengan jarinya, atau membelai dada bidang itu penuh cinta. Tapi Alvaro malah mengusirnya.

Dengan malas Tery bangkit dari duduknya, dia mendekat hingga tak ada jarak antara dia dan Alvaro.

"Baiklah aku pulang, tapi setelah itu kau harus cepat pulang. Aku akan menunggumu di rumah," ucapnya manja. Lalu dengan sedikit menjinjit, dia melabuhkan ciuman ke bibir Alvaro. Hanya sekilas, lalu berbalik pergi meninggalkan ruang kerja Alvaro.

Tubuh Alvaro menegang menahan mual di perutnya. Begitu Tery hilang di balik pintu, Alvaro buru buru masuk kamar mandi. Lima belas menit kemudian barulah dia keluar.

Pria itu berdiri di tengah ruangan, lalu menghidu aroma Tery yang tertinggal. Tak berselang lama, terlihat Alvaro menyempatkan pengharum ruangan ke seluruh sudut ruang. Baru kemudian dia kembali duduk di kursi kebesarannya.

Alvaro tidak benar benar ada pertemuan penting. Tapi dia memang sedang banyak pekerjaan. Kalau dia terus membiarkan Tery di ruangan ini, dia jelas tak bisa bekerja.

Menjelang malam Alvaro keluar dari kantornya. Pria itu meminta diantar ke psikiater, dokter Sidik yang rutin dia kunjungi dua bulan sekali.

Alvaro harus menunggu cukup lama, karena dia tidak membuat janji temu terlebih dahulu. Pria itu menuggu di ruang pribadi Dokter Sidik. Tapi tak masalah bagi Alvaro, sebab dia masih bisa menyempatkan diri memeriksa berkas yang baru masuk ke file pribadinya.

Alvaro menoleh saat pintu ruang pribadi Dokter Sidik terbuka. Terlihat pria paruh baya dengan rambut yang hampir delapan puluh persen memutih itu masuk kedalam ruangan. Lalu mengunci pintunya dari dalam.

"Tidak bisanya kau tidak buat janji," ujar pria itu. Dia mengambil tempat duduk di depan Alvaro.

"Aku juga tak berniat datang. Tapi aku sedang butuh dokter saat ini." ucap Alvaro. Pria itu mengernyit menatap Alvaro.

"Ada hal urgen rupanya."

Alvaro mendesah berat. "Begitulah." keluhanya.

Dokter Sidik tersenyum. Matanya yang teduh menatap Alvaro dengan seksama. "Masih gemar menghukum gadis gadis saat di ranjang?" tanya Dokter Sidik dengan ekspresi tenang.

Alvaro menggeleng. "Sudah hampir lima bulan ini aku tak lagi melakukan itu." akunya.

Dokter Sidik terlihat sedikit kaget. "Wah, itu terdengar bagus." ucapnya senang.

Alvaro tersenyum miring. "Harusnya begitu." keluhnya.

"Apa ada hal baru yang lebih parah dari menyiksa pasangan tidurmu?" tebak Dokter Sidik.

Alvaro mengangguk berulang kali, sembari menatap tajam Dokret Sidik. "Aku meniduri adik angkatku." Akunya lagi.

Bola mata Dokter Sidik membulat. Sepanjang pengetahuannya Alvaro tidak akan melakukan hal itu.

"What?"

"Tidak hanya itu, aku terlalu terobsesi padanya. Dan sekarang aku tidak bisa melakukan hubungan intim dengan siapapun. Aku merasa mual saat tau wanita itu tertarik padaku." jelas Alvaro lagi.

Dokter Sidik tersenyum. "Ini lebih bagus tadi berita tadi." ucapnya senang.

"Tapi dia adikku?"

"Adik angkat, bukan kandung."

"Tapi status itu membuatku tak tenang."

"Lalu, saat menyiksa pasangan tidurmu. Apakah membuatmu tenang?"

"Aku tidak perduli, mungkin karena mereka tak ada hubungan denganku. Mereka penjual dan aku pembeli."

"Lalu apa yang ingin kau dengar dari aku."

"Tidak ada, aku hanya ingin curhat denganmu. Dan satu lagi, aku sangat mencintai Tery. Tapi kenapa saat kami bersentuhan aku juga merasa mual."

Dokter Sidik tampak berpikir. Lalu tersenyum. "Bagaiman kau yakin, kalau kau mencintai gadis itu."

"Tentu saja aku yakin, kau tau siapa Tery bukan?""

"Tapi perasaan itu terjeda cukup lama. Seperti halnya emas, perasaan juga bisa berkurang kadar karatnya."

"Tidak mungkin. Tery adalah satu satunya wanita yang pernah aku cintai."

"Kalau begitu siapa Iren si adik angkatmu itu di hatimu?"

Alvaro memejamkan matanya erat, mendengar nama Iren di sebut saja tubuhnya langsung bereaksi. Lalu perasaan apa yang ada untuk gadis itu. Dia yakin hanya sebatas rasa ketertarikan biasa.

"Kau saja terlihat bingung dengan perasaanmu sendiri."

"Tidak, aku tidak bingung. Dia hanya teman di atas ranjang. Itu saja."

"Oke baiklah, itu berarti tak kan menjadi masalah untuk mu. Kalau nanti dia menghangatkan ranjang pria lain kan?"

Brak!!!

Alvaro mengebrak meja berbahan kayu jati di depannya, tanpa sengaja. "Aku akan membunuhnya." ucapnya dengan kilatan amarah di sorot matanya.

Dokter Sidik tersenyum. Lalu mengangguk anggukkan kepalanya pelan. "Lalu bila suatu saat Tery jatuh cinta pada pria lain dan ingin menikahi pria itu. Apa kau siap?"

Alvaro terdiam sejenak. "Aku tak kan menghalangi, bagiku asal dia bahagia itu tidak masalah."

Dokter Sidik kembali tersenyum. "Begitu rupanya." ucapnya, lalu melihat jam di pergelangan tangannya.

"Hhh, waktumu sudah habis. Aku ada janji dengan pasien lain, dia sudah menungguku sepuluh menit yang lalu." ujarnya.

"Oke aku juga sudah mau pulang. Aku akan transfer upahmu." sahut Alvaro, lalu beranjak lebih dulu meninggalkan ruang pribadi Dokter Sidik.

Di tengah perjalanan menuju rumahnya, Alvaro mengingat ucapan Dokter Sidik. "Oke baiklah, itu berarti tak kan menjadi masalah untuk mu. Kalau nanti dia menghangatkan ranjang pria lain kan?" Mengingat kalimat itu, jemari Alvaro mengepal erat.

"Hhh! Sial!" umpatnya geram.

"Ke apartemen pak." titahnya tiba tiba. Supirnya terlihat sedikit bingung tapi kemudian dia berbalik arah. Sesuai intrupsi Alvaro.

Bersambung

1
Anne Siregar Siregar
kenji atau Rey????
Anne Siregar Siregar
gila alvaro🤭🤭🤭
Itha Fitra
di ajak nikah,msih di pertimbangkan .di ajak kawin oke" aja,gk pke mikir
Itha Fitra
pergi ke LN cepat bnget y,serasa pergi ke kampung sblh.holang kaya mah bebas
Itha Fitra
kirain mau mnyatukan iren ama alvaro,sblm dia tunangan
Itha Fitra
pasti kakak sulung iren si glen yg menculik iren
Itha Fitra
siap " aja kau varo,khilangan gadis yg kau buntingin.
Itha Fitra
mana orang bayaran si tery ya?
Itha Fitra
knp iren gk jujur sih,ama alvaro?
Itha Fitra
hrs ksih tahu lah,biar dia gk make lu dg kasar lg.apapun yg akan terjadi,lu hrs siap menerima resiko ny
Itha Fitra
knp ortu varo ribut,aplg ibu ny sampai pingsan?
Itha Fitra
laki" penjahat kelamin
Itha Fitra
udh tau sisi buruk varo,msih mau di jd kn suami? mikirrrrrr..
Itha Fitra
varo ny egois
Itha Fitra
knp alvaro gk trus terang aja sih,ama ortu ny.bhw dia suka ama iren n udh merawanin adik angkat ny itu.supaya ortu ny cepat mnghalal kn kedua anak ny itu
Itha Fitra
hilda mau besuk iren,sdng kn iren blm mnyebut kn dia tinggl dmn
Itha Fitra
mama ny alvaro jg aneh,udh tahu tery ada hubungan dengan alvaro.knp di suruh tinggl satu atap? budaya bebas di LN di bw masuk ke dlm negeri
Itha Fitra
s'moga saja ibu alvaro sgera tahu,perbuatan kedua ny.sblm ibu ny pergi ke LN
Itha Fitra
klu hny sekali melakukan hubungan intim,itu nm ny khilaf.klu udh berkali" nm ny ketagihan
Itha Fitra
nasehat ibu angkat,atau calon ibu mertua? gmn klu iren kburu hamil,apa nasehat ibu masih berlaku?
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!