NovelToon NovelToon
ISTRIKU YANG MEMILIH PERGI

ISTRIKU YANG MEMILIH PERGI

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / CEO / Nikah Kontrak
Popularitas:1.9k
Nilai: 5
Nama Author: Silvi Wahyu

"Aku tidak pernah menginginkan pernikahan ini."

Kalimat itu yang selalu dipegang Dirga sejak menikahi Kanaya karena wasiat kedua kakek mereka.

Bagi Dirga, Kanaya hanyalah perempuan yang terpaksa menjadi istrinya. Sedangkan bagi Kanaya, pernikahan itu hanyalah cara terakhir untuk menghormati orang yang paling ia sayangi.

Ia tidak pernah meminta cinta, tidak pernah meminta apa pun dari Dirga. Hingga pada akhirnya, perempuan yang selalu memilih bertahan itu memilih untuk pergi.

Dan saat itulah Dirga menyadari, ada satu hal yang tidak pernah ia duga, ia kehilangan....istrinya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Silvi Wahyu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kamu Menerimanya?

...****************...

Sebelum melanjutkan makan malam, suasana di meja bundar besar itu sempat dipenuhi obrolan-obrolan ringan. Sesekali terdengar tawa kecil dari Tama dan Lukman yang tengah mengenang masa muda mereka, sementara Laras dan Wina sesekali menimpali dengan cerita-cerita yang bahkan membuat Kanaya ikut tersenyum.

"Silahkan, selamat makan semuanya" ujar Lukman sambil mempersilahkan keluarga Pradipta menikmati hidangan yang telah tersaji.

"Terimakasih, Mas." jawab Tama sebelum mulai mengambil alat makan.

Makan malam pun dimulai. Di tengah suasana yang perlahan menghangat, hanya ada satu orang yang sejak tadi tidak terlalu banyak berbicara.

Dirga Atmajaya.

Pria itu tetap duduk dengan tenang sambil sesekali menganggukkan kepala ketika Tama atau Lukman mengajaknya berbicara. Namun, entah sejak kapan...pandangannya justru beberapa kali jatuh ke arah sosok yang duduk diseberang meja.

Kanaya Pradipta.

Perempuan itu tampak berbicara pelan dengan ibunya sesekali, lalu tersenyum sopan setiap kali di ajak bicara oleh Laras. Pembawaan yang begitu tenang, bahkan nyaris terlalu tenang untuk seseorang yang baru pertama kali di pertemukan dengan calon suaminya.

Hal itulah yang entah mengapa membuat Dirga sedikit mengernyit. Tidak gugup, tidak banyak bicara. Bahkan tidak sekali pun ia mencoba menarik perhatiannya. Seolah-olah pertemuan malam ini bukanlah sesuatu yang istimewa bagi Kanaya.

Tanpa disadari, tatapan Dirga kembali tertahan pada perempuan itu untuk kesekian kalinya.

Dan lagi-lagi, hal tersebut tidak luput dari perhatian Laras. Hanya Laras yang menyadari hal tersebut.

Wanita itu menghela napas pelan sebelum, tanpa menarik perhatian siapapun, ia menepuk pelan paha putranya dibawah meja.

Dirga yang sedang meneguk air sontak menoleh perlahan ke arah sang ibu.

"Jangan begitu lihatnya, nanti takut." bisik Laras pelan.

Dirga terdiam selama beberapa detik sebelum akhirnya menghembuskan napas panjang. Alih-alih menjawab, ia hanya kembali melanjutkan makan malamnya, membuat Laras nyaris menggeleng putus asa.

Sementara itu, suasana di dalam ruang VIP restoran mewah tersebut tetap terasa nyaman. Di luar jendela kaca...lampu-lampu kota mulai memenuhi malam, sementara alunan musik yang terdengar samar dari luar ruangan membuat percakapan di antara kedua keluarga terasa semakin hangat.

Setelah beberapa saat, Lukman akhirnya meletakkan alat makannya dan membersihkan sudut bibirnya menggunakan serbet.

"Kurasa sudah waktunya kita membicarakan tujuan utama pertemuan malam ini."

Kalimat itu sontak membuat semua orang yang berada dimeja terdiam.

Pandangan Tama dan Wina langsung tertuju ke arah Lukman, sementara Kanaya tanpa sadar menegakkan posisi duduknya. Bahkan Dirga yang sedari tadi tampak tidak terlalu tertarik akhirnya mengangkat pandangannya.

"Jadi...bagaimana, Tama?" lanjut Lukman. "Sepertinya putra dan putri kita sama-sama sudah setuju. Apa langkahmu selanjutnya?"

Tama tertawa kecil sebelum menggelengkan kepalanya.

"Tidak perlu terburu-buru untuk menikah, Mas. Mereka bisa saling mengenal lebih dulu, bukan?"

"Ck..." Lukman justru terkekeh pelan. "Itu malah terlalu lama. Yang ada nanti mereka berubah pikiran."

"Hahahaha..." Tama ikut tertawa mendengarnya. "Begitu, ya? Kalau begitu, aku terserah pada mereka saja maunya bagaimana."

Setelah mengatakan hal itu, pandangan Lukman perlahan beralih kepada putranya.

"Dirga, bagaimana menurutmu?"

Untuk sesaat, ruangan kembali dipenuhi keheningan.

Dirga ynag baru saja meminum air, tampak terdiam sebelum akhirnya menjawab dengan nada datar seperti biasa.

"Aku ingin bicara empat mata."

Semua orang tampak sedikit terkejut.

"Kamu mau bicara empat mata dengan Kanaya?" tanya Laras memastikan.

"Iya."

Laras kemudian mengalihkan pandangannya kepada Kanaya yang terlihat sedikit terkejut mendengar permintaan tersebut.

"Kanaya, kamu ngobrol dulu dengan Dirga ya?"

Kanaya tersenyum kecil sebelum menganggukkan kepalanya pelan.

"Baik, Tante."

Tanpa mengatakan apa-apa lagi, Dirga meletakkan gelas yang baru saja di teguknya, lalu berdiri dari duduknya dan melangkah keluar dari ruang VIP.

Kanaya yang melihat hal itu perlahan ikut bangkit dari duduknya.

"Permisi."

Setelah berpamitan singkat, ia pun melangkah keluar mengikuti pria yang kini secara resmi di perkenalkan sebagai calon suaminya.

Pintu ruang VIP kembali tertutup, menyisakan empat orang tua yang saling berpandangan satu sama lain.

Laras menghela napas pelan sambil tersenyum canggung. "Aduh... maaf, ya. Dirga memang orangnya kaku sekali."

"Tidak apa-apa, Mbak Laras," jawab Wina lembut. "Mereka juga baru pertama kali bertemu. Wajar kalau masih canggung."

"Benar," timpal Tama sambil tersenyum kecil. "Lagipula, bukankah tujuan mereka keluar tadi memang untuk mulai saling mengenal?"

"Iya, benar."

...****************...

Dirga berjalan lebih dulu menyusuri lorong restoran tanpa mengatakan sepatah kata pun, sementara Kanaya mengikutinya beberapa langkah di belakang dengan tenang. Sesekali, beberapa pelayan yang berpapasan menundukkan kepala dengan sopan, tetapi hal itu sama sekali tidak menarik perhatian Dirga.

Pria itu terus melangkah hingga berhenti diarea balkon yang berada di ujung lorong. Angin malam yang berhembus pelan langsung menyambut keduanya, membawa serta gemerlap lampu ibu kota yang tampak begitu indah dari ketinggian.

Untuk beberapa saat, tidak ada satu pun dari mereka yang membuka suara.

Dirga berdiri dengan kedua tangan dimasukkan ke dalam saku celana, sementara Kanaya memilih berdiri disampingnya dengan menyisakan jarak yang cukup nyaman diantara mereka.

Entah mengapa, keheningan yang tercipta di antara keduanya terasa begitu aneh. Bagaimanapun, mereka hanyalah dua orang asing yang bahkan tidak mengetahui keberadaan satu sama lain.

Namun malam ini, mereka sedang berdiri berdampingan untuk membicarakan kemungkinan menghabiskan sisa hidup bersama.

Akhirnya, Kanaya yang lebih dulu memecah keheningan.

"Anda mengajak saya kesini untuk bicara, kan?"

Dirga perlahan mengalihkan pandangannya dari hamparan lampu kota di hadapannya, lalu menatap perempuan disampingnya untuk pertama kali malam itu.

"Kamu menerima perjodohan ini karena terpaksa?" tanya Dirga tampa basa-basi

Kanaya tampak sedikit terkejut mendengar pertanyaan itu. Namun, keterkejutan tersebut hanya bertahan beberapa detik sebelum ekspresinya kembali tenang seperti semula. Ia mengalihkan pandangannya ke arah taman kecil di bawah balkon sebelum menggelengkan kepala pelan.

"Tentu saja tidak."

Dirga menoleh sekilas. "Apa karena permintaan terakhir kakekmu juga?"

"Ya. Itu salah satunya."

Jawaban singkat itu membuat Dirga kembali memalingkan wajahnya ke arah hamparan lampu kota yang mulai menyala di kejauhan. Kedua tangannya di masukkan ke dalam saku celana, sementara embusan angin malam sesekali membuat ujung rambutnya bergerak pelan.

"Bagus," ucapnya datar. "Kalau begitu, kita tidak perlu membuang banyak waktu."

Kanaya mengernyit kecil. "Maksud Anda?"

Dirga menghembuskan napas panjang, seolah sedang mengumpulkan kesabaran untuk mengatakan sesuatu yang sejak tadi sudah di susunnya di dalam kepala.

"Aku hanya ingin memastikan satu hal. Jika pernikahan ini benar-benar terjadi, jangan berharap terlalu banyak dariku."

"Aku tidak akan mencampuri hidupmu, dan aku harap kamu juga melakukan hal yang sama," lanjut Dirga tanpa menatapnya. "Dan satu hal lagi..."

Untuk pertama kalinya sejak mereka berada dibalkon, Kanaya benar-benar memusatkan seluruh perhatiannya pada pria di sampingnya.

"Aku masih memiliki seseorang yang penting dalam hidupku, dan aku tidak akan pernah meninggalkannya."

Kalimat itu menggantung diudara selama beberapa detik. Dirga sempat menunggu reaksi yang menurutnya wajar...terkejut, kecewa, atau mungkin marah. Namun, alih-alih menunjukkan salah satu di antaranya, Kanaya justru menganggukkan kepalanya pelan.

"Hanya itu?"

Kali ini Dirga benar-benar menoleh. Tatapannya yang semula tenang berubah menjadi sedikit heran.

"Menurutmu itu hal yang sepele?"

Kanaya menggeleng kecil sambil menahan senyum tipis di sudut bibirnya.

"Tidak. Saya hanya berpikir syarat yang Anda ajukan ternyata lebih sedikit dari yang saya bayangkan."

Untuk pertama kalinya malam itu, ekspresi Dirga menunjukkan sedikit kebingungan.

"Dan..." lanjut Kanaya setelah jeda singkat, "...sejujurnya, saya sudah menduga Anda memiliki seseorang yang penting sebelum kita bertemu malam ini."

Dirga terdiam. Sementara Kanaya kembali mengalihkan pandangannya ke arah langit malam, ekspresinya tetap setenang saat pertama kali menginjakkan kaki di restoran itu, seolah pengakuan yang baru saja didengarnya bukanlah sesuatu yang perlu dibesar-besarkan.

"Bagus kalau memang kamu menyadarinya," ucap Dirga akhirnya setelah beberapa saat, suaranya terdengar datar dan nyaris tanpa emosi. Ia kembali mengalihkan pandangannya ke arah lampu-lampu kota yang membentang di bawah sana. "Jadi, jangan berharap lebih dariku."

"Baik."

Jawaban singkat itu membuat Dirga kembali menoleh. Entah mengapa, perempuan disampingnya selalu memberikan respons yang berada di luar perkiraannya.

"Ada satu hal lagi..." lanjutnya sembari menghembuskan napas panjang.

"Mari kita lakukan semuanya dengan cepat. Aku akan menikahimu hanya dalam waktu satu tahun, lalu setelah itu kita akan bercerai."

Kali ini, Kanaya benar-benar terdiam. Ia perlahan menoleh kearah Dirga, menatap wajah pria itu selama beberapa detik sebelum akhirnya terkekeh pelan, seolah baru saja mendengar sesuatu yang cukup mengejutkan tetapi juga sedikit lucu.

"Baiklah..." gumamnya sambil menganggukkan kepala kecil. "Sepertinya Anda memang benar-benar terpaksa menikahi saya."

"Memang begitu." Jawaban cepat itu membuat senyum Kanaya sedikit melebar.

"Kalau tidak, aku akan kehilangan segalanya yang sudah ku bangun mati-matian selama ini," lanjut Dirga tanpa bermaksud menyembunyikan apa pun. "Aku melakukan semua ini hanya untuk menyelamatkan orang-orang yang bekerja denganku. Jadi, jangan salah paham dan menganggap pernikahan ini memiliki arti lebih."

Kanaya menundukkan pandangannya sejenak. Entah mengapa, untuk sesaat ia justru merasa kasihan pada pria di hadapannya. Menjadi Dirga Atmajaya ternyata tidak seindah yang dilihat orang-orang.

"Begitu ya..." gumamnya pelan.

Angin malam kembali berembus di antara mereka, membawa keheningan yang sesaat terasa nyaman.

"Kalau begitu, kita lakukan saja seperti yang Anda minta," lanjut Kanaya sambil mengangkat wajahnya kembali. "Satu tahun bukanlah waktu yang lama."

Dirga mengernyit hampir tak kentara.

"Kamu menerimanya begitu saja?"

Kanaya mengangguk kecil. "Bukankah sejak awal kita sama-sama berada diposisi yang sulit? Bedanya, Anda berusaha menyelamatkan perusahaan dan orang-orang yang bergantung pada Anda, sedangkan saya..." Ia berhenti sejenak sebelum tersenyum tipis.

"Saya hanya sedang berusaha memenuhi permintaan terakhir Kakek saya."

Pernyataan itu membuat Dirga terdiam.

Untuk beberapa saat, pria itu hanya memandang lurus ke depan, membiarkan angin malam menerpa wajahnya yang sejak tadi terlihat begitu te gang. Entah mengapa, jawaban Kanaya terasa jauh lebih mengusik di banding jika perempuan itu marah atau menolak semua syarat yang baru saja ia ajukan.

Ia sudah menyiapkan berbagai kemungkinan sebelum datang malam ini. Kanaya menangis, marah atau setidaknya mempertanyakan mengapa ia harus menerima pernikahan yang bahkan telah ditentukan kapan berakhirnya.

Namun, tidak satupun dari itu terjadi.

Perempuan disampingnya justru menerima semuanya dengan begitu tenang.

Perlahan, Dirga mengalihkan pandangannya kearah Kanaya yang kembali menatap hamparan lampu kota di bawah sana. Wajahnya tampak biasa saja, seolah mereka baru saja membicarakan sesuatu yang tidak terlalu penting.

Untuk pertama kalinya malam itu, Dirga mulai menyadari satu hal. Kanaya ternyata sama sulitnya untuk di pahami.

Sementara itu, Kanaya sendiri hanya tersenyum tipis. Ia tidak mengetahui bahwa sejak beberapa menit yang lalu, laki-laki disampingnya diam-diam sedang berusaha memahami seperti apa sebenarnya isi kepala perempuan ynag akan menjadi istrinya itu.

1
Andi andi Melati
lanjut
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!