NovelToon NovelToon
Mama yang Terlupakan

Mama yang Terlupakan

Status: sedang berlangsung
Genre:Asmara / Anak Genius
Popularitas:7k
Nilai: 5
Nama Author: Lumisse

Genki Harto, pewaris tunggal konglomerat terkaya se-Asia, baru berusia tiga tahun. Tapi setiap malam, dia mengemas baju-baju kecilnya ke dalam buntalan kain usang dan berjalan keluar gerbang mansion.
"Genki mau cari Mama."
Tidak ada yang bisa menghentikannya — bukan pengawal, bukan pengasuh, bukan ayahnya sendiri, Rayhan Harto, CEO yang membuat seluruh dunia bisnis tunduk. Satu-satunya hal yang bisa membuat Genki berhenti menangis... adalah seorang perempuan biasa bernama Keira.
Keira Yanto. Anak angkat yang selalu dianggap rendah oleh keluarganya sendiri. Desainer muda yang terbiasa menelan kepahitan dalam diam. Perempuan yang tidak ingat apa yang terjadi padanya empat tahun lalu — satu tahun penuh yang lenyap dari ingatannya.
Tapi Genki tahu. Entah bagaimana, anak kecil itu tahu.
Dia menolak semua orang, kecuali Keira. Dia memeluk Keira seperti sudah mengenalnya seumur hidup. Dan saat Rayhan mulai menyelidiki masa lalu Keira yang hilang, kebenaran yang muncul jauh lebih mengerikan dari yang ia bayangkan:
Keira bukan siapa yang ia kira.
Genki bukan anak siapa yang semua orang sangka.
Dan orang-orang yang selama ini tersenyum di hadapan Keira... adalah dalang di balik segalanya.
"Kamu bilang aku cuma anak angkat? Lihat baik-baik siapa yang sebenarnya berdiri di depanmu."
Saat identitas asli Keira terungkap, dunia mereka semua akan terbalik.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lumisse, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 17

Bab 17: Wajah Tanpa Nama

Namun tangan yang berada di atas map mengepal pelan.

Rayhan tidak langsung meminta Gio membuka data klinik itu. Selama beberapa detik, ia hanya menatap map di meja, seolah kertas-kertas itu bisa berdarah jika ditekan terlalu keras.

Klinik psikiatri swasta di Bogor.

Tanggal pembayaran pertama: sehari setelah perkiraan Genki lahir.

Yanto sebagai pihak pembayar.

Tiga informasi itu berdiri berdekatan, terlalu rapi untuk disebut kebetulan.

"Buka," kata Rayhan akhirnya.

Gio menghubungkan ponselnya ke layar kecil di ruang kerja. Dokumen yang muncul tidak utuh. Banyak bagian ditutup hitam, beberapa baris hanya menyisakan tanggal, kode pembayaran, dan inisial pasien.

"Saya belum mendapatkan berkas medis," kata Gio. "Ini hanya jejak administratif dari pihak keuangan yang pernah menangani vendor lama."

"Cukup untuk awal."

Kevin berdiri di samping meja, wajahnya masih pucat. "Inisial?"

"K.Y."

Ruangan sunyi.

Keira Yanto.

Tidak ada yang mengucapkan nama itu keras-keras, tetapi semua orang mendengarnya.

Gio melanjutkan, "Pasien masuk dalam kondisi darurat psikologis. Ada catatan pendamping keluarga dari Yanto. Tidak ada detail diagnosis penuh, tapi ada kode terapi krisis dan pengawasan intensif."

Rayhan menatap baris tanggal itu.

"Berapa lama?"

"Catatan pembayaran rutin sekitar sebelas bulan."

Satu tahun kosong.

Rayhan merasakan rahangnya mengeras.

Kevin memegang sandaran kursi. "Sebelas bulan di fasilitas seperti itu, lalu keluarganya menulis studi mandiri?"

Gio menunduk. "Begitu catatan resminya."

"Siapa penanggung jawab?"

"Meilan Yanto menandatangani beberapa pembayaran awal. Fengky Yanto muncul di dokumen administrasi lanjutan."

Nama-nama itu membuat suhu dalam suara Rayhan turun. "Cari semua orang yang pernah bekerja di sana. Dokter, perawat, staf administrasi, sopir. Siapa pun."

"Baik, Pak."

Kevin menatap layar. "Ada catatan melahirkan?"

Gio menggeleng. "Tidak di dokumen ini."

"Tapi tanggalnya..."

"Masuk sehari setelah perkiraan Genki lahir," Rayhan menyelesaikan.

Kevin menutup mulutnya sebentar, seperti menahan kalimat yang terlalu menyakitkan.

Rayhan berdiri dan berjalan ke rak kecil di sudut ruang kerja. Di sana ada satu kotak arsip pribadi yang jarang disentuh orang. Ia membuka laci, mengambil map tipis berisi dokumen lama tentang Genki.

Saat pertama kali keluarga Harto menemukan Genki, bayi itu sudah melewati masa paling rentan. Ada catatan panti, kain kecil dengan nama Genki, dan tanggal lahir yang ditulis cukup jelas. Terlalu jelas untuk bayi yang katanya ditinggalkan begitu saja.

Rayhan meletakkan dokumen Genki di samping data Keira.

Tanggal Puncak.

Perkiraan kelahiran.

Pembayaran klinik.

Genki masuk panti.

Keira hilang dari catatan sosial selama hampir setahun.

Semua tanggal itu seperti batu kecil yang akhirnya membentuk jalan menuju tempat gelap.

"Ray," kata Kevin pelan.

Rayhan tidak menoleh. "Aku tahu."

"Kamu belum punya bukti."

"Aku tahu."

"Tapi kamu sudah hampir percaya."

Rayhan menatap tanggal lahir Genki.

"Aku sudah lama mencari wajah perempuan malam itu."

Kevin diam.

Malam Puncak bukan topik yang pernah mereka bicarakan dengan mudah. Kevin hanya tahu Rayhan bangun keesokan harinya dengan tubuh sakit, ingatan pecah, dan kemarahan yang dingin. Beberapa bulan kemudian, seorang bayi laki-laki ditemukan, dan tes darah keluarga Harto memastikan Genki adalah darah Rayhan.

Namun perempuan itu tidak pernah ditemukan.

Rayhan tidak tahu apakah ia melarikan diri, disembunyikan, atau dibuang oleh orang yang mengatur semua itu.

"Selama ini aku takut dia seseorang yang sengaja datang," kata Rayhan. "Lalu aku bertemu Keira."

Kevin menatapnya.

"Dia tidak ingat satu tahun hidupnya. Dia takut merepotkan orang. Dia memegang Genki seperti pernah kehilangan sesuatu, tapi tidak tahu apa yang hilang." Suara Rayhan makin rendah. "Dan Genki memilih dia sejak pertemuan pertama."

Gio menahan napas.

Kevin menutup mata sebentar. "Kalau benar, Keira bukan hanya korban Yanto."

"Dia korban malam itu juga."

Rayhan mengucapkan kalimat itu dengan tenang, tetapi tangannya menggenggam dokumen sampai ujung kertas melengkung.

Tidak ada kemarahan yang meledak. Rayhan bukan tipe orang yang membanting meja. Justru karena ia diam, Gio tahu orang-orang yang terlibat tidak akan aman.

"Apa langkahmu?" tanya Kevin.

"Aku butuh kepastian tanpa melukai dia."

"DNA?"

"Belum."

Kevin menatapnya tajam. "Ray."

"Kalau aku mengambil sampel tanpa izinnya sekarang, apa bedanya aku dengan orang-orang yang mengambil hidupnya tanpa bertanya?"

Kevin terdiam.

Kalimat itu memukul tepat.

Rayhan menutup map Genki. "Aku akan menunggu waktu yang tepat. Sementara itu, kita kumpulkan bukti dari luar dirinya."

Gio mengangguk cepat. "Saya akan mulai dari panti dan klinik."

"Jangan lupakan Puncak," kata Rayhan. "Cari staf villa lama. Cari siapa yang memasukkan minuman itu. Cari kendaraan Yanto. Cari hubungan Kiara atau Meilan dengan orang-orang di sana."

Kevin menoleh. "Kiara?"

"Aku belum tahu seberapa jauh dia terlibat."

"Dia adik Keira?"

"Adik angkat. Tidak ada bukti hubungan darah."

Kevin mengulang pelan, "Adik angkat."

Kata itu seperti pintu lain yang terbuka.

Jika Keira benar Sayang, maka keluarga Yanto bukan sekadar keluarga yang kurang adil. Mereka mungkin memegang seorang anak yang bukan milik mereka, menyembunyikan catatan asal-usulnya, lalu membiarkan hidupnya hancur.

"Aku ingin bertemu dia," kata Kevin.

"Belum."

"Aku tidak akan mengatakan apa-apa."

"Wajahmu akan mengatakan semuanya."

Kevin ingin membantah, tetapi gagal. Ia menatap lagi foto Keira di ponsel Rayhan. Perempuan itu tersenyum kecil, tidak tahu bahwa tiga laki-laki di ruang kerja tengah malam sedang menahan diri agar tidak menyeretnya ke pusat badai.

"Dia tahu tentang Genki?" tanya Kevin.

"Belum."

"Kalau benar dia ibunya..."

"Jangan lanjutkan."

Suara Rayhan sangat pelan.

Kevin berhenti.

Di luar ruang kerja, langkah kecil terdengar di koridor.

Rayhan langsung menoleh.

Pintu terbuka sedikit. Genki berdiri di sana dengan piyama biru, rambut berantakan, sambil memeluk buntalan kecilnya.

"Papa?"

Semua dokumen di meja tiba-tiba terasa terlalu berbahaya.

Rayhan bergerak cepat, menutup map dengan satu tangan. "Kenapa bangun?"

"Mimpi."

Rayhan menghampiri putranya, berjongkok. "Mimpi apa?"

Genki mengucek mata. "Kak Kei pergi."

Rayhan membeku.

Kevin menatap anak itu dengan napas tertahan.

"Kak Kei nggak pergi," kata Rayhan pelan.

"Besok jemput?"

"Besok jemput."

Genki memeluk buntalan kecil lebih erat. "Genki mau Kak Kei."

Rayhan mengangkatnya. Tubuh kecil itu hangat dan berat oleh kantuk. Saat Genki menyandarkan kepala di bahunya, Rayhan menatap dokumen di meja yang baru saja ia tutup.

Jika Keira benar perempuan malam itu, maka anak ini sudah menemukan ibunya sebelum semua orang dewasa menemukan bukti.

Rayhan membawa Genki keluar dari ruang kerja.

Sebelum pintu tertutup, ia berkata kepada Gio tanpa menoleh, "Besok pagi, mulai dari Puncak."

Gio berdiri. "Baik, Pak."

Kevin tetap di tempat, menatap map tertutup itu.

Untuk pertama kalinya, wajah tanpa nama dari malam hujan itu mulai memiliki satu kemungkinan.

Keira.

1
Diana Silaen
👍👍👍👍👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!