Nathan adalah seorang petani stroberi dengan pribadi yang taat dan takut akan Tuhan. Ia selalu berdoa agar segera menemukan seorang istri dalam hidupnya.
Hingga suatu hari ia bertemu dengan Bella, seorang penghibur pria hidung belang sehingga membuatnya sangat membenci dirinya sendiri. Ia merasa memiliki hidup yang berantakan, sehingga membuat Bella merasa tidak pantas untuk mencintai Nathan. Namun siapa sangka, Nathan hadir dengan ketulusan tanpa memandang masa lalu Bella.
Meski memiliki perasaan yang sama terhadap Nathan, Bella kerap dihantui rasa oleh bersalah jika ia bersama dengannya. Hal tersebut membuat Bella kerap mengalami konflik batin hingga memutuskan untuk menghilang dari kehidupan Nathan.
Namun, sejauh apa pun Bella pergi dan menghindarinya, Nathan selalu menemukannya kembali. Seberat apa pun cobaan yang Bella hadapi, Nathan selalu berusaha untuk meyakinkannya dengan segenap cinta yang dimilikinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Irma, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 24
"Tak perlu di jawab," Nathan mengangkat tubuh Bella dengan lembut, ia mengabaikan protesnya. "Tuan, sudah kubilang aku belum ingin berbaring."
"Kalau begitu duduklah di tempat tidur.”
"Tuan, pada saat kau membawaku, mengapa kau tak juga membawa baju-bajuku?"
“Aku sama sekali tak kepikiran soal itu, lagi pula baju-baju itu tidak cocok bila di pakai di sini. Istri seorang petani tidak cocok menggunakan pakaian mini seperti itu."
Nathan mendekatkan wajahnya ke arah Bella dan menatapnya dalam. “Dengar,” ucapnya dengan tegang, “Aku ingin memulai semuanya dari 0, dan aku akan memberikan apa yang kau butuhkan."
"Aku butuh baju sekarang."
"Baiklah," Nathan pergi ke koper tua yang sudah usang itu dan membukanya. Dia mengeluarkan bungkusan dan membawanya pada Bella.
"Untuk sementara kamu pakai ini dulu, setelah stroberiku siap petik dan bisa jual aku akan membelikanmu baju baru."
Membayar Madam beberapa waktu lalu, membuat Nathan tak bisa membelikan banyak baju untuk Bella, sehingga Bella harus bersabar menunggu sampai panen berikutnya.
Bella yang penasaran dengan bungkusan tersebut membuka ikatannya. Di dalamnya terdabat wol berwana abu-abu yang berantakan, dan ia menyadari itu adalah jubah usang, kemudian ada dua buah rok woolsey, satu coklat pudar, dan yang satu laginya berwarna hitam. Tak hanya itu, ada juga dua buah blus, yang satu itu mungkin dulu putih tapi sekarang hampir kuning dan yang lainnya dengan bunga biru dan merah muda pudar. Keduanya berkancing dan memiliki lengan baju cukup panjang untuk melewati pergelangan tangannya. Lalu Bella melihat dua buah topi yang senada dengan blusnya. Terselip sederhana di dalamnya ada dua kamisol sederhana, pantalet, dan stoking wol hitam, dan yang terakhir, Bella menemukan sepasang down-at-the-heels, sepatu hitam berkancing tinggi.
Bella menatapnya dengan tatapan tak percaya. “Apakah aku harus bersyukur dengan semua ini?"
“Aku tahu baju ini tak seindah baju-bajumu di tempat prostitusi, tapi aku mohon pakailah pakailah baju-paju peninggalan ibuku ini untuk ganti bajumu yang belum kering, paling tidak sampai aku panen dan memiliki uang, kita akan belanja baju yang kamu suka." Nathan meraba baju tersebut, lalu tersenyum sedikit.
"Aku mau pakai baju ini tapi, bolehkah aku ikut denganmu ke kebun? Aku bosan. Aku janji tidak akan merepotkan, aku sudah bisa jalan sendiri."
Nathan mengangguk setuju. “Boleh, tapi dalam satu atau dua minggu lagi. Aku kan memberimu tugas baru, agar kamu tidak bosan."
Seketika muncul sesuatu dalam benak Bella, namun sayangnya ketika ia hendak menanyakan hal tersebut Nathan sudah berada di pintu dan siap untuk kembali ke kebun.
Apakah pekerjaan rumah tangga? Tugas apa yang dia pikirkan? Memerah susu sapi? Memasak? mungkin Nathan akan mengharapkan dirinya untuk memotong kayu bakar dan membawanya, bersama dengan air dari sungai.
Rupanya Nathan hanya keluar sebentar, ia kembali dengan setumpuk kayu bakar.
"Tuan, saya tidak tahu apa-apa tentang pekerjaan rumah tangga atau pekerjaan petani."
Nathan menumpuk kayu dengan rapi di dekat perapian. "Benarkah kau akan melakukannya? Aku tadi hanya bercanda, aku hanya bermaksud mengajakmu ke kebun menemaniku."
"Aku tidak mau, jika aku hanya diam saja melihatmu bekerja. Ayo katakan aku harus apa? Memasak, mencuci, menyetrika, atau apa?”
Nathan mengambil sebagian kayu yang dia bawa dan menaruhnya di api. "Ya, kamu boleh melakukan yang ringan-ringan saja sampai kamu benar-benar pulih."
"Misalnya?"
“Bagaimana dengan 'tugas istri'?” Nathan menatap Bella dengan tatapan genit. “Untuk menyempurnakan pernikahan kita.”
Bella terkejut dengan kejujuran Nathan. “Baik, tuan. Aku akan melakukan apa pun yang kamu inginkan. Aku akan menghitung jam yang kau gunakan untuk merawatku sejak aku berada di sini.
“Maksudmu, kamu akan membayar itu dengan tubuhmu?"
"Ya, aku akan kembali ke tempat prostitusi untuk mengambil uangku di Madam."
"Tidak, kamu tidak akan kembali ke sana." ucap Nathan pelan.
"Aku akan kembali."
Bella bertekad harus mendapatkan uang miliknya dari Madam bahkan jika, ia harus mengeluarkannya dari kulit nenek tua itu, akan ia lakukan.
“Kamu mungkin telah mengeluarkan banyak uang untukku, dan aku sangat berterima kasih akan hal itu, aku akan selalu mengenang jasa baikmu. Tapi kamu tidak memilikiku sepenuhnya, aku akan mengembalikan uang yang kamu berikan pada Madam, setelah aku kembali dan meminta uangku padanya.”
Nathan mendengarkan Bella dengan sabar, ia merasa terlalu miskin dan tak bisa memberikan kehidupan yang layak untuk Bella, di bandingkan Bella hidup di tempat prostitusinya, sudah pasti kediamannya tidak ada apa-apanya, di tambah saat ini dia hanya memberikan pakaian seadanya untuk Bella yang terbiasa mengenakan sutra.
Nathan pikir dia sudah cukup banyak berharap kepda Bella, dan ia pun sudah melakukan kehendak Tuhan, tapi Bella punya rencana lain, rencana yang tidak sejalan dengannya.
"Kamu benar," ucap Nathan. “Aku tidak memilikimu, kau berhak menentukan arah hidupmu sendiri."
Malm harinya, mereka makan saling bersebrangan, Bella di tempat tidur dengan piringnya pangkuannya dan Nathan di meja makan. Satu-satunya suara di ruangan itu adalah gemerincing api dari perapian.
Bella menaruh piring di meja samping tempat tidurnya, ia gemetar hebat tapi masih bertekad untuk tidak berbaring, ia memperhatikan Nathan. Pria macam apa dia? Yang memasangkan cincin ibunya pada jari manisnya padahal dia bisa mendapatkan seorang perawan.
Akhir yang bahagia, kamu berhak mendapatkannya Bella.