Aku belum pernah bertemu atau pun berbicara dengan Komisaris di kantorku. Sampai kami bertemu di Pengadilan Agama, dengan posisi sedang mengurus perceraian masing-masing.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Septira Wihartanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ipar VS Ipar
Astaga itu mantan iparku!!
Orang yang pingsan itu mantan iparku yang menamparku waktu itu!
Felix dengan santai menghampiriku dan berdiri di sebelahku, “Masih aku ingat jelas tampang orang brengsek yang beraninya mukul perempuan macam dia,” katanya sinis sambil menatap mantan iparku yang masih pingsan dibaringkan di sofa ruang sekuriti.
Sekilas wangi Terre d'Hermès menggelitik hidungku. Wangi parfum khasnya. Pak Dimas juga memakai parfum ini, tapi wanginya jadi berbeda. Saat digunakan Pak Dimas, lebih berbau maskulin dan ceria. Tapi saat dikenakan oleh Felix wanginya jadi terkesan lebih elegan dan ‘pedas’.
Tapi ada bau yang asing...
“Kamu merokok?” tanyaku.
“Aku nggak merokok,”
“Kok bau rokok?”
“Itu dari si bang sat ini!” Felix menunjuk mantan iparku dengan dagunya. “Tadinya aku berhenti di depan ruang ATM karena ada laki-laki gede merokok di dalam gerai, kupikir brengsek kali merokok di dalam ruang tertutup berAC yang jelas-jelas ada tanda larangan merokok segeda Gaban! Lah dia ternyata bawa anak kecil juga di sana. Herannya anak itu pakai baju renang warna pink malam-malam. Kan Epic! Setelah kuperhatikan lagi... ternyata aku kenal dua-duanya,”
“Lalu apa yang terjadi?”
“Saat aku masuk, dia langsung menubrukku. Kalau dia tidak berbuat salah, ngapain panik menyerangku?” Felix mengomel sampai berapi-api, “Tak beres lah sudah! Tu orang kubanting sampai bentur mesin. Ih, gitu-gitu aku loh yang akan ganti kerusakan mesinnya! Penyok itu bang sat, lu orang mikir sampai situ nggak woy?!” ia meneriaki mantan iparku yang masih pingsan
Aku terkekeh geli mendengar logatnya yang tiba-tiba jadi campuran Chinesse.
Aku melingkarkan tanganku ke pinggangnya, lalu kupeluk dia dengan senyum di wajah. Senyum tanda kelegaan dan bersyukur yang amat sangat, “Makasih Sayang,” gumamku.
Ia menepis tanganku dengan lembut, “Jangan pegang-pegang nanti tegang,” bisiknya. “Udah solat tobat aku semalam,”
Tak Ayal aku jadi tertawa terbahak.
“Seharian aku berdiri terus. Asal buka ig ada tulisan Bucin, aku inget kamu. Liat masakan korea di jalan, aku inget kamu. Liat banner iklan Pantene, aku inget kamu. Padahal artisnya Anggun C Sasmi, kulitnya mirip sih coklat-coklat cappuchino. Ya aku merasa setengah gila lah! Solat aja yang banyak malem-malem,” dia berbicara dengan suara pelan sambil memperhatikan aktivitas di depan kami.
Coklat-coklat Cappuchino...
Kenapa aku jadi makin geli ya?
“Udah agak tenang dikit, eeeeh, ada WA. Makin tegang aku, dalam arti sebenarnya. Bisa-bisanya ponakan diculik. Banyak-banyakin ngaji dong Bu Cin,” dia masih mengomel.
Aku diam saja tak kutanggapi.
Karena menurutku dia mengomel karena dia merasa risih saat bersamaku. Bisa jadi dia mati-matian sedang menahan hasratnya atas diriku.
Pria yang menarik.
Adit pun selesai membuat laporan, Hani selesai diperiksa kesehatannya di salah satu klinik apartemen, kondisi stabil, dan Mantan Iparku dibawa ke IGD untuk diperiksa kesehatannya.
“Aku ngurusin... bongkahan sampah dulu,” gumam Felix sambil mengibaskan tangannya ke arah si mantan iparku.
“Mas Felix,” Adit menghampiri Felix, lalu mengangkat tangannya untuk menjabat tangan. Felix menangkap tangan Adit. “Terima kasih kami yang tidak terhingga Mas, Setelah istirahat dan mandi sebentar, saya akan menemani Mas Felix ke rumah sakit. Saya juga berencana memberikan keterangan polisi. Danrunya sudah siap Mas untuk ikut melengkapi laporan,”
“Ikut aja dulu Lix ke atas,” kataku.
Tapi Felix tak bergeming dan menatapku.
Lalu ia buang muka, “Aku tunggu di mobil aja.” Katanya kemudian sambil keluar ruangan. “Nanti kabarin ya Dit,” katanya dari kejauhan.
“Mbak Tya lagi berantem ya sama Mas Felix? Bukannya besok kita mau ketemu sama ortunya?” tanya Adit.
“Nggak berantem kok. Dia lagi perang batin.” Kataku sambil terkekeh geli dan menuju lift ke lantai atas.
**
Kami menunggu sampai tengah malam mengenai kabar terkini.
Hani juga diajak pergi oleh Adit sebagai saksi sekaligus korban.
Terus terang saja, aku tidak terlalu tahu pemeriksaan apa saja yang mereka hadapi sampai semalam ini. Kami malah khawatir dengan keadaan Hani. Anak sekecil itu harus pergi dari pagi sampai larut malam.
Tapi dari foto terakhir, Adit, Hani dan Felix malah lagi makan-makan di McD. Tampak wajah Hani yang belepotan eskrim sambil naik seluncuran plastik. Menandakan kalau kondisinya baik-baik saja.
“Jadi gini kronologinya Mah,” Adit tampak menjelaskan ke Tri perihal anaknya, Tri me-loud-speaker perbincangannya dengan suaminya agar kami semua yang dirumah bisa mendengar.
“Itu Mantan ipar Mbak tya ternyata sudah 3 bulan ini menyewa salah satu unit di apartemen ini untuk memata-matai Mbak Tya. Katanya kan Mbak tya ngekos di Tomang tuh, nah mereka ini mau nyari-nyari kosannya. Jadi tinggalnya kan harus di sekitar situ. Hati-hati loh Mbak!”
Aku langsung deg-degan mendengarnya.
Tri dan aku bertatapan dengan khawatir.
“Di... di apartemen ini Mas?” ulang Tri
“Iya di tower B! Kita kan tower A. Apa pindah apartemen saja kita?”
“Aku langsung beres-beres!” Desis Tri sambil langsung memberi kode ke sang mertua untuk membereskan semua baju-baju mereka.
“Jadi itu kejadian kebetulan saja, Pas kolam renang di buka, mantan ipar juga lagi berenang di sana. Ngeliat kamu dan Hani terus ingat kalau kamu kan istriku. Dia terus nunggu di samping tembok ruang sauna, jadi kesannya Hani masuk ke ruang sauna, padahal ke sebelahnya. Di ruang sauna kan tak ada CCTV. Habis itu dia bawa Hani ke unitnya di lantai 5. Pas malam dia ke ATM itu sebenarnya mau ambil uang buat ongkos mau mindahin Hani ke rumah mantan mertua Mbak Tya,”
“Tujuan dia nyulik Hani tuh apa, Dit?” tanyaku.
“Mau minta duit, Mbak,”
“Kurang ajar...”
“Tebak dia mau minta duit berapa?”
“berapa?”
“50 miliar,”
“(^(#&$*) (@)$&* @^^%@ ^%#^%$ &!!!” aku langsung mengeluarkan koleksi kata-kata kotorku. “Nyawa gue aje nggak segitu nilainya\, An-&$&^% ^%$ *%7$!!”
“Sabar Mbak, Sabaaar,” desis Tri sambil mengelus punggungku.
“Minta nggak pake mikir! Punya duit 50 miliar tapi nganggur, bisa-bisa lo didatengin petugas pajak terus diinterogasi KPK, mau lo bang sat!?”
“Marahnya ke beliau Mbak, jangan ke aku dong,” terdengar suara Adit yang geli.
“Benar juga kamu,” gumamku.
Aku emosi sih.
“Dia pikir karena Mbak Tya pacarnya Mas Felix jadi punya kali duit segitu,”
“Ya Memang punya, tebusan kok recehan,” terdengar suara Felix di sebelah.
Terdengar kekehan Adit, “Mbak Tya, kalau Mas Felix bukan calon iparku udah kulempar sendal kayaknya. Cangkem e Bekasakan, hahahahaha” (Mulutnya kurang ajar)
“Bukan cuma kamu yang bilang gitu, 3 perusahaan yang ngeluh sama,”
“Pernah kena santet nggak Mas?” tanya Adit ke Felix.
“Yang ada aku kena pelet Mbak mu itu,” balas Felix. “Pada beres-beres deh, habis ini pada nginap di rumahku aja, Mama papahku udah standby nih.”
salah satu dari mininovel madam yg paling aku suka.. 😍
sesuka itu aq pada karyamu thor