Akibat dijebak oleh musuh yang berkedok sebagai teman baiknya, Yura akhirnya menghabiskan satu malamnya dengan seseorang yang tidak dia kenal.
Tiga Minggu kemudian, Tante dan Om yang selama ini membesarkannya memaksa Yura menikah dengan pria tua yang pantas jadi ayahnya.
Yura tidak punya pilihan lain, dan menerima pernikahan itu. Setelah acara pernikahan itulah Yura bertemu dengan pria yang sudah tidur dengannya tiga Minggu lalu, sekaligus ayah dari anak yang ada dalam kandungannya. Seolah belum cukup membuatnya terkejut, pria yang sudah menanam benih dalam perutnya ternyata anak dari suaminya.
Bagaimana kisah Yura? Mampukah dia menemukan kebahagiaannya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon R.angela, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ceraikan Aku, Om!
Satu hari kedepannya, Yura sengaja tidak keluar dari kamar. Ada dua alasan hingga dia memilih tetap tinggal di kamar. Dia tidak ingin bertemu dengan Erlang, dan kedua dia tidak punya muka bertemu dengan Roy.
Roy pun membiarkan wanita itu melakukan apa yang dia mau, hingga hari kedua Yura masih tidak ingin keluar kamar, Roy yang mendapatkan informasi kalau dia tidak mau makan apapun yang disajikan oleh para pelayan, membuat Roy memutuskan mencari wanita itu.
Apa yang terjadi padanya? Roy yang harusnya berada dalam posisi menarik diri, dia yang terluka dibohongi oleh Yura. Tapi sedikitpun dia tidak bisa mengabaikan Yura.
Tok... Tok... Tok...
Yura menarik kepalanya, memperhatikan daun pintu yang baru diketuk seseorang yang ditebaknya adalah Titin.
"Pergilah, Tin. Aku gak lapar." pintanya lalu kembali meletakkan kepala di atas bantal. Sejak pagi Yura sudah minta pada pelayan itu agar jangan membawa makanan untuknya.
"Ini aku, boleh Om masuk?"
Sigap Yura bangun, berjalan membukakan pintu. Dia tidak menyangka kalau Roy akan berkunjung ke kamarnya.
"Ada apa, Om?" tanya Yura mencoba tersenyum.
Suasana kamar itu begitu gelap, hanya ada satu cahaya yang berpijar dari lampu tidur di dekat ranjang. Roy menatap wajah Yura yang sembab, lalu menekan saklar guna menerangi semua isi kamar itu.
Dengan begini, wajah Yura tampak lebih jelas lagi. Mata sembab, dan matanya bengkak dengan kantung mata di sana. Jelas kalau gadis itu kurang tidur. Roy mengulurkan tangan meminta Yura menyambut. Gadis itu menatap uluran tangan itu, lalu naik k wajah Roy.
Dengan gugup, Yura meletakkan tangannya di telapak tangan Roy. Pria itu menggenggam dan memapahnya ke tepi ranjang untuk duduk. Roy sengaja memilih duduk saling berdampingan, karena dia tahu kalau Yura akan malu menunjukkan wajahnya saat ini.
"Ada apa, Om? Apa Om ada perlu dengan ku?" tanya Yura dengan suara serak.
"Aku tahu kau berbohong. Kau tidak pergi ke rumah tantemu. Apa ada yang ingin kau ceritakan padaku?" tanya Roy yang berhasil membuat wajah Yura memucat.
Tangannya berubah dingin dan berkeringat dalam genggaman Roy. Sedikitpun dia tidak berani menoleh pada Roy.
Yura diam. Pasrah pada nasibnya. Seharusnya dia mengikuti kata hatinya untuk segera berkata jujur pada Roy di hari dia pulang ke rumah.
Dia sudah tahu kalau Roy bukan pria sembarangan. Pria itu punya akses untuk mengetahui keberadaan. Mustahil Roy hanya diam berpangku tangan padahal sudah dua hari tidak mendapatkan kabar darinya.
Yura masih menunduk. Dia kembali terjebak atas kebohongannya sendiri. Kalau sudah begini, dia semakin terlihat sangat jahat pada Roy. Apa kurangnya pria itu. Dia begitu baik sudah mau memaafkan kesalahannya dan kini kembali membohongi Roy dengan sengaja.
"Yura... Baiklah kalau kau tidak bersedia menjawab. Aku pikir setelah semua hal yang kita bicarakan, dan aku sudah memaafkanmu. Saat itu kau berjanji untuk tidak menyimpan rahasia apapun dariku."
Perkataan Roy mengandung sarat makna kekecewaan yang begitu besar. "Aku tidak akan memaksa. Om harap kamu bisa menjaga kesehatan mu. Kasihan anak yang ada dalam kandungan mu. Dia tidak bersalah, jangan siksa dia dengan tidak makan apapun," ucapnya lalu menghela napas panjang.
Melihat tidak ada tanda Yura akan berkata apapun padanya, Roy mengerti. Biarlah dia telan rasa pahit ini.
Roy bangkit, setelah menoleh pada wajah Yura yang masih menunduk. Namun, langkah Roy terhenti karena Yura tidak mau melepas genggaman tangannya pada Roy.
Ayunan tangan mereka menjadi jarak di antara mereka. Roy tidak memaksa menarik tangannya. Dia tahu kalau Yura saat ini ingin bicara dan dia akan menunggu.
"Om, aku mohon, ceraikan aku," desis Yura perih. Genggaman tangannya semakin menguat pada tangan Roy, gambaran perihnya dia harus mengatakan hal itu pada pria sebaik Roy.
"Cerai? Kau ingin kita bercerai?" Roy memutar tubuhnya dengan tangan masih saling bertaut.
Dengan anggukan lemah, Yura menahan tangis. Dadanya sakit meninggalkan pria sebaik Roy. Dia sudah mencoba mencintai pria itu, tapi tidak bisa. Hanya ada rasa sayang dalam hatinya.
"Kenapa kau ingin kita bercerai? Aku bahkan tidak memarahi mu atas semua kebohongan yang kau perbuat!" Suara Roy tampak naik satu oktaf. Dia bukan marah, hanya kecewa. Harga dirinya terluka.
"Aku tidak pantas menerima kebaikan hatimu. Aku seorang wanita murahan, pengkhianat! Aku pergi dengan seorang pria. Seseorang yang sangat aku cintai, tapi sama sekali tidak pantas untuk dicintai. Aku bahkan... Aku bahkan tidur dengannya," ucap Yura penuh rasa bersalah. Setiap dia merasakan perasaan bersalah pada Roy, maka dia akan mere*mas tangan pria itu.
Tubuh Roy hampir jatuh, dia berusaha sekuat tenaga untuk tidak mengangkat tangannya dan menampar pipi Yura. Tangis gadis itu membuatnya tidak berdaya. Yang bisa dia lakukan hanya menarik tangan yang sejak tadi bertaut dengan tangan Yura.
"Aku minta maaf, Om. Aku tahu sudah tidak pantas untuk meminta maaf pada Om. Aku sadar diri, terlalu egois dan tidak tahu malu. Berkali-kali membohongi, Om. Jadi, lebih baik talak aku, Om," Yura menangis terisak, menarik kembali tangan Roy dan membawa ke dadanya. Merasakan penyesalan yang sangat menyiksa ini.
"Kenapa kau lakukan itu? Mengapa kau tega, Yura?" terdengar lirih, dan itu karena hati Roy yang sudah tercabik.
Inikah takdirnya, menjadi pria kesepian yang selalu dijadikan pria buangan oleh wanita yang masuk dalam hidupnya?
Apa gunanya semua harta yang dia punya? Kekuasaan yang dia miliki kalau seorang wanita saja tidak betah di sisinya.
"Aku salah, Om. Aku tahu gak pantas bela diri. Itu lah sebabnya, lebih baik Om ceraikan aku saja," pintanya masih memegang erat tangan Roy.
"Apa dengan berpisah kau akan bahagia?" tanya Roy getir.
Yura segera menggeleng. Tidak akan ada kebahagiaan, justru dia akan sedih karena orang yang sangat baik sudah tiada lagi dalam hidupnya. Tapi untuk tetap bertahan dia juga tidak mampu. Nuraninya selalu tidak terima atas perbuatannya, yang sudah menjadi pengkhianat.
"Kalau begitu tetaplah di sini, di sisiku!" balas Roy yang dia sendiri tidak tahu mengapa dia melakukan hal itu. Jelas-jelas dia sudah dipandang sebelah mata oleh Yura, tapi dia tetap bertahan. Dia hanya ingin melindungi gadis itu. Itu saja. Atau mungkin memang rasa iba itu sudah berubah jadi rasa ingin memiliki?
"Apa Om tidak jijik padaku? Memelihara ku di sini?" tanya Yura yang benar-benar tidak bisa mengerti sedalam apa kebaikan hati pria itu. Suami mama yang bisa memaafkan istrinya yang sudah selingkuh?
"Bukan hak ku untuk menghakimi mu, karena aku bukan Tuhan. Jika kau merasa bersalah, maka berubah lah, menjadi pribadi yang lebih baik. Hargai dirimu, ini demi anak yang ada dalam kandunganmu itu, agar dia kelak bangga lahir dari ibu sepertimu," ucap Roy melepaskan genggaman Yura, dan segera pergi dari kamar itu, meninggalkan Yura dengan segenap penyesalan yang ada di hatinya.
*
*
Mampir,
sedih bahet