Tentang seorang gadis yang memiliki trauma akan sebuah keluarga, yang menjadikan nya seorang anak jalanan.
Hidup bebas dan urakan, sering terjebak perkelahian, balapan liar hingga kejaran polisi.
Eleena Sora, harus di kirimkan ke sebuah tempat yang sangat jauh dari dunianya.
Sebuah tempat yang menurut keluarganya bisa membuat nya menjadi lebih baik. Namun, justru terlihat seperti neraka bagi Eleena.
Sanggupkah Eleena bertahan dan bisa menjadi seperti yang keluarganya harapkan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mommy_Ar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kekesalan Eleena
...~Happy Reading~...
"T—tidak perlu, Umma. Ele akan belajar sama Maira saja," ujar Eleena langsung menolak keras tawaran dari umma Chila.
"El—" Maira langsung menatap sahabat nya dengan tatapan memelas.
"Kelas nya akan mulai ba'da Dzuhur, datang lah," saut Yusuf lembut namun terkesan datar. Tentu saja, hal itu membuat mata Eleena langsung membulat dengan sempurna.
Berbeda dengan Eleena yang terkejut, Maira justru langsung tersenyum begitu lebar seolah merasa paling bahagia.
"Nanti aku anter ke sana!" ucap Maira paling antusias sambil menganggukkan kepala nya.
"Tidak apa apa Ele, InsyaAllah, Yusuf akan mengajari kamu dengan sabar. Jika sampai Yusuf memarahi kamu, katakan sama Umma. Biar Umma yang menegur nya nanti," ujar umma Chila dengan begitu lembut menatap Eleena.
Eleena menatap Yusuf dengan tatapan yang sulit di artikan. Bagaimana bisa dirinya di ajari oleh laki laki tersebut.
Menarik napas panjang, Eleena memejamkan mata lalu membuka nya lagi dengan perlahan.
Tanpa sadar, ia sampai menggigit bibir bawah nya saat menatap laki laki yang tengah fokus dengan makanan nya tersebut.
'First kiss gue,' gumam Eleena dalam hati, lalu ia menggelengkan keoala nya dengan cepat, 'Sadar El, dia cuma bantuin elo. Jangan terlalu di pikirin.'
'Tapi, rasanya masih berasa banget, astaga! Otak gue kenapa konslet begini sih!' umpat Eleena dalam hati nya.
"Jangan menatap ku seperti itu!" Ucap Yusuf dengan tiba tiba, membuat semua orang seketika langsung menatap ke arah nya.
"Yusuf sudah selesai, Umma, Abi. Yusuf ke kamar dulu, siap siap untuk ke Masjid!" imbuh laki laki itu lalu segera beranjak dari kursi nya dan pergi ke kamar.
"Dih, kakak PD banget. Emang siapa sih yang ngeliatin dia?" celetuk Maira memanyunkan bibir nya.
"Mungkin hantu!" saut Khalifa dengan ekspresi seperti takut namun juga terkekeh.
"Iya, kamu hantu nya?" balas Maira lalu keduanya tertawa bersama.
Sementara itu, Eleena yang merasa sedikit tersindir, langsung menundukkan kepala nya dan terus menggigit bibir bawah nya karena gugup.
Entahlah, ketika ia berhadapan dengan Yusuf atau semua keluarga laki laki itu, ia merasa sangat kecil bahkan seperti tidak memiliki keberanian apapun.
Terkecuali jika dengan Maira. Itupun jika hanya sedang berdua, jika sedang beramai ramai seperti sekarang, Eleena juga tidak bisa beradu debat dengan gadis itu.
'Kayaknya mata dia lebih dari dua. Dari tadi dia fokus makan tapi bisa tahu kalau gue tatap.' gumam Eleena dalam hati nya dengan di sertai helaan nafas berat.
"Maira, kalau sudah selesai, ajak Eleena ke kamar kamu ya. Siap siap, nanti kita ke Masjid bersama," tutur umma Chila sambil membereskan meja makan nya.
"Iya Umma," jawab Maira ikut bangkit, "Ayo El." Ajak nya sambil mengulurkan tangan ke arah Eleena.
"Umma beresin sendiri? Aku bantuin Umma dulu deh," ujar Eleena hendak membantu, namun dengan cepat tangan nya di tahan oleh wanita paruh baya tersebut.
"Tidak usah, Nak. Pergilah, Umma sudah biasa," ucap umma Chila tersenyum ramah.
"Gak usah basa basi El, gak pantes banget sumpah. Lagian, aku juga gak yakin kamu bisa bantu!" celetuk Maira begitu spontan tanpa filter hingga membuat mata Eleena langsung menatap nya tajam.
"Kalau mau caper, nanti aja kita berangkat ke Masjid, bareng kak Yusuf kok, tenang aja!" imbuh Maira dengan di sertai kekehan kecil.
'Anjirr banget punya temen satu, astaga. Kalau aja gak ada Abi Mike dan umma Chila, udah gue lempar piring ini anak!' umpat Eleena dalam hati nya.
"Gak usah terimakasih, aku memang paling peka kok. udah ayo ke kamar, sebelum kak Yusuf berangkat duluan!"
Tanpa menunggu persetujuan atau jawaban dari Eleena. Tiba tiba Maira langsung menarik tangan sahabat nya dan menyeret nya untuk masuk ke dalam kamar.
"Mayra sialaaannn!" pekik Eleena ketika sudah tiba di dalam kamar dan langsung menghempaskan tangan Maira dengan kasar.
Bukan marah, Maira justru langsung tertawa terbahak bahak ketika melihat ekspresi wajah sahabat nya yang sedang marah bercampur malu.
...~To be continue......