Enrico Costra yang tampan dan kaya merasa hidupnya tidak lengkap. Melihat teman sekaligus rekan bisnisnya berbahagia bersama istri dan anak-anak, membuat ia merasa hidupnya kurang. Rasa sepinya bertambah ketika gadis perwaliannya dibawa pergi oleh suami yang menikahinya. Ia menyadari untuk pertama kalinya bahwa kata 'pernikahan' adalah hal yang menarik, lalu memutuskan ia juga menginginkan hal itu.
Vivianne Margue datang ke Mansion Costra mencari sepupunya yang bekerja sebagai asisten kepercayaan pemilik perkebunan Costra Land. Ia datang bersama neneknya, membawa masalah yang akan menentukan hidup Vivianne di masa depan.
Pertemuan pertama dengan Vivianne membuat Enrico terkesima ... gadis itu ... sama sekali tidak tertarik kepadanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DIANAZ, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
24. Back home
Perjalanan pulang menuju mansion Costra berjalan lancar dan menyenangkan bagi Enrico. Ia memaksa menyetir sendiri dari hotelnya yang ada di kota BYork. Manajer mereka sudah menyediakan seorang pegawai yang akan mengantarkannya kembali ke Costra Land, pegawai itu yang akan menyetir menggantikan Frederic yang tengah cuti. Tapi Enrico menolaknya, ia bisa menyetir sendiri, lagipula ia butuh kesibukan lain selain melayani ocehan bibi Olivnya di dalam mobil.
Sang bibi dengan sukarela ikut dalam rencananya untuk menahan Arabella dan Vivianne di Mansion Costra. Bibinya membawa dua koper besar yang Enrico yakin sekali isinya sangat penuh. Dua koper tersebut ada di bagian belakang mobil bersama satu koper besar lain yang berisi semua benda yang mereka beli sebagai hadiah.
"Katakan padaku, apa yang kau beli untuk Vivianne dalam kotak-kotak tertutup itu?" tanya Olivia pada Enrico yang fokus memandang ke depan.
"Itu rahasia, Bibi."
"Kau membuatku sibuk memilihkan hadiah untuk Lori dan yang lainnya! Kau sendiri memilih untuk Vivianne tanpa perlu bantuanku! Katakan! Sebenarnya hadiah untuk Lori dan yang lainnya ini hanya pengalihan agar kau tidak terlalu ketara bukan!?"
Enrico terkekeh, bibinya sangat kritis dan sangat cepat menilai situasi. "Apa maksudmu, Bibi Olivia? Aku tidak mengerti."
"Jangan pura-pura Rico. Kau ingin membawakan hadiah untuk gadis itu bukan? Tapi akan terlihat aneh jika kau pulang dan tiba-tiba memberinya sebuah hadiah. Jadi akan aman jika Lori dan semuanya juga mendapat hadiah, gadis itu tidak akan bertanya-tanya. Dia akan mengira, atasan sepupunya adalah seorang pria yang sangat murah hati. Pulang bepergian dan membawakan hadiah yang indah untuk para bawahan dan juga tamunya ...."
"Aku memang murah hati, Bibi. Sejak dulu aku begitu," ucap Enrico dengan nada geli.
"Aku memilih benda-benda yang pasti akan disukai oleh Pedro, Lori dan semuanya. Apa yang kau beli untuk Vivianne, Rico? Ayolah! Katakan padaku!"
"Kau penasaran sekali, Bibi. Nanti juga kau tahu aku membelikan apa untuknya."
"Kau yakin ia akan suka?"
"Tentu saja! Aku tidak pernah salah memilih hadiah."
Olivia mendengus keras. " Aku katakan padamu, Anak Nakal! Dari penuturanmu tentang gadis itu, aku dapat menebak kalau dia tidak akan terkesan bila kotak-kotak yang kau bawa itu berisi gaun-gaun mewah, tas, ataupun satu set make up lengkap dengan merek ternama! Atau perhiasan!" Olivia menggelengkan kepalanya berulang kali, "di situasi sekarang, meski yang kau berikan berlian, gadis itu tidak akan berterimakasih kepadamu! Malah akan membuatnya menghindarimu!"
"Penilaianmu tepat sekali, Bibi. Aku tidak membeli satupun benda yang kau sebutkan itu."
"Jadi apa yang kau beli?"
Enrico hanya menjawabnya dengan tersenyum. Ia menatap ke arah jalanan dan memikirkan tentang Alan yang sayang sekali tidak bisa ikut pulang bersamanya. Lucius dan Ally masih menikmati berkumpul dengan keluarga besar Sanchez, mereka tidak mengizinkan Alan pulang lebih dulu bersamanya. Enrico merasa sedikit kesepian, kehadiran Alan begitu menyenangkan mengisi hari-harinya. Lagipula, Alan akan menjadi bantuan yang sangat berarti ketika ia mulai mendekati Vivianne.
Setelah hampir tiga jam berlalu di perjalanan, mobil Enrico akhirnya memasuki jalanan menuju Lahan Costra Land. Di pinggiran lahan, tampak rumah-rumah penduduk desa Costra Land yang tertata rapi di sepanjang jalan memasuki tanah perkebunan.
"Entah ini nyata atau hanya perasaanku saja ... jumlah rumah di sini bertambah?" Olivia membuka kaca jendela mobil lebar-lebar, ia menoleh ke kiri dan kanan jalan.
"Ya, Bibi. Penghuni di Desa Costra Land memang bertambah."
"Apakah mereka semua pekerjamu di perkebunan?"
"Sebagian besar ya."
Olivia mendapati beberapa orang yang berada di luar rumah atau kebetulan ada di pinggir jalan yang mereka lalui melambaikan tangan dan menyapa Enrico sambil tersenyum. Kaca mobil di sisi bagian Enrico juga sudah terbuka lebar. Keponakannya itu melajukan mobil dengan pelan sambil membalas sapaan dan lambaian tangan orang-orang tersebut.
"Mereka menyukaimu," ucap Olivia.
"Tentu saja, Bibi. Bahkan bayi pun menyukaiku."
Olivia mendengus, ia menatap ke arah lahan yang terbentang di sepanjang lereng. Dulu Costra Land tidak sebesar itu, Enrico telah berhasil mengolah warisannya dengan sangat baik. Dengan senyum bangga Olivia menghabiskan sisa perjalanannya sambil termenung memikirkan kakak dan kakak iparnya yang telah tiada.
"Kita sampai, Bibi."
Sedikit terkejut, Olivia menoleh ke kiri dan kanan. Menyadari ia termenung sampai tidak sadar kalau mobil telah berhenti di depan Mansion Costra. Enrico segera turun lalu memutari mobil untuk membukakan pintu bagi bibinya. Dari arah dalam mansion terlihat Pedro yang hampir setengah berlari mendatangi tuannya yang tiba di halaman.
"Anda sudah pulang, Tuan."
"Ya, Pedro. Aku membawa tamu istimewa." Enrico membuka pintu mobil dan mengulurkan tangan.
"Tamu? Kau hanya menganggapku tamu?" Dengan bibir cemberut Olivia menyambut tangan keponakannya dan turun dari mobil.
"Ah ... selamat datang Nyonya Mirelle De Ville. Senang sekali bisa bertemu Anda lagi," ucap Pedro dengan gembira.
Olivia mengibaskan tangannya dan menatap Pedro dengan ramah. "Jangan panggil aku dengan nama itu Pedro. Panggil aku Olivia."
Pedro menganggukkan kepalanya sambil sedikit membungkukkan bahu.
"Ayo masuk, Bibi." Enrico menggandeng tangan bibinya dan mengajaknya berjalan ke arah pintu masuk mansion. Pedro terlihat menjentikkan jarinya kepada dua orang pria yang mendatangi ke arah mobil. Dua pria tersebut membantu Pedro mengeluarkan semua barang bawaan tuannya.
Di pintu masuk mansion, Enrico berhenti melangkah, ia menatap ke arah Lori dan Arabella yang baru saja datang dari arah dalam. Keduanya terlihat memakai celemek.
"Anda sudah pulang, Tuan. Oh, Nyonya De Ville. Anda juga datang .... senang dapat bertemu Anda lagi." Lori menyambut Olivia dengan sangat gembira.
"Aku juga, Lori. Sudah lama sekali sejak kita terakhir bertemu dan panggil aku Olivia saja Lori. Ini perintah!" Olivia mendekat dan tiba-tiba memeluk Lori. "Terima kasih sudah menjaga Anak Nakal ini, Lori. Kalian semua," bisik Olivia di telinga Lori.
Lori tersenyum dengan mata yang sedikit berkaca-kaca terharu. Namun ia segera mengambil napas panjang dan balas memeluk Olivia. Setelah berbagi kebahagiaan atas pertemuan mereka kembali, Lori dan Olivia melepaskan pelukan. Lori segera memperkenalkan Arabella pada Olivia.
"Ini Arabella. Tuan pasti sudah menceritakannya pada Anda. Beliau adalah nenek Frederic." Lalu Lori mengerutkan keningnya karena ia tidak melihat keberadaan Frederic. Ia melirik pada dua pria yang membawa masuk koper , juga pada Pedro. Enrico yang sejak tadi hanya menatap berkeliling menangkap arah pandangan Lori.
"Frederic harus mengurus sesuatu, Lori. Ia mengambil cuti sampai urusannya selesai," jelas Enrico.
Lori menganggukkan kepalanya, ia mengerti dan tidak bertanya lagi. Namun ia melihat mata tuannya terus memandang berkeliling seolah mencari seseorang.
Olivia dan Arabella yang baru saja berkenalan tampak saling bertanya dan tersenyum satu sama lain, tidak menyadari kepala Enrico yang berputar-putar di sekeliling aula dengan mata mencari-cari.
"Kudengar kau datang bersama cucumu, Arabella?" tanya Olivia. Pertanyaan bibinya tersebut langsung membuat Enrico fokus kembali pada bibinya dan Arabella.
"Benar, Olivia. Maaf kami terpaksa merepotkan tuan Enrico dan menginap di sini."
"Aku ingin berkenalan dengan cucumu," ucap Olivia dengan sinar mata penuh pengharapan.
Arabella tersenyum, ia melirik ke arah Enrico dan langsung meminta maaf. "Maafkan Vivi. Kami tidak tahu Anda akan pulang hari ini. Seharusnya kami menyambut Anda dan Olivia. Kurasa ... ia ada di rumah kaca ...."
"Kurasa juga begitu. Sepertinya aku harus memanggilnya. Aku akan ke sana," ucap Lori sambil mengangguk pamit. Lori baru saja akan pergi ketika tangan Olivia menahannya.
"Rumah kaca? Ah, sekalian saja kita ke sana. Aku mau lihat bagaimana keadaan di sana. Ayo ... kau ikut Arabella?"
Arabella tersenyum sambil mengangguk. Lalu tiga wanita itu meninggalkan Enrico yang mengangkat alis melihat tiga wanita itu meninggalkannya begitu saja. Membuat Enrico akhirnya memutuskan akan mengikuti ketiganya ke rumah kaca.
Letak rumah kaca tidak begitu jauh di belakang mansion. setelah melewati kolam renang dan melewati jalan setapak, mereka tiba di rumah kaca. Dengan penuh semangat Olivia masuk diikuti Lori dan Arabella. Enrico yang mengikuti di belakang tidak ikut masuk karena sesuatu yang tertangkap oleh matanya membuat langkahnya berhenti tak jauh dari rumah kaca. Ia berdiri sambil memandang ke arah kiri di lereng sebelah rumah kaca. Memandang satu sosok yang berjalan perlahan sambil bersenandung. Meski dari kejauhan, Enrico tahu pasti itu adalah Vivianne.
Enrico berjalan mendekat ke arah jalan setapak yang menurun, lalu berdiri memandang ke bawah tepat ke arah Vivianne yang baru saja mendongak ke arah atas. Mata mereka bertemu, lalu senyum cerah segera terkembang di wajah manis Vivi. Gadis itu segera berlari menaiki lereng, seikat bunga liar yang ia pegang di tangan kiri berayun bergoyang bersamaan dengan rok Vivianne yang tertiup oleh angin. Pemandangan yang amat cantik di mata Enrico.
Hati Enrico bernyanyi. Gadis itu sepertinya juga ingin bertemu dengannya. Vivi langsung tersenyum dan berlari ke arah ia datang. Ingin sekali Enrico merentangkan kedua lengannya menyambut kedatangan Vivi. Namun itu akan terlihat aneh. Jadi ia menahan tangannya dengan bersedekap dan hanya memasang senyum lebar.
Setelah menunggu dengan tidak sabar sambil menahan kakinya agar tidak melangkah mengejar Vivianne, Enrico merasa amat lega ketika Vivi akhirnya tiba. Namun gadis itu tidak diam dan melihat ke arahnya setelah tiba, Vivi melangkah berputar sambil menoleh ke sekeliling Enrico.
"Vivi ...."
Vivi tetap menoleh ke sekeliling dengan kening berkerut. Kali ini senyum di wajahnya sudah hilang digantikan raut kecewa.
Enrico tanpa sadar mengulurkan tangannya dan memegang kedua bahu Vivi. Menahan gadis itu tetap berdiri di tempat. Merasa ada yang menyentuh bahunya, Vivianne menoleh dan menatap kedua mata yang menatap tajam ke arahnya.
Enrico mendapati pipi kiri gadis itu tercoreng sesuatu berwarna hitam, tampak mengotori pipi putih Vivianne, namun ia menahan tangannya agar tidak menyeka pipi gadis itu. Baru saja Enrico akan membuka mulutnya untuk bertanya kenapa Vivi tiba-tiba terlihat kecewa, Vivi sudah membuka mulutnya lebih dulu.
"Apakah sepupu Frederic tidak pulang bersama Anda, Tuan?" Kegelisahan sangat ketara di nada suara gadis itu. Tatapan matanya sekarang diwarnai kekhawatiran.
Setelah menarik napas panjang, Enrico tertawa dalam hati. Menertawakan dirinya yang menyangka Vivianne menunggu kepulangannya, menyangka Vivianne meski sedikit juga ingin bertemu kembali dengannya. Tapi gadis itu hanya menunggu kedatangan sepupunya, Frederic.
Dengan senyum konyol dan tawa geli yang tiba-tiba terlepas dari bibirnya, Enrico mengulurkan tangan, mengangkat satu tangannya dari bahu Vivi dan bermaksud menyeka tanah yang menempel di pipi kiri gadis itu. Namun ketika jarinya sedikit lagi akan menyentuh kulit Vivianne, sebuah tangan menangkap pergelangan tangannya.
"Memangnya apa yang akan kau lakukan, Anak Nakal? Ah ... halo Manis, kita akhirnya bertemu. Perkenalkan ... aku Olivia Mirelle. Kau bisa memanggilku Bibi Oliv. Aku Bibi Enrico yang baru saja datang kemari."
Bersamaan dengan kata-kata yang keluar dari bibirnya, Olivia mengeluarkan sebuah saputangan dari kantong gaunnya lalu menyeka pipi Vivianne.
"Sepertinya kita akan cocok. Ada tanah di pipimu, kuharap artinya kau suka berkebun. Jadi kau bisa membantuku dengan rumah kaca yang sudah rusak di sana," ucap Olivia sambil tertawa geli menatap keponakannya yang balik menatapnya sambil bersedekap dan menyipitkan mata.
**********
ah akhirnya selesai membaca
novel ini akan menjadi salah satu novel favorite ku...
sudah lama diNT kemana saja diriku baru ketemu kita😁
terima kasih ya Thor cerita nya bagus banget 👍
Terima kasih ya kak Diana 😍😍😍😍
Tata bahasa baku,rapi,lain dari pada yang lain.