Satu... dua... tiga..."
Gua merem, terus ngebuka mata lagi. Angka yang ada di layar hologram tablet lipat di depan gua masih sama. Gak berubah, gak berkurang nolnya, dan tetep bikin mual.
[Harga Eceran Resmi: 120.000.000 KRW (Termasuk Pajak)]
"Seratus dua puluh juta won..." Gua ngegandeng dagu pakai kedua tangan, natap angka itu kayak lagi natap musuh bebuyutan di kehidupan lalu. "Ini mah bukan sekadar mahal, tapi udah gak ngotak buat kantong orang kayak gua."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon EAGLE EZ, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 18.sang penguasa
Gua natap mesin hitam metalik di depan gua. *Sovereign Edition*. Mesin prototipe yang bahkan gak masuk ke katalog pasar massal. Kilau emas di sela-sela bodi karbonnya keliatan kontras banget sama dinding kosan gua yang wallpaper-nya udah agak ngelupas.
Jinho? Dia udah matung di pojok ruangan, meluk bantal guling kayak orang linglung. Dunianya serasa berputar terlalu cepet dalam waktu tiga hari.
"Hadiah tanpa syarat, ya?" Gua megang pinggiran *capsule* yang kerasa dingin dan solid. "Bilang ke Ketua kalian, gua terima tantangannya. Lagian, gua emang udah agak muak sama rasa pusing dari mesin rongsokan kemarin."
Pria berkacamata hitam itu nunduk hormat. "Suatu kehormatan bagi kami. Teknisi kami akan langsung mengaktifkan sistem enkripsi sarafnya sekarang. Selamat berjuang di babak final, Tuan Kang Jin-woo."
Gak butuh waktu lama buat para *bodyguard* itu masang kabel optik terkompresi langsung ke generator kosan. Begitu pintu ditutup kembali, kamar gua mendadak kerasa kayak lab rahasia.
"Ji..." Jinho pelan-pelan ngedeket, nyolek bodi *capsule* pake kelingkingnya. "Ini beneran? Kita gak lagi di-prank acara TV, kan? Lu dikasih barang langka ginian cuma-cuma?"
"Gak ada yang cuma-cuma di dunia ini, Jinho. Ketua mereka itu penonton yang pinter," gua nyengir tipis sambil ngebuka pintu kokpit *capsule* yang berdesis pelan, ngeluarin uap pendingin. "Dia tahu, kalau gua menang pake mesin ini, s-Teknologi bakal tercatat dalam sejarah sebagai satu-satunya brand yang bisa ngimbangin kecepatan seorang *Sword God*. Itu nilai promosi yang gak bisa dibeli pake duit miliaran won."
Gua langsung masuk ke dalem. Rasanya beda total. Kursi semi-kulitnya langsung nyesuaiin sama lekuk tubuh gua, dan begitu penutup kokpitnya turun perlahan, keheningan mutlak langsung menyelimuti gua.
Gua masang sensor pelipis baru yang teksturnya lembut mirip gel.
**[Sistem: Mendeteksi Pengguna – Kang Jin-woo.]**
**[Sistem: Memulai Enkripsi Saraf Khusus 'Sovereign-Link'.]**
**[Kondisi Medis: Kelainan Saraf Bawaan Terdeteksi. Mengaktifkan Stabilisator Gelombang Otak Level Maksimal.]**
Gua nahan napas, siap-siap buat nerima hentakan listrik kayak biasanya. Tapi ternyata... gak ada. Gak ada rasa sakit, gak ada kejang, gak ada pening yang bikin mual. Otak gua rasanya kayak dialirin air es yang seger banget. Sinyal saraf gua terserap sempurna ke dalam sistem tanpa ada tabrakan frekuensi sedikit pun.
Ini dia. Ini kebebasan yang gua cari selama tujuh tahun.
**[Sinkronisasi Gelombang Otak: 100% (Sempurna)]**
**[Selamat Datang di Arena Final LFG Musim 7.]**
*WUSH!*
Begitu mata virtual gua melek, gua udah gak berada di lembah atau taman lagi. Gua berdiri di atas sebuah platform batu raksasa yang melayang di atas langit malam, dikelilingi oleh ribuan bintang virtual yang berkedip terang.
**[Peta Pertandingan: Altar Langit Tertinggi]**
**[SwordGod77 (Lv. 2) VS Blood_Emperor (Lv. 70)]**
Di ujung platform, sesosok pria dengan zirah berat warna merah darah yang dilapisi jubah bulu hitam menatap gua dengan pandangan tajam. Tangannya bersedekap di dada, dan di belakang punggungnya, ada sebilah pedang besar berwujud *Greatsword* yang gedenya hampir seukuran tubuh manusia biasa.
*Blood_Emperor.* Peringkat 1 di seluruh server umum *Warlords of Myth*, sekaligus bos terakhir yang harus gua kalahkan buat nutup turnamen ini.
Angka penonton di layar virtual gua? **2.500.000 penonton serentak.** Seluruh komunitas gaming dunia malam ini mandang ke arah satu titik ini.
"Lu pake mesin baru, ya?" Blood_Emperor membuka suara. Nadanya tenang, tapi penuh tekanan intimidasi dari seorang *Top Player*. "Gua bisa ngerasain fluktuasi data karakter lu jadi jauh lebih stabil dibanding pertandingan kemarin."
Gua pelan-pelan narik pedang besi standar gua. Gak ada lagi pedang karatan, gak ada lagi pedang sampah. Di dalem *capsule* kelas dewa ini, gua bisa keluarin potensi penuh dari senjata apa pun yang gua pegang.
"Iya, dapet pinjaman dari orang kaya," sahut gua santai sambil muter pergelangan tangan gua, nyari kenyamanan genggaman. "Jadi, mau langsung mulai atau lu mau pidato dulu kayak bos-bos game pada umumnya?"
Blood_Emperor denger omongan gua malah tersenyum lebar, lalu narik *Greatsword*-nya dari punggung dengan satu tangan. Beban pedang raksasa itu ngebikin lantai batu di bawah kakinya langsung retak tipis.
"Gua gak suka banyak omong, Jin-woo," ucapnya, nyebut nama asli gua yang udah bocor di forum. "Gua udah nonton semua trik lu. *Parry*, manipulasi durabilitas, sampai pematahan arus skill. Semuanya luar biasa. Tapi di depan *damage* absolut milik gua... semua trik itu gak bakal berguna."
Tubuhnya mendadak diselimuti aura merah membara yang pekat banget, bikin tekanan angin di atas altar langit langsung berembus kencang, ngebuat jubah hitam gua berkibar liar.
**[Sistem: Babak Final LFG Musim 7 Dimulai!]**
**[Countdown: 3... 2... 1... FIGHT!]**
*BOOM!*
Lantai batu di bawah kaki Blood_Emperor hancur berantakan pas dia meroket maju ke arah gua. Kecepatannya melampaui Valkyrie_Rose, dan berat serangannya melampaui WhiteKnight. Dia adalah perpaduan sempurna dari segala aspek statistik game ini.
*Greatsword* raksasanya diayunkan horizontal, membelah atmosfer dengan suara desingan yang memekakkan telinga.
Gua nahan senyum. Di dalem kokpit *Sovereign Edition* ini, seluruh pergerakan dunianya kerasa lambat banget di mata gua. Sinyal otak gua bergerak lebih cepet dari perintah server game itu sendiri.