Aline gadis cantik yang berusia 23 tahun, tidak pernah menyangka saat ia menghadiri pesta adik tirinya menjadi sebuah bencana yang membuatnya harus kehilangan keperawanannya.
Puncak dunia Aline hancur saat ayahnya yang seharusnya mendukung dan melindunginya, dengan teganya mengusirnya dari rumah setelah mengetahui bahwa dia sedang hamil dan lebih memilih percaya pada istri dan adik tirinya.
Tidak berselang lama Aline akhirnya bertemu dengan pria yang tidur dengannya, akankah hidup Aline bahagia setelah memilih ikut dengan pria itu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jing_Jing22, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ep. 15 BERI WAKTU
"Aline... aku ingin kita segera menikah!"
DEGH!
Jantung Aline berdebar semakin menggila, saat mendengar permintaan itu. Ia menatap ke dalam mata pria itu mencari kebohongan di dalamnya. Namun yang ia lihat adalah kesungguhan dan tekad yang tidak tergoyahkan.
"Aku tidak ingin orang lain mempertanyakan anak yang ada dalam kandunganmu." lanjut Erlangga dengan tegas.
Sejenak Aline terdiam mendengar permintaan pria itu. Namun, sebelum ia menjawab lagi-lagi kalimat pria itu menyentuh sisi hatinya yang paling dalam.
"Aku tau kamu belum mencintaiku, tapi setidaknya demi anak kita, Aline! Aku tidak ingin anak itu mendapatkan cemooh dari orang-orang karena kesalahanku yang membuatnya hadir tanpa status yang sah."
Aline menimbang-nimbang perkataan Erlangga. Semua yang pria itu katakan memang benar, anaknya lah yang akan menanggung caci maki dari orang lain akibat kesalahan mereka dan ia tidak menginginkan hal itu terjadi. Tapi ia butuh waktu setidaknya untuk meyakinkah hatinya bahwa pria itu tidak akan meninggalkannya seperti ayahnya.
"Beri aku waktu Erlangga." putus Aline akhirnya.
Erlangga yang mendengar itu mengerti, wanita itu butuh waktu untuk memikirkan semuanya karena ini menyangkut soal masa depannya dan ia akan menunggu sampai wanita itu menerimanya.
"Baiklah aku mengerti, aku akan menunggunya." Ia segera beranjak dari tempat duduknya. "Sebaiknya kamu istirahat, ini sudah larut malam tidak baik untuk kesehatanmu."
Setelah mengatakan itu Erlangga pergi menuju kamarnya, meninggalkan Aline yang masih sibuk dengan pikirannya sendiri.
Aline yang masih duduk di meja makan menatap punggung Erlangga sampai menghilang di balik pintu kamarnya. "Apakah dia kecewa... karena aku meminta waktu untuk memikirkan semuanya, bagiku ini terlalu cepat bagaimana kalau dia juga akan meninggalkanku seperti Ayah." bisiknya lirih, ada rasa takut yang menghantuinya ia ingin menerimanya tapi hati kecilnya masih membutuhkan waktu untuk mengenal pria itu.
Setelah merasa tenang akhirnya Aline memutuskan untuk istirahat. Ia beranjak dari sana melangkah pergi menuju kamarnya, saat melewati pintu kamar pria itu ia sejenak terdiam.
Hingga akhirnya tiba-tiba saja Erlangga ke luar dari kamarnya membuatnya terkejut dah hampir saja terhuyung ke bekalang beruntung pria itu segera merengkuh pinggangnya.
"Sedang apa, hmm? Kenapa ceroboh sekali lain kali jangan berdiri di depan pintu." bisik Erlangga tepat di depan wajah wanita itu.
Seketika Aline merasakan embusan napas hangat Erlangga yang berbau mints. Ia tampak sedikit gugup.
"A-ku mau ke kamar, siapa juga yang berdiri di depan pintu." elaknya sambil berusaha menormalkan raut wajahnya kembali.
Erlangga tersenyum tipis, sangat tipis hingga wanita itu tidak menyadarinya. "Oh, jadi aku yang salah sangka." kata Erlangga.
Namun, saat Erlangga melepaskan pelukannya tiba-tiba saja Aline merintih kesakitan.
"Stttss..." ringisnya saat merasakan pergelangan kakinya terkelir.
Tanpa banyak bertanya Erlangga langsung menggendong Aline menuju kamarnya. Ia membaringkan wanita itu dengan hati-hati di atas kasur lalu dengan cepat ke luar dari kamar.
Beberapa menit kemudian, Erlangga masuk kembali sambil membawa kompresan dan juga obat. Dengan penuh perhatian pria itu mengompres kaki wanita itu dan mengolesi obat pada pergelangannya yang terluka.
Aline menatap pria yang ada di hadapannya, kali ini tatapan matanya memancarkan kekaguman yang tidak bisa ia sembunyikan pada pria itu, sikap lembutnya membuat ia merasakan sesuatu dalam sudut hatinya yang mulai tumbuh.
"Mungkin beberapa hari ini kamu akan sedikit kesulitan berjalan, tapi tenang saja tidak akan lama bisa kembali normal lagi... sebaiknya sekarang kamu istirahat." Erlangga membantu Aline membaringkan tubuhnya agar lebih nyaman, lalu menyelimuti wanita itu.
Sebelum benar-benar ke luar dari kamar itu sekali lagi Erlangga menatap Aline dengan pandangan lembut yang meneduhkan, siapapun yang melihatnya pasti akan luluh di hadapan pria itu. "Selamat malam... Aline."
Aline terpaku beberapa menit sebelum akhirnya mengangguk pelan.
Setelah mendapatkan jawaban wanita itu, Erlangga menutup pintu itu dengan perlahan lalu beralih ke kamarnya yang berada di samping.
*
*
*
Di Villa, Nana sedang lepas kendali, ia melempar berbagai barang di dalam kamar, membuatnya terlihat seperti orang gila.
PRANG!!
Suara pas bunga dilempar ke atas lantai hingga pecahan belingnya berserakan.
"Aarrrgghhh!" Suara teriakannya menggema di seluruh ruangan.
Amarahnya meledak-ledak. Benda apapun yang terjangkau oleh kedua tangannya berakhir dengan terlempar ke atas lantai.
"Aku tidak terima semua ini, Ibu! Kenapa dia selalu beruntung!" teriak Nana di depan Sinta.
"Tenang lah Nana! Jangan seperti ini." kata Sinta menenangkan putrinya.
"Mana bisa aku tenang Ibu, laki-laki itu pemilik perusahan dan rumah sakit. Beruntung sekali dia bisa tidur dengannya?!" marah Nana tidak terima dengan kenyataan itu.
"Kalau saja aku tau yang akan tidur dengannya adalah dia, aku tidak akan memberinya obat perangsang itu." Nana menjambak rambut panjangnnya tampak frustasi.
"Kamu sih! Bodoh, makannya kalau bertindak sesuatu itu dipastikan dulu. Jangan buru-buru meninggalkan dia di kamar hotel begitu saja." marah balik Sinta.
"Kenapa Ibu jadi menyalahkan aku." Nana tidak terima.
"Lalu Ibu harus menyalahkan siapa? Jelas-jelas pekerjaan kamu yang tidak benar." Sinta memutar bola matanya malas.
"Lalu apa yang harus aku lakukan, Ibu?" Nana tampak prustasi.
"Sudah jangan pikirkan itu dulu, sebaiknya kamu pikirkan perusahaan Ayahmu yang berada di sini. Secepatnya kamu harus mengganti nama kepemilikannya menjadi nama kita."
Nana mengangguk mengerti. Namun, tiba-tiba ponselnya berdering nyaring sebuah panggilan yang sangat ia kenali. Ia menghiraukan panggilan itu tanpa ingin menjawabnya membuang ponselnya begitu saja ke atas kasur.
*
*
*
Ke sesokkan paginya, Erlangga tampak sudah bersiap-siap untuk pergi ke Puskesmas, setelah selesai sarapan ia melihat Aline yang baru ke luar dari kamar dengan penampilan yang lucu membuatnya tertawa dalam hati.
Bagaimana tidak, rambut wanita itu tampak seperti kucing yang baru saja selesai bertengkar.
Aline yang tidak menyadari bahwa kini ia telah tinggal dengan orang lain, tampaknya terlihat cuek dengan dirinya sendiri. Hingga suara Erlangga menyadarkannya.
"Aku harus tugas ke Puskesmas. Kamu mau di rumah saja atau ikut denganku?" tanya Erlangga tiba-tiba.
Aline terperangah sejenak, ia langsung memeriksa dirinya sendiri dan saat menyadari penampilannya yang kacau ia sangat malu setengah mati dan langsung berlari masuk ke dalam kamar menghiraukan sakit pada kakinya.
Erlangga terkekeh kecil melihat kelakuan wanita itu.
"A-aku di rumah saja..." teriak Aline di dalam kamar, ia masih sedikit gugup dan butuh waktu untuk sendiri.
Erlangga yang mendengar itu mengangguk mengerti. "Kalau gitu nanti jam makan siang aku akan pulang dan masak untuk kamu."
Setelah mengatakan itu Erlangga melangkah pergi dari sana.
Semoga si Iblis bernama Anita itu, binasa aja🤣