Renata seorang gadis miskin, terpaksa mau menikah dengan pria tampan yang lumpuh akibat kecelakaan,yang menimpanya. Pria itu bernama Arya Pramana Biantara, pewaris dari sebuah perusahaan besar. Renata mau menikah karena ibu dari pria itu menjanjikan akan membiayai pengobataan ibunya yang menderita kanker paru-paru.
Arya sangat membenci Renata, karena dia yakin kalau wanita miskin itu, mau menikah dengannya hanya karena harta, berhubung sebelum mereka menikah, mereka sebenarnya sudah lebih dulu saling mengenal, karena Renata adalah sahabat dari gadis yang dicintainya.
Tanpa sepengetahuan orang tua Arya, mereka berdua membuat perjanjian, kalau Renata akan pergi dari hidup Arya begitu pria itu nanti berhasil sembuh.Arya yang awalnya tidak memiliki semangat untuk sembuh karena patah hati pada sahabat Renata yang sudah menikah, begitu mendengar janji Renata langsung bersemangat untuk sembuh, karena dia benar-benar ingin lepas dari Renata.
Apakah Keduanya akan berpisah begitu Arya sembuh?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rosma Sri Dewi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kebingungan Renata
Renata terlihat berjalan masuk, setelah cukup lama berbicara dengan Raka.
"Sudah selesai bicaranya? kalau belum puas, lanjutkan saja! belum juga tengah malam, masa sudah berhenti saja!" belum juga Renata sampai di ranjang, dia sudah disambut dengan semburan pedas dan sarkas dari Arya.
"Kamu kenapa sih?" cetus Renata sembari merangkak naik ke atas ranjang.
"Kamu jangan sok tidak tahu dengan apa yang aku maksud. Kamu coba berpikir dengan baik, pria yang menghubungi seorang wanita bersuami malam-malam begini, apa menurutmu itu adalah pria yang baik? dan kamu ... bagaimana bisa kamu menerima telepon pria di malam-malam begini? apa kamu tidak sadar kalau kamu itu masih istriku?" sembur Arya dengan sangat berapi-api.
"Kamu bagaimana sih? dia kan tidak tahu kalau kita suami istri? jadi, tidak boleh dikatakan kalau dia itu tidak baik. Dan kalau tentang apa yang kamu katakan tentangku ... bukannya aku tidak sadar kalau aku istrimu, tapi aku mau tanya, apa kamu menganggap dirimu sebagai suamiku? bukannya kamu yang mengatakan kalau tidak ada yang boleh tahu kalau kita ini suami istri?"
Arya, diam seribu bahasa. Sebenarnya dia ingin mengatakan kalau sebenarnya dia sudah pernah mengakui Renata sebagai istri di depan dokter Gina. Namun tenggorokannya terasa tersekat, sehingga dia kesulitan untuk mengeluarkan kata-katanya.
"Apa saja yang kalian bicarakan sampai bisa selama itu?" akhirnya Arya merendahkan suaranya dan mencoba mengalihkan pembicaraan.
"Tidak banyak. Hanya bicara hal biasa saja dan tidak ada yang terlalu penting. Kamu kenapa belum tidur?" tanya Renata.
" Aku menunggumu," sahut Arya tanpa sadar.
"Menungguku?" Renata mengrenyitkan keningnya. Ada perasaan hangat yang tiba-tiba menyentuh hatinya, karena merasa dianggap.
"Maksudku, aku menunggumu mengambilkan minum untukku," seketika Arya tersadar dan merasa gugup.
Renata sontak mengerucutkan bibirnya kesal. Perasaan yang tadinya sudah melambung tinggi, tiba terasa terhempas sampai ke paling dasar hatinya.
"Kenapa kamu tidak ambil sendiri?"
"Siapa suruh kamu bawa kursi rodaku? Arya tidak mau kalah.
"Cih, makanya cepat jalan biar kamu bisa ambil sendiri!" cetus Renata sembari melangkah mengambil air minum.
Arya diam saja memilih tidak menjawab, karena tidak mau berdebat saat ini. Dia tidak mau keceplosan mengeluarkan kata-kata pedas kalau sampai meladeni istrinya itu.
"Nih, minum kamu!" Renata memberikan gelas berisi air putih dengan bibir yang masih mengerucut.
"Kalau kamu tidak iklas memberikannya, lebih baik tidak usah!" tolak Arya, sembari menatap ke layar ponselnya.
"Iklas kok. Nih ambil minum kamu!" suara Renata berubah lembut.
"Kamu senyum dulu!" titah Arya, membuat Renata manautkan kedua alisnya, bingung.
"Kenapa dia berubah semanis ini? apa kepalanya tadi terbentur sesuatu?" bisik Renata pada dirinya sendiri.
"Kenapa wajahmu terlihat bingung. Aku memintamu untuk senyum bukan menautkan alis. Ayo senyum!"
Renata menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal sama sekali. Kemudian, wanita itu pun akhirnya tersenyum yang lebih mengarah ke arah meringis.
"Nih, aku tersenyum!"
"Itu bukan tersenyum, tapi meringis. Yang iklas senyumnya!"
Renata menarik napasnya dalam-dalam dan mengembuskannya kembali ke udara. Kemudian kali ini dia kembali tersenyum.
"Hmm, lumayanlah! walaupun aku tahu kalau senyummu belum maksimal." ucap Arya sembari meraih gelas dari tangan Renata.
"Kak Arya kamu baik-baik saja kan? apa tadi kepalamu terbentur sesuatu?" Renata sama sekali tidak bisa menyembunyikan kekagetannya lagi.
"Maksudmu apa? kenapa kamu bertanya seperti itu?" Arya mengrenyitkan keningnya.
"Ya, heran saja. Mulutmu bisa tiba-tiba manis. Padahal setahuku tadi kamu masih banyak makan sambal di makan malam tadi," sindir Renata, dan ujung hidung yang sedikit naik ke atas.
"Sudahlah! kamu jangan banyak bicara lagi. Sekarang kita tidur saja!" Arya meletakkan gelas di tangannya ke atas nakas lalu mulai merebahkan tubuhnya.
Sikap mengalah Arya benar-benar membuat Renata semakin bingung. Dia merasa sikap Arya kali ini benar-benar aneh.
"Sepertinya kepalanya memang terbentur tadi. Atau mungkin malaikat lagi merasukinya!" batin Renata lagi.
"Kenapa kamu masih berdiri di sana? ayo tidur!" tegur Arya membuat Renata menggigit bibirnya dan merangkak naik ke aras ranjang.
"Apa yang kamu lakukan?" pekik Arya tiba-tiba ketika tangan Renata menyentuh kakinya.
"Memijat kakimu. Aku baca-baca, kalau melakukan pemijatan, bisa sedikit membantu agar kakimu bisa cepat pulih," sahut Renata sembari melakukan pemijatan yang sama sekali tidak dapat Arya rasakan.
"Sudahlah! kamu tidur saja! ini sudah larut. Kamu bisa melakukannya besok!" Arya mencoba menepis tangan Renata dari kakinya.
"Tidak apa-apa! kebetulan aku juga belum ngantuk. Kamu saja yang tidur lebih dulu. Nanti kalau aku mengantuk aku akan tidur," Renata bersikeras untuk tetap melakukan pemijatan.
"Kalau begitu aku akan tidur setelah kamu tidur," Arya duduk kembali dan menyenderkan tubuhnya di sandaran ranjang.
Lagi-lagi Renata semakin bingung melihat sikap Arya yang terlihat semakin manis.
"Sepertinya dia memang benar-benar bukan Arya? dia pasti malaikat yang sembunyi di tubuhnya. Aku yakin itu! batin Renata.
"Apa kamu benar-benar ingin cepat-cepat berpisah denganku, makanya kamu bertekad kuat agar aku cepat sembuh? kamu pasti tidak ingin Raka lama menunggumu kan?" celetuk Arya, tiba-tiba dengan nada lirih.
tangan Renata sontak berhenti memijat, dan langsung menatap Arya dengan tatapan penuh tanya.
"Kenapa kamu berbicara seperti itu?"
"Tidak kenapa-napa! cuma aku merasa kalau aku sudah menjadi penghalang kebahagianmu. Sekarang, aku akan mau secepatnya sembuh, agar kamu juga bisa mengejar kebahagianmu dengan cepat," dua sudut bibir Arya melengkung membentuk senyum miris.
tbc
maaf ya, lagi ada acara keluarga sampai tiga hari ke depan. Adik iparku menikah. Jadi, kalau aku telat Up, harap dimaklumi.
Jika thor berkenan, minum madu assalamah
Suamiku sdh sampai dirawat di IGD krn gerd kambuh dan efek ke jantung.
Alhamdulillah cocok dan tdk kambuh lagi yg oenting jaga pola hidup
Semoga cocok dan lekas membaik yaa /Smile/
Novelmu sll mudah di cerna dan tidak bertele-tele.
lupyuuu author 😘😘🌹🌹🌹🌹
Novelmu Luar Biasa 😘👌
tapiii...kn Lom jebol gawang yaa... kumaha bs hamil euyy 🤔🤔... atau ini trik mama Tiara yaa 🤔🤭
lanjut Thor 💪