NovelToon NovelToon
Mahkota Mawar

Mahkota Mawar

Status: tamat
Genre:Nikah Kontrak / Penyesalan Suami / Tamat
Popularitas:7.6k
Nilai: 5
Nama Author: Zara Melati

Louisa Hartono tidak pernah menyangka bahwa malam terburuk dalam hidupnya akan menjadi awal dari segalanya.

Setelah sepuluh tahun mengejar cinta yang tidak pernah berbalas, dia mabuk — dan tanpa sadar melamar seorang pria yang bahkan tidak dia kenal dengan baik.

Nathanael Susanto. CEO muda dari keluarga konglomerat Susanto. Dingin, misterius, dan... langsung bilang "iya."

Mereka menikah dengan perjanjian: satu tahun, tanpa perasaan, bisa cerai kapan saja.

Tapi Nathanael selalu pulang tepat waktu. Selalu menyiapkan bunga di meja kerjanya. Selalu tahu makanan favoritnya tanpa pernah bertanya.

Dan Louisa mulai bertanya-tanya — apakah suami kontraknya ini... sudah mengenalnya jauh lebih lama dari yang dia kira?

Sementara itu, Kevin Tanuwijaya — pria yang Louisa kejar selama sepuluh tahun — akhirnya sadar bahwa dia sudah kehilangan satu-satunya orang yang benar-benar mencintainya.

Tapi sudah terlambat.

Karena Nathanael Susanto sudah menunggu sepuluh tahun untuk momen ini.

Dan dia tidak akan melepaskannya.

🌹 Nikah kontrak. Cinta rahasia sepuluh tahun. Mantan yang menyesal seumur hidup.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Zara Melati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 7

Bab 007

Engkong Senang Sekali

"Kalau kamu bikin Ci Lou nangis, aku akan cari kamu."

Kalimat Darren masih tertinggal di telinga Louisa ketika mobil Nathanael memasuki jalan rindang di Menteng.

Jakarta di luar kaca berubah pelan. Dari deretan ruko dan mall yang ramai, menjadi rumah-rumah tua berpagar tinggi, pohon besar yang akarnya mengangkat trotoar, dan halaman luas yang terasa seperti tidak ikut berdesakan dengan kota. Udara sore menempel lembap di kaca mobil, tetapi di dalam, AC terlalu dingin untuk tangan Louisa yang sejak tadi menggenggam tas.

"Kita benar-benar harus ke rumah keluargamu hari ini?" tanyanya.

Nathanael menoleh. "Engkong sudah tahu."

"Kamu sudah bilang?"

"Pagi tadi. Sebelum Catatan Sipil."

Louisa menatapnya. "Sebelum aku tanda tangan?"

"Aku bilang mungkin akan membawa seseorang pulang."

"Mungkin?"

"Aku tetap memberi ruang kalau kamu mundur."

Jawaban itu lagi.

Louisa tidak tahu harus merasa lega atau makin gugup. Ia baru memberi tahu Darren dan hampir membuat coffee shop berubah menjadi arena debat. Sekarang ia akan bertemu kepala keluarga Susanto, seorang konglomerat tua yang menurut artikel bisnis pernah menolak akuisisi besar hanya dengan satu kalimat di ruang rapat.

"Kalau Engkong marah?"

"Dia tidak marah."

"Kamu terlalu yakin."

"Karena dia sudah menyuruh dapur menambah dua belas menu."

Louisa berkedip. "Dua belas?"

"Aku sudah minta dikurangi."

"Jadi berapa?"

Nathanael diam sebentar. "Mungkin delapan."

Louisa menutup mata.

Mobil berhenti di depan gerbang besi hitam dengan motif sulur. Seorang satpam membuka gerbang setelah melihat mobil Nathanael. Di baliknya, halaman luas terbentang dengan rumput rapi, pohon kamboja putih, dan rumah bergaya kolonial Belanda yang dindingnya putih gading. Jendela-jendela tinggi berbingkai kayu tua memantulkan cahaya sore.

Di teras, seorang pria paruh baya berpakaian batik berdiri menunggu.

"Pak Hendra," kata Nathanael saat turun.

Pak Hendra menunduk sopan. "Selamat sore, Pak Nathanael." Lalu tatapannya beralih kepada Louisa, hangat tapi tidak lancang. "Selamat sore, Bu Louisa. Engkong sudah menunggu dari tadi."

Bu Louisa.

Nama itu terdengar aneh di telinga Louisa. Namun sebelum ia sempat membalas dengan benar, dari dalam rumah terdengar suara laki-laki tua yang keras.

"Nath! Jangan lama-lama di depan. Bawa masuk cucu mantu Engkong!"

Louisa membeku.

Nathanael menundukkan kepala sedikit, seperti orang yang sudah menduga ini akan terjadi. "Maaf."

"Kenapa kamu yang minta maaf?" bisik Louisa.

"Karena aku belum sempat memperingatkanmu."

Engkong Susanto muncul di ambang pintu dengan tongkat kayu gelap, tetapi cara berdirinya sama sekali tidak tampak lemah. Rambutnya putih rapi, wajahnya penuh garis usia, matanya tajam dan hidup. Begitu melihat Louisa, senyumnya melebar.

"Ini Lulu?"

Louisa hampir lupa bernapas.

Ia belum pernah dipanggil Lulu oleh orang yang baru pertama kali ia temui.

"Selamat sore, Engkong," ucapnya pelan, membungkuk sedikit.

"Aduh, sopan sekali." Engkong tertawa. "Nath, kamu lihat? Engkong dapat cucu mantu cantik dan sopan. Kamu jangan berdiri kaku begitu. Ambilkan teh."

"Pak Hendra sudah..."

"Kalau istri datang pertama kali, suami yang ambilkan."

Nathanael berhenti, lalu mengangguk. "Baik, Engkong."

Louisa menatapnya tidak percaya saat pria itu benar-benar berjalan mengikuti Pak Hendra ke arah ruang makan.

Engkong mengulurkan tangan kepada Louisa. "Sini, Lulu. Duduk dekat Engkong."

Louisa ragu sepersekian detik, lalu menyambut tangan itu. Telapak tangan Engkong hangat dan kering. Genggamannya kuat, seperti orang yang sudah lama terbiasa memegang kendali, tetapi hari ini memilih memegangnya dengan hati-hati.

Ruang tamu Susanto besar tanpa terasa dingin. Lantainya marmer tua, dindingnya dihiasi lukisan tinta dan foto keluarga hitam putih. Ada rak kayu jati berisi porselen, vas bunga segar di meja, dan aroma teh melati yang halus. Bukan kemewahan yang berteriak. Lebih seperti rumah yang sudah lama percaya bahwa semua orang tahu nilainya.

Louisa duduk di sofa, punggungnya terlalu tegak.

Engkong duduk di sampingnya, bukan di kursi utama.

"Nath bilang kalian sudah Catatan Sipil," katanya.

Louisa mengangguk. "Iya, Engkong."

"Cepat sekali."

Jantung Louisa mencelos.

Engkong menepuk punggung tangannya. "Bagus. Kalau urusan baik, jangan ditunda lama-lama."

Louisa tidak tahu harus menjawab apa.

Nathanael kembali membawa nampan teh. Melihat CEO PT Nusatek Mandiri berjalan pelan dengan cangkir porselen membuat Louisa merasa dunia hari ini benar-benar sudah tidak mengikuti aturan.

Ia meletakkan teh di depan Louisa. "Hati-hati panas."

Engkong melihat gerakan itu, matanya menyipit puas.

"Nath jarang melayani orang," katanya.

"Engkong," tegur Nathanael pelan.

"Apa? Benar, kan." Engkong mengambil cangkirnya sendiri. "Dulu waktu kecil, dia bahkan tidak mau ambil jeruk sendiri. Sekarang ambil teh untuk istri. Bagus. Ada kemajuan."

Louisa menunduk menahan senyum.

Nathanael terlihat pasrah.

Setelah teh, Engkong mengajak Louisa melihat foto keluarga di dinding. Ia menunjuk satu foto lama, Nathanael kecil berdiri kaku dengan jas hitam, Stella kecil menangis karena balonnya lepas, Mama Susanto tersenyum samar di belakang mereka.

"Ini Nath umur delapan. Dari kecil mukanya sudah serius. Kalau difoto, seperti mau tanda tangan kontrak."

"Engkong," ucap Nathanael lagi, lebih pelan.

"Memang begitu." Engkong tertawa. "Lulu suka melukis, kan?"

Louisa menoleh. "Engkong tahu?"

"Engkong tahu banyak." Matanya berkilat. "Nath pernah bilang ada teman sekolah yang lukisannya bagus sekali."

Louisa menatap Nathanael.

Nathanael sedang melihat foto lain, tetapi rahangnya mengeras sedikit.

"Teman sekolah?" ulang Louisa.

"Iya, katanya orangnya suka warna lembut. Airnya hidup, begitu kata dia. Engkong tidak terlalu paham seni, tapi kalau Nath sampai bicara lebih dari dua kalimat, berarti penting."

Louisa memegang cangkir teh lebih erat.

Ia tidak ingat pernah menunjukkan lukisannya kepada Nathanael.

Atau mungkin ia hanya tidak pernah menyadari siapa saja yang melihat.

Engkong seolah tidak melihat kegugupan Nathanael. Ia mengajak Louisa ke lemari kaca di ruang sebelah. Di dalamnya ada kotak beludru hijau tua.

"Ini punya Ama-nya Nath dulu," ucap Engkong.

"Engkong..."

Nathanael kali ini benar-benar terdengar waspada.

Engkong membuka kotak itu.

Di dalamnya terletak cincin zamrud dengan bingkai emas putih. Batunya tidak terlalu besar, tetapi warnanya dalam, hijau seperti daun setelah hujan. Cincin itu tampak tua, elegan, dan terlalu berharga untuk disentuh sembarangan.

Louisa langsung mundur setengah langkah. "Engkong, ini terlalu..."

"Tidak ada yang terlalu untuk cucu mantu Engkong."

"Tapi saya baru..."

"Baru datang? Justru karena baru datang harus diberi tanda supaya tahu rumah ini menerima kamu."

Kata menerima membuat tenggorokan Louisa menegang.

Di rumah Lesmana, ia punya kamar, punya nama di kartu keluarga, punya jadwal makan malam. Tapi penerimaan tidak pernah terasa seperti sesuatu yang boleh ia minta. Ia belajar menjadi anak yang tidak merepotkan, kakak yang bisa diandalkan, perempuan yang tahu diri.

Hari ini, seseorang yang baru ditemuinya kurang dari satu jam berkata rumah ini menerima kamu.

Louisa menatap cincin itu sampai warnanya sedikit kabur.

Nathanael melihatnya. "Engkong, pelan-pelan."

"Aku pelan-pelan." Engkong mengambil tangan Louisa. "Lulu, kalau belum mau pakai, simpan dulu. Tapi jangan tolak. Orang tua kalau memberi restu, pantang dikembalikan."

Louisa menatap Nathanael, meminta bantuan tanpa suara.

Nathanael menjawab dengan pelan, "Kalau kamu tidak nyaman, kita simpan dulu."

Engkong mengangguk cepat. "Simpan dulu juga boleh. Yang penting milik Lulu."

Akhirnya Louisa menerima kotak itu dengan dua tangan.

"Terima kasih, Engkong."

"Nah." Engkong tersenyum puas. "Begitu. Mulai sekarang kalau Nath bikin kamu susah, bilang Engkong. Engkong yang marahi."

Louisa tidak bisa menahan senyum kecilnya lagi. "Iya, Engkong."

Sore itu berjalan dengan cara yang tidak pernah Louisa bayangkan. Ia makan terlalu banyak karena Engkong terus menambah lauk ke piringnya. Pak Hendra diam-diam mengganti tehnya sebelum dingin. Nathanael duduk di sampingnya, tidak banyak bicara, tetapi setiap kali Engkong terlalu bersemangat menanyakan sesuatu, ia mengalihkan dengan halus.

Saat Louisa izin ke teras belakang untuk menerima telepon Steven, ia melihat taman kecil dengan kolam ikan dan lampu-lampu kuning yang mulai menyala. Angin sore membawa aroma tanah basah dari pot tanaman.

"Aku nggak apa-apa, Steve," katanya di telepon. "Nanti aku cerita."

Di ruang tamu, Engkong menunggu sampai suara Louisa cukup jauh.

Lalu ia menatap Nathanael.

Senyumnya berubah lebih tenang, lebih tua, seperti seseorang yang akhirnya melihat penantian panjang sampai ke ujung jalan.

"Akhirnya kamu berhasil."

Nathanael tidak menjawab.

Di teras, Louisa hanya mendengar suara Engkong samar-samar tertutup gemericik kolam.

1
Rara Salsa
bagus bangettt ceritanya ngena bangetttt
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!