Kang Xian adalah anak angkat keluarga Tan, salah satu konglomerat Tionghoa terbesar di Jakarta. Tumbuh di antara empat saudara tiri yang membencinya, dia belajar satu hal sejak kecil: bertahan berarti memakai topeng.
Di usia dua puluh, dia kehilangan satu-satunya orang yang pernah melihatnya tanpa topeng — Yap Ting Zhi, pelukis jenius berumur delapan belas yang meninggal bersama ayahnya. Sejak saat itu, jantung Xian berhenti berdebar. Untuk siapa pun.
Sampai dia menemukan Liem Yuan Zhou.
Bukan karena cinta. Karena wajahnya — wajah yang nyaris identik dengan Ting Zhi. Xian mendekatinya, menjadi kekasih rahasianya, dan selama empat tahun hidup dalam bayangan orang yang sudah mati.
Yuan Zhou adalah CEO konglomerat Liem. Dingin, posesif, dan terbiasa mengendalikan segalanya — termasuk wanita di ranjangnya. Dia menganggap Xian miliknya. Tidak pernah bertanya apakah Xian menganggapnya sebagai apa.
Sampai sebuah foto lama ditemukan. Foto seorang pemuda yang wajahnya identik dengan Yuan Zhou — tapi bukan Yuan Zhou. Dan di belakang foto itu, dua huruf: TZ.
Kebenaran meledak. Empat tahun cinta yang Yuan Zhou kira nyata, ternyata dibangun di atas kebohongan seorang wanita yang tidak pernah melihatnya — yang hanya melihat bayangan orang lain di wajahnya.
Dalam kemarahannya, Yuan Zhou menyekap Xian. Menghukumnya. Memohon padanya. Sampai suatu malam, dia memakai kemeja putih — pakaian khas Ting Zhi — dan berlutut:
"Anggap saja aku dia. Kalau itu membuatmu tetap di sini."
Xian menolak. Dan pergi.
Enam bulan berlalu. Yuan Zhou kehilangan segalanya — perusahaan, keluarga, penglihatan, kemampuan berjalan. Xian membuka toko buku kecil di kota pegunungan Batu, hidup dalam ketenangan yang dia kira dia inginkan.
Sampai suatu malam badai, dia membuka pintu dan menemukan pria itu di depannya — wajah penuh luka, duduk di kursi roda, memeluk kucing yang hilang darinya seminggu lalu.
Dia tidak berkata apa-apa. Hanya menatapnya dengan mata yang sudah berbeda.
Dan untuk pertama kalinya dalam hidupnya, Xian ingin menangis bukan karena Ting Zhi.
Genre: CEO Romance | Substitute Love | Revenge | Konglomerat Tionghoa
Target: Pembaca wanita 18-35, platform NovelMe / GoodNovel / Wattpad Indonesia
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aruna Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 14
Bab 014: Bayangan yang Sempurna
Sejak hari album itu ditemukan, Liem Yuan Zhou tidak menyebutnya lagi.
Justru karena tidak menyebut, bayangan foto lama itu terasa tinggal di rumah Pondok Indah bersama mereka. Yuan tetap pergi ke kantor, tetap memberi perintah kepada Feng, tetap membalas laporan Shu Li dengan kalimat pendek. Ia juga tetap menyentuh Xian seperti biasa.
Tetapi ada jeda baru di antara sentuhannya.
Seolah ia sedang memastikan apakah tangan Xian masih menyimpan debu dari rahasia yang tidak boleh disentuh.
Malam itu, hujan turun sejak sore. Air memukul kaca kamar utama, membuat Jakarta di luar jendela berubah menjadi garis-garis cahaya kabur. Yuan pulang lebih awal dari kantor, tetapi tidak makan malam. Ia hanya mandi, mengganti kemeja kerja dengan kemeja putih longgar, lalu duduk di tepi ranjang sambil menatap Xian.
Kemeja putih.
Xian tidak langsung bergerak.
Warna itu selalu berbahaya baginya.
Ting Zhi pernah memakai kemeja putih saat menggambar di halaman UPH. Ting Zhi memakai kemeja putih di foto lama yang disimpan Xian. Bahkan di rumah duka, bingkai fotonya menampilkan ia dengan kemeja putih, bersih dan muda, seperti kematian tidak sempat menodainya.
Yuan Zhou tidak tahu.
Ia hanya melihat Xian berdiri di dekat meja rias, rambut masih setengah basah, piyama sutra menempel ringan di tubuhnya.
"Kemarilah," katanya.
Xian berjalan mendekat.
Ia tahu langkah yang tepat. Tidak terlalu cepat, karena itu terlihat takut. Tidak terlalu lambat, karena Yuan tidak suka dibuat menunggu. Ia berhenti di depan Yuan. Pria itu mengulurkan tangan, menariknya sampai berdiri di antara kedua kakinya.
"Kamu diam sejak tadi."
"Aku lelah."
"Karena merapikan lemari?"
Pertanyaan itu datang tanpa nada, tetapi Xian tahu album itu ada di sana, tersembunyi di baliknya.
"Karena hujan membuatku mengantuk."
Yuan menatapnya lama. Lalu tangannya naik, menyentuh kalung di leher Xian, turun ke bahu, berhenti di sana.
"Aku tidak suka kamu menyimpan pertanyaan di kepalamu."
Xian menunduk. "Aku tidak akan bertanya lagi."
"Itu bukan jawaban yang sama."
Ia menarik Xian lebih dekat. Keningnya hampir menyentuh perut Xian. Dari luar, gerakan itu bisa terlihat seperti kelembutan. Bagi Xian, itu lebih mirip seseorang menempelkan telinga ke pintu yang terkunci, mencoba mendengar apa yang disembunyikan di dalam.
Xian mengangkat tangan, menyentuh rambut Yuan.
Lembut.
Tepat.
Seperti yang ia tahu Yuan sukai.
Yuan memejamkan mata sebentar.
Untuk sesaat, kamar itu hanya berisi hujan, napas, dan jarak yang perlahan mengecil. Yuan menarik Xian ke pangkuannya. Xian membiarkan tubuhnya mengikuti. Tangannya melingkar di bahu pria itu. Ia menunduk, membiarkan bibir Yuan menemukan kulit di dekat lehernya, membiarkan dunia menjadi kabur di tempat-tempat yang memang seharusnya kabur.
Ia pandai dalam hal ini.
Bukan karena ia tidak merasa apa-apa.
Justru karena ia tahu persis bagian mana dari dirinya yang harus dimatikan agar bisa terlihat hangat.
"Xian," suara Yuan terdengar di dekat telinganya.
"Hmm?"
"Lihat aku."
Xian membuka mata.
Wajah Yuan berada sangat dekat. Garis rahangnya, hidungnya, bentuk bibirnya, semua terlalu mudah menipu jika cahaya kamar diredupkan dan hujan menghapus batas dunia. Xian mengangkat tangan ke wajahnya. Jempolnya menyentuh sudut mata Yuan.
Di bawah jarinya, yang hidup adalah Yuan Zhou.
Tetapi yang muncul di kepalanya adalah Ting Zhi.
`Jangan menekan terlalu keras, Xian.`
Suara itu datang dari masa lalu, lembut, seperti kuas menyentuh kertas.
Xian memejamkan mata.
Ia tahu itu kesalahan.
Namun tubuh punya ingatan yang lebih cepat daripada kehati-hatian. Dalam gelap di balik kelopak matanya, Yuan tidak lagi sepenuhnya Yuan. Kemeja putih itu berubah menjadi kemeja kampus. Bau parfum mahal bergeser menjadi bau cat minyak dan sabun murah. Tangan yang memegang pinggangnya menjadi tangan yang dulu membetulkan posisi pensilnya.
Xian tersenyum.
Senyum yang tidak ia latih.
Yuan berhenti.
Keheningan jatuh begitu tiba-tiba sampai suara hujan terdengar lebih keras.
"Buka matamu," kata Yuan.
Xian membuka mata.
Wajah Yuan berubah. Tidak marah sepenuhnya. Belum. Tetapi ada sesuatu yang tajam dan bingung di sana, seperti orang yang tiba-tiba melihat bayangannya sendiri tidak bergerak mengikuti tubuhnya.
"Barusan," katanya pelan, "kamu memikirkan siapa?"
Xian merasakan tubuhnya dingin.
Tidak banyak orang bisa melihat perbedaan senyum. Yuan Zhou seharusnya tidak bisa. Ia terlalu sibuk memiliki untuk memahami apa yang tidak pernah benar-benar ia miliki.
Namun ia melihat.
"Aku memikirkan kamu," jawab Xian.
Yuan tidak melepaskannya. "Jangan berbohong."
Xian menatap matanya. Ia membiarkan napasnya bergetar sedikit, bukan terlalu banyak. Ia tahu rasa tersinggung pria seperti Yuan bisa dialihkan dengan rasa dibutuhkan.
"Aku takut kamu masih marah soal album," katanya.
"Itu bukan jawaban."
"Itu yang kupikirkan."
Yuan menatapnya lama. Tangannya di pinggang Xian mengencang. Bukan sampai menyakitkan, tetapi cukup untuk membuat batas tubuhnya terasa jelas.
"Kamu tersenyum."
"Karena kamu ada di sini."
"Xian."
Suaranya turun satu nada. Peringatan.
"Ada orang lain?"
Pertanyaan itu akhirnya keluar.
Xian tahu jika ia menjawab terlalu cepat, Yuan akan mendengar latihan di baliknya. Jika ia terlalu lama diam, Yuan akan mencium darah dari celah itu. Maka ia membiarkan matanya membesar sedikit, seperti seseorang yang tersakiti karena dicurigai.
"Menurutmu aku punya keberanian untuk itu?"
"Aku tidak bertanya tentang keberanian."
"Kalau begitu apa?"
"Keinginan."
Kata itu menekan lebih dalam daripada genggamannya.
Xian menatapnya dan nyaris ingin tertawa. Keinginan? Ada. Tetapi bukan untuk orang hidup di ruangan ini. Bukan untuk tubuh lain yang bisa ditemukan Yuan, dihukum Yuan, diusir Yuan dari sisinya.
Keinginan Xian tinggal bersama orang mati, dan orang mati adalah satu-satunya saingan yang tidak bisa Yuan sentuh.
Xian mengangkat kedua tangan, memegang wajah Yuan, lalu menunduk mencium sudut bibirnya. Bukan ciuman penuh gairah. Lebih seperti permintaan maaf yang dibungkus kelembutan.
"Kalau aku salah, hukum aku besok," bisiknya. "Malam ini jangan tanya."
Kalimat itu bekerja.
Yuan selalu lebih mudah menerima kepatuhan tubuh daripada penjelasan pikiran.
Ia menatap Xian beberapa detik lagi, lalu menariknya lebih dekat. Lampu kamar dimatikan. Hujan terus turun. Sisa percakapan tenggelam dalam gelap, dalam sentuhan yang bagi Yuan mungkin berarti kepastian, tetapi bagi Xian hanyalah cara lain menutup pintu sebelum seseorang melihat ruangan di dalamnya.
Jauh setelah Yuan tertidur, Xian masih terjaga.
Ia berbaring menghadap jendela, punggungnya merasakan hangat tubuh Yuan di belakang. Tangan pria itu kembali melingkar di pinggangnya, lebih erat daripada biasa.
Pertanyaan tadi berputar di kepala.
`Kamu memikirkan siapa?`
Sesuatu di dada Xian sempat tersentak saat ia mendengarnya.
Bukan cinta.
Takut.
Untuk pertama kalinya, rahasianya hampir terlihat bukan karena foto, bukan karena pesan, bukan karena nama yang salah terucap.
Melainkan karena satu senyum yang terlalu jujur.