Damian yang mulai menutup diri setelah memilih pergi dari rumah. tiba-tiba mengetahui bahwa ayahnya telah “membeli” seorang pengantin untuk merawatnya. Gadis pengantin tersebut bernama Elia yang merupakan siswinya di sekolah. Elia muncul di depan pintunya, dan menyatakan bahwa Dia dikirim oleh ayah Damian untuk menjadi pengantinnya.
Elia terpaksa menerima takdirnya sebagai istri yang tak di inginkan oleh Damian, demi membantu orang tuanya yang memiliki hutang dengan keluarga Toma.
"Namaku adalah Elia. aku disini untuk menjadi pengantinmu." ~Elia
"Aku adalah Gurumu." ~Damian
Menjadi seorang pengantin 18 tahun untuk gurunya sendiri, apakah Elia mampu mencairkan jiwa gunung es suaminya?
ig : unchiha.sanskeh
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon unchihah sanskeh, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pertemuan yang diJanjikan
Setelah Donny pulang, aku kembali ke kamar untuk menemui Elia. betapa aku ingin mencurahkan berjuta maaf padanya, kini aku memahami makna sebenarnya menjaga perasaan dalam hubungan rumah tangga. Donny telah membuka mata dan pikiranku.
"Elia?!"
"Pak Damian?"
ku peluk dia.
"Maaf kan aku selama ini Elia, aku telah salah mengambil jalan. aku harap ini belum terlambat, tolong izinkanlah aku memperbaiki semuanya."
"Apa yang terjadi pak? bagaimana dengan pak Donny? apakah semua baik-baik saja?" katanya.
aku masih menikmati pelukan dan suhu tubuhnya yang hangat, terselimut haru sejadi-jadinya.
Selain karena aku merasa bersalah, aku juga sadar kalau aku terlalu lembek sebagai pria untuk mengambil keputusan. Aku pun lalu menceritakan apa yang terjadi. Jika aku telah mengatakan yang sebenarnya pada Donny.
Elia semula tak percaya karena kami telah berjanji untuk menyimpan kebenaran pernikahan kami sampai Elia lulus sekolah dan aku lah yang paling keras untuk itu.
“Tak mengapa, aku memahami maksud dan kehendak pak Damian selama ini, Terima kasih karena pak Damian mau membukanya,” ungkap Elia.
Kami pun berpelukan sambil menangis. lalu ku raih kedua pipi Elia, sambil membuka beberapa helai rambut yang menutupi wajahnya.
"Izinkan aku menemui Amanda, besok. aku akan menjelaskan semuanya padanya. menjelaskan secara baik-baik agar ia mengerti tentang keadaan kita."
lalu dia menatapku dengan bola coklatnya yang melebar, "Pak? Pak Damian yakin?"
aku tersenyum, "Sangat, sangat yakin!" kataku menegaskan.
air mata memenuhi matanya. dia menundukkan kepala sambil mengusap pelupuk matanya dengan jari jemarinya yang lentik. "Terima kasih! Terima kasih pak Damian."
lantas dia kembali menatap mataku meskipun sambil terisak, dia melingkarkan tangannya di leherku dan dengan tanpa ragu dia kembali memeluk. gunung es jiwaku yang membeku seakan mencair oleh sentuhannya yang hangat bagaikan misbah, membakar duniaku yang kosong, keras dan gelap.
"Bahagia sekali," katanya sambil berjalan kembali ke dekat ranjang.
senyuman dan air matanya membuat ku terbuai, terbuai pada mimpi hingga ke ujung kaki.
"Aku punya hadiah lain untukmu, selain itu."
"Apa?"
"Sesuatu yang seharusnya ku lakukan dan ku perbaiki sebelumnya, sama seperti tentang Amanda."
dia menatap nanar ke sekeliling, berusaha mengingat dan mencari-cari jawaban yang tepat. sedangkan aku hanya bisa tersenyum simpul melihat tingkah polosnya seperti tulip yang kuncup.
"Tutuplah matamu." kataku.
ia mengikuti perintah ku, menutup kelopak matanya yang jelita.
aku pun beranjak dari posisiku untuk menghampirinya. kemudian, aku berdiri dengan tegas di hadapannya, meraih kedua belah pipinya yang bulat dan putih. lalu ku cium keningnya yang lembut.
lantas dia membuka matanya. mulutnya sedikit menganga sambil memegang keningnya yang baru saja ku sentuh.
"Terima kasih atas cintamu yang hangat. belum pernah aku merasakan pengalaman seperti ini. tak ada sesuatu yang baru dalam hidupku sebelum kamu datang... " kataku.
kami saling melempar senyum, lantas berpelukan penuh haru dan saling membenamkan diri. satu hal yang samar ku ingat dari ucapannya, ketika aku tenggelam dalam dekapannya yang hangat dan menyentuh :
Aku... ingin selalu ada di sisi suamiku dan melihat banyak hal bersama pak Damian. Aku ingin mencintai pak Damian. Semoga itu semua bisa terwujud. Jadi mohon terimalah kehadiranku sebagai istrimu.
Aku tidak akan pulang. Apapun yang terjadi, jangan khawatir aku akan selalu berada di sisi mu. aku akan baik-baik saja.
...****************...
Besok paginya, aku memenuhi janjiku pada Amanda. aku bersiap dengan pakaian santai seadanya dan berpamitan dengan Elia, kali ini dia melepas kepergianku dengan tulus dan terbuka.
sesampainya di tempat yang dijanjikan ternyata sudah ada Amanda duduk di sebuah kursi depan cafe manis. dia menyambut ku dengan mata berbinar-binar dan wajah malu-malu, mengenakan rok cerah di padu kaus rajut lengan panjang berwarna biru pastel. lehernya yang jenjang tertutup syal. dia memakai riasan sederhana namun ku akui sangat anggun gambaran wanita dewasa yang menyambut kencan.
aku seakan menyaksikan sosok putri yang menebar aroma bunga-bunga dan pepohonan. wangi dan segar. andai saja, dia tak berlebihan dan menaruh rasa, sejujurnya aku sudah menghormatinya sebagai sosok wanita yang bersahaja.
dia tersenyum, mungkin agar jiwaku ini bergetar. dia menatapku dengan cara setengah menyelidik, mungkin agar aku menangkap isyarat hatinya. tetapi aku tak akan membalas sesuai kehendaknya.
kami pergi mencari tempat makan yang private tidak ramai dan sesak dengan mengendarai mobilku. jalan-jalan ramai dan udaranya tidak sepanas dan sedingin kemarin-kemarin, biasa saja. Amanda duduk tenang sambil memainkan telapak tangannya di atas lutut.
Kami berhenti di sebuah restoran private yang menjual roti dan kue yang di buat langsung oleh Patissier profesional. suasananya cukup tenang. dia memilih naik ke lantai atas, karena lantai bawah terlalu penuh oleh pengunjung. aku mengikuti langkahnya dari belakang. di lantai atas ada ruang terbuka yang dari sana pemandangan alam di pagi hari terbentang lebar, seakan alam ingin unjuk gigi bersaing kemolekan dengan para gadis yang ada di cafe ini.
akan tetapi, ruang terbuka itu telah di isi pengunjung lain. jadi dengan terpaksa kami duduk di ruang dalam, tepatnya di dekat jendela yang lebar sehingga mata kami masih dapat menikmati hiburan dari pemandangan di luar sana.
"Sayang sekali, padahal aku sudah Mensurvei dengan baik tempat untuk hari ini. aku tahu kamu suka ruang terbuka, kamu suka dengan pemandangan alam. tetapi, sepertinya kita terlambat. aku sedikit menyesal, seharusnya aku memesan tempatnya lebih dulu sebelum hari ini tiba. maaf ya!"
aku tak menjawab, hanya menaikkan kedua alis saja.
dalam hati betapa aku mengagumi kebesaran hati Amanda yang benar-benar memikirkan tentang hari ini. semua ini begitu sempurna sesuai dengan kepribadiannya yang detail. tetapi sayangnya, dia salah memilih rekan untuk kencan.
musik mengalir, iramanya yang bening menyerupai tetesan embun. aku menoleh ke luar jendela. sambil memikirkan waktu dan kata yang tepat untuk mengatakan yang sebenarnya pada Amanda. Tetapi, ah! aku tak bisa menunda-nunda begini, tujuanku datang ke sini adalah untuk memenuhi janji ku pada dua perempuan. janji untuk datang dan janji untuk mengatakan kebenaran.
akhirnya ku alihkan lagi pandangan ke depan, "Amanda... " kataku sambil menatap nya tajam.
"Jangan bicara sekarang! hari ini belum selesai, tolonglah Damian..." dia balik menatapku, lalu melanjutkan "Aku sudah menunggu hari ini tiba, tolong jangan hancurkan sekarang. Pesanannya akan segera datang, tunggu sebentar lagi ya!"
"Tidak Amanda bukan tentang itu!"
"Eh, lihat ini," katanya mengalihkan perhatian, "Gelas ini mirip yang di tempat Seniman tembikar dekat sekolah, bukan? lihat ornamennya, bukankah ini sangat elegant?"
ku pandangi gelas itu.
"Amanda, tolong dengarkan aku! tentang kemarin, aku rasa kamu menyadari dan melihat bahwa aku dan Elia berada di tempat dan rumah yang sama. itu semua karena aku dan Elia sudah menikah! aku harap kamu mengerti alasan mengapa aku menciumnya, itu karena dia adalah istriku dan aku adalah suaminya. tetapi Amanda, aku sengaja menutupi ini sampai dia lulus, dia adalah siswi tahun terakhir, karena itu lah aku merahasiakan ini. kamu juga seorang guru dan pendidik, aku yakin kamu memahami kehendak ku sampai melakukan itu, untuk masa depannya."
"Aku tak bisa berbohong lebih jauh, membohongi perasaan. aku menyatakan padamu bahwa aku tak bisa menerima kesepakatan itu lebih jauh. aku begitu menghormati perasaanmu, tetapi maaf aku tak akan bisa membalasnya. hanya satu pintaku sebagai rekan kerja dan sahabat yang baik, tolong bantulah kami, aku harap kamu mengerti dengan keadaan dan posisi kami Amanda." timpal ku kembali.
...****************...
...📌Visual...
3. Amanda