Arsel seorang pengangguran spesialis pembobol kotak amal, suatu hari saat dia dikejar masa ia tersambar petir dan tersadar di dunia berbeda dimana sihir dan pedang berada.
Sejak itu petualangan yang penuh berbahaya harus dilaluinya untuk bisa bertahan hidup di dunia sana.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Isekai Fantasy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 24 : Sebuah Kebohongan
Setelah 30 menit perjalanan kami beristirahat sebentar untuk memulihkan tenaga kami, itu bukan waktu yang lama mengingat kami baru masuk ke dalam pulau ini hanya saja monster yang kami lawan jelas sangatlah banyak.
Mereka lebih cepat berkembang biak dibanding Wyvern memungkinkan bahwa kini ancaman sesungguhnya berasal dari mereka.
"Baru sampai segini sudah sulit, aku penasaran bagaimana nasib yang lainnya?"
Aku yang sedang memanggang jamur di bara api hanya menjawab pernyataan Alice dengan datar, biasanya dia tidak peduli dengan orang lain kecuali makanan mereka.
"Kupikir mereka juga mengalami kesulitan yang sama," kataku.
"Selagi mereka tidak mengganggu itu tidak masalah," Excel menimpa obrolan kami lalu melanjutkan setelah mengambil jamur yang kusodorkan padanya.
"Ini sangat enak."
Semua orang mengatakan hal sama dan Alice menjelaskan.
"Sebenarnya Arsel itu terlahir sebagai juru masak, sayang sekali bakatnya malah harus dihabiskan dengan berpetualang."
"Kalau bicara jangan seenaknya, meski jadi petualang aku masih bisa memasak kapanpun."
"Jangan menarik pipiku."
Frida berkata setelah menghabiskan jamurnya.
"Kalian sangat dekat, apa kalian memiliki hubungan khusus? Kudengar kau dekat dengan Elena."
"Kami memang dekat, dan jika itu aku dan Alice kami hanya rekan semata."
"Jadi kau tidak mengakui anakmu yang ada di kandunganku... uwaah, jangan menarik pipiku."
Sementara kami berdua saling berdebat mereka berempat tertawa kecil sebelum akhirnya melanjutkan perjalanan setelah menyelesaikan makanan kami. Itu sudah 4 jam saat kami berjalan menembus pepohonan.
Sebuah sulur mengikat mereka sementara aku hanya memperhatikan dari bawah khususnya Brietta dan Frida. Jika Alice aku tidak tertarik.
"Apa ini? Kyaa sulur ini hidup."
"Tidak mereka merambat ke seluruh tubuhku."
Pemandangan yang langka.
"Arsel lihat aku juga."
"Ogah... ngomong-ngomong apa sulur ini termasuk monster?" tanyaku selagi melepaskan mereka semua lewat sayatan belatiku.
"Tidak, aku pikir ini jebakan yang dibuat petualang.. tapi biasanya saat sesuatu terjebak mereka pasti akan mengetahuinya tapi mereka malah tidak muncul."
"Dengan kata lain?" kataku pada Frida menuntut penjelasan.
"Kemungkinan besar mereka mati."
Alice memutar tombaknya dalam posisi siaga, Frida memosisikan tongkat sihirnya, Brietta, Laxius dan juga Excel mengikuti tepat di belakang, bersamaan itu lebah raksasa bermunculan jauh dari dalam pohon dan terbang ke arah kami.
Pengelola pulau ini bukan membantu kami dalam bekerja melainkan membuat semuanya terasa lebih sulit, Frida menggunakan mantera bola api untuk menjatuhkan beberapa, aku pun mengikuti dari belakang menebas mereka lewat belatiku sebelum saling membelakangi dengan Excel yang selesai menebas musuhnya.
Laxius bertugas melindungi Brietta yang menggunakan sihir pendukung, jadi keduanya hanya akan berada di belakang.
"Kerja bagus, mereka sudah memutuskan untuk mundur," ucap Frida demikian.
Aku mencari keberadaan Alice namun aku sama sekali tidak menemukannya di manapun, dalam waktu singkat dia telah menghilang.
"Alice?"
"Arsel aku ada di sini, lihat ini."
Kami berjalan ke arah suara Alice dan melihat dia sedang melihat tumpukan mayat orang yang sudah mati di sana, tentu itu hanya menyisakan beberapa organ dalam, tangan dan kepala saja.
"Mereka baru saja mati, Arsel menurutmu bagaimana soal pulau ini?"
"Aku pikir ada yang janggal, kita datang ke sini bukan untuk mendapatkan sisik Wyvern melainkan dijadikan sebagai mangsa seluruh monster yang ada di sini."
"Mustahil?" Brietta jelas menunjukkan keterkejutannya tapi aku memiliki penjelasan logis untuk itu.
"Sejak tadi kita belum pernah melihat Wyvern."
"Itu karena kita baru masuk ke pulau ini."
Aku menggelengkan kepalaku atas jawaban cepat Excel lalu melanjutkan.
"Pulau Wyvern ini hanyalah kebohongan."